KHALIFAH UMAR BIN KHATHTHAB

Hal pertama yang dilakukannya setelah menjabat khalifah adalah mencopot Khalid bin Walid dari jabatan komandan pasukan dan menggantinya dengan Abu Ubaidah. Tatkala Khalid bin Walid menanyakan perlakuan Umar terhadap dirinya, Umar ra. Menjawab, “Demi Allah Wahai Khalid, sesungguhnya engkau sangat kumuliakan dan sangat kucintai.”

Kemudian Umar ra. Menulis surat ke berbagai negeri dan wilayah menyatakan kepada mereka, “Sesungguhnya aku tidak memecat Khalid karena kebencian dan tidak pula karena pengkhianatan. Tetapi aku memecatnya karena mengasihani jiwa-jiwa manusia dari kecepatan serangan-serangannya dan kefahsyatan benturan-benturannya.”

Damaskus, Hamsh, Ba’albak, Bashrah dan Aballah berhasil ditaklukkan pada tahun 14 H. Di bulan Ramadhan tahun 14 H Umar menghimpun orang-orang untuk shalat tarawih berjama’ah 20 raka’at. Dan beliau berkata, “Alangkah baiknya bid’ah ini.”

Pada tahun 15 H Yordania ditaklukkan. Pada tahun ini terjadi pula perang Yarmuk dan Qadisiah. Berkata Ibnu Jarir di dalam Tarikh bahwa pada tahun 15 H Sa’ad membangun Kufah, Umar menentukan sejumlah kewajiban, membentuk Qiwan-diwan dan memberi pemberian berdasarkan senioritas dalam memasuki Islam.

Pada tahun 16 H Al-Ahwaz dan Mada`in ditaklukkan. Umar meminta pendapat para shahabat termasuk Ali ra mengenai rencana memerangi Persia dan Romawi, lalu Ali ra mengemukakan pendapatnya, “Sesungguhnya masalah ini peluang menang-kalahnya tidak banyak dan juga tidak sedikit. Ia adalah agama Allah yang dimenangkan-Nya dan tentara-Nya yang dipersiapkan-Nya dan disebarkan-Nya hingga ke tempat yang telah dicapainya…Posisi penguasa bagaikan posisi benang dalam matarantai biji tasbih, jika benang itu putus maka biji-biji tasbih itu akan berantakan dan hilang…Jadilah poros dan putarlah roda dengan bangsa Arab…”

Pada tahun ini terjadi pula perang Jalaula`. Yazdasir putra Kisra berhasil dikalahkan. Takrit berhasil ditaklukkan. Umar berangkat berperang menaklukkan Baitul Maqdis dan berkhuthbah di Al-Jabiah. Qanasrin, Haleb, Anthokiah, dan Manbaj juga berhail ditaklukkan. Pada bulan Rabi`ul Awal tahun ini Umar menulis kalender Hijriah dengan meminta pertimbangan Ali ra.

Tahun 17 H Khalifah Umar memperluas Masjid Nabawi. Kemarau panjang terjadi, penduduk melakukan shalat istisqa. Ibnu Sa’ad meriwayatkan bahwa Umar keluar untuk shalat meminta hujan, ia mengenakan selendang Rasulullah SAAW. Imam Bukhari meriwayatkan dari Anas bahwa Sayyidina Umar bin Khaththab ra ketika terjadi kemarau beliau bertawassul dengan Abbas bin Abdul Muthallib, Sayyidina Umar berkata, “Ya Allah kami pernah bertawassul kepada-Mu dengan Nabi kami lalu Engkau turunkan hujan. Dan sekarang kami bertawassul kepada-Mu dengan paman Nabi kami, maka turunkanlah hujan Ya Allah!” Lalu Anas berkata bahwa hujan pun turun kepada mereka.

Pada tahun 19 H Qisariah ditaklukkan. Pada tahun berikutnya, 20 H, Mesir dan Maroko ditundukkan. Kaisar Romai mati pada tahun ini. Khalifah Umar mengusir Yahudi dari Khaibar dan Najran.

Tahun 21 H Iskandariah dan Nahawand ditaklukkan. Tahun 22 H Adzerbaijan, Daibur, Hamdan, Tripoli Barat dan Rayyi ditaklukkan. Tahun 23 H sisa-sisa negeri Persia ditaklukkan, diantaranya Kroman, Sajistan, dan Ashbahan. Pada akhir tahun 23 H ini Umar menunaikan ibadah Hajji.

Terbunuhnya Khalifah Umar RA

Orang yang membunuh Umar adalah seorang Majusi yang dipanggil Abu Lu`lu`ah. Pada hari Rabu, 4 Dzul Hijjah tahun 23 H, Abu Lu`lu`ah membunuh Sayyidina Umar dengan menggunakan sebilah pisau yang telah dilumuri racun. Dia menikam sayyidina Umar tiga kali sehingga roboh. Beberapa orang berusaha menangkapnya, setelah salah seorang berhasil menangkapnya dengan kain hingga Abu Lu`lu`ah tidak bisa berkutik untuk melawan, maka Abu Lu`lu`ah pun membunuh dirinya sendiri dengan pisau belati yang dibawanya. Sayyidina Umar dibawa ke rumahnya dan tabib dari Banu Mu`awiyah dipanggil untuk mengobati. Tabib itu memberi Umar susu untuk diminum, akan tetapi susu itu keluar dari luka di bawah pusar, warna susu itu tetap putih tidak berubah.

Umar Menunjuk Salah Seorang Dari Ahli Syurga

Sebagian shahabat berkata kepada Umar, Tunjuklah orang yang engkau pandang berhak menggantikanmu.” Kemudian Umar menjadikan hal ini sebagai hal yang disyurakan sepeninggalnya oleh 6 orang, yaitu Utsman bin ‘Affan, Ali bin Abi Thalib, Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, Sa’ad bin Abi Waqqash, dan Abdur Rahman bin Auf ra. Setelah melalui proses syura yang panjang, maka terpilihlah Utsman bin Affan sebagai Khalifah ketiga. Para shahabat pun membai’at Sayyidina Utsman, termasuk Ali ra.

Beberapa ‘Ibrah

1. Pemecatan Khalid bukan disebabkan kebencian atau pengkhianatan, melainkan berdasarkan ijtihad. Ketika Khalid wafat, Sayyidina Umar mengucapkan ‘Innaalillaahi wa inna ilayhi raji’un’ dengan sangat sedih, ini membuktikan bahwa Umar tidak membenci Khalid.

2. Adanya kerjasama yang bersih dan istimewa antara Umar dan Ali ra. Sayyidina Ali merupakan penasihat utama Khalifah Umar. Sayyidina Umar berkata, “Seandainya tidak ada Ali, maka celakalah Umar.”

3. Sebagaimana Abu Bakar adalah orang yang tepat di masa dan tugas yang tepat, maka begitu pula halnya dengan Umar. Ketika muslim telah kuat keyakinannya dan tunduk patuh kepada hukum Islam berkat kerja Abu Bakar, Umar diangkat menjadi khalifah, di saat mana Islam perlu disebarkan ke luar, ke seluruh bangsa di dunia. Sekali lagi ini menunjukkan bahwa Allah adalah Al-Hakim.

4. Pengangkatan Sayydinia Utsman sebagai khalifah adalah berdasarkan hasil syura. Dan kaum muslimin pada saat itu yang masih satu jama’ah membai’at Sayyidina Utsman tanpa berkeberatan, termasuk Sayyidina Ali ra.

Komentar

One response to “KHALIFAH UMAR BIN KHATHTHAB”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *