Kategori: Kenali Kehidupanmu

  • Ibumu, Kemudian Ayahmu

    Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. [QS. Al-Isra`: 23] (lebih…)

  • Ibumu, Kemudian Ayahmu

    Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. [QS. Al-Isra`: 23]

    Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a berkata: Telah datang seorang laki-laki kepada Rasulullah saw lalu bertanya: “Siapakah manusia yang paling berhak untuk aku layani dengan sebaik mungkin?” Rasulullah saw bersabda: “Ibumu.” Orang itu bertanya lagi: “Kemudian siapa?” Rasulullah saw bersabda: “Kemudian ibumu.” Orang itu terus bertanya: “Kemudian siapa?” Rasulullah saw bersabda: “Kemudian ibumu.” Orang itu terus bertanya: “Kemudian siapa?” Rasulullah saw bersabda: “Kemudian ayahmu.” [HR. Bukhori, Muslim, Ibnu Majjah, Ahmad]

    Saya ingat bahwa saya pernah memaki-maki ibu saya sewaktu saya masih sekolah di Sekolah Dasar. Dulu, terkadang saya merasa jengkel dan berfikir bahwa orangtua saya bukanlah orangtua yang faham kejiwaan anak. Padahal harusnya saya mengerti bahwa mereka memang bukan lulusan fakultas psikologi sehingga saya boleh menuntut mereka untuk memahami saya.

    Namun dibalik itu semua, mereka memiliki sesuatu yang sangat indah. Kelembutan hati. Ya, kelembutan hati seorang ibu yang rela membawa saya kemana pun beliau pergi selama 9 bulan dan beberapa tahun. Namun sembilan bulan pertama adalah 9 bulan yang menakjubkan. Beliau membagi kehidupannya dengan saya, membagi nafasnya dengan saya, membagi makanannya dengan saya, dan menghabiskan seluruh waktunya bersama saya. Selama 9 bulan 10 hari.

    Lalu lahirlah bayi mungil yang disambut dengan senyum kesyukuran. Bayi yang terus merasakan kelembutan kedua orangtuanya. Kelembutan orangtua yang rela terkena pipis dan ee si bayi. Kelembutan orangtua yang rela bangun di tengah malam untuk menggantikan popok agar si bayi dapat kembali terlelap dibuai mimpi. Kelembutan demi kelembutan mereka telah membalur di sekujur jiwa-raga saya. Namun hingga ibu saya wafat, saya belum dapat memberikan apa pun untuk membalas segala kelembutan dan kasih-sayang beliau.

    Saya menyesal telah menyia-nyiakan waktu saya dalam kedurhakaan terhadap beliau. Kini tinggallah ayah saya. Ayah yang telah bekerja keras untuk mempersiapkan penyambutan atas kelahiran saya. Saya bukanlah raja atau pun presiden. Tetapi beliau menyambut kehadiran saya melebihi penyambutan atas kehadiran seorang raja. Bagi beliau, saya sangatlah istimewa. Saya berharap bahwa saya tidak akan menghabiskan hidup saya dengan membenci beliau. Saya tidak ingin menyesal untuk kedua kalinya.

    Jika dulu mereka telah bersabar atas kita, mengapa sekarang kita tidak dapat bersabar atas mereka? Ingatlah ini ketika Anda merasa kesal kepada orangtua Anda. Tersenyum dan bersyukurlah bahwa Anda masih bisa hidup bersama orangtua Anda. Karena kelak, akan datang masanya Anda merindukan mereka dengan segala perlakuan mereka. Anda akan merindukan mereka yang membelai kepala Anda. Mereka yang memindahkan Anda ke kamar Anda ketika Anda tertidur di ruang keluarga di masa kecil Anda. Atau mereka yang mengganjal kepala Anda dengan bantal ketika Anda terlelap di sofa. Atau mungkin mereka yang mengesalkan Anda ketika mereka menasihati Anda.

    Wahai Allah, jadikanlah qubur orangtua kami yang telah wafat itu sebagai taman dari taman-taman surga. Dan jangan jadikan qubur mereka sebagai lembah dari lembah-lembah neraka. Ampunilah segala dosa mereka. Angkatlah segala siksa dari mereka. Dan sayangilah mereka seperti mereka menyayangi kami ketika kami masih kecil. Aamiin.

