Kategori: Menanggapi Atheisme

  • Kristen Buatan Paulus

    Saulus el-Farisi et-Tarsusi, yang lebih dikenal sebagai Paulus, adalah salah seorang yang sangat gigih melawan da’wah Nabi Isa. Dia tidak pernah bertemu dengan Nabi Isa secara langsung. Namun ia terus mengintimidasi para pengikut Nabi Isa, menyiksa mereka, memenjarakan mereka, dan berbagai kezhaliman lainnya demi menghalangi manusia dari ajaran Nabi Isa.

    (lebih…)

  • FFI Lambang Kaum Pecundang

    Bagi saya, para pendukung FFI hanyalah para pengecut. Mereka hanyalah para pecundang yang tidak berani menunjukkan muka asli mereka. Mereka menopengi wajah mereka dengan kemunafiqan. (lebih…)

  • Surat Al-Ikhlash Memurnikan Tauhid

    Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa, Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia”. [QS. Al-Ikhlash]

    Asbabun Nuzul

    Dalam riwayat Abu Syaikh dari Aban dengan sanad Anas, mengatakan bahwa kaum Yahudi Khaibar menghadap Rasulullah SAW dan berkata, “Hai Abul Qosim! Allah telah menjadikan malaikat dari cahaya hijab, Adam dari tanah liat, Iblis dari api yang menjulang, langit dari asap/kabut dan bumi dari buih air. Sekarang, coba jelaskan kepada kami tentang Tuhanmu.” Maka turunlah surat Al-Ikhlash untuk menanggapi pertanyaan mereka.

    (lebih…)

  • Melihat Tuhan

    Ihsan adalah engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. (HR. Muslim dari Umar bin Khoththob ra)

    Rasulullah menegaskan bahwa seseorang yang beribadah menyembah Allah, seharusnya dapat merasakan ’seakan-akan’ (ka anna) melihat Tuhan. Dalam tata bahasa, ‘ka’ dinamakan harfut-tamtsil, menunjukkan umpama atau contoh. Sedangkan ‘anna’ adalah lit-taukid, untuk menguatkan. Maka artian yang tepat dari kata ‘ka-anna’ adalah ’seperti sungguh-sungguh’. Seorang aktor yang baik harus mampu menunjukkan permainannya seperti sungguhan sesuai dengan peran yang dimainkannya. Ekspresi wajah, vokal, gerak tubuh dan lainnya harus cenderung kepada keadaan sebenarnya. (lebih…)

  • Melihat Tuhan

    Ihsan adalah engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. (HR. Muslim dari Umar bin Khoththob ra)

    Rasulullah menegaskan bahwa seseorang yang beribadah menyembah Allah, seharusnya dapat merasakan ‘seakan-akan’ (ka anna) melihat Tuhan. Dalam tata bahasa, ‘ka’ dinamakan harfut-tamtsil, menunjukkan umpama atau contoh. Sedangkan ‘anna’ adalah lit-taukid, untuk menguatkan. Maka artian yang tepat dari kata ‘ka-anna’ adalah ‘seperti sungguh-sungguh’. Seorang aktor yang baik harus mampu menunjukkan permainannya seperti sungguhan sesuai dengan peran yang dimainkannya. Ekspresi wajah, vokal, gerak tubuh dan lainnya harus cenderung kepada keadaan sebenarnya.

    Maka setiap melakukan ibadah, terutama pada saat mendirikan sholat, bila tidak disertai perasaan ‘seperti sungguh-sungguh’ melihat Tuhan, maka ibadah itu tidak tergolong dalam ibadah yang ihsan (baik/sempurna).

    Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) salat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk, (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya. (QS. Al-Baqarah: 45-46)

    Terdapat beberapa pendapat tentang ‘melihat Tuhan’. Secara garis besar
    ada 3 kelompok, yaitu:

    1. Dapat melihat Tuhan hanya di akhirat saja.
    2. Dapat melihat Tuhan di dunia dengan mata-bathin, sedang di akhirat lebih nyata lagi.
    3. Tidak dapat melihat Tuhan di dunia maupun di akhirat.

    Dua kelompok pertama merupakan kelompok Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Jadi, Ahlus Sunnah wal Jama’ah sepakat bahwa kita dapat melihat Allah di akhirat. Sedangkan kelompok ketiga adalah dari golongan Mu’tazilah.

    Banyak dalil yang menyatakan bahwa kita dapat melihat Allah di akhirat, antara lain:

    Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat. (QS. Al-Qiyamah: 22-23)

    Dari Abi Hurairah ra, sesungguhnya para shahabat bertanya: “Ya Rasulallah, apakah kita bisa melihat Tuhan kita di hari Kiamat?” Maka Rasulullah menjawab: “Sulitkah kamu melihat melihat bulan di malam bulan purnama?” Para shahabat menjawab: “Tidak yaa Rasulallah.” Rasul berkata lagi: “Apakah kamu sulit melihat Matahari di waktu tanpa awan? Sesungguhnya kamu akan melihat Tuhan seperti itu.” (HR. Bukhori)

    Ada yang memaknai hadits ini bahwa sebenarnya para shahabat telah percaya perihal melihat Tuhan di akhirat, namun mereka membayangkan bahwa mereka akan bergerombol dan berdesak-desakan untuk melihat Tuhan di akhirat. Lalu Rasul menjelaskan bahwa mereka dapat melihat Tuhan tanpa harus bergerombol dan berdesak-desakan sebagaimana orang yang memandang bulan purnama dan matahari tidak perlu berdesak-desakan.

    Syaikh Ar-Rabi’ berkata bahwa beliau telah mendengar Asy-Syafi’i berkata mengenai hal melihat Tuhan ini: “Kami telah mengetahui mengenai hal melihat Tuhan ini. Sesungguhnya ada golongan yang tidak terdinding memandang kepada-Nya. Mereka tidak bergerombol melihat-Nya.”

    Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Tuhan mereka. (QS. Al-Muthoffifin: 15)

    Imam An-Nasa’i memberikan keterangan mengenai ayat ini: “Adanya hijab untuk orang kafir adalah dalil tentang tidak adanya hijab bagi orang-orang yang mendapat kemulyaan (al-abror).”

    Melihat Allah di Dunia

    Sebagian Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang berpendapat bahwa kita juga dapat melihat Allah di dunia mengatakan bahwa ketika Rasul SAW mi’raj, beliau benar-benar melihat Allah, sehingga Sayyidina Hasan bin Ali ra berani bersumpah sewaktu menerangkan hal itu. Demikian pula dengan hadits riwayat Muslim dari Sayyidina Ibnu ‘Abbas ra yang oleh Imam An-Nawawi disimpulkan: “Sesungguhnya rajih menurut sebagian besar Ulama bahwa Rasulullah SAW melihat Tuhannya dengan mata-kepalanya/nyata (‘ainu ra’sihi) pada malam Isra’ berdasarkan hadits Ibnu ‘Abbas dan lainnya.”

    Syaik Ibnu Hajar Haitami berkata: “Bahkan sepakat kalangan Ahlus Sunnah atas terjadinya Rasulullah melihat Tuhannya di malam Mi’raj dengan mata/nyata.”

    Menurut Abdul Qadir Al-Jilani dan Al-Junaid, melihat Tuhan bisa terjadi di dunia dengan pandangan mata bathin yang mendapat nur dari Allah (nurul imtinan). Berkata Syaikh Abdul Qadir: “Apabila ruhaniyah dapat menguasai basyariyah (fisik), maka mata tidak akan melihat kecuali apa yang dicerap oleh mata bathin.”

    Dalam Sirojuth-Tholibin dikatakan: “Adapun di dalam tidur, sepakat sebagian besar Ulama Shufi mengenai kemungkinan terjadinya melihat Tuhan.”

    Mungkin orang atheis menolak eksistensi Tuhan dengan berkata, “Jika Tuhan itu ada mengapa ia tidak bisa dicerap sebagaimana rasa manis dapat dicerap atau tidak bisa dirasakan adanya sebagaimana rasa senang atau rasa sedih bisa dirasakan?” Karena Tuhan hanya bisa ‘dicerap’ oleh ruh yang murni, bukan oleh mata, otak atau pun ruh seorang atheis yang penuh nafsu. Alam ini tidak dapat menampung Allah, tetapi hari seorang Mu`min dapat ‘menampung’ Allah.

    Seorang atheis baru bisa membedakan bahwa alam mimpi itu tidak nyata dan alam dunia itu nyata. Sedangkan Mu`min sejati telah sanggup membedakan bahwa alam dunia tidak nyata dan Tuhan itu nyata. Orang yang telah melihat Allah dengan nyata akan menyadari bahwa alam dunia itu maya. Orang yang baru bisa melihat alam dunia, wajar saja jika dia beranggapan bahwa dunia itu nyata dan alam mimpi itu maya. Padahal alam dunia dan alam mimpi sama mayanya.

    Lihat kembali perkataan Syaikh Abdul Qodir, lalu ingatlah mimpi Anda. Bukankah ketika tidur, dan hijab alam mimpi diangkat, apa yang kita lihat bukanlah gelapnya kelopak mata melainkan dunia yang penuh warna? Saat itu bukan lagi mata-fisik yang melihat. Jika ruh telah semakin bersih, ketika hijab diangkat, tidak mustahil seseorang dapat melihat Allah.

    Ruh murni dapat melihat Allah. Ruh yang tengah lepas dari segala elemen ruh. Allah tidak dapat dicerap oleh elemen ruh yang padanya ditanamkan aqal, nafsu, alam dunia, alam mimpi, dan lainnya.

    Ingatkah Anda ketika Musa hendak ‘bertemu’ dengan Allah di lembah qudus Thuwa? Allah berfirman, “Lepaskan kedua terompahmu, wahai Musa!” Begitulah jika seseorang hendak berjumpa dengan Allah. Dia harus memurnikan ruhnya. Aqal memang dapat mengantarkan kita ke Istana Qudsiyah. Tetapi ia tidak dapat dibawa masuk ke dalam Istana Qudsiyah. Ia harus ditanggalkan di luar Istana. Aqal dan nafsu bagai terompah yang biasa bersentuhan dengan dunia yang kotor bagai bangkai. Maka mereka tidak dapat bersentuhan dengan Yang Mahaqudus. Setelah lepas dari terompahnya dan diizinkan masuk, maka ruh murni akan dapat berjumpa dengan Al-Quddus.

  • Imam Hanafi dan Atheis

    Hanafi kecil bergegas datang kepada gurunya Syaikh Habban untuk menyampaikan dan menanyakan tentang takwil mimpinya semalam. Dilihatnya sang guru sedang termenung yang agaknya sedang menghadapi masalah yang cukup berat. Tergambar pada kerut wajah sang guru dengan pandangan matanya jauh ke depan. (lebih…)

  • Imam Hanafi dan Atheis

    Hanafi kecil bergegas datang kepada gurunya Syaikh Habban untuk menyampaikan dan menanyakan tentang takwil mimpinya semalam. Dilihatnya sang guru sedang termenung yang agaknya sedang menghadapi masalah yang cukup berat. Tergambar pada kerut wajah sang guru dengan pandangan matanya jauh ke depan.

    Tanpa menoleh ke arah si murid, sang guru bertanya, “Ada apa, anakku?” Hanafi kecil menjawab, “Saya ingin menceritakan mimpi saya tadi malam, guru.”

    Sang guru memandang tajam kepada si murid dan berkata, “Terangkan mimpimu itu!” Imam Hanafi kecil menceritakan mimpinya, “Dalam mimpi, aku melihat seekor babi hendak menumbangkan pohon besar sambil mengorek-ngorek membongkar tanah dan akar pohon itu. Tiba-tiba datang seekor ular kecil, lalu mematuk dan melilit babi besar itu. Akhirnya babi itu mati.”

    Syaikh Habban berkata, “Anakku, inilah yang sedang kurenungkan dari tadi. Aku menerima surat dari raja, memerintahkan aku agar segera datang ke kota. Di sana sedang ada bencana besar dengan datangnya seorang Dahry (Atheis). Si Dahry telah menantang para ulama untuk berdebat dan mengadu hujjah tentang ada atau tidak adanya Tuhan. Si Dahry tentu saja berpendirian bahwa Tuhan itu tidak ada. Raja memintaku untuk menghadapi si Dahry. Pohon besar dalam mimpimu itu adalah aku. Babi itu adalah si Dahry. Sedangkan ular kecil itu adalah engkau, anakku. Sekarang pergilah menghadap Raja atas namaku. Allah menyertaimu.”

    Ketika Hanafi kecil menghadap Raja dengan membawa surat balasan, Sang Raja agak terkejut. Anak belasan tahun berani menghadapi si Dahry. Namun Raja sadar bahwa Syaikh Habban adalah seorang khawwashul khawwash.

    Pada hari yang ditentukan, persidangan pun diadakan dengan dihadiri orang banyak. Ketika mengetahui bahwa lawannya adalah seorang anak kecil, si Dahry protes, “Tuanku, saya keberatan melakukan perdebatan dengan seorang anak kecil.”

    Mendengar protes si Dahry, Hanafi kecil mengacungkan tangan dan bersuara dengan lantang, “Tuanku Raja yang mulia, saya juga sangat berkeberatan untuk melakukan debat dengan ‘orang yang tidak punya aqal’ seperti si Dahry ini.

    Si Dahry mencak-mencak di hadapan Raja karena merasa terhina, “Tuanku, saya telah dihina di depan umum. Saya mohon agar Tuanku Raja menangkap anak kecil ini atau guru yang memberi kuasa kepadanya.”

    Hanafi kecil membantahnya, “Tuanku Raja, ini adalah awal perdebatan. Bukan suatu penghinaan.”

    Raja agak heran dan bertanya, “Hai anak kecil, apa alasanmu bahwa ucapanmu itu bukan suatu penghinaan?”

    Hanafi kecil berdiri sambil menudingkan tangannya kepada si Dahry, “Hai Dahry! Kalau Anda mengaku beraqal, coba buktikan, di depan saya dan persidangan ini, mana dia aqal Anda, bagaimana bentuknya, apa warnanya? Silahkan buktikan kepada kami jika aqal Anda memang benar-benar ada. Agar kami semua bisa menyaksikannya.”

    Si Dahry bertambah marah, “Hai anak ingusan! Itu pertanyaan gila dan tolol. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang dapat menunjukkan bentuk, rupa dan warna aqalnya. Pertanyaan bodoh, hai anak kecil!”

    Dengan tersenyum si Hanafi kecil berkata, “Hai Dahry, pertanyaan Anda lebih bodoh dari pertanyaan saya. Kenapa Anda hendak meminta dibuktikan bentuk dan rupa Tuhan, sedang Anda sendiri tidak bisa membuktikan bentuk dan rupa aqal Anda.”

    Si Dahry pun diam seribu bahasa. Dia merasa terjebak dengan perkataannya sendiri.

  • BUDDHISME DAN ATHEISME

    Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? Dan mereka berkata: “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa”, dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja. (QS. Al-Jatsiyah: 23-24)

    Indonesia yang berpenduduk mayoritas muslim dan menjadikan ‘Ketuhanan Yang Mahaesa’ sebagai salah satu dasar negara ternyata sangat toleran kepada para pemeluk agama yang sesungguhnya bukanlah penganut ‘Ketuhanan Yang Mahaesa’. Bukan hanya terhadap Kristen, Katholik, dan Hindu, tetapi juga terhadap agama Buddha yang sesungguhnya berpaham atheis (tak bertuhan).

    Kebanyakan orang berfikir bahwa orang Buddha itu menyembah Buddha sebagaimana orang Kristen menyembah Yesus. Padahal tidak demikian. Dalam agama Buddha tidak ada sembah-menyembah. Buddha bukanlah sembahan, tetapi Guru yang mengajarkan bagaimana caranya keluar dari 31 alam dan lepas dari ruang dan waktu hingga berada di suatu alam yang disebut Nirvana.

    Dalam ajaran Buddha, alam itu terdiri dari 31 alam. Di bawah ini adalah alam-alam tersebut berikut batas waktunya.

