Rasulullah tersenyum dan menjawab, “Darahku adalah darah kalian. Dan darah kalian adalah darahku. Aku dari kalian, dan kalian dariku. Akan kuperangi orang yang kalian perangi. Dan aku akan berdamai dengan orang yang kalian ajak berdamai.â€
Pada musim hajji berikutnya, serombongan kaum muslimin Yatsrib pergi ke Makkah. Di tengah perjalanan, ketika masuk waktu shalat, seorang diantara mereka, yaitu Al-Barra` bin Ma’rur, salah seorang pemimpin kabilah berpendapat bahwa tidaklah patut kalau dia shalat membelakangi Ka’bah, dan dia ingin shalat menghadap ke Ka’bah. Maka yang lain pun berpendapat bahwa Rasulullah saaw selalu shalat menghadap ke Baitul Maqdis di Syam, dan mereka tidak berani menyalahi apa yang dilakukan Rasulullah saaw itu. Akan tetapi Al-Barra tetap bersikeras dengan pendapatnya itu. Maka mereka shalat dengan menghadap ke Baitul Maqdis, sedangkan Al-Barra` shalat menghadap ke Ka’bah. Demikianlah yang terjadi sepanjang perjalanan ke Makkah.
Setibanya di Makkah, Al-Barra` merasa gusar dengan perlakuannya tentang shalat akhir-akhir ini. Al-Barra` berkata kepada Ka’ab bin Malik, “Saudaraku, mari kita menemui Rasulullah saaw agar kita dapat menanyakan tentang apa yang kulalkukan selama perjalanan ini.†Lalu mereka berdua mencari Rasulullah. Mereka bertanya kepada seseorang yang kebetulan lewat di depannya, “Dimanakah kami bisa bertemu dengan Muhammad bin Abdullah?†Orang itu berkata, “Apakah kalian mengenal Al-Abbas bin Abdul Muthallib?†Mereka berkata, “Ya kami kenal dia. Dia sering datang ke negeri kami untuk berdagang.†Orang itu berkata lagi, “Jika kalian pergi ke Ka’bah dan melihat orang sedang bersama Al-Abbas, dia itulah Muhamad.â€
Kemudian mereka pergi ke Ka’bah dan menemui Rasulullah saaw. Ketika melihat Al-Abbas, paman Nabi saaw, mereka mengucapkan salam kepadanya, “Assalamu ‘alaykum.†‘Abbas menjawab salam mereka, “Wa ‘alaykum salam.†Rasulullah bertanya kepada Abbas bin Abdul Muthallib, “Wahai abul Fadhl, apakah engkau mengenal mereka?†Abbas menjawab, “Ya, dia adalah Al-Barra` bin Ma’rur, seorang pemimpin kabilah, dan temannya itu Ka’ab bin Malik.†Rasulullah bertanya lagi, “Apakah dia seorang penyair?†Abbas menjawab, “Ya, benar.â€
Lalu Al-Barra` menceritakan apa yang terjadi selama perjalanan dari Yatsrib ke Makkah, dan meminta pendapat Rasulullah. Lalu Rasulullah saaw bersabda, “Hendaklah kau bersabar dan tetap shalat menghadap ke Baitul Maqdis.â€
Seusai hajji, tepatnya pada malam tanggal 12 Dzul Hijjah, seperti yang sudah direncanakan, rombongan muslimin pergi ke ‘Aqabah untuk bertemu dengan Rasulullah saaw. Rombongan dari Yatsrib itu berjumlah 75 orang, 2 diantaranya adalah wanita, yaitu Nusaibah binti Ka’ab dan Asma` binti Amr. Mereka ingin agar Rasulullah saaw tinggal di Yatsrib.
Setelah mereka berkumpul, tak lama kemudian datanglah Rasulullah dengan pamannya, ‘Abbas bin Abdul Muthalib. Ketika itu Abbas belum masuk Islam. Al-‘Abbas berkata kepada mereka, “Saudara-saudara dari Khazraj! Posisi Muhammad di tengah-tengah kabilah kami sudah sama-sama tuan-tuan ketahui. Kabilah kami dan mereka yang sepaham dengan kami telah melindunginya dari gangguan masyarakat kami sendiri. Dia adalah orang yang terhormat di kalangan masyarakatnya dan mempunyai kekuatan di negerinya sendiri. Tetapi dia ingin bergabung dengan tuan-tuan juga di Yatsrib. Jadi kalau memang tuan-tuan merasa dapat menepati janji seperti yang tuan-tuan berikan kepadanya itu dan dapat melindunginya dari mereka yang menentangnya, maka silakanlah tuan-tuan laksanakan. Akan tetapi, kalau tuan-tuan akan menyerahkan dia dan membiarkannya terlantar sesudah berada di tempat tuan-tuan, maka dari sekarang lebih baik tinggalkan sajalah.â€
Setelah mendengar keterangan ‘Abbas, pihak Yatsrib menjawab: “Sudah kami dengar apa yang tuan katakan. Sekarang silakan Rasulullah bicara. Kemukakanlah apa yang tuan senangi dan disenangi Tuhan.”
