KEYAQINAN UNTUK SUKSES

Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa,… Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung. (QS. Al-Baqarah: 2,5)

Tidak ada kesuksesan bagi orang yang ragu. Untuk itu, kita harus mencari tahu tentang apa yang akan kita perbuat, sehingga kita yaqin bahwa perbuatan kita itu adalah diridhoi Allah. Jangan sampai amal kita tertolak disebabkan tidak adanya ilmu pada kita tentang amal tersebut. Beberapa hal yang perlu kita cari ilmunya dan kita yaqini adalah:

 

TUJUAN DAN DAMPAK

Kita harus luruskan tujuan dari amal kita. Kita juga harus tahu dan yaqin dengan hasil atau dampaknya. Kita harus yaqin bahwa amal kita itu diridhoi Allah. Jika kita tidak yaqin, lebih baik kita tinggalkan. Tetapi jika ketidak-yaqinan kita timbul disebabkan ragunya kita dengan keikhlashan hati kita, maka jangan langsung meninggalkannya. Melainkan kita teruskan, baik secara bertahap ataupun tetap total seperti biasa, sambil memperbaiki dan meluruskan niat kita.

Kita harus memiliki visi, cita-cita, dan orientasi yang mulia. Kita harus yaqin akan adanya balasan yang agung dari Allah, yaitu Kasih-Sayang dan MaghfirahNya serta Ridha`Nya. Kita harus yaqin akan adanya hari akhir.(1)

Tujuan itu ada yang jangka panjang dan global (tujuan strategis); ada pula yang jangka pendek dan khusus (tujuan teknis). Tujuan teknis merupakan tahapan dalam pencapaian tujuan strategis. Misalnya sebagai hamba Allah kita mengharapkan Wajjah Allah, maka inilah tujuan strategis kita. Adapun tujuan tekhnisnya antara lain shalat yang khusyu, yaitu guna mengingat Allah, memohon pertolongan kepada Allah, membersihkan diri dan membentengi diri dari hawa nafsu, dsb; yang semua itu bertujuan juga untuk mencapai tujuan jangka panjang. Maka kita juga harus berusaha untuk bisa meraih shalat khusyu tersebut.

 

KONSEP DAN KAIFIAT

Konsep dan kaifiatnya (tata-caranya) harus sesuai dengan Al-Qur`an dan Hadits jika berhubungan dengan yang wajib. Jika amalan itu adalah sunnah, maka harus sesuai dengan Al-Qur`an dan Hadits atau tidak bertentangan dengan keduanya serta diniatkan karena Allah(1). Adapun soal muammalah segalanya boleh kecuali yang dilarang Al-Islam seperti mengandung spekulasi (judi), penipuan, zat yang haram, riba, atau bathil. Kita harus yaqin dengan kebersihan konsep kaifiatnya.

Sesungguhnya apa yang ada di alam semesta telah dijelaskan dalam Al-Qur`an dan telah ditulis dalam Lauhil Mahfuzh. Segala sesuatu Allah jadikan menurut ketentuan. Maka sudah sepantasnya jika kita merencanakan apa yang akan kita lakukan. Tetapi kita harus tetap percaya akan taqdir, dan rencana yang kita buat hendaknya tidak bertentangan dengan Al-Qur`an. Jika rencana kita bertentangan dengan Al-Qur`an, maka hal itu akan menjadi sia-sia di akhirat (bahkan di dunia).

 

POTENSI DIRI

Kita harus yaqin dengan potensi diri yang Allah berikan kepada kita. Jika kita belum memiliki keyaqinan akan potensi diri kita, cobalah untuk menggalinya agar ia muncul ke permukaan. Berikan sugesti dan motivasi kepada diri kita. Jika orang lain bisa, seharusnya kita juga bisa. Jika para Nabi sebagai tauladan kita bisa, maka berarti kita juga bisa. Tidak mungkin Allah memberikan tauladan yang tidak bisa dicontoh oleh manusia. Dan kita juga harus memiliki semangat bekerja yang tinggi sebagaimana para malaikat selalu tha’at kepada Allah.

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS. Al-Ahzab: 21)

Mereka (malaikat) takut kepada Tuhan mereka yang di atas mereka dan melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada mereka). (Q.S. An-Nahl: 50)

Sebenarnya semua manusia, baik Nabi, ulama atau pun orang pada umumnya seperti kita, memiliki 100 miliar neuron (sel saraf aktif) di kepalanya sejak lahir. Masing-masing neuron itu memiliki 20.000 dendrit (cabang) yang dapat menghubungkan neuron yang satu dengan neuron-neuron yang lain. Semakin banyak dendrit yang terhubung, semakin besar kapasitas otak untuk menyimpan informasi. Koneksi dendritas ini dapat dirangsang melalui banyak hal, misalnya dengan musik berketukan 60-70 per menit, gerakan fisik, olahraga, sugesti positif, melatih pernafasan, shalat yang khusyu, dzikir yang khusyu, gizi yang cukup (buah dan sayuran segar, ikan, kacang-kacangan, dan air putih), dsb.

Lalu apa yang membuat para shahabat dapat menjadi generasi terbaik sepanjang masa? Karena mereka telah mengikuti seorang manusia sempurna pilihan Tuhan. Dengan melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan manusia terbaik, para shahabat memiliki kualitas yang tidak akan dapat dicapai oleh generasi setelahnya.

Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Ali Imran: 31)

 

 

 

(1) Lihat surah Al-Baqarah ayat 1-5

(2) Segala yang mubah dan diniatkan karena Allah atau menghindari ma’siat, itu adalah sunnah.

(3) Lihat surah Ath Thalaq ayat 3, Al-Qamar ayat 12, Al-A’la ayat 3.

Â