    I. ALAM LINGKUP INDERA (11 alam)
    A. Alam menderita
    1. Neraka (tak tentu)
    2. Binatang (tak tentu)
    3. Setan Kelaparan (tak tentu)
    4. Raksasa (tak tentu)

    B. Alam Bahagia
    5. Manusia (+/- 75-100 th)
    6. Empat raja besar (500 ts)
    7. 33 Dewa (1.000 ts)
    8. Yama (2.000 ts)
    9. Tusita (4.000 ts)
    10. Bergembira dlm ciptaan makhluk lain (8.000 ts)
    11. Penguasa ciptaan para makhluk lain (16.000 ts)

    II. ALAM BENTUK (16 alam)
    A. Alam Jhana pertama
    12. Pengikut-pengikur Brahma (1/3 ak)
    13. Menteri-menteri Brahma (1/2 ak)
    14. Mahabrahma (1 ak)

    B. Alam Jhana kedua
    15. Cahaya terbatas (2 mk)
    16. Cahaya tak terukur (4 mk)
    17. Cahaya gemerlap (8 mk)

    C. Alam Jhana ketiga
    18. Keagungan terbatas (16 mk)
    19. Keagungan tak terukur (32 mk)
    20. Keagungan yang memancar (64 mk)

    D. Alam Jhana keempat
    21. Pahala besar (500 mk)
    22. Non persepsi (500 mk)
    23. Kediaman tak bergerak (1.000 mk)
    24. Kediaman Suci (2.000 mk)
    25. Kediaman Indah (4.000 mk)
    26. Kediaman Pandangan terang (8.000 mk)
    27. Kediaman murni tertinggi (16.000 mk)

    III. ALAM TANPA BENTUK (4 alam)
    28. Ruang tanpa batas (20.000 mk)
    29. Kesadaran tanpa batas (40.000 mk)
    30. Ketiadaan (60.000 mk)
    31. Bukan persepsi bukan pula non persepsi (84.000 mk)

    MK= MAHA KAPPA
    AK= ASANKHEYYA KAPPA
    TS= TAHUN SURGAWI

    Dalam Sutta 8 Jaya Manggala dijelaskan bahwa Mahabrahma kekuatanya sangat jauh melebihi matahari terbit sampai melebihi matahari terbenam, tetapi di atas Mahabrahma masih ada 17 alam yang lebih dahsyat lagi kekuatannya. Dan agama Buddha beranggapan bahwa Mahabrahma ini adalah alam yang biasa disebut oleh agama lain sebagai Tuhan. Jadi mereka beranggapan bahwa Tuhan itu sendiri adalah salah satu dari alam, dan bukan pencipta alam. Tentu anggapan ini adalah keliru dalam Islam. Rabb adalah Pencipta segala alam. Rabb bukanlah alam itu sendiri.

    Rabb, dalam pandangan Islam adalah Yang Menciptakan, Mengatur, dan Menguasai segala alam (makhluq). Rabbul ‘alamin dalam Islam adalah Allah. Tetapi dalam agama Buddha, segala alam itu ada dengan sendirinya tanpa diciptakan, sebagaimana diklaim juga oleh para evolusionist. Ajaran Buddha juga mengakui adanya evolusi alam. Namun berbeda dengan Darwinisme, Buddha tidak mengatakan bahwa manusia berasal dari kera yang berevolusi.

    Dari sini kita dapat melihat bahwa Buddhisme merupakan paham tanpa tuhan (atheisme). Dalam agama Buddha, alam ada dengan sendirinya tanpa diciptakan. Buddhisme juga menolak konsep taqdir. Karena dalam Buddhisme, manusia mendapat kebahagiaan atau pun penderitaan adalah disebabkan perbuatannya sendiri yang timbul dari kehendaknya sendiri, yang mereka sebut dengan Karma.

    Karena mereka menolak penciptaan, itu berarti bahwa alam ini ada tanpa awal. Alam ada tanpa diawali dengan ketiadaan. Maka alam juga tidak mempunyai akhir. Itu artinya, alam ini kekal. Maka Buddhisme juga menolak konsep kiamat.

