Sebagian orang Kristen dan orang Salafy berfikir bahwa Islam menganut teori geosentris, di mana dikatakan bahwa Bumi adalah pusat tatasurya dan matahari mengelilingi Bumi. Hal ini disebabkan mereka telah salah tafsir terhadap Al-Qur`an disebabkan kebodohan mereka. Seperti kita ketahui bahwa orang-orang Salafy telah sering mengutarakan pandangan-pandangan sesat karena kebodohan mereka dalam memahami Al-Qur`an dan Hadits.
Asy-Syaikh Muhammad bin Sholih Al-’Utsaimin, seorang Salafiyin yang gigih, mengatakan bahwa menurut Al-Qur`an, matahari itu berputar mengelilingi bumi. Di bawah ini adalah dalil-dalil yang digunakannya untuk mendukung pandangan kelirunya itu.
1. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman tentang Nabi Ibrahim akan hujjah-nya terhadap orang-orang yang menentang Rabb, firman-Nya: “…sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia (matahari) dari barat…” (QS. Al-Baqoroh: 258).
2. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman tentang Nabi Ibrohim: “Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata:’Inilah Rabku, ini yang lebih besar’, maka tatkala matahari itu telah terbenam, dia berkata:’Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan” (QS. Al-An’am: 78).
3. Allah Azza wa Jalla berfirman: “Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit condong dari arah gua mereka ke sebelah kanan dan bila matahari itu terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka berada dalam tempat yang luas dalam gua itu…” (QS. Al-Kahfi: 17).
4. Allah Azza wa Jalla berfirman: “Dan Dia-lah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya” (QS. Al-Anbiya’: 33).
5. Allah Azza wa Jalla berfirman: “Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat…” (QS. Al-A’rof: 54).
6. Allah Subahanahu wa Ta’ala berfirman: “Dia menciptakan langit dan bumi dengan tujuan yang benar; Dia menutupkan malam atas siang dan menutupkan siang atas malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Ingatlah Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun” (QS. Az-Zumar: 5).
7. Allah Azza wa Jalla berfirman: “Demi matahari dan cahayanya di pagi hari, dan bulan apabila mengiringinya…” (QS. Asy-Syams: 1-2).
8. Allah Azza wa Jalla berfirman:”Dan suatu tanda (kekuasaan Allah Yang Maha Besar) bagi mereka adalah malam; Kami tanggalkan siang dari malam itu, maka dengan serta merta mereka berada dalam kegelapan, dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapn Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua. Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya” (QS. Yaasiin: 37-40).
9. Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Abu Dzar r.a dan matahari telah terbenam. Artinya:”Apakah kamu tahu kemana matahari itu pergi?” Dia (Abu Dzar) menjawab:’Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu’. Beliau bersabda:”Sesungguhnya dia pergi lalu bersujud di bawah Arsy, kemudian minta izin lalu diizinkan baginya, hampir-hampir dia minta izin lalu dia tidak diizinkan. Kemudian dikatakan kepadanya; Kembalilah dari arah kamu datang, lalu dia terbit dari arah barat (tempat terbenamnya)” atau sebagaimana sabdanya).
ISLAM TIDAK MENGANUT GEOSENTRIS
Di bawah ini, kami akan mencoba menjelaskan, sesuai ilmu kami yang sedikit ini, bahwa Al-Qur`an tidaklah menganut teori geosentris.
1. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman tentang Nabi Ibrahim akan hujjah-nya terhadap orang-orang yang menentang Rabb, firman-Nya: “…sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia (matahari) dari barat…” (QS. Al-Baqoroh: 258)
2. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman tentang Nabi Ibrohim: “Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata:’Inilah Rabku, ini yang lebih besar’, maka tatkala matahari itu telah terbenam, dia berkata:’Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan” (QS. Al-An’am: 78).
3. Allah Azza wa Jalla berfirman: “Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit condong dari arah gua mereka ke sebelah kanan dan bila matahari itu terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka berada dalam tempat yang luas dalam gua itu…” (QS. Al-Kahfi: 17)
Pada tiga ayat di atas, Allah sedang menceritakan tentang apa yang dikatakan Nabi Ibrahim. Dan nabi Ibrahim, seperti halnya kita, melihat matahari itu terbit dari Timur. Nabi Ibrahim tidak sedang berkata bahwa matahari itu mengelilingi Bumi. Nabi Ibrahim hanya berkata bahwa ia melihat matahari itu terbit dari Timur. Siapa yang melihat? Nabi Ibrahim. Salahkah Nabi Ibrahim jika berkata bahwa matahari terbit dari Timur? Tentu saja tidak. Kita juga biasa berkata bahwa matahari terbit dari Timur walau kita tahu bahwa matahari tidak mengelilingi Bumi. Adalah hal yang wajar jika Nabi Ibrahim berkata bahwa matahari terbit dari Timur walau beliau tahu bahwa matahari tidak mengelilingi Bumi.
Sekali-sekali, pergilah Anda ke puncak yang tinggi, karena di sana, Anda akan dapat melihat matahari terbit dari kaki langit. Saya tidak sedang berbicara sebagai seorang ilmuwan di dalam seminar. Saya sedang berbincang-bincang dengan Anda, dan adalah wajar jika saya mengajak Anda untuk melihat matahari terbit dari kaki langit. Para sastrawan akan memahami bahwa perkataan saya ini tidak mengandung muatan ilmiah. Ini adalah perkataan yang wajar dalam pembicaraan sehari-hari. Seperti halnya orang-orang pergi ke pantai Sanur di sore hari untuk menyaksikan matahari terbenam ditelan lautan. Kata-kata tadi tentu dipahami para sastrawan. Hanya orang-orang bodoh yang menganggap perkataan itu sebagai perkataan seorang ilmuwan astronomi yang sedang mengajarkan ilmu astronomi.
4. Allah Azza wa Jalla berfirman: “Dan Dia-lah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya” (QS. Al-Anbiya’: 33)
5. Allah Azza wa Jalla berfirman: “Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat…” (QS. Al-A’rof: 54).
6. Allah Subahanahu wa Ta’ala berfirman: “Dia menciptakan langit dan bumi dengan tujuan yang benar; Dia menutupkan malam atas siang dan menutupkan siang atas malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Ingatlah Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun” (QS. Az-Zumar: 5).
Ayat-ayat itu tidak berkata bahwa bulan dan matahari sedang berkejar-kejaran, tetapi malam dan siang itulah yang silih berganti. Ini adalah kiasan. Jika kami berkata bahwa setiap manusia berlomba dengan waktu, apakah Anda berfikir bahwa ‘waktu’ itu adalah benda fisik yang bisa berlari dan berlomba dengan kita? Kita tahu bahwa siang dan malam itu terjadi sebagai akibat dari rotasi bumi.
Adalah benar bahwa matahari itu beredar, tetapi matahari beredar mengelilingi pusat bima sakti, bukan mengelilingi bumi.
7. Allah Azza wa Jalla berfirman: “Demi matahari dan cahayanya di pagi hari, dan bulan apabila mengiringinya…” (QS. Asy-Syams: 1-2).
Dalam ayat di atas juga tidak mengandung pengertian bahwa matahari bergerak mengelilingi bumi. Allah bersumpah demi matahari yang kita lihat memancarkan cahaya di pagi hari dan demi bulan yang muncul apabila malam. Sama sekali tidak ada petunjuk yang menyatakan bahwa matahari itu bergerak mengelilingi bumi.
8. Allah Azza wa Jalla berfirman:”Dan suatu tanda (kekuasaan Allah Yang Maha Besar) bagi mereka adalah malam; Kami tanggalkan siang dari malam itu, maka dengan serta merta mereka berada dalam kegelapan, dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapn Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua. Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya” (QS. Yaasiin: 37-40).
Sekali lagi ayat-ayat di atas tidak sedang mengajarkan pergerakan matahari, tetapi sedang mengajarkan hisab berdasarkan penglihatan kita atas dampak pergerakan bulan dan rotasi bumi serta pergerakan bumi mengelilingi matahari. Adapun matahari memang beredar mengelilingi suatu bintang sebagai pusat dari beberapa bintang seperti matahari.
9. Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Abu Dzar r.a dan matahari telah terbenam. Artinya:”Apakah kamu tahu kemana matahari itu pergi?” Dia (Abu Dzar) menjawab:’Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu’. Beliau bersabda:”Sesungguhnya dia pergi lalu bersujud di bawah Arsy, kemudian minta izin lalu diizinkan baginya, hampir-hampir dia minta izin lalu dia tidak diizinkan. Kemudian dikatakan kepadanya; Kembalilah dari arah kamu datang, lalu dia terbit dari arah barat (tempat terbenamnya)” atau sebagaimana sabdanya).
Hadits di atas tidak bisa kita pahami secara ilmiah. Tetapi mesti kita pahami secara sastra dan spiritual. Dalam hadits itu terkandung kiasan-kiasan yang bermanfaat bagi jiwa. Tidak ada muatan sains dalam hadits tersebut. Kita tidak bisa menafsirkan Al-Qur`an dan Hadits berdasarkan metode serampangan. Ada 15 disiplin ilmu yang harus dimiliki seseorang sebelum ia boleh menafsirkan Al-Qur`an. Kita tidak bisa memaksakan kehendak kita terhadap ayat-ayat tersebut.
Sekarang coba Anda lihat ayat dari Alkitab di bawah:
Lalu Yosua berbicara kepada TUHAN pada hari TUHAN menyerahkan orang Amori itu kepada orang Israel; ia berkata di hadapan orang Israel: “Matahari, berhentilah di atas Gibeon dan engkau, bulan, di atas lembah Ayalon!” Maka berhentilah matahari dan bulan pun tidak bergerak, sampai bangsa itu membalaskan dendamnya kepada musuhnya. Bukankah hal itu telah tertulis dalam Kitab Orang Jujur? Matahari tidak bergerak di tengah langit dan lambat-lambat terbenam kira-kira sehari penuh. [Yosua 10:12-13]
Apakah Anda mau memaksakan agar orang-orang mengakui bahwa ayat itu sedang mengajarkan teori geosentris? Akankah Anda berkata, “Jika Alkitab menganut heliosentris, mestinya ayat itu berbunyi: ‘Berhentilah hai bumi dari rotasimu!’ dan bukannya matahari yang disuruh berhenti bergerak.”?
