DA’WAH RASUL SECARA TERANG-TERANGAN

Kemudian secara berturut-turut manusia, wanita dan laki-laki, memeluk Islam, sehingga berita tentang Islam tersiar di Makkah dan menjadi bahan pembicaraan orang. Lalu Allah memerintahkan Rasul-Nya menyampaikan Islam dan mengajak orang kepadanya secara terang-terangan, setelah selama tiga tahun Rasulullah saaw melakukan da’wah secara tersembunyi. Allah berfirman kepada Muhammad sang Rasul:

Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik. (QS. 15:94)
Dan katakanlah: “Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan”. (QS. 15:89)

Kemudian Rasulullah saaw pergi ke atas bukit Shafa lalu berseru, “Wahai Bani Fihr, wahai Bani ‘adi,” sehingga mereka semua berkumpul dan orang yang tidak bisa hadir mengirimkan orang untuk melihat apa yang terjadi. Maka Rasulullah saaw berkata, “Bagaimanakah pendapatmu jika aku kabarkan bahwa di belakang gunung ini ada sepasukan kuda musuh yang datang akan menyerangmu, apakah kamu mempercayaiku? Jawab mereka, “Ya, kami belum pernah melihat kamu berdusta.” Kata Nabi, “Ketahuilah, sesungguhnya aku adalah seorang pemberi peringatan kepada kalian dari siksa yang pedih.” Kemudian Abu Lahab memprotes, “Sungguh celaka kamu sepanjang hari, hanya untuk inikah kamu mengumpulkan kami?”
Lalu turunlah Surat Al-Lahab:
“Binasalah kedua belah tangan Abu Lahab, dan sesungguhnya dia akan binasa.”
Kemudian Rasulullah saaw turun dan melaksanakan wahyu yang berbunyi, “Dan berilah peringatan kepada kerabatmu yang terdekat.” (lihat QS. 26:214). Maka beliau mengumpulkan semua keluarga dan kerabatnya lalu berkata, “Wahai bani Ka’ab bin Lu’ay, selamatkanlah dirimu dari api neraka! Wahai Bani Murrah bin Ka’ab, selamatkanlah dirimu dari api neraka! Wahai Bani Abdusy Syams, selamatkanlah dirimu dari api neraka! Wahai Bani Abdul Muthalib, selamatkanlah dirimu dari api neraka! Wahai Fathimah, selamatkanlah dirimu dari api neraka! Sesungguhnya aku tidak akan dapat membela kalian dihadapan Allah, selain bahwa kalian mempunyai tali kekeluargaan yang akan aku sambung dengan hubungannya.” (HR. Bukhari, Muslim, dari Abu Hurairah)

Da’wah Rasul saaw secara terang-terangan ini ditentang dan ditolak bangsa Quraisy, dengan alasan bahwa mereka tidak dapat meninggalkan agama yang telah mereka warisi dari nenek moyang mereka, dan sudah menjadi bagian dari tradisi kehidupan mereka. Pada saat itulah Rasulullah mengingatkan mereka dari belenggu taqlid. Selanjutnya dijelaskan oleh Rasulullah saaw bahwa tuhan-tuhan yang mereka sembah itu tidak dapat memberi faidah atau bahaya sama sekali. Dan bahwa turun-temurunnya nenek moyang mereka dalam menyembah tuhan-tuhan itu tidak dapat dijadikan alasan untuk mengikuti mereka secara taqlid buta. Firman Allah menggambarkan mereka:
Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apa pun, dan tidak mendapat petunjuk?” (QS. 2:170)

Ketika Rasul saaw mencela tuhan-tuhan mereka, membodohkan mimpi mereka, dan mengecam tindakan taqlid buta mereka terhadap nenek moyang dalam menyembah berhala, mereka menentang dan sepakat untuk memusuhinya, kecuali pamannya, Abu Thalib, yang membelanya.