Kategori: Mutiara Hikmah

  • Penduduk Syurga

    قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِأَهْلِ الْجَنَّةِ كُلُّ ضَعِيفٍ مُتَضَاعِفٍ لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لَأَبَرَّهُ أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِأَهْلِ النَّارِ كُلُّ عُتُلٍّ جَوَّاظٍ مُسْتَكْبِرٍ
    قَالَ أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ رضي الله عنه : إِنْ كَانَتْ الْأَمَةُ مِنْ إِمَاءِ أَهْلِ الْمَدِينَةِ لَتَأْخُذُ بِيَدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَتَنْطَلِقُ بِهِ حَيْثُ شَاءَتْ

    (صحيح البخاري)

    Rasulullah SAW bersabda :
    “Maukah kukabarkan pada kaliam siapa penduduk sorga?, semua yg lemah dan tertindas dan rendah hati, jika mereka bersumpah (berdoa) dengan Nama Allah niscaya Allah kabulkan”. (Shahih Bukhari)
    Berkata anas bin Malik ra : “Jika seorang budak miskin diantara penduduk di Madinah menggenggam tangan Rasul saw lalu mengajak beliau saw, maka beliau saw akan ikut kemanapun budak itu mau membawa beliau saw” (Shahih Bukhari) (lebih…)

  • Menahan Marah

    Abul Laits Assamarqandi meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Said Alkhundri r.a. berkata Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Mrah itu bara api maka siapa yang merasakan demikian, jika ia sedang berdiri makan hendaklah duduk, bila ia sedang duduk hendaklah bersandar (berbaring).”

    Abul Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Said Alkhundri r.a. berkata Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Awaslah kamu dari marah-marah, kerana marah itu bererti menyalakan api dalam kalbu anak Adam, tidakkah kamu melihat seseorang yang marah itu merah matanya dan tegang urat-uarat lehernya, kerana itu bila seseorang merasakan yang demikian hendaklah berbaring dan meletakkan badannya ditanah.”

    Sesungguhnya ada diantara kamu orang yang lekas marah tetapi juga lekas reda, maka ini seimbang dan ada yang lambat marah dan lambat sembuh (reda), ini juga seimbang, dan sebaik-baik kamu lambat marah dan cepat re;a. dan sejahat-jahat kamu yang cepat marah dan lambat sembuhnya.”

    Abu Umamah Albahili r.a. berkata Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Siapa yang dapat menahan marah padahal ia dapat (kuasa) untuk memuaskan marahnya itu, tetapi tidak dipuaskan bahkan tetap ditahan/disabarkan, maka Allah s.w.t. mengisi hatinya dengan keridhoan pada hari kiamat.”

    Tercantum dalam Injil: “Hai anak Adam,ingatlah kepadaKu ketika kau marah, nescaya Aku ingat kepadamu diwaktu Aku marah (Yakni akan dirahmati oleh Allah s.w.t.) Dan relakan hatimu dengan pembelaanKu kepadamu, sebab pembelaanKu kepadamu lebih baik dari pembelaanmu terhadap dirimu sendiri.”

    Umar bin Abdul Aziz berkara kepada orang yang telah memarahkannya: “Andaikan engkau tidak membikin marahku, nescaya sudah saya beri hukuman.” Yakni Umar ingin menurut kepada unjuran Allah s.w.t. didalam ayat yang berbunyi: “Walkaa dziminal ghaidha.” (Yang bermaksud): “Dan mereka yang dapat menahan marah.” kerana itu, ketika ia mendapat kesempatan untuk menahan maka langsung dipergunakan.

    Umar bin Abdul Aziz melihat seorang yang mabuk, maka ketika akan ditangkap untuk dihumkum dera, tiba-tiba dimaki oleh orang yang mabuk itu, maka Umar kembali tidak jadi menghukum dera, dan ketika ditanya: “Ya Amirul mukminin, mengapakah setelah ia memaki kepadamu tiba-tiba engkau tinggalkan?” Jawab Umar: “Kerana ia menjengkel aku maka andaikan aku hukum (pukul) mungkin kerana murka ku kepadanya, dan saya tidak suka memukul seorang hanya membela diriku (untuk kepentingan diriku).”

    Maimun bin Mahran ketika budaknya menghidangkan makanan dan membawa kuah, tiba-tiba tergelincir kakinya sehingga tertuang kuah itu kebadan Maimun dan ketika Maimun mahu memukul budak itu, tiba-tiba ia berkata: “Tuanku, laksanakanlah ajaran Allah s.w.t. (Yang berbunyi): “Walkadhiminal ghaidha.” (Yang bermaksud): “Dan mereka yang menahan marah.” Maimun berkata: “Baiklah.” Maka budak itu berkata: “Kerjakan lanjutannya (ayat yang berbunyi: “Wal afina aninnas.” (Yang bermaksud): “Dan engkau memaafkan orang.” Maimun berkata: “Saya maafkan engkau.” Budak itu berkata: “Kerjakan lanjutannya (ayat yang berbunyi: “Wallahu yhibbul muhsinin.” (Yang bermaksud): “Dan Allah kasih kepada orang yang berbuat kebaikan.” Maimun berkata: “Saya berbuat baik kepadamu, maka engkau kini merdeka kerana Allah s.w.t.”

    Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Siapa yang tidak mempunyai tiga sifat, tidak dapat merasa manisnya iman iaitu:
    + Kesabaran untuk menolak kebodohan orang yang bodoh
    + Warak yang dapat mencegah dari yang haram
    + dan akhlak untuk bergaul dengan manusia (dan akhlak untuk masyarakat)

    Ada seorang yang mempunyai kuda yang sangat dibanggakan, tiba-tiba pada suatu hari ia melihat kudanya patah satu kakinya sehingga tinggal tiga kaki, lalu ia bertanya kepada budaknya: “Sipa yang berbuat itu?” Jawab budaknya: “Saya.” Ditanya lagi: “Mengapa?” jawab budaknya: “Supaya engkau risau.” Berkata orang itu: “Saya akan membalas menjengkelkan siapa yang menyuruh engkau berbuat itu (yakni syaitan laknatullah).” Maka ia berkata kepada budaknya: “Pergilah engkau, saya merdekakan dan itu kuda untukmu.”

    Abul Laits berkata: “Seharusnya seorang mukmin bersifat sabar, tenang sebab itu termasuk sifat orang muttaqin yang dipuji oleh Allah s.w.t.

    Allah s.w.t. berfirman (Yang berbunyi: “Walaman shobara waghafara inna dzailika lamin azmilumur.” (Yang bermaksud): “Dan siapa yang sabar dan memaafkan maka itu termasuk seutama-utamanya sesuatu.”

