Kategori: Kenali Nabimu

  • Ucapan Mempengaruhi Jiwa dan Partikel

    Assalamu’alaikum warohmatullallhi wabarokaatuh,

    Hamdan li Robbin Khosshona bi Muhammadin

    Wa anqodznaa bi dzulmatiljahli waddayaajiri

    Alhamdulillahilladzii hadaanaa bi ‘abdihilmukhtaari man da’aanaa ilaihi bil idzni waqod naadaanaa labbaika yaa man dallanaa wa hadaanaa

    Shollallahu wa sallama wa baarok’alaih

    Alhamdulillahilladzi jam’anaa fi hadzalmahdhor, Limpahan puji kehadirat Allah, dengan terpanggilnya jiwa untuk menyebut nama Allah, limpahan puji kehadirat Allah, Maha Raja langit dan bumi, yang selalu mengizinkan bibir pendosa untuk terus menyebut nama Allah, mengizinkan jiwa yang penuh kegelapan dan kesalahan untuk memanggil namanya, untuk meminta pengampunan, dan pengampunannya adalah gerbang terluas di alam semesta, Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang, melebihi semua pemilik sifat kasih sayang, Allah, Allah SWT Maha mendahului hajat dan kebutuhan hambanya untuk melewati kehidupan, sebelum hambanya meminta (lebih…)

  • Ayah Bunda Nabi Di Neraka?

    Ada-ada saja kelompok pemuda yang lemah aqal di zaman ini. Betapa teganya mereka berbicara yang tidak-tidak tentang ibunda dan ayahanda baginda Nabi Muhammad SAAW. Mereka berkata bahwa ayah-bunda Nabi masuk neraka. Sungguh tuduhan yang menyakiti hati sang Nabi pilihan. Untuk itu, Guru kita Al-Habib Munzir bin Fuad Al-Musawa telah memberikan penjelasan yang dapat Anda baca di sini.

  • Ayah Bunda Nabi Di Neraka?

    Dalam banyak hadits teriwayatkan ketika ditanyakan pada nabi saw:
    “Apa yg kau perbuat untuk pamanmu abu thalib? Dahulu ia melindungimu, dan marah demi membelamu..,” maka Rasul saw bersabda : “Dia di pantai api neraka, kalau bukan karena aku, niscaya ia di dasar neraka yg terdalam” (Shahih Bukhari hadits no.3670, 5855, Shahih Muslim hadits no.209)

    Berkata Al Hafizh Al Imam Ibn Hajar Al Atsqalaniy: “Berkata Imam Baihaqi di dalam penjelasan riwayat masalah Abu Thali : ‘Tiada makna pengingkaran karena telah shahihnya riwayat ini, dan bentuknya menurutku bahwa syafaat pada kafir terhalang sebagaimana sampainya kabar yang jelas dan benar, bahwa tiada yang bisa memberi syafaaat pada kafir seorangpun, namun ini adalah makna umum bagi semua kafir, dan boleh saja ada kekhususan darinya bagi siapa yang telah dikuatkan kekhususan baginya (Rasul saw).

    Berkata sebagian mereka yang berpendapat bahwa balasan orang kafir daripada siksa adalah atas kekufurannya dan maksiatnya, maka boleh saja Allah mengurangkan sebagian dari siksa orang kafir, demi menenangkan hati sang Nabi saw pemberi syafaat, bukan karena pahala bagi orang kafir, karena pahalanya telah hapus karena kematiannya.’” (Fathul Baari Al masyhur Juz 11 hal 431).

    Perhatikan ucapan Imam : “demi menenangkan hati sang nabi saw pemberi syafaat,” lalu bagaimana lagi dengan ayah bunda Nabi saw…???

    Juga diriwayatkan bahwa Abbas bin Abdulmuttalib melihat Abu Lahab dalam mimpinya, dan Abbas bertanya padanya : “Bagaimana keadaanmu?” Abu lahab menjawab : “Di neraka, cuma diringankan siksaku setiap Senin karena aku membebaskan budakku Tsuwaibah karena gembiraku atas kelahiran Rasul saw” (Shahih Bukhari hadits no.4813, Sunan Imam Baihaqi Alkubra hadits no.13701, syi’bul iman no.281, fathul baari Almasyhur juz 11 hal 431).

    Walaupun kafir terjahat ini dibantai di alam barzakh, namun tentunya Allah berhak menambah siksanya atau menguranginya menurut kehendak Allah swt, maka Allah menguranginya setiap hari senin karena telah gembira dengan kelahiran Rasul saw dengan membebaskan budaknya.

    Walaupun mimpi tak dapat dijadikan hujjah untuk memecahkan hukum syariah, namun mimpi dapat dijadikan hujjah sebagai manakib, sejarah dan lainnya, misalnya mimpi orang kafir atas kebangkitan Nabi saw, atau pun mimpi Pendeta Buhaira atas kebangkitan Rasul saw, maka tentunya hal itu dijadikan hujjah atas kebangkitan Nabi saw, demikian pula mimpi Ibunda Rasul saw yang Allah ilhamkan untuk memberi beliau saw nama “Muhammad”, tentunya mustahil nama Muhammad itu datang dari bibir musyrik. Itulah mimpi yang benar.

    Maka para Imam diatas yang meriwayatkan hal itu tentunya menjadi hujjah bagi kita bahwa hal itu benar adanya, karena diakui oleh para Imam dan mereka tak mengingkarinya, bahkan berkata Imam Ibn Hajar dan Imam Assuyuthiy: “Perlu pertimbangan untuk memungkiri itu karena telah diriwayatkan dalam Shahih Bukhari.”

    Karena memang shahih Bukhari adalah kitab hadits tertinggi dan terkuat dari semua kitab hadits, dan Imam Bukhari digelari Sayyidul Muhadditsin (Raja para Ahli Hadits), gelar ini dikatakan oleh Imam Muslim yang ta’jub ketika melihat Imam Bukhari dapat menjawab dengan mudah permasalahan yang tak bisa dipecahkan olehnya, maka berkata Imam Muslim: “Izinkan aku mencium kedua kakimu wahai Guru para Guru Ahli Hadits, wahai Raja para ahli hadits, wahai penyembuh hadits dari ilatnya..!”

    Dengan penjelasan diatas, bila Abu Thalib yang hidup di masa Nabi dapat syafaat Rasul saw hingga teringankan siksanya, dan bahkan Raja semua kafir yaitu Abu lahab bahkan mendapat keringanan siksanya karena pernah membebaskan budaknya yaitu Tsuwaibah karena gembiranya menyambut kelahiran Nabi SAW, maka bagaimana lagi ayah bunda Rasul saw, yang melahirkan Nabi saw, dan mereka tak sempat hidup di masa kebangkitan Risalah Nabi saw dan tak sempat kufur atau pun menolak ajaran Rasul saw?

    Demikian pendapat sebagian ulama bahwa ayah dan ibu Nabi SAW bebas dari kemusyrikan dan neraka, karena wafat sebelum kebangkitan Risalah, dan tak ada pula nash yg menjelaskan mereka menyembah berhala. Diantara Ulama yg berpendapat bahwa ayah bunda Nabi bukan musyrik adalah :
    Hujjatul Islam Al Imam Syafii dan sebagian besar ulama syafii, Al Hafidh Al Muhaddits Al Imam Qurtubi, Al Hafidh Al Imam Assakhawiy, Al hafidh Al Muhaddits Al Imam Jalaluddin Abdurrahman Assuyuthi yg mengarang sebuah buku khusus tentang keselamatan ayah bunda nabi saw, Al hafidh Al Imam Ibn Syaahin, Al Hafidh Al Imam Abubakar Al baghdadiy, Al hafidh Al Imam Attabari, Al hafidh Al Imam Addaruquthniy, dan masih banyak lagi yang lainnya.

    Satu hal yang buruk pada jiwa para wahhabi, adalah mengumpat Nabi saw dg pembahasan ini. Naudzubillah dari jiwa busuk yang mengumpat Rasulullah saw, menuduh bunda Nabi kafir musyrik. Lalu bagaimana bila hal ini tak benar? Sungguh kekufuran akan berbalik kepada mereka.

    Saudaraku, beribu maaf, misalkan seseorang bernama Amir tak jelas apakah ayah ibunya muslim atau kafir. Lalu Zeyd menukil 100 cara untuk menjelaskan pada orang banyak bahwa ayah dan ibunya Amir adalah musyrik dan kafir. Bukankah berarti Zeyd memusuhi Amir? Bukankah ini umpatan terburuk? Bukankah jelas-jelas Zeyd mengumpat Amir? Bukankah berarti ia musuh besar Amir?

    Mereka berkata : “Kami taqlid kepada para Mujtahid.” Ketahuilah, taqlid kepada para mujtahid membutuhkan sanad, bukan taqlid kepada buku.

    Dan pendapat yang shahih dalam madzhab Syafi’i bahwa ayah bunda Nabi saw selamat karena tergolong ahlul fithrah, karena tak ada bukti bahwa mereka menyembah berhala.

