MEMBERSIHKAN DIRI

Untuk sukses di dunia dan di akhirat, pertama sekali kita harus membersihkan diri kita dari syirik, sombong, riya`, curang, dusta, dan sifat-sifat buruk lainnya. Marilah kita tampil di hadapan Allah sebagai pribadi yang bersih. Sesungguhnya perbuatan dosa itu hanyalah asap yang timbul dari api sifat yang buruk.
Rasulullah pernah mengajarkan kepada kita agar kita berlindung dari hati yang tidak khusyu, dari hawa nafsu yang tidak pernah kenyang, dari ilmu yang tidak bermanfaat, dan dari do’a yang tidak dikabulkan.
Jika Anda belum berhasil dalam suatu hal, maka cobalah lihat hati dan diri Anda. Sudahkah terbebas dari syirik dan sombong? Jika belum, bisa jadi itulah penyebabnya. Allah sayang kepada kita semua. Allah tidak ingin kita bertambah sombong disebabkan kesuksesan yang kita dapat. Allah tidak ingin kesuksesan kita hanya memperlebar pintu hawa nafsu.
Kesombongan itu timbul disebabkan kurang kenalnya kita dengan Allah. Dengan mengenal Allah, kita akan sadar bahwa diri dan perbuatan kita hanyalah ciptaan Allah. Jika Anda pernah memuji keindahan sebuah lukisan, tentu Anda tidak bermaksud mengatakan bahwa lukisan itu hebat. Tetapi yang Anda maksudkan adalah orang yang membuat lukisan itu hebat, sebab ia dapat membuat lukisan yang indah itu. Maka segala puji hanya milik Allah saja. Tidak ada daya untuk menghindari ma’siat dan tidak ada kekuasaan untuk berbuat tha’at, kecuali dengan (daya, kekuatan, dan kasih-sayang) Allah. Segala ketha’atan kita adalah karunia dari Allah untuk kita syukuri.
Mari kita bersihkan kaca jendela rumah kita, agar sewaktu mentari bersinar, cahayanya dapat menerangi rumah kita. Kesuksesan bukanlah hasil perbuatan kita. Tetapi kebiasaan baik dapat mengantarkan kita ke gerbang kesuksesan.
Hai orang yang berkemul (berselimut), bangunlah, lalu berilah peringatan! dan Tuhanmu agungkanlah, dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa (menyembah berhala) tinggalkanlah, dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak. (Q.S. Al-Muddatstsir: 1-6)
Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat. (Q.S. Huud: 114)
Diriwayatkan daripada Anas r.a katanya: Seorang lelaki berjumpa Nabi s.a.w lalu berkata: Wahai Rasulullah! Aku telah melakukan sesuatu yang boleh dikenakan hukum hudud, oleh itu hukumlah aku. Anas berkata: Sebaik sahaja tiba waktu sembahyang lelaki tersebut turut mendirikan sembahyang bersama-sama Rasulullah s.a.w. Setelah selesai sembahyang lelaki tadi berkata: Wahai Rasulullah! Aku telah melakukan sesuatu yang boleh dikenakan hukum hudud. Oleh itu hukumlah aku sebagaimana yang dinyatakan dalam al-Quran. Baginda bersabda: Adakah kamu mendirikan sembahyang bersama-sama kami? Lelaki tersebut menjawab: Ya. Baginda bersabda: Kamu telah diampunkan oleh Allah s.w.t. (HR. Bukhori dalam Kitab Hudud hadits nomor 6323; HR. Muslim dalam Kitab Taubat hadits nomor 4965)
Membersihkan diri dari dosa adalah hal yang mudah. Banyak hal yang dapat dilakukan untuk menghapus dosa sebagaimana telah disebutkan dalam banyak hadits, antara lain:
Ø       Membaca Subhaanallaahi wa bi hamdih 100x
Ø       Membaca Laa ilaaha illallaahu wahdahu laa syariikalah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘alaa kulli syai’in qodiir 100x
Ø       Sholat wajib 5 waktu
Ø       Membaca sayyidul istighfar 3x
Ø       Membaca tasbih, tahmid, tahlil, dan takbir
Ø       Bershodaqoh jariyah, dan masih banyak lagi
Diriwayatkan daripada Abdullah bin Mas’ud r.a katanya: Aku menemui Rasulullah s.a.w ketika baginda dalam keadaan tidak sihat. Aku menggosok baginda dengan tanganku. Aku katakan kepada baginda: Wahai Rasulullah! Sesungguhnya engkau benar-benar tidak sihat. Rasulullah s.a.w bersabda: Memanglah, apa yang aku alami sekarang ini adalah sama seperti yang di alami oleh dua orang di antara kamu. Aku berkata: Kalau begitu engkau beroleh dua pahala sekaligus. Rasulullah s.a.w bersabda: Benar. Kemudian Rasulullah s.a.w bersabda lagi: Setiap orang muslim yang ditimpa musibah atau sakit dan sebagainya, maka Allah akan mengampunkan kesalahan-kesalahan dari sakitnya, sebagaimana daun yang gugur dari pokoknya. [HR. Bukhori (Kitab Pesakit), Muslim (Kitab Kebaikan, Kitab hubungan Keluarga dan Etika), Ahmad bin Hanbal,  Ad-Darimi, (Kitab Lemah Lembut)]
Membersihkan diri dari dosa mirip seperti menggugurkan daun dari pohon di musim gugur. Hal itu adalah mudah, Allah Mahapengampun lagi Mahapenyayang. Tetapi mudahkah mencabut pohon tersebut hingga ke akar-akarnya?
Ada yang lebih penting dari membersihkan dosa, yaitu membersihkan diri dari hawa nafsu, syirik, sombong, dan sifat buruk lainnya. Sifat-sifat ini adalah akar dari dosa-dosa yang timbul pada diri kita. Untuk membersihkan diri dari hawa nafsu dan syirik diperlukan latihan dan perjuangan panjang tiada henti hingga akhir hayat. Pelatihan yang dapat kita lakukan adalah dengan dzikrullah yang khusyu, shalat yang khusyu, dan puasa yang berkualitas dan shodaqoh. Dan ingatlah bahwa setiap kebaikan itu adalah shodaqoh.
Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (Al-Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Q.S. Al-‘Ankabut: 45)
Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu`. (Q.S. Al-Baqarah: 45)
Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal (nya). (Q.S. An-Nazi’at: 40-41)
(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. (Q.S. Ar Ra’d: 28)
Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema`afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal. (Q.S. Ali ‘Imran: 133-136)
Kegelisahan itu datangnya dari hawa nafsu, hubbud dunya (terlalu cinta kepada dunia), dan syaithan. Dengan berdzikir (mengingat) kepada Allah hati akan menjadi tenang dan mantap. Syaikh Ibnu ‘Atho`illah pernah berkata, “Bagaimana hati itu dapat memancarkan cahaya, padahal dalam hatinya terlukis semua gambar-gambar kepada selain Allah. Bagaimana orang dapat berangkat menghadap Allah, padahal ia selalu terikat oleh syahwat (keinginan). Bagaimana orang dapat mempunyai keinginan kuat agar dapat masuk ke hadirat Allah, padahal hatinya belum suci dari janabah kelalaiannya. Bagaimana bisa berharap agar mengerti terhadap rahasia-rahasia yang halus, padahal ia belum bertaubat untuk menebus kesalahan-kesalahannya.” (Syaikh Ibnu ‘Atho`illah, Matnul Hikam, point kedua belas)
Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? (Q.S. Al-Jatsiyah: 23)
Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengada-adakannya; Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun untuk (menyembah) nya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka, dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka. (Q.S. An-Najm: 23)
Dan mereka mendustakan (Nabi) dan mengikuti hawa nafsu mereka, sedang tiap-tiap urusan telah ada ketetapannya. (Q.S. Al-Qamar: 3)
Â