    Allah s.w.t. berfirman (Yang berbunyi): “Wala tastawil hasanatu walas sayyi’atu idfa billati hiya ahsan fa idzalladzi bainaka wa bainahu adaa watun ka’annahu waliyyun hamim.” (Yang bermaksud): “Dan tidak dapat disamakan kebaikan dengan kejahatan, tolaklah segala sesuatu itu dengan cara yang baik, tiba-tiba seorang yang musuh denganmu dapat berubah menjadi kawan yang akrab.”

    Juga Allah s.w.t. memuji Nabi Ibrahim a.s. dialam ayat (Yang berbunyi): “Inna Ibrahim lahalimun awwahun mubin.” (Yang bermaksud): “Ssesungguhnya Ibrahim seorang yang sabar, selalu mengingati dosa dan kesalahan dirinya dan bertaubat.”

    Juga Allah s.w.t. berfirman didalam ayat (Yang berbunyi): “Fasbir kama shobaro ulul azmi minarrusuli.” (Yang bermaksud): “Maka sabarlah sebagaimana kesabaran orang-orang yang bersemangat besar dari para rasul sebelummu.”

    Alhasan ketika mengingati ayat (Yang berbunyi): “Wa idza khatobahumul jaa hiluuna qaalu: salaamaa.” (Yang bermaksud): “Dan bila dicaci maki oleh orang-orang yang bodoh-bodoh, mereka sabar tidak melayan.”

    Wabh bin Munabbih berkata: “Ada seorang ahli ibadat Bani Israil akan disesatkan oleh syaitan laknatullah tetapi tidak dapat, maka pada suatu hari ia keluar untuk suatu hajat kepentingan, maka diikuti oelh syaitan laknatullah kalau-kalau ia mendapat kesempatan, maka syaitan laknatullah berusaha dari ayahwat dan marahnya juga tidak dapat, maka diusahakan dari ketakutannya, maka dibayangkan kepadanya seolah-olah akan dijatuhi batu bukit yang besar, tetapi ia selalu berdzikir kepada Allah s.w.t. sehingga terhindar, dan adakalanya semua itu tidak dihiraukan, dan adakalanya berupa ular yang melingkar dikakinya ketika sembahyang dan merambat kebadan sehingga keatas kepalanya, kemudian ditempat sujudnya, manakala akan sujud ular itu akan membuka mulutnya seakan-akan akan menelan kepalanya, maka ia hanya menyingkirkan dengan tangannya sampai dapat bersujud. Dan ketika selesai sembahyang, syaitan lakntullah datang kepadanya dan berkata: “Saya sudah untuk usaha untuk menyesatkan kamu tetapi tidak dapat, dan kini saya akan berkawan sahaj kepadamu.” Jawabnya: ” Sedang pada saat engkau menakuti aku, alhamdulillah saya tidak takut, demikian pula sekarang saya tidak ingin bersahabat dengan engkau.”. Lalu syaitan laknatullah itu berkata: “Apakah tidak tahu bagaimana keadaan keluargamu sepeninggalanmu?” jawabnya: “Saya telah mati sebelum mereka.” “Lalu pakah kamu tidak tanya kepadaku bagaimana aku dapat menyesatkan anak Adam?: Tanya syaitan laknatullah itu. Jawab orang alim itu: “Baiklah, bagaimana kamu menyesatkan anak Adam?” Syaitan laknatullah menjawab: “Dengan tiga macam iaitu:

    – Bakhil (kikir)
    – Marah
    – dan mabuk

    Sebab manusia jika bakhil kami bayangkan kepadanya bahawa hartanya sangat sedikit sehingga ia sayang untuk mengeluarkan untuk kewajipan-kewajipannya, dan bila ia pemarah, maka kami permainkan ia sebagai anak kecil mempermainkan bola, meskipun ia dapat menghidupkan orang mati dengan doanya, kami tetap tidak patah harapan untuk dapat menyesatkannya, sebab ia membangun dan kami yang merobohkan dengan satu khalimat sahaja. Demikian pula jika seseorang telah mabuk, maka kami tuntun dengan mudah kepada segala kejahatan sebagaimana kambing dituntun sesuka kami.” Disini syaitan laknatullah telah menyatakan bahawa orang yang marah jatuh ketangan syaitan laknatullah bagaikan bola ditangan anak-anak kecil, kerana itu seseorang harus sabar supaya tidak jatuh dalam tawanan syaitan laknatullah dan tidak sampai gugur dalam perbuatannya.”

    Ibalis laknatullah datang kepada Nabi Musa a.s. dan berkata: “Engkaulah yang dipilih Allah s.w.t. untuk risalah dan langsung berkata-kata kepadamu, sedang aku seorang makhluk biasa, yang ingin juga bertaubat kepada Tuhan, maka tolonglah aku semoga dapat diterima taubatku.” Maka Nabi Musa a.s. merasa gembira lalu ia wuduk dan sembahyang kemudian ia berdoa: “Ya Tuhan, iblis (laknatullah) seorang makhlukMu, ia akan bertaubat, maka terimalah taubatnya.” Maka turun wahyu kepada Nabi Musa a.s.: “Ya Musa, dia tidak akan bertaubat.” jawab Nabi Musa a.s.: “Ya Tuhan, dia minta taubat.” Maka turun wahyu kepada Nabi Musa a.s.: “Aku telah menerima permintaamu Musa, maka suruhlah ia sujud kepada kubur Adam, maka Aku akan menerima taubatnya.” Nabi Musa a.s.sangat gembira dan menyampaikan suara wahyu itu kepada Iblis laknatullah, tiba-tiba iblis laknatullah itu marah dan sombong serta berkata: “Saya tidak sujud kepadanya dimasa hidupnya, bagaimana akan sujud sesudah matinya?” Lalu iblis laknatullah berkata: “Hai Musa, kerana engkau telah menolong aku kepada Tuhan, maka kini engkau berhak mendapat hadiah daripadaku, maka saya pesan kepadamu tiga macam iaitu:
    + Ingatlah kepadaku ketika marah, sebab aku didalam tubuhmu mengikuti saluran darah
    + Ingatlah kepadaku ketika menghadapi musuh didalam perang sebab aku datang kepada anak Adam mengingatkan kepadanya keadaan isteri dan anak keluarganya dan hartanya sehingga ia lari kebelakang
    + Awas, jangan duduk sendirian dengan wanita yang bukan muhrim sebab aku sebagai utusannya kepadamu dan utusanku kepadanya

    Luqman Alhakiem berkata kepada anak lelakinya: “Hai anak, tiga macam yang tidak diketahui kecuali pada tiga macam iaitu:
    + Orang yang sabar tidak diketahui kecuali ketika marah
    + Orang yang berani tidak diketahui kecuali ketika perang
    + Saudara tidak diketahui kecuali ketika berhajat (berkepentingan)

    Seorang alim dari tabi’in dipuji orang, maka ia bertanya kepada orang yang memuji: “Apakah engkau pernah menguji aku ketika marah sehingga engkau ketahui kesabaranku?” Jawab orang itu: “Tidak.” Tanya orang alim itu lagi: “Apakah engkau pernah menguji aku didalam berpergian sehingga engkau mengtahui kebaikan akhlakku?” Jawab orang itu: “Tidak.” “Apakah engkau pernah menguji amanatku sehingga engkau ketahui benar-benar aku seorang yang amanat?” Jawab orang itu: “Tidak.” Berkata orang alim itu: “Celaka engkau, seorang tidak boleh memuji lain orang sebelum diuji dalam tiga macam itu.”

