“Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, diantara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Ali Imran (3) : 110)
Perangilah orang-orang musyrik dengan harta kalian, dengan jiwa-raga kalian, dan dengan ucapan-ucapan kalian. [HR. Ahmad]
Ayat di atas adalah salah satu ayat kitab suci Al-Qur’an yang paling sering dipakai untuk menerangkan beberapa hal. Saya telah mendengar lusinan ceramah yang membawakan setengah pertama dari ayat tersebut, berhenti pada kata “Allah” diikuti dengan penjelasan yang berbeda.
Berdasarkan pengalaman, belum pernah saya mendengar sebuah penjelasan dari setengah berikutnya ayat ini, dan juga tidak seorang komentator Qur’an pun telah berkata sesuatu tentangnya. Setengah pertama dari ayat tersebut dapat dipakai untuk menjelaskan atau memperingatkan penyimpangan sesuai dengan penyimpangan yang dilakukan. Mereka tampaknya terlalu puas hanya dengan setengah pertama ayat tersebut.
Jawaban untuk pertanyaan, “Mengapa kita perlu ‘mengusik’ orang-orang Yahudi dan Kristen?” dapat ditemukan dalam setengah yang berikutnya dari kutipan Al-Qur’an di atas,
“Sekiranya Ahli Kitab (maksudnya Yahudi dan Kristen) beriman (terhadap kitab suci Al-Qur’an) tentulah itu lebih baik bagi mereka (dengan kata lain, juga baik untuk kamu, umat Islam) di antara mereka (yaitu Yahudi dan Kristen) ada yang beriman, tetapi kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Ali Imran (3): 110)
Pada awalnya, dalam ayat yang memperkenalkan risalah ini, Allah menganugerahkan kepada umat kemuliaan, hak-hak istimewa dan status yang tinggi, menjadi “Orang-orang terbaik yang dilahirkan untuk umat manusia”. Kemuliaan dan status yang tinggi ini berarti membebankan kepada kita tugas dan tanggung jawab agar tidak mementingkan diri sendiri serta membagi status yang mulia ini dengan umat manusia lainnya.
Ahli kitab -Yahudi dan Kristen- adalah sasaran pertama kita, karena mereka telah dipersiapkan untuk menerima pesan ini. Selain itu, banyak Nabi telah menyampaikan pesan ini kepada mereka. Mereka tidak mengingkari kitab suci yang dibawa oleh nabi-nabi tersebut dan membanggakan wahyu Taurat, Zabur dan Injil dari masing-masing Nabinya. Karena itu mereka adalah umat yang paling tepat dan paling siap menerima Islam. Mereka seharusnya yang paling utama menyampaikan keinginan mereka terhadap keinginan Allah dalam Islam -sebuah wahyu yang terakhir telah ada dan dikonfirmasikan kepada mereka: Tetapi mereka jugalah yang pertama menolaknya: mengapa menolak? Apa pertimbangan mereka?
Namun demikian, tidak semua mereka telah sesat, Allah meyakinkan kita bahwa di antara kaum Yahudi dan Kristen terdapat sebagian yang beriman dengan tulus, “Tetapi kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.”
Dan sebenarnya pada awal ayat telah dijelaskan bahwa ummat ini menjadi ummat terbaik hanya kalau mereka mengajak kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar serta beriman kepada Allah. Apa yang lebih ma’ruf daripada mengajak kepada kalimat Tauhid? Apa yang lebih munkar daripada perkataan kekafiran dan kesyirikan? Bahkan segala kebaikan ini terdapat pada satu kalimat, yaitu Laa ilaaha illallaah. Tidak ada ilah haqiqi yang pantas disembah kecuali Allah.
Sungguh, semua manusia akan binasa disebabkan kekafiran mereka, kecuali mereka yang beriman dan beramal shalih, mengajak kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, kemudian mereka beristiqomah di Jalan Lurus. Jalan Lurus adalah jalan yang ditapaki oleh para Nabi, para shiddiqin, para syuhada, para shalihin (QS. An-Nisa: 69). Mereka itulah orang-orang yang mendapat keni’matan dari Allah (QS. Al-Fatihah: 7). Mereka itulah yang berada dalam bimbingan Tuhan mereka. Mereka itulah orang-orang yang beruntung (QS. Al-Baqarah: 1-5).