Untuk dapat membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar, kita perlu mempelajari tajwid. Di antara yang perlu dipelajari adalah mengenai lafazh yang dibaca panjang atau pendek. Dalam kebanyakan mush-haf, hal yang satu ini mungkin tak perlu dipelajari. Tetapi, jika Anda menggunakan program Pocket Quran, Anda perlu mempelajari hal ini dan juga tentang hukum mad pada umumnya.
Allah dan Ar-Rahman
Lafazh Allah harus dipanjangkan huruf lamnya. Jika sebelumnya diawali dengan dhomah atau fat-hah, maka huruf lam dibaca antara a dan o, hampir seperti mengucapkan huruf o dalam kata “god” (Inggris). Bukan dibaca awloh. Bukan pula aloh. Tetapi tahanlah huruf lam. Contohnya: Allooh, Hizbullooh.
![]()
(lafazh Allah, dalam mush-haf Madinah memang tidak diberi mad, karena semua Muslim pun tahu bahwa lafazh Allah itu dipanjangkan lamnya)
![]()
Jika sebelumnya adalah kasroh, maka huruf lam dibaca laa. Contohnya: Billaahi, lillaahi.
![]()
![]()
Lafazh Ar-Rahman dipanjangkan huruf mimnya. Dan huruf ra dibaca antara a dan o. Contohnya: Ar-Rohmaan.
![]()
Ha Hi Hu
Ha yang berarti dia atau nya (perempuan) haruslah dipanjangkan, bahkan ketika diwaqof. Hi atau Hu yang berarti dia atau nya (laki-laki) haruslah dipanjangkan, kecuali jika huruf sebelumnya disukun atau dipanjangkan. Contohnya: Innahaa, innahuu, robbuhuu, robbihii, bihamdihii, ‘alayhaa, ‘alayhi, naadaahu.
![]()
![]()
robbuhuu
bihamdihii
‘alayhaa (haa selalu dipanjangkan, walau sebelumnya ada huruf disukun, bahkan ketika diwaqaf, haa tetap dipanjangkan sebagaimana huruf difathah yang mendapat mad)
‘alayhi (hi dibaca pendek karena sebelumnya ada huruf yang disukun)
naadaahu (hu dibaca pendek karena sebelumnya ada huruf yang dipanjangkan)
Jika bertemu dengan alif lam atau huruf yang disukun, maka tidak dipanjangkan, tetapi bersambung ke huruf selanjutnya. Contohnya:
(fa ahyaabihil ardho, hi tidak dipanjangkan)
(nafsahubtighooooo-a, hu tidak dipanjangkan)
Jika hu atau hi diwaqof, maka huruf ha dibaca sukun.
Lakin
Lafazh “lakin” “walakin” “walakinnakum” dan sebagainya dibaca panjang lamnya menjadi “laakin”.
![]()
Adapun pada QS. Al-Kahfi: 38, lafazh lakinna, huruf lam dibaca panjang, namun huruf nun dipendekkan menjadi “laakinna” dan bukan “laakinnaa”.
Dzalika, Hadzaa, Ula-ika, dan Ha-ulaa-i
Dzalika (itu) dibaca panjang menjadi dzaalika.
Hadzaa (ini) dibaca haadzaa.
Ula-ika dibaca ulaaaaa-ika.
Ha-ulaa-i dibaca haaaaa-ulaaaaa-i.
Tinggalkan Balasan