  • Atlas Penciptaan

    Para pemikir Prancis telah mengemukakan pemikiran-pemikiran paling menyimpang terhadap hal-hal suci dan nilai-nilai ajaran agama, yang berujung pada gerakan pemberontakan dan perlawanan atas nama kebebasan. Para cendekiawan Prancis yang sangat berpengaruh seperti Voltaire, Rousseau, Diderot, Helvetius, Holbach, Auguste Comte, Jean-Paul Sartre dan Albert Camus telah memainkan peran utama dalam pergeseran Eropa ke arah materialisme dan penyebaran ateisme. (lebih…)

  • Masyarakat Muslim Sejati

    Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. (QS. Al-Baqarah: 208) (lebih…)

  • AL-QUR`AN: THE RULES OF GAME

    Semua manusia menginginkan kesuksesan. Kesuksesan yang diinginkan manusia bukan kesuksesan sesaat di satu sisi. Melainkan kesuksesan abadi, selama-lamanya di berbagai sisi; kesuksesan yang sempurna. Maka diperlukan cara yang sempurna untuk dapat meraih kesuksesan seperti ini. Sebuah metode sempurna yang tidak bercacat. Maka tidak ada jalan lain kecuali mengikuti metode dari Yang Menciptakan kehidupan itu sendiri. Dia Yang Tahu dengan pasti bagaimana sifat-sifat kehidupan dan cara menjalani kehidupan ini. Pembuat game pasti tahu bagaimana cara mudah dan jitu untuk menyelesaikan game dengan sempurna. Begitu juga Sang Pembuat game kehidupan. Tentu Dia tahu bagaimana cara menyelesaikan game ini dengan mudah dan selamat. Orang-orang yang tidak mengikuti metode ini, tentu akan mengalami kegagalan.

    Mahasuci Allah Yang mencipta game kehidupan dan memberikan buku panduan (player guide) untuk memainkan game ini dengan ni’mat dan selamat. Buku panduan itu adalah Al-Qur`an. Dan Allah juga mengutus seorang pemandu game yang handal untuk memandu kita dalam membaca buku panduan dan dalam menjalankan game sesuai buku panduan ini. Beliau adalah Muhammad Rasulullah SAAW. Manusia yang paling pandai membaca, memahami dan menerapkan game guide ini. Beliau telah menguasai buku panduan itu dalam dadanya. Beliau adalah game master. Beliau (SAAW) adalah Al-Qur`an Berjalan. Dengan begitu, setiap player (pemain) yang menemukan masalah dalam memainkan game ini dapat bertanya kepada beliau. Beliau akan menjawab sesuai dengan buku panduan yang telah diajarkan kepada beliau dari Sang Pembuat game. Tidak semua orang dapat memahami atau menerapkan panduan tersebut. Tetapi dengan adanya The Game Master, kita dapat lebih mudah memahami bagaimana menerapkan instruksi-instruksi dalam buku panduan. Siapa yang mengikuti beliau, pasti akan dapat menyelesaikan game dengan lebih cepat.

    Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Ali ‘Imran: 31)
    Tetapi tidak semua manusia percaya dengan The Rules of Game (Peraturan Permainan) yang telah Allah turunkan. Orang yang percaya belum tentu mau memainkan game sesuai aturan tersebut. Semoga kita dimasukkan ke dalam golongan orang yang berusaha untuk memainkan game ini sesuai The Rules of Game secara total dengan penuh keimanan. Aamiin.

    Dia menurunkan Al-Kitab (Al-Qur’an) kepadamu dengan sebenarnya; membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan Taurat dan Injil, sebelum (Al-Qur’an), menjadi petunjuk bagi manusia, dan Dia menurunkan Al-Furqaan. Sesungguhnya orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah akan memperoleh siksa yang berat; dan Allah Maha Perkasa lagi mempunyai balasan (siksa). (QS. Ali Imran: 3-4)

    Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah berserah diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan. (QS. Ali Imran: 83)

    Thaa Siin (Surat) ini adalah ayat-ayat Al-Qur’an, dan (ayat-ayat) Kitab yang menjelaskan, untuk menjadi petunjuk dan berita gembira untuk orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang mendirikan sembahyang dan menunaikan zakat dan mereka yakin akan adanya negeri akhirat. (QS. An-Naml: 1-3)

    Lebih lanjut tentang kemulyaan Al-Qur`an dan Surat Al-‘Ashr, silahkan download file berikut:
    AL-QUR`AN AL-IMAM (Word Document 273kb)

  • TUJUAN PENCIPTAAN MANUSIA

    Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”. (Q.S. Al-Baqarah: 30)
    Manusia diciptakan Allah untuk menjadi khalifah di muka bumi. Manusia bertugas menyuburkan bumi dengan menjalankan syariat. Untuk menjalankan tugasnya itu manusia dilengkapi dengan perangkat yang sempurna. Perangkat itu dianugerahkan Allah secara bertahap, agar manusia dapat memiliki waktu untuk mengembangkan potensinya itu.
    Pada saat lahir manusia belum bisa melihat dan juga berbahasa seperti sekarang. Mereka baru bisa mendengar. Setelah pendengarannya berkembang, diberikanlah penglihatan. Kemudian mulailah ia mengembangkan organ-organ geraknya agar dapat berdiri dan berjalan. Kemudian setelah ia mendapatkan informasi berupa suara, warna, rasa, bau, dan tekstur, mulailah ia memiliki kemampuan berbahasa seperti kita saat ini. Aqalnya terus berkembang sehingga ia dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Dia mulai dapat mempelajari hidup. Dia mulai dapat mengingat, membaca, kemudian memperoleh informasi lebih banyak lagi. Aqalnya semakin berkembang. Pada saat aqalnya berkembang inilah seharusnya manusia diajarkan tentang Allah dan syariat yang dibebankan kepadanya. Sebab pada masa ini nafsu dan emosi manusia belum sempurna, sehingga aqal masih dapat mendominasi fikirannya. Seperti kita ketahui, aqal adalah elemen hati yang patuh kepada Allah. Walaupun pada masa tersebut (masa tamyiz) manusia sudah memiliki emosi dan keinginan, tetapi emosi dan keinginannya belum sempurna. Dia belum memiliki keinginan seks –yang sempurna. Dia baru memiliki keinginan makan, minum, perasaan sayang yang tulus, perasaan marah, sedih, senang, dsb. Jika pada masa ini, manusia diberi informasi dan pelatihan yang cukup tentang Allah, syariat, akhlaq mulia, tugas manusia, Inysa Allah manusia tersebut akan mudah menjalankan tugas-tugasnya sebagai khalifah di muka bumi. Tetapi jika tidak, mungkin menjelang saatnya ia bertugas ia akan mengalami kegoncangan yang sangat berat sehingga mengakibatkan ia lalai akan tugasnya sebagai khalifah di muka bumi. Nafsu, yang berfungsi untuk menggerakkan manusia agar berkembang-biak dan membangun bumi, menjadi tidak terkendali. Maka sangat penting untuk mengembangkan aqal secara maksimal pada tahap-tahap awal.
    Setelah kedewasaan aqal dan emosi berkembang, mulailah saatnya manusia mengalami kedewasaan nafsu. Mulailah nafsu dan tubuhnya menjadi sempurna. Ia mulai memahami dan mengalami apa yang disebut syahwat terhadap lawan jenis. Mulai saat itulah ia harus berdiri menjalankan tugasnya sebagai khalifah. Ia harus melaksanakan segala syariat yang telah dibebankan kepadanya, mengolah bumi agar terwujud kedamaian, melestarikan keturunan manusia, menyuburkan bumi.
    Tetapi ada satu hal yang mungkin dilupakan banyak manusia, yaitu kedewasaan ruh. Kedewasaan ruh seharusnya sudah berkembang sejak manusia itu lahir. Tetapi ternyata tidak semua manusia berkembang dengan pesat di waktu dini dalam hal ini. Mungkin hanya ruh para nabi dan rasul saja yang berkembang pesat ruhnya di saat masih bayi. Sedangkan yang lain ada yang setelah berumur tujuh tahun, barulah berkembang dengan sangat cepat; ada pula yang pada saat menjelang baligh, ada yang saat telah baligh, ada yang setelah berumur 30–an, ada yang setelah berumur 40–an, dan ada pula yang ruhnya malah makin kerdil, tidak berkembang. Padahal perkembangan ruh ini adalah yang sangat penting sekali. Ruh inilah yang di dalamnya terdapat potensi pengenalan terhadap Allah Yang telah mencipta segalanya. Ruh inilah yang akan mencintai Allah. Dan itulah tujuan manusia diciptakan, agar mereka mengenal Allah. Dengan mengenal Allah, ibadah dan perjalanan kita tidak salah alamat. Dengan syariat Allah, ibadah dan perjalanan kita tidak salah cara. Bagaimanakah Anda dapat mengantarkan suatu barang kepada seseorang jika Anda tidak mengenal orang itu dan tidak tahu cara memberikan barang itu, bahkan Anda tidak tahu apa barang yang Anda antarkan?
    Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. Aku tidak menghendaki rezki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi Aku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh. (Q.S. Adz Dzariyat: 56-58)
    Allah mengajarkan manusia untuk menyembahNya agar manusia tidak menyembah yang selainNya. Sebab menyembah dan mencintai yang selain Dia akan menyebabkan manusia menjadi resah-gelisah dan gundah-gulanah. Sesungguhnya dunia ini fana. Dunia hanyalah fatamorgana, khayalan, imajinasi. Mencintai yang fana akan membuat kita takut kehilangan. Dan dunia memang pasti akan sirna. Tetapi dengan berpegang kepada Allah Yang Kekal, kita akan merasa mantap.
    Semua yang ada di bumi itu akan binasa.  Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan. (QS. Ar-Rahman: 26-27)

    Seharusnya kita sadar bahwa kita hanyalah suatu ciptaan. Allah menciptakan kita bukan sekedar iseng. Allah menciptakan kita untuk suatu yang besar, untuk menjadi khalifah di muka bumi. Tetapi kita sering melupakan Allah disebabkan kita terlalu asyik dengan pekerjaan kita.
    Dan tidaklah Kami ciptakan langit dan bumi dan segala yang ada di antara keduanya dengan bermain-main. (Q.S. Al-Anbiya`: 16 atau Adh-Dhukhan: 38)
    Maka biarlah mereka tenggelam (dalam kesesatan) dan bermain-main sampai mereka menemui hari yang dijanjikan kepada mereka.( Q.S. Az-Zukhruf: 83 atau Al-Ma’aarij: 42)
    Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh. (Q.S. Al-Ahzab: 72)
     

  • SUMBER DAYA MANAJEMEN

    Waktu adalah kehidupan, begitulah menurut Hasan Al-Bashri. Menyia-nyiakan waktu, berarti menyia-nyiakan hidup. Rasulullah SAAW pernah berpesan kepada kita agar menggunakan lima perkara sebelum datang lima perkara, yaitu sehat sebelum sakit, muda sebelum tua, kaya sebelum miskin, waktu luang sebelum datang kesibukan, dan hidup sebelum mati. 

    Manusia dengan segala potensinya adalah sumber daya yang sangat berharga. Manusia adalah masa depan dunia. Merusaknya –baik lahir atau pun bathin- berarti merusak dunia. Maka manusia dengan segala potensinya harus dijaga dan dikembangkan. 

    Dua hal ini –waktu dan manusia- merupakan sumber daya terpenting. Menyiakan salah satunya atau keduanya, maka rusaklah dunia seluruhnya. 

    Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak di antara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan di muka bumi. (Q.S. Al-Maa`idah: 32) 

     

  • GAMBARAN KEHIDUPAN

    Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, Maha Pemurah lagi Maha Penyayang, Yang menguasai hari pembalasan. Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. {QS. Al-Fatihah}

     

    Dengan Asma Allah Yang Mahapengasih lagi Mahapenyayang. Mahasuci Allah Yang menyuruh manusia untuk membaca segala sesuatu. Allah menyuruh kita untuk membaca dengan AsmaNya, Rabb Yang Mencipta. Hanya dengan bantuanNya manusia dapat membaca. Dialah Yang telah mencipta segala sesuatu dengan Kasih-SayangNya. Dengan Dia segala sesuatu menjadi ada. Dengan Dia segala sesuatu tetap ada. Kepada Dia segala sesuatu akan kembali. Dalam ajaran Hindu, Rububiyah itu dibagi 3, yaitu Brahman (Pencipta), Wisnu (Pemelihara), Siwa (Penghancur). Dalam Islam tidak dikenal yang demikian. Tetapi yang benar adalah Allah itulah Yang mencipta, memelihara, dan menghancurkan (Tauhid Rububiyah).
    Puji-pujian hanya milik Allah Rabb semesta alam. Dialah Yang Mencipta segala bentuk, segala sifat, dan segala perbuatan (Q.S. Ash-Shaffat: 96). Dialah Yang mencipta Bumi dan sifat-sifatnya, serta menggerakkan Bumi dan segala apa yang ada padanya. Dia pula yang mencipta manusia, menyelamatkan mereka dan menggerakkan mereka untuk tha’at kepadaNya. Maka segala puji hanya bagi Allah di dunia juga di akhirat. Dan tidaklah puji-pujian itu terbit kecuali dari Allah Yang Mahapencipta.
    Allah Mahapengasih lagi Mahapenyayang. Tidaklah seseorang itu selamat kecuali dengan Kasih-SayangNya. Dialah Yang telah menghamparkan bumi sebagai tempat tinggal dan menjadikan gunung sebagai pasak agar kita tidak berguncang bersama Bumi (Al-Anbiya: 31; An-Naba`: 6-7). Dia Yang menumbuhkan segala sesuatu dari Bumi, dan menurunkan segala sesuatu dari langit. Seandainya ni’mat Allah itu kami tuliskan semua, niscaya tidak cukuplah umur kami ini, tidak pula kertas dan tinta kami. Dan tidaklah kami ini selamat kecuali dengan Kasih-Sayang Allah. Semoga Allah memberikan Kasih-SayangNya kepada kita semua.
    Allah Penguasa Hari Pembalasan. Kami berlindung kepada Allah dari balasan atas segala amal kami. Sungguh, jika Allah bersikap adil terhadap kami, niscaya kami akan termasuk orang yang binasa. Kami percaya bahwa hari pembalasan itu pasti adanya. Tetapi kami tidak sanggup untuk menghadapi hari itu. Semoga Allah mengampuni dan memberikan Kasih-SayangNya kepada kita semua.
    KepadaNya kita menyembah dan kepadaNya kita memohon. Tidak ada yang kekal di dunia ini. Hanya Dialah Yang selalu Ada dan memberi ketenangan ke dalam hati orang-orang yang tenang. Memberi keyaqinan kepada orang-orang yang yaqin. Memberi kehidupan kepada orang-orang yang hidup. Memberi semangat kepada orang-orang yang semangat. Mahasuci Dia Yang Menyelamatkan kita dari penyembahan kepada makhluq. Sesungguhnya makhluq itu gelap. Barangsiapa menyembah, berpegang dan mencintai makhluq akan mendapat kegelapan, keresahan, kebuntuan, keresahan, keputus-asaan, dan kebinasaan. Hanya dengan menyembah Allah, mencintaiNya, dan berpegang kepadaNya, kita akan mendapat cahaya, ketenangan, jalan keluar, semangat, kemantapan dan kebahagiaan. Makhluq itu adalah fana. Sesuatau yang fana akan sirna. Jika kita berpegang kepada makhluq, maka sewaktu makhluq itu sirna, kita pun kehilangan pegangan dan terjatuh. Tetapi Allah itu selalu Ada, maka serahkanlah segala urusan kita kepada Allah, dan mohonlah kebutuhan kita kepadaNya. Dialah Yang memberi kekuatan dan kemampuan, keshalihan dan ketha’atan, kehidupan dan kebahagiaan.
    Wahai Allah, berilah petunjuk agar kami dapat berjalan di jalanMu yang lurus. Berilah kami pedoman dalam menjalankan tugas kami sebagai wakilMu di muka bumi. Lindungilah kami dari metode yang sesat dan bathil. Tunjukilah kami kepada aturan yang sempurna. Pedoman yang dapat menjawab semua persoalan kami.
    Wahai Allah, gerakkanlah kami untuk melaksanakan aturan yang sempurna ini. Aturan yang telah Engkau ajarkan kepada orang-orang yang telah Engkau gerakkan untuk sampai kepadaMu. Lindungilah pula kami dari ajaran-ajaran cacat dan bathil yang berusaha merayu kami untuk beralih kepadanya.
    Wahai Allah, ampunilah kami, kedua orangtua kami, dan saudara-saudara kami yang beriman. Kami serahkan segala urusan kepadaMu. Sesungguhnya Engkau Memperhatikan hamba-hamba yang berserah diri kepadaMu.
     

  • Kenyataan Dunia Nyata

    Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui. (Q.S. Al-Ankabut: 64)

    Proses Melihat

    Perbuatan ‘melihat’ disadari dalam sebuah cara yang sangat maju. Photon-photon cahaya, berjalan dari objek, melintas melalui lensa pada bagian depan mata, dimana photon-photon cahaya itu difokuskan dan jatuh, dibalik, pada retina. Di sini, cahaya yang menimpa retina diubah ke dalam sinyal-sinyal elektris yang dikirimkan oleh neuron-neuron ke sebuah titik kecil di bagian belakang otak, yang disebut pusat penglihatan. Setelah serangkaian proses, pusat otak ini merasakan sinyal-sinyal ini sebagai imajinasi/kesan. Perbuatan melihat yang sesungguhnya terjadi pada titik kecil ini di belakang otak dalam gelap-gulita, benar-benar tersekat dari cahaya. (Harun Yahya, The Evolution Deceit, cetakan ke-7, hal.217-218)
    Jika ‘melihat’ adalah sinyal-sinyal listrik yang ditafsirkan otak sebagaimana prosesor pada komputer menafsirkan sinyal-sinyal listrik sebagai suatu gambar -dan suara-, maka apakah kita memerlukan ‘dunia luar’ untuk kita lihat? Pada komputer, kita tidak harus memerlukan ‘dunia luar’ untuk membuat suatu gambar. Sebab kita dapat merekayasa gambar tersebut pada prosesor dengan memasukkan data-data yang akan mengatur sinyal-sinyal listrik. Begitu pula otak kita. Untuk melihat, mendengar, merasakan, mengecap, mencium, kita tidak memerlukan ‘dunia luar’. Sewaktu kita bermimpi, sering kita tidak dapat membedakan antara dunia mimpi dengan dunia nyata. Kita melihat diri kita dan dunia yang kita anggap nyata lengkap dengan warna, suara, tekstur, bau dan rasa. Kita berfikir bahwa kita sedang berada di dunia nyata. Tetapi sewaktu kita terbangun, kita pun sadar bahwa dunia yang baru saja kita lihat hanyalah mimpi, artinya tidak benar-benar ada. Apa yang kita lihat dalam mimpi, hanyalah sinyal-sinyal listrik yang ditafsirkan oleh otak kita. Jadi hanya dengan menafsirkan sinyal-sinyal listrik tersebut, kita sudah bisa ‘melihat’. Jadi, dunia yang kita lihat sekarang hanyalah sinyal-sinyal listrik yang ditafsirkan oleh otak kita sebagai ‘dunia nyata’.
    Jika kita melihat film The Matrix, Total Recall, kita akan dapat memahami bagaimana dunia yang terlihat nyata dapat direkayasa. Tetapi kemudian bagaimana dengan otak kita?

    Siapa yang Melihat?
    Otak kita adalah bagian dari ‘dunia nyata’. Artinya ia juga imajinasi. Jika demikian, lalu siapa yang benar-benar melihat? Ruh. Apa yang kita lihat sebagai ‘dunia nyata’ atau ‘dunia luar’ adalah kesan yang diciptakan Allah pada ruh kita. Jadi sewaktu kita terbangun dari mimpi, sesungguhnya kita sedang terbangun di alam mimpi yang lain yang kita sebut ‘alam dunia’. Mungkin diantara kita ada yang pernah berusaha bangun dari mimpinya, sewaktu ia berhasil bangun, ternyata ia pun sadar bahwa ia hanya terbangun di dunia mimpi pula. Lalu ia berusaha untuk bangun lagi, dan akhirnya ia berhasil bangun di alam dunia. Tetapi ternyata alam dunia yang kita huni saat ini juga hanyalah alam imajinasi. Imajinasi yang Allah Ciptakan pada ruh kita.