Setelah membacakan ayat-ayat Qur’an dan memberi semangat Islam, Rasulullah saaw bersabda, “Saya minta ikrar tuan-tuan akan membela saya seperti membela isteri-isteri dan anak-anak tuan-tuan sendiri.”
Al-Barra` bin Ma’rur menjabat tangan beliau dan berkata, “Demi Allah Yang Mengutus engkau sebagai Nabi pembawa kebenaran, engkau akan kami lindungi sebagaimana kami melindungi anak dan isteri kami sendiri! Ya Rasulullah terimalah pembai’atan kami! Demi Allah, kami orang-orang yang sudah terbiasa berperang dan mengetahui benar bagaimana menggunakan senjata. Itulah yang diwariskan kepada kami secara turun-temurun.â€
Belum selesai Al-Barra` bicara, Abul Haitsam memotong pembicaraan dan berkata, “Wahai Rasulullah, antara kami dan orang-orang Yahudi terdapat hubungan. Sekarang hubungan itu kami putus. Setelah hal itu kami lakukan, kemudian Allah berkenan memenangkan engkau, apakah engkau hendak meninggalkan kami dan kembali kepada kaummu di Makkah?â€
Rasulullah tersenyum dan menjawab, “Darahku adalah darah kalian. Dan darah kalian adalah darahku. Aku dari kalian, dan kalian dariku. Akan kuperangi orang yang kalian perangi. Dan aku akan berdamai dengan orang yang kalian ajak berdamai.â€
Lalu mereka berbai’at untuk membela Rasulullah saaw walau pun mereka harus kehabisan harta dan kehilangan jiwa-raga mereka. Mereka berkata, “Kami berikrar mendengar dan setia di waktu suka dan duka, di waktu bahagia dan sengsara, kami hanya akan berkata yang benar di mana saja kami berada, dan kami tidak takut kritik siapapun atas jalan Allah ini.”
Setelah itu Rasulullah saaw meminta kepada mereka supaya memilih 12 orang Naqib. Lalu mereka menunjuk 9 orang Naqib dari Khazraj dan 3 Naqib dari Aus.
Dari Khazraj adalah Abu Umamah As’ad bin Zararah, Sa’ad bin Ar-Rabi’ bin Amr, Abdullah bin Rawwahah. Rafi’ bin Malik bin Al-Ijlan, Al-Barra` bin Ma’rur, Abdullah bin Amr bin Haram, Ubadah bin Shamit, Sa’ad bin Ubadah, Al-Mudhar bin Amr.
Sedangkan Naqib dari Aus adalah Usaid bin Hudhair dari bani Abdul Asyhal, Sa’ad bin Khaitsamah bin Al-Harits, Rifa’ah bin Abdul Mudzir bin Zubair.
Lalu Rasulullah saaw bersabda kepada 12 Naqib, “Hendaklah kalian menjadi penanggung jawab kaumnya masing-masing sebagaimana yang dilakukan oleh para pengikut Isa bin Maryam.* Sedang aku sendiri menjadi penanggung jawab atas ummatku.â€
Setelah itu tiba-tiba mereka mendengar ada suara berteriak yang ditujukan kepada Quraisy: “Muhammad dan orang-orang yang pindah kepercayaan itu sudah berkumpul akan memerangi kamu!” Mendengar itu kaum muslimin yang ada di ‘Aqabah terkejut.
Rasulullah bersabda, “Yang kalian dengar itu adalah Azb, setan bukit Aqabah. Hendaklah kalian kembali ke kemah masing-masing.â€
‘Abbas bin ‘Ubada berkata kepada Rasulullah saaw, “Demi Allah Yang telah mengutus tuan atas dasar kebenaran, kalau sekiranya tuan sudi, penduduk Mina itu besok akan kami habiskan dengan pedang kami.â€
Rasulullah menjawab, “Kami tidak diperintahkan untuk itu. Kembalilah ke kemah tuan-tuan.†Merekapun kembali ke tempat mereka bermalam, lalu tidur.
* Nabi Isa as mempunyai 12 murid utama yang bertanggung jawab atas 12 suku Israel. Mereka disebut Hawariyun/Apostle. Lihat janji setia mereka dalam QS. 61:14.