    Mengenai hadits : “Ayahku dan ayahmu di Neraka” (HR. Shahih Muslim)

    Kalimat “Abiy” dalam ucapan Nabi saw diatas tak bisa diterjemahkan mutlak sebagai ayah kandung, sebagaimana firman Allah SWT : “Berkata Ya’kub ketika akan wafat kepada putra-putranya : ‘apa yg akan kalian sembah setelah wafatku nanti?’ Mereka menjawab : ‘Kami menyembah Tuhanmu, dan Tuhan ayah-ayahmu yaitu Ibrahim, dan Ismail dan Ishaq… (QS. Al-Baqarah 133)

    Jelas sudah bahwa ayah dari Ya’qub hanyalah Ishaq, sedangkan Ibrahim adalah kakeknya, dan Ismail adalah paman Ya’qub. Namun mereka mengatakan : ‘ayah-ayahmu’ namun bermakna : ‘ayahmu, kakekmu, dan pamanmu’. Karena dalam kaidah Arabiyyah sering terjadi ucapan ayah, adalah untuk paman.

    Bila siksa, keringanan dan ampunan adalah urusan Allah, dan Allah meringankan Abu lahab, dan meringankan Abu Thalib, maka lebih-lebih ayah bunda Nabi saw.

    Berkata Al Hafizh Al Imam Jalaluddin Abdurrahman Assuyuthi dalam kitabnya Masalikul Hunafaa’ fi Abaway Musthofa, bahwa riwayat hadits shahih Muslim itu diriwayatkan oleh Hammad, dan ia adalah Muttaham (tertuduh), dan Imam Muslim tidak meriwayatkan hadits lain darinya kecuali ini. Dan riwayat hadits itu (ayahku dan ayahmu di neraka) adalah hadits riwayat Hammad sendiri, dan Hammad dianggap sebagai orang yang lemah hafalannya, dan ia terkelompok dalam orang yang hadits-hadistnya banyak diingkari, karena lemah hafalannya dan Imam Bukhari tidak menerima Hammad, dan tak mengeluarkan satu hadits pun darinya.

    Dan Imam Muslim tak punya riwayat lain dari Hammad kecuali dari Tsabit ra dari riwayat ini, dan telah berbeda riwayat lain dari Muammar yang juga dari Tsabit ra dari Anas ra dengan tidak menyebut lafazh : ‘ayahku dan ayahmu di neraka,’ tetapi dikatakan padanya “Bila kau lewat di kubur orang-orang kafir, fabassyirhu binnaar”, dan riwayat ini Atsbat (lebih kuat) haytsu riwayat (dari segi riwayatnya), karena Muammar jauh lebih kuat dari Hammad, sungguh Hammad telah dijelaskan bahwa ia lemah dalam hafalannya dan pada hadits haditsnya banyak yang terkena pengingkaran.

    Berkata Al-Hafizh Al-Imam Nawawi : “Ketika khabar ahad bertentangan dengan Nash Alqur’an atau ijma’, maka wajib ditinggalkan zhohirnya” (Syarh Muhadzab Juz 4 hal 342)

    Berkata Al Hafizh Al Imam Ibn Hajar Al Atsqalaniy yang menyampaikan ucapan Al Kirmaniy bahwa yang menjadi ketentuannya adalah “Khabar Ahad adalah hanya pada amal perbuatan, bukan pada I’tiqadiyyah” (Fathul Baari Almasyhur Juz 13 hal 231)

    Berkata Al hafizh Al Imam Assuyuthiy bahwa Hadits Shahih bila dihadapkan pada Hadits lain yang lebih kuat maka wajib penakwilannya dan dimajukanlah darinya dalil yang lebih kuat sebagaimana hal itu merupakan ketetapan dalam Ushul (Masaalikul Hunafa fii Abaway Mustofa hal 66)

    Berkata Imam Al Hafizh Jalaluddin Abdurrahman Assuyuthiy bahwa hadits riwayat Muslim abii wa abaaka finnaar (ayahku dan ayahmu di neraka), dan tidak diizinkannya nabi saw untuk beristighfar bagi ibunya telah MANSUKH dengan firman Allah swt : “Dan kami tak akan menyiksa suatu kaum sebelum kami membangkitkan Rasul” (QS. Al-Isra 15). [Rujuk Masaalikul Hunafa fii Abaway Musthofa hal. 68 dan Addarajul Muniifah fii Abaway Musthofa hal. 5 yang juga oleh beliau]

    Dikeluarkan oleh Ibnu Majjah dari Ibrahim bin Sa’ad dari Zuhri dari Salim dari ayahnya yang berkata: Datanglah seorang dusun kepada Nabi SAW, dan berkata, “Yaa Rasulullah! Inna abi kaana yasilur-raha wa kaana wa kaana… fa aina huwa?” Qaala, “Finnaar.” Qaala: Fa ka-annahu wajada min dzalik. Faqaala: “Yaa rasulullah! Fa aina abuuk?” Faqaala SAW haistu marorta fi qabr kafir, fa bassyirhu binnaar, fa aslama a’rabiy ba’d. faqaala law qad kallafani rasulullah saw taba’an, ma marortu bi qabr kafir illa bassyartuhu binnar.

    Maka jelaslah bahwa Imam Muslim dan Imam Nawawi mengambil riwayat ini bukan bermaksud menuduh ayah kandung nabi saw kafir, namun sebagai penjelas bahwa paman-paman nabi saw ada banyak yang dalam kekufuran, karena menolak risalah Nabi saw, termasuk Abu Lahab. Bahkan Abu Thalib pun dalam riwayat shahih Bukhari bahwa ia di Neraka.

    Berkata Al Hafizh Al Imam Jalaluddin Abdurrahman Assuyuthiy:
    Dikatakan oleh Al Qadhiy Abu Bakar Al A’raabiy bahwa orang yang mengatakan ayah bunda Nabi di neraka, mereka (yang berkata seperti itu) di laknat oleh Allah SWT, karena Allah SWT telah berfirman : “Sungguh mereka yang menyakiti dan mengganggu Allah dan Nabi-Nya, mereka dilaknat Allah di dunia dan akhirat, dan dijanjikan bagi mereka azab yang menghinakan.” (QS. Al-Ahzab: 57)

    Berkata Qadhiy Abu Bakar, “Tiadalah hal yg lebih menyakiti Nabi SAW ketika dikatakan bahwa ayahnya berada di neraka, dan sungguh telah bersabda Nabi saw : ‘Janganlah kalian menyakiti yang hidup karena sebab yang telah wafat.’ (Masalikul Hunafa’ hal. 75 li Imam Suyuti)

    Adakah satu ucapan Imam Nawawi yang mengatakan bahwa Abdullah bin Abdul Muththalib dan Aminah adalah musyrik penyembah berhala? Tidak ada. Bahkan Nabi SAW sendiri menjelaskan bahwa ayah-ayahnya adalah suci, sebagaimana sabda beliau saw :
    “Aku Muhammad bin Abdillah bin Abdul Muttalib, bin Hasyim, bin Abdu Manaf, bin Qushay, bin Kilaab, bin Murrah, bin Ka’b bin Lu’ay bin Ghalib bin Fihir bin Malik bin Nadhar bin Kinaanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudharr bin Nizaar. Tiadalah terpisah manusia menjadi dua kelompok (nasab) kecuali aku berada diantara yg terbaik dari keduanya. Maka aku lahir dari ayah ibuku dan tidaklah aku terkenai oleh ajaran jahiliyah, dan aku terlahirkan dari nikah (yang sah), tidaklah aku dilahirkan dari orang jahat sejak Adam sampai berakhir pada ayah dan ibuku. Maka aku adalah pemilik nasab yang terbaik diantara kalian, dan sebaik-baik ayah nasab.” (Ditakhrij oleh Imam Baihaqi dalam Dalailun Nubuwwah dan Imam Hakim dari Anas ra).

    Hadits ini diriwayatkan pula oleh Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya Juz 2 halaman 404. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Ath-Thabari dalam tafsirnya Juz 11 halaman 76.

    Juga sabda Nabi saw : “Aku Nabi yang tak berdusta, aku adalah putra Abdul Muththalib.” (Shahih Bukhari hadits no.2709, 2719, 2772, Shahih Muslim hadits no. 1776. Hadits ini diriwayatkan pula oleh Imam Nawawi dalam syarh Shahih Muslim.)

    Bila Abdul Muttolib kafir, maka adakah nabi akan membanggakan kakeknya yang kafir dalam peperangan? Dan Anda lihat pula dalam hadits ini bahwa putera bermakna cucu.

    Tentunya mengenai hal ini telah jelas. Bahkan paman Nabi SAW pun disyafa’ati oleh Rasul SAW. Demikian pula Abu Lahab sebagaimana riwayat Shahih Bukhari. Dan makna ayah dalam hadits itu adalah paman.

    Demikian pula ucapan Nabi saw kepada Sa’ad bin Abi Waqqash ra di peperangan Uhud ketika Nabi saw melihat seorang kafir membakar seorang Muslim, maka Rasul saw berkata pada Sa’ad : “Panah dia, jaminan keselamatanmu adalah ayah dan ibuku!” Maka Sa’ad bin Abi Waqqash ra berkata dengan gembira : “Rasul saw mengumpulkan aku dengan nama ayah ibunya!” (Shahih Bukhari hadits no.3442 Bab Manaqib Zubair bin Awam. Riwayat yang sama pada Shahih Bukhari hadits no. 3446 Bab Manaqib Sa’ad bin Abi Waqqash. Riwayat yang sama pada Shahih Bukhari hadits no. 3750 Bab Maghaziy. Riwayat yang sama pada Shahih Bukhari hadits no. 3751 Bab Maghaziy)

    Jelas sudah, mustahil Rasul saw menjadikan dua orang musyrik untuk disatukan dengan Sa’ad bin Abi Waqqash ra, dan mustahil pula Sa’ad ra berbangga-bangga namanya digandengkan dengan dua orang musyrik.

    Kita lihat bagaimana saat-saat kelahiran Nabi saw.. :
    Berkata Utsman bin Abil Ash Ats-Tsaqafiy dari ibunya yang menjadi pembantu Aminah bunda Nabi saw, ketika ibunda Nabi saw mulai saat-saat melahirkan, ia (ibu Utsman) melihat bintang-bintang mendekat hingga ia takut berjatuhan di atas kepalanya. Lalu ia melihat cahaya terang-benderang keluar dari Bunda Nabi saw hingga membuat terang-benderangnya kamar dan rumah. (Fathul Bari Almasyhur juz 6 hal 583)

    Riwayat shahih oleh Ibn Hibban dan Hakim bahwa Ibunda Nabi saw saat melahirkan Nabi saw melihat cahaya yang terang-benderang hingga pandangannya menembus dan melihat istana-istana Romawi. Inikah wanita musyrik, kafir…?

    Sabda Nabi saw : “Bila berkata seseorang kepada saudaranya wahai kafir, maka akan terkena pada salah satu dari mereka.” (Shahih Bukhari hadits no.5754)

    Dan pembahasan ini saya tutup bagi yang membantah namun tak bisa menyebutkan sanadnya kepada para Muhaddits, karena mereka yang tak memiliki sanad kepada para Imam itu maka hujjahnya Maqtu’, sanadnya terputus, dan fatwanya tidak diakui dalam syariah Islam, maka ketika dua pendapat berselisih, yang lebih tsiqah dan kuat adalah yang mempunyai sanad kepada para Imam tersebut.

    Wallahu a’lam

    (Habib Munzir bin Fuad Al-Musawa)

  • Para Pecinta Rasul

    Diriwayatkan didalam Shahih Bukhari, ketika Sayyidina Zaid bin Haritsah ra (salah seorang budak) ditawarkan kepadanya kebebasan untuk kembali kepada ayahnya atau tetap bersama Rasul. “Kupilihkan padamu,” kata Rasul, “bebas jadi orang merdeka kembali pada ayahmu atau tetap bersamaku?” Maka berkata Sayyidina Zaid bin Haritsah ra: “Wahai Rasulullah, aku tidak memilih orang lain selainmu. Jangan berkata silahkan pilih. Tidak akan kupilih orang lain selainmu ya Rasulullah.” Demikian indahnya cinta Sayyidina Zaid bin Haritsah ra kepada Sayyidina Muhammad saw, dan ia bukan seorang sahabat besar dari Khulafaur Rasyidin. Bagaimana lagi cinta para Khulafaur-Rasyidin kepada Nabi?

    Sayyidina Abdullah bin Umar, ketika Rasul saw telah wafat, ia sedang duduk di Masjid Nabawi, maka terlihat seorang pemuda masuk ke Masjid terburu-buru. Dalam keadaan selesai berwudhu, masuk ke dalam shaf shalat berjamaah. Berkata Sayyidina Abdullah bin Umar ra: “Anak seperti ini, kalau dilihat oleh Rasulullah saw, pasti dicintai oleh Rasul.” Kenapa? Pemuda yang mencintai sunnah Nabi Muhammad saw. Pemuda yang berwudhu terburu-buru itu ingin hadir dalam shalat berjamaah.

    Sampailah kita 14 abad setelah wafatnya Rasulullah saw. Namun tidak bisa memutus cinta kita kepada Nabi Muhammad saw. Empat belas abad jarak antara kita dengan Rasulullah saw. Kita tidak bisa terputus oleh jarak sepanjang itu. Kita tetap mencintai Nabi Muhammad saw. Kita tidak melihat Rasul, tidak berkumpul dengan Rasul, tidak mendengar suara Rasul. Tetapi kita mencintai Nabi Muhammad saw. Inilah yang paling menggembirakan hati Sang Nabi. Tidak ada yang lebih menggembirakan beliau daripada para pemuda yang mengikuti sunnah beliau saw.

    Diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari ketika Rasul saw berkhutbah di akhir majelis sebelum beliau wafat. Beliau keluar mengenakan pengikat kepalanya, menunjukkan sakit kepalanya yang demikian dahsyat. Beliau keluar menuju majelis dan duduk di atas mimbar menyampaikan ucapan, “Sungguh manusia muslimin akan semakin banyak, tetapi yang mendukung semakin sedikit. Bagaikan butiran-butiran garam di dalam suatu makanan, sedikit saja. Barang siapa yang dipimpin oleh seorang muslim, dan ia melihat ada suatu mudharat yang diperbuat oleh pemimpinnya, tetapi membawa manfaat bagi kelompok muslimin lainnya, maka terimalah perbuatan baiknya dan maafkan kesalahannya.” Hadits ini riwayat Shahih Bukhari. Pahamlah kita bahwa Rasulullah saw melarang pengingkaran terhadap pemimpin selama ia beragama Islam. Rasul saw memilihkan kepada kita pembenahan ummat dari bawah, bukan dengan penghancuran dari atas dengan kekerasan. Inilah wasiat Nabi saw.

    Berkata Imam Bukhari ra bahwa setelah Rasul saw mengucapkan ini, beliau saw masuk rumahnya. Itulah majelis yang terakhir dihadiri oleh Nabi Muhammad saw. Wasiat beliau saw, bila muncul kelak orang-orang muslim yang memimpin pada kalian terlihat hal yang mudharat pada perbuatan mereka pada sebagian muslimin dan masih membawa manfaat bagi sebagian muslimin lainnya, terimalah perbuatan baik mereka dan maafkanlah kesalahan mereka. Inilah sabda dan wasiat Nabi kita yang terakhir dari khutbah beliau di majelis beliau yang terakhir. Maka tentunya kita semua menerima dengan ucapan “sami’na wa atha’na ya Rasulullah saw”.

    Rabbi Ya Rahman Ya Rahim, jadikanlah kota Jakarta dan sekitarnya menjadi Serambi Madinah Munawwarah. Kota yang paling banyak mencintai Nabi Muhammad saw, mencintai sunnah Rasulullah, mengikuti sunnah Sang Nabi. Jadikanlah kota ini kota Ahlus sujud, kota ahlul khusyu, kota para pecinta Rasulullah. Yaa Rahman Yaa Rahim Yaa Dzal Jalali wal Ikram, inilah doa kami Rabbi, akan muncul kelak satu generasi sesudah kami yang akan memakmurkan kota Jakarta dan sekitarnya, dan memakmurkan seluruh Barat dan Timur, menjadikan muka bumi ini dihuni para pecinta Nabi Muhammad saw. Rabbi, kami berdoa dan kami ikut serta dalam perjuangan ini. Qobulkanlah ya Rabbi.

  • Air Keluar dari Sela Jari-Jari

    Ketika Rasulullah SAW berhijrah bersama Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq ra, diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari, berkatalah Sayyidina Abu Bakar Asshiddiq “Wahai Rasulullah, jika orang kafir itu melihat kaki mereka, mereka akan melihat kaki kita..”. Maka Rasul saw menjawabnya, “Bagaimana pendapatmu hubungan dua orang, yang ketiganya adalah Allah..?”

    (lebih…)

  • Ni’mati Surga Dalam Sujudmu

    Rasulullah saw sangat mencintai sujud. Beliau saw ini adalah orang yang sangat menyukai sujud. Sehingga diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari, bertanya para sahabah kepada Sayyidatuna Aisyah, “Bagaimana sujudnya Rasul?” Beliau menjawab, “Rasul saw ketika bersujud, lamanya sepanjang 50 ayat.” Jika bacaan orang yang lancar bacaan Alqurannya 100 ayat itu kira-kira setengah jam, maka 50 ayat ini kira-kira 15 menit dalam 1 kali sujud.

    (lebih…)

  • Air Keluar dari Sela Jari-Jari

    Ketika Rasulullah SAW berhijrah bersama Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq ra, diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari, berkatalah Sayyidina Abu Bakar Asshiddiq “Wahai Rasulullah, jika orang kafir itu melihat kaki mereka, mereka akan melihat kaki kita..”. Maka Rasul saw menjawabnya, “Bagaimana pendapatmu hubungan dua orang, yang ketiganya adalah Allah..?”

    Demikian hebatnya Rasul saw, dengan tenang dan sejuknya jiwa beliau di dalam keadaan yang demikian bahaya seraya berkata, “Bagaimana pendapat kalian, kalau seandainya ada dua orang, yang ketiganya adalah Allah…”. Makna dari firman Allah ‘Dia bersama kalian dimanapun kalian berada’.

    Demikian hakikat iman yang harus kita pahami dan kita dalami dari kemuliaan kebersamaan bersama Allah dalam segala hal, di dalam kesulitan , di dalam musibah, dalam keni’matan, jangan lepaskan cahaya ilahi dari dalam jiwa.
    Sungguh Nabi kita Muhammad saw tiada henti-hentinya menuntun pada kemuliaan dan menjadi lambang dari Rahmat Allah SWT.

    Diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari, ketika Rasul saw sedang dihadapkan kepadanya hidangan makanan, maka makanan itu bertasbih. Terdengar tasbihnya oleh para sahabat. Kita memahami bahwa seluruh benda dan makhluk itu bertasbih kepada Allah. Akan tetapi, Allah jadikan makanan itu bertasbih dan terdengar oleh para sahabah ketika makanan itu dihadapkan kepada Nabi Muhammad saw. Hal ini menunjukan kemuliaan yang demikian dasyatnya dari manusia yang paling dimuliakan Allah dengan cahaya tuntunan ilahi, Nabi Muhammad saw.

    Diriwayatkan didalam Shahih Bukhari, ketika para sahabah dalam kehausan, Rasul saw meletakkan bejana, lantas keluarlah air dari jari-jari beliau, lantas beliau bersabda, “Kemari.. datangilah, kunjungilah keberkahan yang dilimpahi di air suci ini dan keberkahan dari Allah.” Beliau sendiri yang mengatakan “Kemari…, datanglah kepada air suci yang diberkahi.” Dari mana? Air yang keluar dari jari-jari beliau saw. Hal-hal seperti ini, saudara-saudariku, mestilah kita kenali. Kenalilah sejarah Nabi kita Muhammad saw.

  • Ni’mati Surga Dalam Sujudmu

    Rasulullah saw sangat mencintai sujud. Beliau saw ini adalah orang yang sangat menyukai sujud. Sehingga diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari, bertanya para sahabah kepada Sayyidatuna Aisyah, “Bagaimana sujudnya Rasul?” Beliau menjawab, “Rasul saw ketika bersujud, lamanya sepanjang 50 ayat.” Jika bacaan orang yang lancar bacaan Alqurannya 100 ayat itu kira-kira setengah jam, maka 50 ayat ini kira-kira 15 menit dalam 1 kali sujud.

    Demikianlah jiwa yang turut bersujud. Barangkali berbeda dengan kita. Jiwa kita ingin bersujud tapi tubuh kita menolak. Hati kita ingin sujud kalau perlu walau hanya 5-6 menit, tetapi tubuh kita menolak untuk lama-lama bersujud. Kenapa?? Karena tubuh kita ini kurang dipenuhi cahaya sujud. Jika tubuh kita dipenuhi cahaya sujud, dia tidak akan merasa lelah dalam bersujud. Ketika kita terlepas dari keni’matan sujud, maka ingin rasanya sujud dan segera selesai. Sedangkan Rasul saw telah bersabda, demikian diriwayatkan di dalam Shahih Muslim, “Derajat hamba yang paling dekat kepada Allah adalah saat dia sedang bersujud, inilah yang sedekat-dekatnya hamba kepada Allah dan inilah yang paling sulit bisa dini’mati.”

    Ketika Sayyidina Tsauban ra ditanya oleh para sahabat “Apa amal yang paling dicintai oleh Allah?” Beliau tidak menjawab. Ditanyakan kedua kali, beliau tidak menjawab. Ditanyakan ketiga kali, baru dia menjawab, “Aku telah bertanya pertanyaan ini kepada Rasul dan beliau menjawab, ‘Perbuatan yang paling dicintai Allah adalah banyak bersujud kepada Allah.’ Itulah perbuataan yang dicintai Allah.”

    Sayyidina Rabi’iah bin Ka’ab ra, diriwayatkan didalam Shahih Bukhari, ketika diriwayatkan oleh Imam bin Hajar dalam kitabnya Fathul Baari bi syarah shahih bukhari, ketika Rabi’ah bin Ka’ab ini meminta kepada Rasul “Kuminta padamu yaa Rasulullah, agar aku bisa bersamamu wahai Rasul!” Maka Rasul saw menjawab “Bila kau ingin dekat denganku di surga dan menemaniku di surga maka perbanyaklah sujud.”

    Kita telah mendengar nama-nama mulia semacam Imam Ali Zainal Abidin bin Husein bin Ali bin Abi Thalib, yang digelari Assajjad karena dia sujud 1000 kali setiap malamnya, melakukan shalat 500 rakaat di dalam tahajjudnya.

    Berkata Al Hafizh Al Imam ibnu Hajar Atsqalani menukil ucapan Imam Nawawi di dalam syarah Nawawi Shahih Muslim, bahwa ketika ditimbang antara lamanya berdiri atau banyaknya sujud maka banyaknya sujud lebih mulia dari lamanya berdiri di saat shalat. Demikianlah yang diperbuat oleh para sahabat. Mereka memperbanyak sujudnya.

