Allah Mengundangmu

Limpahan puji kehadirat Allah yang telah menjadikan hujan sebagai lambang keindahan Illahi juga sebagai cobaan dan pengangkatan derajat bagi sebagian muslimin dan juga sebagai penghapusan dosa bagi sebagian muslimin dan juga sebagai Rahmat dan kemudahan bagi sebagaian muslimin lainnya. Maha Suci Allah SWT yang cahaya kelembutanNya terus memanggil para pendosa, cahaya kelembutan Illahi terus mengundang ruh dan jiwa mereka untuk meninggalkan dosa, untuk kembali kepada Allah “fafirruu ilallah..” Dari salah satu firman Allah memanggil hamba–hambaNya untuk lari dari dosa–dosa, lari dari seluruh permasalahan kepada Allah “fafirruu ilallah..” Wahai hamba–hambaKu tempat melarikan diri adalah kepadaKu, dari apapun keluhan–keluhan hamba-hambaNya hanya Dialah yang Maha Mampu memaksakan kehendaknya untuk mengatur dan merubah keadaan. Jalla wa’alla (Dia Maha Dahsyat dan Maha Luhur) yang menjadikan setiap saat merupakan Rahmat bagi umat dan sebagian lagi menjadi penghapusan dosa dan cobaan.

Maha Suci Allah yang undangannya memanggil nafas-nafas para pendosa untuk bertaubat, mengundang mereka untuk kembali kepada Rahmat ilahi, sehingga tiadalah seseorang dari hamba ini wafat terkecuali menyesali ternyata betapa indah dan lemah lembutnya Allah, ternyata betapa baiknya Allah, ternyata betapa indahnya kasih sayang Allah. Merugilah mereka yang telah meninggalkan Allah didalam hidupnya, didalam hari-harinya. Ia meninggalkan hal-hal yang dicintai Allah, sebagaimana Allah SWT memanggil hamba hambaNya kelak di Yaumil Qiyamah “yaa ayyuhal insan.., Maa gharraka birabbikal kariim…….?” Wahai manusia apa yang telah membuatmu meninggalkan-Ku, Tuhanmu yang Maha Pemurah? Tuhan yang telah menciptakanmu dan menjadikanmu ada dari ketiadaan.

Bukankah kita wajib berbakti kepada ayah dan ibu? Sedangkan Allah lebih dari pada jasa ayah dan bunda kita “maa gharraka birabbikal kariim……….” apa yang membuat engkau meninggalkan Tuhanmu yang Maha Pemurah? Dia yang menawarkan pengampunan-Nya atas setiap dosa. Dia yang menginginkanmu selalu dekat kepada kasih-sayang-Nya, sehingga mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Ketika orang-orang menyesal di Yaumil Qiyamah, akan tetapi sebagian hamba-hamba Allah yang dimasa hidupnya selalu ingin bersama Allah, mereka berada dalam kebahagiaan yang kekal, mereka di dalam istana-istana termegah yang belum pernah dilihat mata, belum pernah didengar telinga, sebagaimana dalam hadits Qudsi yang diriwayatkan Imam Bukhori Allah berfirman “A’dadatu li’ibaadiy……….” telah Aku siapkan bagi hamba hamba Ku yang shalih -yang berbicara ini adalah yang Maha Menciptakan jagat raya dengan segala kemegahannya- Kuciptakan dan Kusiapkan bagi hamba–hambaKu yang shalih apa–apa yang belum pernah terlihat mata, belum pernah didengar telinga, belum pernah terlintas dalam lintasan pemikiran mereka.

Firman Allah ini bagi mereka yang berfikir dan mendalami dan merenunginya merupakan undangan Allah kepada setiap jiwa kita. Telah Kusiapkan hidangan–hidangan dan istana agung untukmu wahai hambaKu. Sayanglah dan merugilah jika engkau menolak tawaranKu. Inilah makhluq yang paling merugi ketika ia menolak tawaran Rabbul ‘alamin untuk hidup bersama-Nya dalam kebahagiaan yang kekal.

Sungguh Allah SWT adalah yang tiada henti–hentinya Maha bersabar kepada mereka yang berbuat salah dari hambaNya dan betapa indahnya umat Nabi Muhammad saw yang mendapat undangan untuk selalu menghadap lima kali dalam setiap harinya. Adakah lagi hamba yang lebih suci dan bercahaya dari umat Sayyidina Muhammad? Mereka lima kali setiap hari dipanggil Allah. Bukankah mereka benar–benar dimanjakan oleh Allah? Adakah seorang raja memanggil seorang rakyatnya lima kali sehari terkecuali ia seorang yang sangat dicintai? Demikian keadaanku dan kalian yang selalu mendapat undangan agung lima kali setiap hari. Betapa suci dan terang benderangnya ummat Nabi Muhammad saw, dan betapa rugi dan gelapnya mereka yang menolak Allah. Ketika ia dipanggil oleh Allah, ia menolak. Ketika ia dipanggil oleh Allah untuk menghadap, ia pun mungkar dan berpaling. Adakah yang lebih rugi dari orang yang menolak undangan seorang raja? Kalau ini rugi maka bagaimana dengan undangan Maha Raja langit dan bumi.

Sambutlah undangan Rabbul ‘allamin, dengan semangat gembira kehadirat Allah atas anugerah-Nya. Jadikan siang dan malam kita selalu di dalam cahaya Rabbani, di dalam cahaya kehidupan yang kekal. Inilah hakikat kehidupan yang mulia.

(majelisrasulullah.org)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *