HIJRAHNYA SEBAGIAN SHAHABAT KE HABASYAH

Siksaan terhadap ummat Islam semakin berat. Bahkan diantara mereka ada yang dibunuh. Maka para tokoh shahabat menemui Nabi dan meminta izin untuk hijrah dari Makkah. Maka Rasulullah saaw pun menginzinkan mereka untuk hijrah ke Habasyah. Habasyah adalah negeri yang dipimpin oleh Raja Najasy (Negus). Dia adalah seorang Nashrani.
Sebagian shahabat pun berhijrah ke Habasyah. Di antara mereka adalah Abdur rahman bin Auf, Zubair bin Awwam, Mus’ab bin ‘Umair, Suhail bin Baidha, Hathib bin ‘Amr, dan Abdullah bin Mas’ud.
Mengetahui hal ini, maka kaum kafir Quraisy melakukan pengejaran. Akan tetapi mereka gagal mencegah kaum muslimin. Maka mereka bersepakat untuk mengirim Amr bin ‘Ash dan Abdullah bin Abi Rabi’ah ke Habasyah untuk berunding dan mempengaruhi Raja Najasy agar memulangkan kaum Muslimin.
Kedua utusan itu membawakan hadiah bagi Raja Najasy sebagai tanda persahabatan. Raja Najasy menerima mereka dengan baik. Lalu Raja Najasy menanyakan kedua utusan itu, “Apa maksud kedatangan kalian ke sini?” Lalu tusan itu berkata, “Ada beberapa orang dari negeri kami membenci agama kami dan sekarang mereka berada di negeri tuan.” Raja Najasy berkata, “Apakah yang kalian maksud adalah orang-orang Arab yang datang dan meminta perlindunganku?” Mereka menjawab, “Benar tuan.” Raja Najasy bertanya lagi, “Apa yang kalian kehendaki dari mereka?” Utusan itu menjawab, “Serahkan mereka kepada kami.” Raja Najasy berkata, “Tidak bisa sebelum aku mendengar argumen mereka.” Lalu Raja Najasy menyuruh prajuritnya untuk memanggil kaum muslimin itu.
Setelah kaum muslimin itu datang, Raja Najasy bertanya kepada mereka, “Wahai kaum muslimin, kenapa kalian begitu benci dengan agama nenek moyangmu sendiri?”
Kaum muslimin menjawab, “Mereka adalah penyembah berhala. Sesungguhnya Tuhan telah mengutus kepada kami seorang Rasul, kami beriman dan mempercayainya.”
Raja Najasy bertanya kepada Amr bin ‘Ash dan Abdullah bin Abi Rabi’ah, “Wahai utusan dari makkah, apakah mereka budak kalian?” Mereka berdua menjawab, “Bukan yang mulya.” Raja Najasy berkata, “Kalau begitu tidak ada yang perlu dipermasalahkan lagi.”
Lalu keduanya kembali ke kamar yang disediakan raja bagi para tamu. Mereka mencari cara untuk menjebak kaum Muslimin.
Keesokan harinya Amr bin Ash dan Abdullah bin Rabi’ah kembali menemui Raja Najasy seraya bersujud memberi hormat sebagaimana kemarin. Lalu mereka menyatakan maksudnya, “Kami masih ingin mempersoalkan para kaum muslimin itu. Ada sesuatu yang masih mengganjal di hati kami.” Maka raja memanggil kau muslimin. Kaum muslimin datang menghadap raja tanpa bersujud. Lalu Amr bin Ash berkata, “Lihatlah, mereka tidak bersujud wahai paduka raja.” Lalu Raja Najasy bertanya kepada kaum muslimin, “Mengapa kalian tidak bersujud?”
Ja’far bin Abi Thalib menjawab, “Kami tidak sujud kecuali kepada Allah Yang Mahamulya dan Mahaagung.” Raja Najasy bertanya lagi, “Apa maksudmu?” Ja’far bin Abi Thalib menjawab, ”Sesungguhnya Tuhan mengutus seorang Rasul dari kalangan kami yang sudah kami kenal asal-usulnya, dia jujur, dapat dipercaya dan bersih pula. Ia mengajak kami menyembah hanya kepada Allah Yang Maha Esa, dan meninggalkan batu-batu dan patung-patung yang selama itu kami dan nenek-moyang kami menyembahnya. Ia menganjurkan kami untuk tidak berdusta untuk berlaku jujur serta mengadakan hubungan keluarga dan tetangga yang baik, serta menyudahi pertumpahan darah dan perbuatan terlarang lainnya. Ia melarang kami melakukan segala kejahatan dan menggunakan kata-kata dusta, memakan harta anak piatu atau mencemarkan wanita-wanita yang bersih. Ia minta kami menyembah Allah dan tidak mempersekutukanNya. Selanjutnya disuruhnya kami melakukan salat, zakat dan puasa. Kami turut segala yang diperintahkan Allah. Lalu yang kami sembah hanya Allah Yang Tunggal, tidak mempersekutukan-Nya dengan apa dan siapa pun juga. Segala yang diharamkan kami jauhi dan yang dihalalkan kami lakukan. Karena itulah, masyarakat kami memusuhi kami, menyiksa kami dan menghasut supaya kami meninggalkan agama kami dan kembali menyembah berhala; supaya kami membenarkan segala keburukan yang pernah kami lakukan dulu. Oleh karena mereka memaksa kami, menganiaya dan menekan kami, mereka menghalang-halangi kami dari agama kami, maka kamipun keluar pergi ke negeri tuan ini. Tuan jugalah yang menjadi pilihan kami. Senang sekali kami berada di dekat tuan, dengan harapan di sini takkan ada penganiayaan.”
Amr bin Ash berkata, “Sesungguhnya mereka berbeda dengan tuan mengenai Isa bin Maryam.” Raja Najasy bertanya, “Apa pendapat Nabimu tentang Isa putera Maryam?”
Ja’far bin Abi Thalib menjawab, “Isa adalah hamba Allah dan utusan-Nya, ruh-Nya dan kalimat-Nya yang disampaikan kepada Perawan Maryam.”
Lalu Raja Najasy mengambil sebatang ranting kecil dari lantai dan berkata,”Wahai para pemimpin agama, sesungguhnya perbedaan antara kita dengan mereka mengenai Isa bin Maryam tidak lebih besar dan tidak lebih berat dari ranting ini. Salam aku ucapkan kepada kalian wahai kaum muslimin dan juga bagi nabi kalian. Adakah ajaran Tuhan yang dibawanya itu yang dapat tuan-tuan bacakan kepada kami?”
Lalu Ja’far bin Abu Thalib membacakan surat Maryam, “Dan ceritakanlah (kisah) Maryam di dalam Al Qur’an, yaitu ketika ia menjauhkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur, maka ia mengadakan tabir (yang melindunginya) dari mereka; lalu Kami mengutus roh Kami kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna. Maryam berkata: “Sesungguhnya aku berlindung dari padamu kepada Tuhan Yang Maha Pemurah, jika kamu seorang yang bertakwa”. Ia (Jibril) berkata: “Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci”. Maryam berkata: “Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorang manusia pun menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang pezina!” Jibril berkata: “Demikianlah. Tuhanmu berfirman: “Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan agar dapat Kami menjadikannya suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat dari Kami; dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah diputuskan.”
Raja Najasy berkata, “Sesungguhnya kata-kata ini keluar dari sumber yang sama dengan apa yang dibawa Musa.”
Akhirnya Amr bin Ash dan Abdullah bin Rabi’ah pulang ke Makkah dengan kegagalan.