    Guruku, Al-Habib Munzir bin Fuad Al-Musawa telah mengajak kita untuk memuliakan hari-hari kita dan malam-malam kita dengan memperbanyak sujud dan pula jangan lupakan diri dan jiwa kita. Ketika diri kita bersujud, ingat jiwa kita agar bersujud pula kepada Allah. Ketika jiwa telah bersujud pada Allah, maka ia akan meni’mati kehidupan ini bagaikan surga. Ia seakan sudah sampai ke dalam keni’matan surga sebelum ia wafat karena telah meni’mati indahnya kedekatan kehadirat Rabb.

    Ketika seseorang telah memahami dan merasakan indahnya dzikrullah, indahnya mengingat nama Allah, indahnya mensucikan nama Allah, ia akan merasakan keni’matan yang lebih dari seluruh keni’matan yang ada di muka bumi. Dia akan lupa dengan surga dan segala isinya. Dia akan lupa dengan neraka dan segala ancamannya. Karena ia telah meni’mati keni’matan yang terluhur dan tertinggi, yaitu kemuliaan khusyuk di dalam kemuliaan cahaya sujud. Bukankah telah bersabda Nabi kita Muhammad saw “Sungguh Allah telah mengharamkan api neraka dari membakar anggota sujud.” Menunjukan ibadah sujud ini ibadah yang sangat mulia dan dia dirangkai didalam shalat.

    Rasul telah bersabda “Wahai Allah, jadikan hal yang paling kucintai adalah shalat.” Ketahuilah, ketika meledak dari kerinduan kepada Allah, beliau melampiaskannya dengan memperbanyak shalat, dengan melakukan sujud dan rukuk.

    Warisilah kemuliaan sujud ini. Jadikan hari-hari kita dalam kemulian sujud. Ingatlah saat-saat di mana kita kita semua kelak akan sendiri di alam barzakh. Ribuan tahun menanti keputusan Allah, menanti sidang akbar.

    Beruntunglah mereka yang wafat di dalam barzakhnya sebagai orang yang merindukan Allah dan anggota sujudnya menyaksikan bahwa ia banyak bersujud.

    Yaa Rahman Yaa Rahim… kami mengadukan keadaan kami yang demikian jauh dari kemuliaan sujud. Rabbiy kepada siapa kami meminta kalau bukan kepada yang Maha memiliki kelezatan sujud? Tumpahkan atas kami kemuliaan ini. Curahkan atas kami kebahagiaan di dalam kemuliaan sujud. Rabbiy, yaa Rahman yaa Rahim… kami berdoa kehadiratMu agar Kau limpahkan atas kami keberkahaan dalam kehidupan dan di dalam sakaratul maut dan di alam barzakh dan di Yaumil Qiyamah. Limpahi atas kami kebahagiaan dunia wal akhirah. Amin

  • Kemulyaan Sayyidatuna Fathimah Az-Zahra

    Beliau adalah salah satu qurratul aini li Rasulillah, belahan cinta Nabi Muhammad saw, yaitu putri beliau saw Sayyidatuna Fathimah Az-Zahra ra. Beliau adalah lambang istri yang shalihah, putri yang shalihah, ibunda yang shalihah dan shahabiyah yang shalihah. Empat kemuliaan Sayyidatuna Fathimah ra menjadi Qudwah (panutan) sebagai istri yang shalihah, menjadi Qudwah sebagai anak yang shalihah berbakti kepada ayah dan ibunya dan menjadi Qudwah sebagai ibu yang shaleh terhadap anaknya dan menjadi sahabat Nabi saw yang mulia. Empat kemuliaan ini berkumpul pada Sayyidatuna Fathimah Zahra ra.

    (lebih…)

  • Para Pecinta Rasul

    Diriwayatkan didalam Shahih Bukhari, ketika Sayyidina Zaid bin Haritsah ra (salah seorang budak) ditawarkan kepadanya kebebasan untuk kembali kepada ayahnya atau tetap bersama Rasul. “Kupilihkan padamu,” kata Rasul, “bebas jadi orang merdeka kembali pada ayahmu atau tetap bersamaku?” Maka berkata Sayyidina Zaid bin Haritsah ra: “Wahai Rasulullah, aku tidak memilih orang lain selainmu. Jangan berkata silahkan pilih. Tidak akan kupilih orang lain selainmu ya Rasulullah.” Demikian indahnya cinta Sayyidina Zaid bin Haritsah ra kepada Sayyidina Muhammad saw, dan ia bukan seorang sahabat besar dari Khulafaur Rasyidin. Bagaimana lagi cinta para Khulafaur-Rasyidin kepada Nabi? (lebih…)