Ketahuilah, orang-orang Kristen terdahulu telah melakukan kesalahan dalam menafsirkan Alkitab hingga mereka menganut geosentris dan trinitas. Tetapi sekarang mereka mengakui heliosentris, namun belum berhenti dari trinitas.
Kita tidak perlu mengikuti mereka dalam menafsirkan Al-Qur`an. Jangan sampai kita salah menafsirkan Al-Qur`an dan Hadits hingga kita tersesat.
Setelah melihat kebodohan orang-orang Salafy dan ustadz-ustadz mereka, masihkah kita mengakui mereka sebagai Ahlus Sunnah wal Jama’ah? Kita harus meluruskan pandangan keliru mereka. Mereka sering salah dalam menafsirkan Al-Qur`an dan Hadits. Hal itu bisa kita lihat contohnya di atas. Mereka juga sering salah dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Qur`an dan hadits mengenai Aqidah dan Syari’ah. Tidak ada jaminan bahwa Aqidah dan Syari’ah mereka itu sesuai dengan Aqidah dan Syari’ah yang diajarkan Nabi Muhammad SAAW. Mari kita luruskan mereka semampu kita!

Lambang tersebut nampak lagi pada Paus. Perhatikan salib hitam kecil pada bahunya (bandingkan juga dengan gambar di bawah), pada apa yang disebut Pallium: “Pallium modern adalah suatu pita melingkar selebar kira-kira dua inci, dikenakan di leher, dada, dan bahu, dan mempunyai dua pendant, satu tergantung di depan dan satu di belakang…. Ornamen pallium terdiri dari enam salib hitam kecil– di dada, di punggung, bahu kiri dan kanan, dan pada pendant yang di depan dan di belakang.”




Dagown, daw-gohn’; dewa ikan; Dagon, dewa orang Palestina kuno: Dagon. Dagon berarti “seekor ikan”. Dewa kesuburan Palestina kuno; dilambangkan dengan tangan dan wajah seorang laki-laki dan ekor ikan
Ini adalah Sri Paus Yohanes Paulus II yang memegang apa yang disebut Monstran atau Ostensorium. Gereja Katolik Roma mengakui Monstran sebagai pancaran matahari.
Paus Gregorius XIII mengusulkan penanggalan Gregorian melalui Gereja Katholik/ Konstantin dalam perintah keempat mengenai hari sabat yang diubah menjadi hari Minggu. Cukup menarik, sedikitnya dua Paus menggunakan ular naga pada perisai mereka dan salah satunya, secara kebetulan adalah Sri Paus Gregorius XIII.


Tahun 2003, film The Passion of Jesus (Penderitaan Yesus) diputar. Billy Graham memuji film yang memuat adegan sadisme tersebut. Apa kiranya yang menyebabkan film tersebut mendapat pujian dari seorang zionis-kristen seperti Billy Graham?
Dengan segenap Puji bagi Maha Raja Tunggal Sekalian Alam Semesta, dan Limpahan Shalawat dan Salam atas Imam Tunggal yg terpilih memimpin di dunia dan di Akhirat, Sayyidina Muhammad beserta keluarga dan Sahabat beliau, dan para penerusnya hingga akhir zaman. Merupakan Kabar yang menghangatkan Negara ini bahwa Guru Mulia ini akan kunjung kembali ke negeri kita, beliau adalah seorang ahli hadits yang mencapai derajat Al Hafidh, yaitu hafal lebih dari 100.000 (seratus ribu) hadits berikut sanad dan hukum matannya, dan beliau juga bergelar Al Musnid, yaitu orang yang mampu menyebutkan ribuan hadits dari dirinya hingga Rasulullah saw, yaitu yang banyak mengumpulkan sanad hadits, beliau juga digelari AL Mufassir, yaitu Ahli Tafsir Alqur’an yang mengetahui Asbabunnuzul ayat yang didukung dengan hadits-hadits shahih, beserta Asbabul wurudnya, diluar itu semua beliau adalah Ahlul Khusyu’, malam hari beliau adalah berduaan dengan Allah SWT.
Selamat datang Wahai Guru Mulia pembawa semilir kelembutan.. betapa cahaya kelembutan telah kau tebarkan di sanubari ratusan muridmu di Mancanegara, dan muridmu pun telah pula membina dan memimpin ribuan bahkan puluhan ribu muslimin di belahan bumi barat dan timur, kedatanganmu adalah pelipur lara dan pelibur kesedihan bagi perjuangan murid-muridmu yang siang malam jatuh bangun memperjuangkan dakwah sang Nabi saw.