    Dalam Buddhisme dikenal konsep ‘purnabhava’ atau kelahiran kembali. Dengan demikian, manusia yang mati dapat menghuni kembali alam yang kekal ini sebagai manusia atau sebagai makhluq lainnya. Sungguh, ini hanya merupakan konsep takhyul yang hanya ada dalam khayalan para atheis untuk menolak eksistensi Allah. Mereka hanyalah kaum yang mengikuti hawa nafsunya dan berkata bahwa mereka ada tanpa campur tangan Tuhan.

    Lihat juga:
    ‘Origin of Species’ dalam Buddhisme
    Siapakah Tuhan
    Sifat Salbiyah Tuhan

  • ‘Origin of Species’ dalam Buddhisme

    Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? Dan mereka berkata: “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa”, dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja. (QS. Al-Jatsiyah: 23-24)

    Dalam Buddhisme, dunia, manusia, dan segala sesuatu itu ada dengan sendirinya tanpa diciptakan. Hal ini mempunyai kemiripan dengan klaim Darwin dan para pendukungnya. Darwin mempunyai suatu pandangan sendiri tentang asal-usul makhluq hidup yang dia tuangkan dalam bukunya ‘The Origin of Species’. Lalu bagaimana asal-usul makhluq hidup dalam ajaran Buddha?

    Menurut Buddhisme, manusia terlahir secara tersendiri ke dunia ini. Tetapi bentuknya sangat kecil dan bercahaya. Sedangkan dunia ini masih lunak seperti bubur, belum ada tanah.

    Dalam jangka waktu yang lama, makhluq-makhluq ini (calon manusia) terbang di atas bubur tersebut. Kemudian ada sebagian makhluq (yang terlihat lebih pintar) turun ke permukaan bubur dan mencicipi bubur tersebut. Setelah mencicipi, muncul sebuah kenikmatan atau rasa lezat (mulai belajar mengetahui rasa enak dan mulai belajar makan). Kemudian makhluq yang lainnya juga ikut mencicipi bubur tersebut.

    Dalam jangka waktu yang lama, hal tersebut terus terjadi, akhirnya lapisan bubur tersebut menjadi keras, dan tumbuh sejenis tumbuhan yang menghasilkan biji-bijian. Makhluq tersebut tidak makan sari tanah (bubur) tersebut lagi, melainkan biji-bijian yang dihasilkan oleh tanaman tersebut.

    Dalam jangka waktu yang lama, hal tersebut terus terjadi. Tetapi mulai ada sebagian dengan otaknya yang penuh ketamakan mulai menimbun bijian tersebut untuk dimakan bila diperlukan, yang sebelumnya mereka petik bila dibutuhkan.

    Hal tersebut berlangsung dalam waktu yang lama, akhirnya tumbuhan tersebut tumbuh dan berbuah berdasarkan musimnya. Lalu mulai muncul tanam-tanaman yang lain. Ada yang berbuah dan ada yang tidak (evolusi tumbuh-tumbuhan sudah terjadi dizaman ini). Semua proses ini diperhatikah oleh seorang makhluq yang derajatnya sangat tinggi dari pada makhluq yang lain, dia duduk di alam ke 14 (Mahabrahma) memperhatikan (mungkin kurang lebih juga mengatur) proses yang terjadi untuk menbentuk alam 1 hingga 13.

    Hal ini tejadi dalam waktu yang lama. Karena terus makan dan makan lagi, akhirnya cahaya tubuh makhluq ini menjadi redup. Lambat laun, karena semakin tertimbunnya makanan di dalam tubuh karena semakin tamak dan terikat oleh keni’matan makanan, maka terjadilan proses pembuangan. Supaya bisa membuang, maka perlu adanya alat pengeluaran yakni anus, dan saluran kencing.

    Hal tersebut juga terjadi dalam waktu yang lama. Saluran kencing terbentuk dengan bentuk yang berbeda antara makhluq yang satu dengan yang lainnya. Ada yang diluar (laki-laki), ada yang di bagian dalam (wanita). Pada zaman ini mulai terbentuk apa yang disebut jenis kelamin.

