Abu Thalib dan Hamzah yang mengetahui rencana kafir Quraisy terhadap Rasulullah dan kaum muslimin segera menemui Rasulullah saaw. Abu Thalib menyuruh Rasulullah agar segera bersiap-siap untuk menyelamatkan diri. Beliau juga telah memberitahu kaum muslimin agar segera menyelamatkan diri mereka. Sebagian sahabat berhijrah ke Habasyah, sebagian lagi berlindung bersama Rasulullah di syi’ib (perkampungan kecil yang dijepit oleh bukit-bukit) Bani Abdul Muthalib, di sana ada benteng yang bisa digunakan untuk berlindung.
Mengetahui sikap Bani Abdul Muthalib yang membela Nabi saaw dan para pengikutnya, kaum musyrikin Quraisy semakin marah. Maka para pemimpin dari beberapa suku Quraisy bersepakat untuk mengucilkan orang-orang yang ada di syi’ib tersebut. Kesepakatan ini mereka tuangkan dalam sebuah piagam dan digantung di Ka’bah. Poin-poin dalam piagam itu antara lain:
1. Tidak mengadakan hubungan dengan para pembela Muhammad.
2. Tidak mengadakan jual beli dengan mereka.
3. Tidak melakukan pernikahan dengan para pengikut Muhammad.
Setelah kesepakatan itu dibuat, kaum kafir Quraisy memperketat pengepungan terhadap kaum muslimin. Bantuan makanan yang dikirim dari luar syi’ib mereka sita. Mereka melarang siapa saja yang ingin memberi bantuan kepada kaum muslimin. Maka habislah persediaan makanan kaum muslimin sehingga menimbulkan kelaparan untuk waktu yang cukup panjang. Bantuan makanan yang berhasil sampai ke syi’ib hanya dalam jumlah kecil. Mereka tidak dapat keluar dari syi’ib kecuali pada musim-musim hajji dan umrah. Namun harga bahan makanan akan dinaikkan harganya bagi kaum muslimin yang ingin membeli bahan makanan. Sehingga mereka tidak bisa membeli banyak.
Suatu hari, ketika masa pemboikotan memasuki tahun ketiga, Hakim bin Hizam bin Khuwailid membawa bahan makanan ke tempat pengucilan. Akan tetapi dia dicegah oleh Abu Jahl. Abu Jahl bertanya kepada Hakim, “Apa isi dalam karung itu hai Hakim, dan hendak kau bawa ke mana?†Hakim menjawab, “Aku membawa sekarung terigu untuk aku berikan kepada bibiku, Khadijah, yang sedang sakit.†Abu jahl berkata, “Hai Hakim, apa kau tidak tahu aturan yang berlaku saat ini? Lebih baik kau bawa pulang kembali tepung terigu itu atau akan kami sita!†Hakim menolak dan berkata, “Tidak bisa! Bila tidak aku berikan, penyakit bibi Khadijah akan semakin parah.â€
Alhamdulillah Abul Bakhtari bin Hisyam lewat di tempat itu. Mengetahui kejadian itu, Abul Bakhtari berkata, “Hai Abu Jahl, apa urusanmu? Dia mempunyai makanan yang ia berikan kepada bibinya. Biarkan dia!†Abu Jahl tidak mau mengikuti perkataan Abul Bakhtari. Maka Abul Bakhtari mencabut pedangnya dan memukul Abu Jahl hingga berdarah. Lalu Abul Bakhtari menyuruh Hakim agar segera memberikan bahan makanan kepada Khadijah.
Setelah kejadian itu, Abul Bakhtari menemui tokoh-tokoh Bani Qushayy, yaitu Hisyam bin Amr bin al-Harits, Zuhair bin Umayyah, Muth’im bin ‘Adiy dan Zam’ah bin al-Aswad. Abul Bakhtari berkata, Aku sudah tidak tahan membiarkan mereka dalam kondisi menderita dan sengsara. Apa salah mereka?†Para tokoh Bani Qushayy itu sependapat dengan Abul Bakhtari, mereka berkata, “Ya, kami juga merasa demikian. Kami pun sudah membicarakan hal ini. Selama ini kita telah menyengsarakan orang-orang yang tidak bersalah. Kita harus membatalkan perjanjian ini.â€
Maka para tokoh Bani Qushayy itu pun menemui orang-orang yang sedang mengepung syi’ib Bani Abdul Muthalib. Zuhair bin Umayyah berkata, “Orang-orang Makkah, patutkah kalau kita makan kenyang, berpakaian bagus, serta bersenang-senang, sedangkan orang-orang Bani Hasyim dan Bani Abdul Muthalib binasa karena menderita kesengsaraan dan kelaparan? Demi Allah aku tidak akan tinggal diam selama piagam itu belum hancur!â€
Abu Jahl angkat bicara, “Hai Zuhair, kau bicara ngawur, piagam itu tidak akan hancur!â€
Zam’ah bin al-Aswad berkata, “Demi Allah, kaulah yang suka ngawur. Sejak piagam itu ditulis, aku merasa tidak rela!â€
Abul Bakhtari pun berkata, “Zam’ah benar. Kami memang tidak rela dan tidak menyetujui apa yang tertulis dalam piagam itu!â€
Abu Jahal terdesak. Dalam keadaan itu, keluarlah Abu Thalib dari syi’ib menemui orang-orang Quraisy dan berkata, “Hai penduduk Makkah, kemenakanku memberitahukan kepadaku bahwa atas kehendak Allah, piagam kalian telah hancur dimakan rayap. Tak ada yang tersisa kecuali tulisan yang menyebut Asma Allah! Silahkan kalian lihat. Jika apa yang dikatakannya benar, kalian harus sadar bahwa kalian telah berbuat zhalim terhadap kami. Dan telah memutuskan hubungan kekerabatan dengan kami. Kalau apa yang dikatakannya itu bohong, kami tahu bahwa kalianlah yang berada di atas kebenaran dan kami di atas kebathilan. Aku yakin bahwa apa yang dikatakan Muhammad itu benar. Dan jika yang dikatakannya itu bohong, saya bersedia menyerahkan Muhammad kepada kalian.â€
Mereka kemudian segera ke Ka’bah untuk melihat piagam itu. Setibanya disana, terkejutlah mereka. Seperti yang dikatakan Rasulullah saaw, piagam itu telah dimakan rayap, kecuali tulisan Asma Allah. Maka kaum kafir Quraisy pun menghentikan pemboikotan itu.