Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mu’min bertawakkal. (Q.S. Ali Imran: 160)
Hai orang-orang yang beriman, ingatlah kamu akan ni`mat Allah (yang diberikan-Nya) kepadamu, di waktu suatu kaum bermaksud hendak menggerakkan tangannya kepadamu (untuk berbuat jahat), maka Allah menahan tangan mereka dari kamu. Dan bertakwalah kepada Allah, dan hanya kepada Allah sajalah orang-orang mu’min itu harus bertawakkal. (Q.S. Al-Maa`idah: 11)
Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. (Q.S. Al-Anfal: 2)
Katakanlah: “Dia-lah Allah Yang Maha Penyayang, kami beriman kepada-Nya dan kepada-Nya-lah kami bertawakkal. Kelak kamu akan mengetahui siapakah dia yang berada dalam kesesatan yang nyata”. (Q.S. Al-Mulk: 29)
Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. (Q.S. Ath Thalaq: 3)
Syaikh Ibnu ‘Atho`illah pernah berkata(1), “Allah telah mengerti sesungguhnya hamba-hambaNya sangat bergairah memperoleh rahasia pemberian Allah. Maka Dia berfirman, “Allah menentukan dengan rahmat-Nya siapa yang dikehendaki-Nya (untuk diberi).â€(2) Dan Allah juga mengerti andai kata Dia membiarkan mereka, dan yang demikian itu pasti membuat mereka meninggalkan amal disebabkan berpegang kepada ketentuan azali, maka terhadap hal ini Dia pun berfirman, “Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.â€(3) Inilah tawakkal yang benar. Tajrid bukanlah meninggalkan usaha secara lahiriah, tetapi meninggalkan usaha sebagai tuhan.
Jika kita ingin belajar tentang tawakkal, lihatlah burung. Ia pergi di pagi hari dari sarangnya, dan ia kembali di sore hari dengan perut kenyang. Untuk menjemput rizqinya, burung tidak diam saja di sarang. Tetapi ia juga tidak menjadikan usahanya sebagai andalan. Ia berserah diri kepada Allah Yang memberi rizqi kepada setiap makhluq-Nya.
Â
(1) Syaikh Ibnu ‘Atho`illah, Matnul Hikam point 163
(2) QS. Al-Baqarah: 105
(3) Q.S. Al-A’raf: 56
Â