ISLAMNYA KABILAH KHAZRAJ

Rasulullah saaw terus mendatangi kabilah-kabilah Arab. Beliau berkeliling dari pemukiman satu ke pemukiman lain dan berseru mengajak mereka untuk memeluk agama Islam. Akan tetapi bila Abu Lahab melihat Rasulullah sedang berda’wah, dia selalu mendustakan Nabi saaw di depan mereka. Namun demikian beliau saaw tidak berputus asa.
Keuletan, ketabahan dan kebijaksanaan Rasulullah saaw membuahkan hasil. Dua kabilah Arab dari Yatsrib (Madinah) memeluk agama Islam. Ketika itu di Yatsrib terdapat dua kabilah besar, yaitu Aus dan Khazraj yang sebelumnya menyembah berhala-berhala. Sedangkan tetangga mereka adalah orang-orang Yahudi yang masih tauhid. Bila terjadi bentrokan yang menyudutkan orang-orang Yahudi dari tekanan orang-orang Arab itu, orang-orang Yahudi selalu mengancam orang-orang Arab akan ada utusan Allah yang akan membela mereka.* Berkat ucapan orang-orang Yahudi itulah, orang-orang Arab Yatsrib menjadi tahu bahwa Allah akan mengutus seorang Rasul untuk menuntun manusia.
Pada suatu musim hajji, sebagai suatu hal rutin setiap tahunnya, sebagaimana biasa Rasulullah mendatangi kabilah-kbilah Arab untuk mengajak mereka beriman kepada Allah SWT semata dan memeluk agama Islam. Secara kebetulan beliau saaw bertemu beberapa orang Yatsrib di sebuah tempat bernama ‘Aqabah. Pada wajah mereka beliau melihat tanda-tanda kebaikan.
Rasulullah bertanya kepada mereka, “Siapa kalian?” Mereka menjawab, “Kami sekelompok dari kabilah Khazraj.” Rasul bertanya lagi, “Apakah kalian bertetangga dengan Yahudi?” Mereka menjawab, “Ya, benar.”
Lalu Rasulullah mengajak mereka duduk dan memperkenalkan kepada mereka tentang dirinya dan misinya sebagai Nabi. Dan beliau memperkenalkan kepada mereka tentang ajaran Islam dan mengajak mereka untuk memeluknya.
Lalu salah seorang dari mereka berkata, “Saudara-saudara, ketahuilah bahwa dia benar-benar seorang Nabi sebagaimana yang kalian sering dengar beritanya dari orang-orang Yahudi. Karena itu janganlah kalian ketinggalan mengikutinya. Jangan sampai orang-orang Yahudi mendahului kita.” Setelah berunding, mereka pun menyatakan keislaman mereka di hadapan Rasulullah saaw. Mereka adalah As’ad bin Zararah dan Auf bin Al-Harits, keduanya dari bani An-Najjar; Zuraiq bin Amir bin Zuraiq dan Rafi’ bin Malik bin ‘Amr, keduanya dari bani Zuraiq; Sa’ad bin Ali bin Jasyim dari bani Salimah; dan Quthbah bin Amir bin Hudaidah dari bani Sawad. Mereka berjanji akan bertemu lagi pada tahun berikutnya. Setelah segala keperluan mereka di Makkah selesai, mereka pun kembali ke Yatsrib.
Sesampainya di Yatsrib, mereka mengajak keluarga mereka untuk memeluk Islam. Dengan cepat hal tersebut tersiar di Yatsrib. Hingga tak satu pun rumah orang Arab di Yatsrib yang tidak membicarakan Rasulullah saaw.

*Dan setelah datang kepada mereka Al Qur’an dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka, padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka la`nat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu. [QS. 2:89]
Begitulah watak orang-orang Yahudi. Mereka besar di mulut, mengharap kedatangan nabi akhir zaman, padahal hati mereka tertutup terhadap kebenaran.