    Hal tersebut dibiarkan dalam waktu yang lama. Kemudian pada suatu masa, ada sebagian makhluq yang mulai mengexplorasikan tubuhnya dengan tubuh yang lainnya dan disebabkan rasa ingin tahunya, terjadilah hubungan kelamin. Hal ini menimbulkan sensasi keni’matan yang kemudian diikuti oeh makhluq yang lainnya. Setelah terjadi hubungan kelamin terjadilah kelahiran. Siapa yang perlu dilahirkan, sedangkan semua makhluq berada di 31 alam ini. Di alam 15 – 31, hidup mereka sangat lama, jadi tidak mungkin menunggu mereka dilahirkan dialam ini. Maka terjadilah yang disebut ‘kematian’ yang dialami makhluq yang berada di alam ini. Kematian terjadi untuk mendukung proses adanya kelahiran.

    Semua dilahirkan menurut karmanya masing masing. Ada yang baik dan ada yang jahat. Yang jahat terlahir dengan fisik yang kurang sempurna seperti manusia, dan dijauhi oleh manusia, sehingga mereka berhubungan dengan sejenisnya. Mulailah terbentuk alam binatang.

    Mulailah makhluq yang di alam ke-14 (Mahabrahma) memasukkan orang berdasarkan karmanya ke alam surga (Alam Bahagia) ataupun neraka (Alam Menderita). Pada zaman ini mulai ada alam neraka, binatang, manusia, surga, dan lain-lain. Sehingga terbentuklah alam 1 hingga 14.

    Pada zaman awalnya makhluq ini sangat panjang umurnya. Diperkirakan umur mereka sekitar ratusan ribu tahun. Semakin lama, umur manusia semakin pendek. Kelak akan hanya mencapai umur 10 tahun dengan kesanggupan reproduksi pada umur sekitar 3 tahun.Kenapa hal ini terjadi? Karena ketamakan, kebodohan, kebencian yang merupakan dasar dari perbuatan jahat terus tumbuh dengan subur pada zaman ini. Manusia paling tamak diangap contoh yang baik. Manusia paling bengis diangap paling pintar.

    Tetapi pada zaman ketika umur manusia rata-rata 10 tahun, sebagian mulai sadar akan kekacauan ini. Jalan menuju kebaikan semakin banyak karena semuanya semakin sadar. Lalu dikuti oleh yang lainnya. Akhirnya manusia berbuat semakin baik.

    Hal ini berlangsung sangat lama, lama sekali. Proses perbaikan mulai terjadi. Alam binatang, neraka, hantu dan sebagainya menjadi kosong. Semua terlahir di alam manusia.
    Sedangkan yang di alam manusia juga semakin sadar. Makhluq yang disurga juga semakin sadar. Dan pada akhirnya semua makhluq tersebut terlahirkan ke alam 15 hingga 31. Sebagian yang lebih bijak atau tercerahkan/tersadarkan dilahirkan di alam 0 atau Nirvana).

    Pada proses ini, alam 1 hingga 14 menjadi kosong. Mahabrahma (Tuhan) juga akan tidak ada. Selesailah 1 Asankheyya Kappa.

    Semua mahluk di alam 15 hingga 31 ini pada suatu saat akan selesai masanya di alam masing-masing. Jadi akhirnya mereka akan terlahir kembali di alam manusia, sedangkan alam manusia belum ada. Jadi mulailah lagi cerita dari awal, yakni terciptanya sebuah makhluq bercahaya yang terbang di atas sari tanah yang berbentuk seperti bubur.

    Sedangkan mereka yang sudah menjadi arahat dan Buddha tetap di alam 0 atau Nirwana dan tidak lagi mengalami purnabhava (kelahiran kembali). Karena di alam 0 ini tidak ada waktu yang membatasi kehidupan mereka.

    Jadi mereka beranggapan bahwa mereka tidak diciptakan oleh Allah. Setelah mereka mati dan dilahirkan kembali sebagai makhluq di alam 15 hingga 31, tidak ada yang membinasakan mereka kecuali batas waktu hidup mereka di masing-masing alam tersebut. Konsep bathil para pengikut hawa nafsu ini digambarkan dengan tepat dalam Al-Qur`an surat Al-Jatsiyah ayat 23 hinga 24.

    Baca juga:
    Buddhisme dan Atheisme

    Cek juga dalam diskusi di http://asia.groups.yahoo.com/group/daunbodhiindonesia/ pada posting ke 304 hingga 361.