    Tiga macam dari akhlak orang syurga dan tidak dapat kecuali pada orang yang baik budi iaitu:
    + Memaafkan orang yang zalim kepadamu
    + Memberi kepada orang yang bakhil kepadamu
    + Membantu orang yang bersalah kepadamu

    Nabi Muhammad s.a.w. bertanya kepada Jibril tentang tafsir ayat (Yang berbunyi): “Khudzil afwa wa’mur bil urfi wa’aridh anil jahilin?.” Jawab Jibril: “Aku akan bertanya kepada Allah s.w.t.” dan Jibril berkata: “Ya Muhammad, sesungguhnya Allah s.w.t. menyuruhmu menghubungi kerabat yang memutuskan hubungan padamu dan memberi pada orang yang bakil kepadamu dan memaafkan orang yang aniaya kepadamu.”

    Ibn Ajlan dari Said Almagburi dari Abuhurairah r.a. berkata: “Ada seorang memaki Abu Bakar Assisiq r.a. sedang Nabi Muhammad s.a.w. duduk, maka Nabi Muhammad s.a.w. diam. Abu bakar menjawab, maka segera Nabi Muhammad s.a.w. bangun dari temaptnya, maka dikejar oleh Abu Bakar sambil berkata: “Ya Rasulullah, dia maki-maki saya dan engkau diam, ketika saya jawab, tiba-tiba engkau bangun pergi?” Jawab Nabi Muhammad s.a.w.: “Ssesungguhnya Malaikat telah mengembalikan semua makian orang itu kepadanya ketika engkau diam dan ketika engkau menjawab makian, maka pergilah Malaikat itu dan duduk syaitan laknatullah, maka saya tidak suka duduk ditempat duduk bersama syaitan laknatullah.” Kemudian Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Tiga macam semuanya hak iaitu:
    + Tiada seorang yang dianiaya lalu memaafkannya kerana mengharap keridhoan Allah s.w.t. melainkan pasti ditambah kemuliaan oleh Allah s.w.t.
    + Tiada seorang yang membuka jalan meminta-minta kerana ingin bertambah kekayaan melainkan ditambah kekurangannya (kemiskinan) oleh Allah s.w.t.
    + Tiada seorang yang memberi sesuatu ikhlas kerana Allah s.w.t. melainkan ditambah banyak oleh Allah s.w.t.

    Abul Laits dari ayahnya dengan sanadnya dari Muhammad bin Ka’ab Alqurandhi dari Ibn Abbas r.a. berkata Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Tiap-tiap sesuatu ada kemuliaannya, semulia-mulia majlis yang menghadap khiblat. Dan majlis (duduk-duduk) diantara kamu itu berlaku amanat (segala yang terjadi dimajlis itu sebagai amanat dari yang hadir, tidak boleh dibuka segala yang terjadi dimajlis itu), dan jangan sembahyang dibelakang orang yang sedang tidur dan yang berhadas, dan bunuhlah ular dan kalajengking meskipun kamu sedang sembahyang, dan jangan menutup dinding dengan kain, dan siapa yang melihat surat saudaranya tanpa izin, maka bagaikan melihat api. Dan siapa yang ingin menjadi yang terkuat hendaklah berserah diri kepada Allah s.w.t. dan siapa yang ingin menjadi sekaya-kaya manusia hendaklah lebih percaya kepada jaminan Allah s.w.t. daripada apa yang ditangannya.” Kemudian Nabi Muhammad s.a.w. bersabda lagi: “Sukah saya memberitahu orang yang sejahat-jahat kamu?” Jawab sahabat: “Baiklah, ya Rasulullah.” Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Orang yang makan sendiri dan tidak suka membantu, dan selalu kejam dan memukul hamba sahayanya.” Nabi Muhammad s.a.w. bersabda lagi: “Sukakah saya memberitahu yang lebih jahat daripada itu?” Jawab para sahabat: “Baiklah, ya Rasulullah.” Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: ” Orang yang membenci dan dibenci orang-orang.” Kemudian ditanya lagi: “Sukakah saya memberitahu yang lebih jahat daripada itu?” Jawab para sahabat: “Baiklah, ya Rasulullah.” Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Orang yang tidak suka memaafkan kesalahan orang lain dan tidak menerima permintaan maaf atau udzur orang.” Kemudian ditanya lagi: “Sukakah saya memberitahu yang lebih jahat daripada itu?” Jawab para sahabat: “Baiklah, ya Rasulullah.” Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Orang yang tidak dapat diharap kebaikannya dan tidak aman dari gangguannya.” Kemudian Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Sesungguhnya Nabi Isa a.s. bersabda: “Hai Bani Israil, kamu jangan membicarakan hikmat pada orang yang bodoh, bererti kamu telah aniaya pada hikmat itu, dan jangan kamu sembunyikan dari ahlinya, maka bererti kamu aniaya pada hikmat itu dan pada orang-orang yang berhak itu. Dan jangan kamu membalas orang jahat dengan kejahatan, maka hilang kebaikanmu disisi Tuhanmu. Hai Bani Israil, semua urusan itu hanya terbahagi tiga iaitu:
    + Urusan yang nyata baiknya maka ikutilah
    + Urusan yang nyata sesatnya maka tinggalkanlah
    + Urusan yang masih ragu kembalilah kepada Allah s.w.t. dan Rasulullah (Al-Quran dan sunnaturasul)

    Seorang cendikiawan berkata: “Zuhud (tidak rakus) didunia ini kerana empat iaitu:
    + Percaya benar pada janji Allah s.w.t. didunia dan diakhirat
    + Harus menganggap puji dan makian orang-orang itu sama sahaja (tidak merasa besar kerana dipuji dan tidak merasa rendah kerana dihina orang)
    + Ikhlas dalam amal perbuatanmu
    + Memaafkan orang yang aniaya padanya dan tidak marah-marah kepada budak sahayanya dan menjadi tenang sabar

    Abu Darda r.a. berkata: “Seorang berkata kepadanya: “Ajarkan kepadaku beberapa kalimah yang berguna bagiku.” Abu Darda berkata: “Saya berwasiat kepadamu beberapa kalimah, siapa yang mengamalkan maka ia mendapat darjat yang tinggi sebagai pahalanya iaitu:
    + Jangan makan kecuali yang halal
    + Anggaplah dirimu dari golongan yang mati
    + Serahkan dirimu kepada Allah s.w.t, maka siapa yang maki atau mengganggu kepadamu maka katakan: “Kehormatanku telah aku serahkan kepada Allah s.w.t.”
    + Jika engkau berbuat kesalahan atau dosa maka segera minta ampun kepada Allah s.w.t.

    Ketika Nabi Muhammad s.a.w. patah giginya dalam perang Uhud, maka para sahabat berkata kepadanya: “Ya Rasulullah, andaikan engkau berdoa kepada Allah s.w.t. terhadap orang yang telah berbuat kepadamu sedemikian itu.” Jawab Nabi Muhammad s.a.w.: “Sesungguhnya aku tidak diutus untuk mengutuk tetapi aku diutus untuk berdakwah dan rahmat, ya Allah, berilah hidayat kepada kaumku maka mereka benar-benar belum mengetahui.”

    Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Siapa yang menahan dari kehormatan kaum muslimin, maka Allah s.w.t. memaafkan kesalahan-kesalahannya pada hari kiamat, dan siapa yang menahan marahnya, maka Allah s.w.t. akan menghindarkan dari murkaNya pada hari kiamat.”

    Mujahid berkata: “Nabi Muhammad s.a.w. berjalan melalui kaum yang sedang mengangkat batu dan melihat siapakah yang lebih kuat diantara mereka, maka Nabi Muhammad s.a.w. bertanya: “Apakah batu itu?” Jawab mereka: “Ini batu kekerasan.” Maka Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Sukakah saya beritahu kepada kamu yang lebih keras daripada itu?” Jawab mereka: “Ya, ya Rasulullah.” Maka Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Orang yang bentrol dengan saudaranya sehingga mendongkol, kemudian dapat mengalahkan syaitan laknatullah dan datang kepada saudaranya itu lalu mengajak damai dan baik kepadanya.” Dilain riwayat pula dikatakan: “Nabi Muhammad s.a.w. melihat kaum melatih kekuatan itu dengan mengangkat batu, maka Nabi Muhammad s.a.w. bertanya: “Apakah kamu mengukur kekuatan dengan mengangkat batu? Sukakah saya beritahu kepadamu yang lebuh kuat dari kamu?” Jawab mereka: “Ya, ya Rasulullah.” Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Iaitu orang yang penuh marah lalu menahan marahnya dan sabar.”

    Yahya bin Mu’adz berkata: “Siapa yang mendoakan orang yang menganiaya kepadanya, maka ia telah menyusahkan Nabi Muhammad s.a.w ditengah-tengah para Nabi-nabi yang lain, dan menyenangkan orang mal’un iaitu iblis laknatullah ditengah-tengah syaitan laknatullah dan orang-orang kafir. Dan siapa yang memaafkan orang yang zakim, maka ia telah menyedihkan kepada iblis laknatullah ditengah-tengah orang kafir dan syaitan laknatullah dan menyenangkan Nabi Muhammad s.a.w. ditengah-tengah para Nabi dan orang-orang solihin.”

    Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Pada hari kiamat akan ada seruan: “Dimanakah orang-orang yang pahala mereka dijamin oleh Allah s.w.t, maka bangkitlah orang yang telah memaafkan pada manusia lalu masuk syurga.”

    Al-Ahnaf bin Qays ditanya: “Apajah kemanusiaan itu? Jawabnya:
    + Merendahkan diri didalam kekuasaan kerajaan
    + Memaafkan ketika berkuasa dan
    + Memberi tanpa menyebut-nyebut

    Athiyah berkata Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Orang mukmin itu lunak-lunak, baik-baik bagaikan unta yang terkendali hidungnya, jika dituntun menurut dan jika dihentikan dibukit juga berhenti.”

    Abul Laits berkata: “Pergunakanlah sabar ketika merah dan awaslah kamu dari keburuan ketika marah kerana keburuan dalam marah itu mengakibatkan tiga macam iaitu:

    + Menyesal diri
    + Tercela oleh orang-orang
    + Siksa dari Allah s.w.t.

    Sebab sabar itu memang pahit pada mulanya tetapi manis pada akhirnya, sebagaimana kata pujangga: “Alhilmu awwalahu murrun madzaqatuhu, laakin akhiruhu ahla minal asali ashshabru kashshabiri murrun fi madzaqatihi laakin awaqibuhu ahla minal asali.” (Yang bermaksud): “Sabar itu pada mulanya pahit rasanya tetapi akibatnya lebih manis dari madu. Sabar itu bagaikan jadam pahit rasanya tetapi akibatnya lebih manis dari madu.”

    (tanbihul_ghafilin)

  • Keikhlasan

    Alfaqieh Abul-Laits berkata: “Telah menerangkan kepada kami Muhammad bin Alfadhel bin Ahnaf berkata: “Telah menerang kepada kami Muhammad bin Ja’far Alkaraabisi ia berkata : “Telah menerang kepada kami Ibrahim bin Yusuf ia berkata: “telah menerang kepada kami Ismail bin Ja’far, dari Amr Maula Almuththalib dari Ashim dan Muhammad bin Labied berkata: Nabi Muhammad s.a.w. telah bersabda yang bermaksud: “Yang sangat saya kuatirkan atas kamu ialah syirik yang terkecil.” Sahabat bertanya: “Ya Rasullullah, apakah syirik yang kecil itu?” Nabi Muhammad s.a.w. menjawab: “Riyaa. Pada hari pembalasan kelak Allah s.w.t. berkata kepada mereka : “Pergilah kamu kepada orang-orang yang dahulu kamu beramal kerana mereka didunia, lihatlah disana kalau-kalau kamu mendapatkan kebaikan dari mereka.”

    Riyaa ialah beramal untuk dilihat orang, dipuji dilihat orang, Abul Laits berkata: “Dikatakan pada mereka sedemikian itu kerana amal perbuatan mereka ketika didunia secara tipuan, maka dibalas demikian.”