    Tubuh dan Waktu
    Kita sering berfikir bahwa yang merasakan sakit, sehat, senang, dan sebagainya adalah tubuh kita. Tetapi sesungguhnya tubuh kita ini hanyalah imajinasi. Di dalam mimpi terkadang kita merasa tubuh kita merasa sakit, tidak bisa bergerak, tidak bisa berbicara, dan sebagainya. Tetapi sesungguhnya tubuh kita –yang dilihat oleh teman kita- di alam dunia tetap bergerak dan tidak kenapa-kenapa. Semua yang kita rasakan di alam mimpi itu hanya terjadi pada fikiran kita, atau lebih tepatnya hanya dirasakan oleh ruh kita –yang padanya diciptakan segala hal. Sewaktu kita bermimpi, tubuh yang kita saksikan adalah tubuh imajinasi yang ada di alam mimpi. Tetapi selain kita memiliki tubuh tersebut, kita juga memiliki tubuh lain di alam dunia. Jadi pada saat itu kita ternyata memiliki dua tubuh. Hanya saja kita sedang fokus kepada tubuh yang ada di alam mimpi. Dan kita tidak peduli dengan tubuh kita yang ada di alam dunia. Begitu juga sebaliknya sewaktu kita ada di alam dunia ini kita hanya fokus dan merasakan pada tubuh yang ada di alam dunia.
    Apakah kita hanya memiliki dua tubuh? Tidak, kita memiliki banyak tubuh. Di alam dunia, alam mimpi, masa sekarang, masa lampu, masa depan, akhirat, dan masih banyak lagi. Apakah tubuh-tubuh itu sudah ada? Ya. Sewaktu kita bermimpi dan merasa hidup, apakah tubuh kita di alam dunia tidak ada? Tubuh kita di alam dunia itu ada. Tetapi kita sedang mengalami pengalaman lain, yaitu alam mimpi. Dan sekarang kita sedang mengalami alam dunia ‘saat ini’. Tetapi bukan berarti tubuh kita di alam dunia ‘di masa depan’, alam selanjutnya, ‘di masa lampau’, dan lainnya tidak ada. Semua itu ada, tetapi kita sedang fokus kepada tubuh kita di alam dunia ‘saat ini’. Hal inilah yang menyebabkan kita merasakan adanya ‘waktu’. Padahal waktu hanyalah imajinasi. Apa yang kita sebut ‘saat ini’ atau ‘sekarang’ adalah imajinasi yang kita sedang fokus padanya. Adapun ‘masa lampau’ adalah imajinasi yang kita telah pernah fokus lalu kita tafsirkan pada ‘saat ini’ sebagai kenangan. ‘Masa depan’ adalah kesan yang belum pernah kita fokus padanya. Tetapi semua itu –masa lampau, sekarang, masa depan- sudah ada. Hanya saja kita fokus kepada apa yang kita sebut ‘saat ini’.
    Jika kita melihat film pada menit ke-10, lalu kita pause. Maka apa yang ada sebelum menit ke-10 adalah masa lampau, pada menit ke-10 adalah saat ini, dan setelah menit ke-10 adalah masa depan. Semua itu sudah ada pada keping VCD, tetapi kita sedang fokus kepada menit ke-10. Jadi sesungguhnya, keabadian telah berlangsung.
    Dunia Fatamorgana

    Dunia yang saat ini kita huni, ternyata hanyalah alam imajinasi. Apa yang ada padanya hanyalah fatamorgana yang menipu. Alam dunia hanyalah mimpi. Dan bahkan semua alam yang kit rasakan adalah mimpi atau imajinasi. Tetapi diantara mimpi-mimpi itu ada mimpi yang lebih nyata dan kekal. ‘Alam dunia’ lebih nyata dari ‘alam mimpi’ dan alam akhirat lebih nyata dari alam dunia.
    Apa yang kita rasakan di alam mimpi akan hilang di alam dunia. Jika kita menggenggam sekuntum bunga di alam mimpi, apakah bunga itu akan ada dalam genggaman kita di saat terbangun? Begitu juga apa yang kita ‘genggam’ di alam dunia ini. Sewaktu kita terbangun di alam akhirat, semua itu akan sirna. Dan yang Ada serta Tidak Sirna hanyalah Allah. Jadi Wujud satu-satunya yang Haq hanyalah Allah. Inilah salah satu ma’na kalimat tauhid.
    Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu, adalah seperti air (hujan) yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya karena air itu tanam-tanaman bumi, di antaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan memakai (pula) perhiasannya, dan pemilik-pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya, tiba-tiba datanglah kepadanya azab Kami di waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanaman tanamannya) laksana tanam-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orang yang berfikir. (Q.S. Yunus: 24)
    Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan. (Q.S. Ar-Rahman: 26-27)

    Untuk Apa Beramal?
    Kita perlu memahami bahwa walau dunia ini adalah imajinasi, tetapi hukum fisika, hukum syari’at dan lainnya jelas berbeda dengan hukum fisika dan syari’at pada mimpi. Di alam mimpi kita bisa melayang-layang di udara tanpa gravitasi bumi. Kita juga bisa meminum khamar tanpa berdosa. Kemudian kita juga sering mendengar orang-orang tua dulu ada berkata bahwa jika seseorang bermimpi ketiban bulan itu tandanya ia akan mendapat rizqi besar yang tida di duga-duga di alam dunia setelah ia terbangun. Demikian pula alam dunia, ia menjadi alamat tentang apa yang akan menimpa kita di saat kita ‘terbangun’ di alam selanjutnya. Jika orang tua dulu punya primbon untuk menafsir mimpi, maka Al-Qur`an adalah pedoman kita untuk menafsirkan mimpi dunia. Di dalam Al-Qur`an di jelaskan bahwa jika di dunia kita bertaqwa, maka sewaktu ‘terbangun’ kita akan mendapat keberuntungan (al-falah). Tetapi jika kita ‘bermimpi’ menjadi orang yang ingkar, maka sewaktu kita ‘terbangun’ kita akan mendapat kecelakaan yang besar.
    Kemudian, di dalam suatu riwayat dikatakan bahwa penduduk surga dan neraka telah ditentukan. Lalu shahabat bertanya, “Kalau begitu kenapa kita tidak diam saja menunggu taqdir?” Lalu Rasulullah SAAW bersabda, “Beramallah kalian, sesungguhnya kalian dipermudah.” Jadi orang yang telah Allah tetapkan sebagai ahli surga akan Allah gerakkan untuk berbuat tha’at, adapun orang yang telah ditetapkan sebagai ahli neraka akan Allah mudahkan dalam berbuat ma’siat. Allah Mahaberkuasa lagi Mahabijaksana. Maka segala puji bagi Allah Yang telah menjadikan kita sebagai mu`min dan muslim. Segala puji bagi Allah yang menyelamatkan kita dari kekafiran dan kefasiqan. Segala puji bagi Allah yang telah menggerakkan kita untuk berbuat tha’at. Tidak ada daya untuk menghindari ma’siat dan tidak ada kekuatan untuk berbuat tha’at kecuali dengan Idzin, Kehendak, Kekuasaan, dan Kasih-Sayang Allah.
    Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Tuhanmu”. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas. (Q.S. Az-Zumar: 10)
    Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Dan jika kamu beriman serta bertakwa, Allah akan memberikan pahala kepadamu dan Dia tidak akan meminta harta-hartamu.
    (Q.S. Muhammad: 36)

    Anggapan Orang Kafir
    Orang-orang kafir menganggap bahwa dunia materi ini adalah dunia yang sesungguhnya, dan satu-satunya dunia yang ada. Pandangan seperti ini biasa kita sebut dengan materialisme. Paham ini telah berkembang sejak ribuan tahun silam, sejak manusia mulai ingkar kepada Allah. Kemudian Charles Darwin berusaha membuktikan bahwa paham materialisme itu adalah paham yang haq dan paham Wujudnya Allah adalah paham yang bathil, tidak terbukti dan takhyul belaka.
    (Orang-orang kafir berkata:) kehidupan itu tidak lain hanyalah kehidupan kita di dunia ini, kita mati dan kita hidup dan sekali-kali tidak akan dibangkitkan lagi.
    (Q.S. Al-Mu`minun: 37)
    Dan mereka berkata: “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa”, dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja. (Q.S. Al-Jatsiyah: 24)

    Pembuktian Ilmiah
    Pada abad ke-20 semua pemikiran dari materialisme menjadi gugur. Para materialis beranggapan bahwa dunia tidak diciptakan. Tetapi kemudian teori Big Bang yang didasari oleh bukti ilmiah menyimpulkan: alam semesta tercipta melalui ledakan titik tunggal yang bervolume nol.
    Dalam bahasa ilmiah, ‘ketiadaan’ diungkapkan dengan kata ‘volume nol’. Dan kaum materialis mengatakan bahwa alam dunia ini adalah nyata. Tetapi ilmu pengetahuan membuktikan bahwa alam dunia hanyalah sinyal-sinyal listrik yang ditafsirkan fikiran kita. Jadi ajaran Allah itulah yang Haq dan paham materialisme itulah yang bathil, tidak ilmiah, takhyul, primitif, tidak modern.

    Kesimpulan
    Berdasarkan ajaran Islam dan pembuktian ilmiah, ternyata dunia –yang di dalamnya terdapat materi- bukanlah alam nyata. Dunia hanyalah imajinasi, fatamorgana yang Allah Ciptakan pada ruh kita. Lalu bagaimana dengan ruh? Allah Yang Lebih Tahu. Oleh sebab itu hendaknya kita tidak berpandangan kuno seperti halnya kaum materialis yang tidak percaya akan Adanya Allah.
    Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.
    (Q.S. Al-Hadid: 20)

    Disarikan dari tulisan-tulisan Harun Yahya (Adnan Oktar)
    Eternity Has Already Begun
    The Evolution Deceit
    Matter: The Other Name for Illusion
    Timelessness and the Reality of Fate
    dsb

    Rujukan dalam Al-Qur`an:
    Ali ‘Imron: 117, 185 Al An’am: 32, 70
    Al Ankabut: 64 Al Hadid: 20
    Muhammad: 36 Yunus: 24
    Al Kahfi: 45-46 Luqman: 33
    Fathir: 5 Az-Zumar: 10
    Ar-Ra’d: 26 Al-Mu`minun: 37
    Al-Jatsiyah: 24, 35