Pada 25 Dzul Qa’dah tahun 10 H, Nabi beserta kaum muslimin pergi ke Makkah untuk menunaikan ibadah hajji. Sebagian pendapat mengatakan bahwa saat itu rombongan hajji yang bersama Nabi ada 90 ribu orang, pendapat lain mengatakan 114 ribu orang.
Pada hari Arafah, Al-Habib Muhammad Al-Musthafa menyampaikan suatu khuthbah yang sangat mengejutkan dan mengharukan bagi kaum muslimin. Dari isi khuthbah itu, mereka sadar bahwa tak lama lagi mereka akan kehilangan orang yang paling mereka cintai. Orang yang selalu mereka bela dengan segenap harta dan jiwa-raga mereka.
Dalam khuthbah itu beliau saaw bersabda:
“Wahai manusia, dengarkanlah penjelasanku baik-baik, karena aku tak tahu apakah setelah tahun ini aku masih berada di tengah-tengah kalian atau tidak.
Wahai manusia, sebagaimana engkau menghargai bulan ini, hari ini, dan kota ini sebagai sesuatu yang suci, maka hargailah pula jiwa dan harta sesama muslim sebagai amanat suci. Kembalikan harta yang dititipkan kepdamu kepada pemiliknya yang sah. Janganlah menyakiti sesama agar engkau tidak disakiti. Jangan makan riba, karena riba itu haram bagimu.
Tolonglah orang miskin dan berilah mereka pakaian sebagaimana engkau berpakaian.
Ingatlah! Suatu saat engkau akan menghadap Allah dan mempertanggung-jawabkan semua amalmu. Jadi, waspadalah! Jangan menyimpang dari jalan yang benar setelah aku tiada.
Wahai manusia! Tak ada lagi nabi atau rasul sesudahku. Dan tak ada agama baru yang lahir. Adalah benar bahwa kamu sekalian mempunyai hak atas isterimu, tetapi mereka pun mempunyai hak pula atas kamu. Berbuat baiklah kepada mereka, karena mereka adalah tempatmu bersandar.
Ingatlah ucapanku. Kutinggalkan dua hal kepadamu, Kitabullah dan sunnahku. Jika kalian berpedoman pada keduanya, kalian tak akan tersesat.
Dengarlah baik-baik! Tegakkan shalat, berpuasalah pada bulan Ramadhan, dan tunaikan zakat. Setiap muslim itu bersaudara, masing-masing mempunyai hak dan kewajiban yang sama. Tak seorang pun boleh mengambil sesuatu dari saudaranya jika saudaranya itu tidak ridha. Tak seorang pun yang lebih tinggi dari yang lain kecuali dalam amalnya.
Mereka yang hadhir dan mendengar ucapanku ini hendaknya menyampaikannya kepada yang tidak hadir, sebab bisa jadi mereka yang mendengar darimu lebih mengerti daripada orang yang mendengar langsung dari aku.â€
Lalu Rasulullah saaw menengadahkan wajahnya ke langit dan berkata, “Ya Allah, saksikanlah bahwa aku telah menyampaikan ajaran-Mu kepada ummat-Mu.†Maka orang-orang yang hadhir di padang Arafah itu berseru, “Ya, kami menyaksikan.â€
Pada hari itu, 9 Dzul Hijjah 10 H, turunlah wahyu terakhir:
Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni`mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barangsiapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [QS. 5:3]
Ketika mendengarkan ayat itu, Abu Bakr menangis. Ia merasa, bahwa risalah Nabi sudah selesai dan sudah dekat pula saatnya Nabi hendak menghadap Tuhan. Ya, jika pengemban misi telah menyelesaikan misinya, maka dia pun harus pulang.
Â