    Firman Allah s.w.t.: Yukhaa di’unnallah wahuwa khaa di’uhum.
    Allah s.w.t. membalas cara tipuan mereka itu dan membatalkan semua amal perbuatan mereka itu, kerana kamu dahulu tidak beramal untukKu maka pembalasan amalmu itu tidak ada padaKu, sebab tiap amal yang tidak ikhlas kepada Allah s.w.t., maka tidak sampai kepadaNya, kerana itu tiap amal yang dikerjakan tidak kerana Allah s.w.t. dan kerana lainnya, maka Allah s.w.t. lepas tangan daripadanya.

    Abul Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Hurairah r.a. berkata, dari Nabi Muhammad s.a.w. telah bersabda yang bermaksud: “Allah s.w.t. telah berfirman: ‘ Akulah yang terkaya dari semua sekutu, Aku tidak berhajat kepada amal yang dipersekutukan yang lain-lain, maka siapa beramal lalu mempersekutukan kepada lain-lainKu, maka Aku lepas bebas dari amal itu.”

    Hadis ini sebagai dalil bahawa Allah s.w.t. tidak menerima amal kecuali yang ikhlas kepada Allah s.w.t., maka jika tidak ikhlas, tidak diterima dan tidak ada pahalanya, bahkan tempatnya tetap dalam neraka jahannam, sebagaimana tersebut dalam ayat 18 surah Al-Israa:

    Man kana yuriidul aa-jilat ajjalna lahu fiha maa nasyaa’u liman nuridu, tsumma ja’alna lahu jahannam yash laaha madzmuman mad-hura (18). Wa man aradal akhirota wa sa’a laha sa’yaha wa huwa mu’minun, fa ulaa’ika kaana sa’yuhum masy-kuura. (19). Kullan numiddu haa ulaa’i, wahaa ulaa’i athaa’i robbika, wama kaana athaa’u robbika mah-dzuura (20).

    Bermaksud: Siapa yang menginginkan dunia dengan amalnya, Kami berikan kepadanya dari kekayaan dunia bagi siapa Kami kehendaki kebinasaannya, kemudia Kami masukkan ia kedalam neraka jahannam sebagai orang terhina dan terusir jauh dari rahmat Allah (18). Dan siapa yang menginginkan akhirat dan berusaha dengan bersungguh-sungguh dan ikhlas, dan disertai iman, maka usaha amal mereka itulah yang terpuji (diterima) (19). Masing-masing dari dua golongan Kami beri rezki, dan pemberian Tuhanmu tidak terhalang, baik terhadap mukmin, kafir, berbakti maupun lacur (20).

    Dari ayat keterangan ini nyatalah bahawa yang beramal kerana Allah s.w.t. maka akan diterima sedang yang beramal tidak kerana Allah s.w.t. tidak akan diterima dan hanya lelah dan susah semata-mata, sebagimana dinyatakan dalam hadis: Abu Hurairah r.a berkata bahawa Nabi Muhammad s.a.w. telah bersabda: “Rubba sha’imin laisa lahu hadhdhun min shaumihi illal ju’a wal athsy wa rubba qaai’min laisa lahu hadhdhun min qiyamihi illal-sahar wannashabu. Maksudnya: Adakalanya orang puasa dan tidak mendapat apa-apa dari puasanya kecuali lapar dan haus, dan ada kalanya orang bangun malam dan tidak mendapat apa-apa dari bangunnya kecuali tidak tidur semata-mata, yakni tidak mendapat pahala dari amalnya.

    Seorang ahli hikmah berkata: “Contoh orang yang beramal dengan riyaa’ atau sum’ah itu bagaikan orang yang keluar kepasar dan mengisi poketnya dengan batu, sehinggakan orang melihat poketnya semua berasa kagum dan berkata: “Alangkah penuhnya poket wang orang itu.”, tetapi sebenarnya dia sama sekali tidak berguna sebab tidak dapat dibeli apa-apa tetapi hanya sekadar mendapat pujian orang sahaja. Demikianlah pula orang yang beramal dengan riyaa’ sum’ah, tidak ada pahalanya diakirat kelak.”

    Sebagaimana firman Allah s.w.t.: “Wa qadimna ila amilu min faja’alnahu habaa’an mantsuura.” yang bermaksud: “Dan Kami periksa semua amal perbuatan mereka, lalu Kami jadikan debu yang berhamburan.”

    Waki’ meriwayatkan dari Sufyan Atstsauri dari orang yang mendengar Mujahid berkata: “Seorang datang kepada Nabi Muhammad s.a.w. dan berkata: Ya Rasullullah, saya bersedekah mengharapkan kerihdaan Allah s.w.t. dan ingin juga disebut dengan baik.” Maka turunlah ayat 111 surah al-Kahfi: “Faman kaana yarju liqaa’a rabbihi fal ya’mal amalan shaliha, walaa yusyrik bi ibadati rabbihi ahada. yang bermaksud: “Maka siapa yang benar-benar mengharap akan bertemu dengan Tuhannya, maka hendaklah berbuat amal yang baik, dan jangan mempersekutukan Allah dalam semua ibadatnya dengan sesiapa.”

    Seorang pujangga berkata: “Siapa yang berbuat tuju tanpa tuju tidak berguna perbuatannya. Siapa yang takut tanpa hati-hati, maka tidak berguna takut itu, seperti berkata: “Saya takut kepada siksaan Allah s.w.t. tetapi tidak berhati-hati dari dosa, maka tidak berguna takutnya itu. Siapa yang mengharapkan tanpa amal seperti mengharapkan pahala dari Allah s.w.t. tetapi tidak beramal, maka tidak berguna harapannya itu. Siapa yang niat tanpa perlaksanaan, niat yang berbuat kebaikan tetapi tidak melaksanakan akan tidak berguna niatnya itu. Siaoa berdoa tanpa usaha, seperti berdoa semoga mendapat taufiq untuk kebaikan, tetapi tidak berusaha untuk kebaikan. Siapa yang beristigfar tanpa penyesalan, maka tidak akan berguna istigfarnya itu. Siapa yang tidak menyesuaikan lahir dengan batiniahnya, seperti lahirnya untuk berbuat kebaikan tetapi hati tidak ikhlas. Siapa yang amal tanpa ikhlas maka tidak akan berguna amal perbuatannya.

    Abu Hurairah berkata: Nabi Muhammad s.a.w bersabda yang bermaksud: “Akan keluar pada akhir zaman suatu kaum (golongan) yang mencari dunia dengan menjual agama, memakai pakaian bulu domba, lidah mereka lebih manis dari madu sedang hati mereka bagaikan serigala. Allah akan berfirman kepada mereka: Apakah terhadapKu mereka bermain-main dan melawan, dengan kebesaran-Ku, Aku bersumpah akan menurunkan kepada mereka futnah ujian bala sehingga seorang yang berakal tenang akan bingung.”

    Waki’ meriwayatkan dari Sufyan dari Habib dari Abi Salih berkata: Seorang datang kepada Nabi Muhammad s.a.w. dan berkata: “Ya, Rasullullah, saya berbuat suatu amal yang saya sembunyikan kemudian diketahui orang, maka saya merasa senang, apakah masih mendapat pahala? Jawab Nabi Muhammad s.a.w.: “Ya. bagimu pahala rahasia dan terang.”

    Abul-Laits berkata: “Diketahui orang sehingga ditiru, maka ia mendapat pahala kerana beramal dan mendapat pahala kerana ditiru orang.” Sebagaimana sabda Rasulullah s.a.w. yang bermaksud: “Siapa yang memberi contoh kebaikan, maka ia mendapat pahala dan pahala orang-orang yang meniru perbuatannya hingga hari qiamat, dan siapa yang memberi contoh kejahatan maka ia mendapat dosa dan dosa orang-orang yang meniru perbuatannya hingga hari qiamat.”

    Abdullah bin Almubarak meriwayatkan dari Abubakar bin Maryam dari Dhomiroh dari Abu Habib berkata: Rasullullah s.a.w. bersabda yang bermaksud: “Adakalanya para Malaikat membawa amal seorang hamda dan mereka anggap banyak dan mereka menyanjungnya sehingga sampai kehadrat Allah, maka Allah berfirman kepada mereka: Kamu hanya mencatat amal hambuku, sedang Aku mengawasi isi dan niat hatinya, hambaku ii tidak ikhlas kepadaKu dan amalnya, maka catatlah dalam sijjin, dan ada kalanya membawa naik amal hamba lalu mereka menganggap sedikit dan kecil sehingga sampai kehadapan Allah, maka Allah berfirman kepada para Malaikat: Kamu mencatat amal perbuatan hambaKu dan Aku mengawasi isi hati dan niatnya, orang ini benar-benar ikhlas dalam amal perbuatannya kepadaKu, catatlah amalnya itu dalam illiyin.”

    Dengan ini nyatalah bahawa amal yang sedikit dengan ikhlas lebih baik daripada yang banyak jika tidak ikhlas, sebab amal yang diterima oleh Allah s.w.t. dilipat gandakan pahalanya. Adapun yang tidak ikhlas maka tidak ada pahalanya, bahkan tempatnya dalam neraka jahannam.

    Abu-Laits berkata: Saya telah diceritakan oleh beberapa ulama dengan sanad mereka yang langsung dari Uqbah bin Muslim dari Samir Al-ash-bahi berkata: “Bahawa ia ketika masuk kekota Madinah melihat seorang yang dikerumuni oleh orang ramai, lalu saya bertanya: “Siapakah orang itu?” Jawab orang-orang: “Itu Abu Hurairah r.a.”. Maka saya mendekati kepadanyadan ketika tiada lagio orang ramai disitu, saya pun bertanya kepadanya: “Saya tuntut engkau demi Allah, ceritakan kepadaku satu hadis yang telah kau dengar dan kau ingat langsung daripada Rasullullah s.a.w.” Abu Hurairah r.a. berkata: “Duduklah, akan saya ceritakan kepadamu hadis yang saya sendiri mendengar dari Rasullullah s.a.w. yang waktu itu tiada orang lain bersama kami.” Kemudian Abu Hurairah r.a. pun menarik nafas yang berat lalu pingsan, kemudian setelah sedar dari pingsan itu dia pun mengusapkan mukanya sambil berkata: “Akan aku ceritakan hadis Rasullullah s.a.w. .”, kemudian dia menarik safas yang berat lagi dan pingsan semula. Agak lama kemudian dia sedar dan mengusapkan mukanya lalu berkata : Rasullullah s.a.w. telah bersabda: “Apabila hari kiamat kelak maka Allah s.w.t. akan menghukum diantara semua makhluk dan semua ummat bertekuk lutut, dan pertama yang dipanggil ialah orang yang menerti al-Quran, dan orang yang mati fisabilillah, dan orang kaya. Maka Allah s.w.t. menanyakan kepada orang yang pandai al-Quran: Tidakkah Aku telah mengajar kepadamu apa yang Aku turunkan kepada utusanKu? Jawab orang itu: Benar, ya Tuhanku. lalu kau berbuat apa terhadap apa yang telah engkau ketahui itu? Jawabnya: Saya telah mempelajarinya diwaktu malam dan mengerjakannya diwaktu siang. Firman Allah s.w.t. : Dusta kau. Lalu malaikat juga berkata: Dusta kau, sebaliknya kau hanya ingin disebut qari, ahli dalam al-Quran, dan sudah disebut yang demikian itu. Lalu dipanggil orang kaya dan ditanya: Engkau berbuat apa terhadap harta yang Aku berikan kepada kamu? Jawabnya: Saya telah menggunakan untuk membantu kaum keluarga dan bersedekah. Dijawab Allah s.w.t. :Dusta kau. Para malaikat pun berkata: Dusta kau, kau berbuat begitu hanya kerana ingin disebut sebagai seorang dermawan, dan sudah terkenal sedemikian. Lalu dihadapkan orang yang mati berhijad fisabilillah lalu ditanya: Kenapa kau terbunuh? Jawabnya: Saya telah berperang untuk menegakkan agamaMu sehingga terbunuh. Allah s.w.t. berfirman: Dusta engkau. Dan malaikat juga berkata: Dusta engkau, kau hanya ingin disebut sebagai seorang pahlawan yang gagah berani dan sudah disebut sedemikian.

    Kemudian Nabi Muhammad s.a.w. memukul lututku (pahaku) sambil bersabda yang bermaksud: “Hai Abu Hurairah, ketiga orang itulah yang pertama-tama yang dibakar dalam api neraka pada hari kiamat.” Kemudian berita itu sampai kepada Mu’awiyah maka ia menangis dan berkata: “Benar sabda Allah s.w.t. dan Rasulullah s.a.w.”. Kemudian ia membaca ayat 15-16 surah Hud yang berbunyi: Man kana yuridul haya wazinataha nuwaffi ilaihim a’maalahum fiha wahum fiha la yub khosun.(15) Ulaa’ikal ladzina laisa lahum fil aakhiroti illannar wa habitha maa shona’u fiha wabaa thiun maa kaanuu ya’malun. (16). Yang bermaksud: Siapa yang niat dengan amalnya hanya semata-mata keduniaan dan keindahannya maka Kami akan memberi kepada mereka semua amalnya dan mereka didunia tidak akan dikurangi (dirugikan).(15). Mereka itulah yang tidak mendapat diakirat kecuali api neraka, dan gugur semua amal mereka itu, bahkan palsu semua perbuatan mereka itu.(16).

    Abdullah bin Haanif Al-inthoki berkata: Pada hari kiamat bila seseorang mengharap amalnya kepada Allah s.w.t. maka dijawab: Tidakkah Kami telah membayar kotan pahalamu, tidakkah Kami telah memberi tempat padamu dalam tiap majlis. tidakkah Kami telah terangkat sebagai pimpinan/ketua, tidakkah telah Kami murah (mudah)kan jualbelimu (yakni selalu dapat potongan harga jika membeli sesuatu) dan seterusnya.

    Seorang hakim telah berkata: Orang yang ikhlas ialah orang yang menyembunyikan perbuatan kebaikannya sebagaimana menyembunyikan kejahtannya. Pendapat yang lain pula berbunyi: Puncak ikhlas itu ialah tidak ingin pujian orang. Dzinnun Almishri ketika ditanya: “Bilakah orang diketahui bahawa ia termasuk pilihan Allah s.w.t.”? Jawabnya: “Jika tidak meninggalkan istirehat dan dapat memberikan apa yang ada, dan tidak menginginkan kedudukan dan tidak mengharapkan pujian tau celaan orang. (Yakni dipuji tidak merasa besar dan dicela tidak merasa kecil)

    Ady bin Hatim Aththa’i berkata Rasullullah s.a.w. bersabda yang bermaksud: Pada hari kiamat beberapa orang yang diperintahkan untuk membawa kesyurga dan setelah melihat segala keindahannya serta merasakan bau harumnya maka diperintahkan untuk dijauhkan daripadanya kerana mereka tidak ada bagian didalamnya, maka kembali mereka dengan penjelasan yang tidak ada tara bandingnya, sehingga mereka berkata: Ya Tuhan, andaikan Kau masukkan kami kedalam neraka sebelum Kau perlihatkan kami pahala yang Kau sediakan bagi para waliMu. Jawab Allah: Sengaja Aku berbuat itu kepada kamu, kamu dahulu bila bersendirian berbuat dosa-dosa besar, dan bila dimuka orang-orang berlagak alim sopan dan taat, kamu hanya riya’, memperlihatkan kebaikan kepada manusia, dan tidak takut kepadaKu, kamu mengagungkan orang dan tidak mengagungkan Aku, maka kini Aku merasakan kepada kamu kepedihan siksaKu, disamping Aku haramkan atas kamu kebesaran pahalaKu.

    Abdullah bin Abbas r.a. berkata Rasullullah s.a.w. bersabda yang bermaksud: Ketika Allah telah melengkapi jannahtu aden dengan segala keindahan yang belum dilihat oleh mata, dan terdengar oleh telinga dan tergerak dalam hati (khayal) manusia, maka Allah menyuruhnya supaya berkata-kata, maka syurga itu berkata : Qad aflahai mu’minum (3x) (Sungguh untung orang yang beriman/percaya) Inni haram ala kulli bakhil wa munafiq wa muraa’i (3x) (Saya diharam untuk dimasuki oleh tiap orang yang bakhil dan orang munafiq dan orang yang berbuat riyaa).

    Ali bin Abi Thaalib r.a. berkata: “Tanda orang yang riyaa’ itu ada empat yakni malas jika bersendirian, dan tangkas jika dimuka orang, dan menambah amalnya jika dipuji, dan mengurangi jika dicela. Syaqiq bin Ibrahim berkata: “Benteng amal itu ada tiga iaitu Harus merasa bahawa itu hidayat dan taufiq dari Allah s.w.t., Harus niat untuk mendapat ridha Allah s.w.t. untuk mematahkan hawa nafsu dan Harus mengharap pahala dari Allah s.w.t. untuk menghilangkan rasa tamak, rakus riyaa’ dan dengan ketiga ini amal dapat ikhlas kepada Allah s.w.t. Mengharap ridha Allah s.w.t. supaya tiap amal hanya untuk yang diridha Allah s.w.t. supaya tidak beramal terdorong oleh hawa nafsu, dan apabila amal itu kerana mengharap pahala dari Allah s.w.t. maka tidak hirau terhadap pujian atau celaan orang.

    Seorang hakim berkata: “Seharusnya seorang yang beramal itu belajar adab dari pengembala kambing.” Ketika ditanya bagaimanakah? Jawabnya: “Pengembala itu jika sembahyang ditengah-tengah kambingnya, sekali-kali tidak mengharap pujian dari kambing-kambingnya, demikianlah seorang yang beramal harus tidak menghiraukan apakah dilihat orang atau tidak.”

    Seorang hakim berkata: “Untuk keselamatan suatu amal berhajat pada empat macam iaitu pertamanya: Ilmu pengetahuan, sebab amal tanpa ilmu lebih banyak salah daripada benarnya (tepatnya),keduanya Niat, sebab tiap amal amat terpenting pada niatnya, sebagaimana sabda Nabi Muhammad s.a.w. : “Sesungguhnya semua amal tergantung pada niat dan yang dianggap bagi tiap orang apa yang ia niatkan.” dan ketiga Sabar, supaya dapat melaksanakan amal itu dengan baik dan sempurna, thuma’ninah dan tidak keburu , keempatnya ialah Tulus ikhlas, sebab amal tidak akan diterima tanpa keikhlasan.

    Haram bin Hayyan berkata: “Tiada seorang yang menghadap kepada Allah s.w.t. akan menghadapkan hati orang-orang yang beriman sehingga kasih dan sayang kepadanya.” Suhail bin Shalib dari ayahnya Abu Hurairah r.a. berkata, Nabi Muhammad s.a.w. bersabda yang bermaksud: “Sesungguhnya Allah s.w.t. bila cinta pada seseorang hamba berkata kepada Jibril: Sesungguhnya Aku kasih kepada fulan, maka kau kasih kepadanya, lalu Jibril berkata kepada semua penduduk langit: Sesungguhnya Tuhanmu kasih kepada fulan, maka kamu harus kasih kepadanya, setelah dikasihi oleh ahli langit, maka disebarkan rasa kasih diatas bumi, dan sebaliknya jika Allah s.w.t. murka (benci) pada seorang hamba, demikian juga adanya.”

    Syaqiq bin Ibrahim ditanya: “Bagaimana dapat mengetahui bahawa seorang yang soleh, sebab orang mengatakan bahawa saya orang solihin?” Jawab Syaqiq: “Tunjukkan rahsiamu pada orang-orang soleh, maka bila mereka rela pada itu itu bererti kau soleh. Kedua, tawarkan dunia ini pada hatimu, maka bila ia menolak, itulah tandanya kau soleh dan ketiga, tawarkan maut kepada dirimu, maka jika ia berani dan mnegharap tanda bahawa kau orang yang soleh, bila tidak maka bukan soleh, dan bila ada ketiga-tiganya padamu, maka mintalah selalu kepada Allah s.w.t. jangan sampai memasukkan riyaa’ dalam semua amalmu supaya tidak rosak amalmu.”

    Tsabit Albunani dari Anas bin Malik r.a. berkata bahawa Nabi Muhammad s.a.w. bersabda yang bermaksud: “Tahukah kamu siapakah orang mukmin? Jawab sahabat: “Allah s.w.t. dan Rasullullah lah yang lebih mengetahui.” Baginda s.a.w. bersabda: “Seorang mukmin iaitu orang yang tidak mati sehingga Allah memenuhi pendengarannya dengan apa yang ia suka dan andaikan seorang berbuat taat didalam rumah yang berlapistujuh puluh dan pada tiap rumah ada pintu besi, niscaya Allah akan menampakkan amal itu sehingga dibicarakan orang dan dilebih-lebihkan.” Ditanya oleh para sahabat: “Ya Rasulullah, bagaimana dilebih-lebihkan?” Jawab Nabi Muhammad s.a.w. : Seorang mukmin suka bila amalnya bertambah.” Kemudian Nabi Muhammad s.a.w. pula bertanya: Tahukah kamu siapa pula yang fajir (derhaka)?”. Jawab sahabat: “Allah s.w.t. dan Rasullullah lah yang lebih mengetahui.” Bersabda Nabi Muhammad s.a.w. : “Yalah orang yang tidak mati sehingga Allah s.w.t. memenuhi pendengarannya dengan apa yang tidak disukai, dan andaikan seorang berbuat maksiat didalam rumah yang berlapis tujuh puluh rumah dan masing-masing berpintu besi, niscaya Allah s.w.t. akan memperlihatkan pakaian amal itu sehingga dibicarakan orang dan ditambah-tambahi.” Ketika ditanya: “Bagaimana ditambah, ya Rasullullah?’ Jawab Rasullullah s.a.w : “Seorang fajir suka apa yang menambah durhakanya.”

    Auf bin Abdullah berkata: “Orang-orang ahlil khoir satu sama lain berpesan tiga kalimah: Siapa yang beramal untuk akhirat, maka Allah s.w.t. akan mencukupi urusan dunianya, dan siapa yang memperbaiki hubugannya dengan Allah s.w.t. maka Allah s.w.t. akan memperbaiki hubugannya dengan sesama manusia, dan siapa yang memperbaiki hatinya maka Allah s.w.t. akan memperbaiki lahirnya.”

    Hamid Allafaf berkata: “Jika Allah s.w.t. akan membinasakan seseorang, maka dihukum dengan tiga macam: Diberi ilmu tanpa amal, Diberi bersahabat dengan orang-orang yang soleh tetapi tidak mengikuti jejak mereka dan tidak beradap terhadap mereka serta ketiga diberi jalan untuk berbuat taat tetapi tidak ikhlas.”

    Abul-Laits berkata: “Itu semua kerana jelek niatnya dan busuk hatinya, sebab sekiranya niatnya baik nescaya diberi manfaat dalam ilmunya dan ikhlas dalam amalnya, dan menghargai kedudukan orang-orang soleh.” Tambahnya lagi: “Saya telah diberitahu oleh orang yang dapat dipercayai dengan sanadnya dari jaballah Alyahshubi berkata: “Ketika kami bersama Abdul Malik bin Marwan dalam suatu peperangan, tiba-tiba kami bertemu dengan seseorang yang selalu bangun malam, bahkan tidak tidur malam kecuali sebentar, selama itu kami belum kenal padanya, kemudian kami ketahui bahawa ia adalah sahabat Rasullullah lalu ia bercerita kepada kami bahawa ada seorang bertanya: “Ya Rasullullah, dengan apakah mencapai keselamatan kelak?” Jawab Rasullullah s.a.w, “Jangan menipu Allah s.w.t.” Orang bertanya lagi: “Bagaimana menipu Allah s.w.t.?” Rasullullah s.a.w menjawab: “Yaitu mengerjakan apa yang diperintahkan oleh Allah s.w.t., tidak kerana Allah s.w.t. dan berhati-hatilah kamu dari riyaa kerana ia syirik terhadap Allah s.w.t. Orang yang berbuat riyaa pada hari kiamat akan dipanggil dimuka umum dengan empat nama: Hai kafir, hari orang lancung, hai penipu, hai orang yang rugi, hilang semua amalmu dan batal pahalamu, maka tidak ada bagian bagimu kini, dan mintalah pahalamu dari orang yang kamu berbuat untuk mereka wahai penipu.” Saya bertanya lagi: “Demi Allah yang tiada Tuhan kecuali Dia, apakah benar kau mendengar sendiri hadis ini dari Rasullullah s.a.w.?” Jawabnya: “Demi Allah s.w.t. yang tiada Tuhan kecuali Dia, sesungguhnya saya telah mendengar sendiri dari Rasullullah s.a.w kecuali jika saya keliru sedikit yang tidak saya sengajakan.” Kemudian ia membaca ayat: Innal munafaiqiina yukhadi ‘unallah wa huwa khaa di’uhum. Yang bermaksud: Seseungguhnya orang munafiq itu akan menipu Allah padahal Allah telah membalas tipu daya mereka.

    Abul-Laits berkata: “Siapa yang ingin mendapat pahala amalnya diakhirat, maka harus beramal dengan ikhlas kerana Allah s.w.t. tanpa riyaa’, kemudian melupakan amal itu supaya tidak dirosak oleh rasa ujub (bangga diri) sebab memang menjaga taat itu lebih berat daripada mengerjakannya.”

    Abu Bakar Alwaasithi berkata: “Menejaga kebaikan taat itu lebih berat daripada mengerjakannya sebab ia bagaikan kaca yang cepat (mudah) pecah dan tidak dapat ditampal atau dipatri, maka tiap amal yang dihinggapi riyaa’ rosak dan tiap amal yang dihinggapi ujub (bangga diri) rosak. Maka apabila seorang dapat menghilangkan rasa riyaa’ dalam amalnya harus berbuat yang demikian, tetapi bila tidak dapat menghilangkan maka jangan sampai tidak beramal kerana belum dapat menghilangkan riyaa’ sebaiknya ia harus tetap beramal kemudian membaca istigfar dari pada rayaanya itu, kemudian dilain hari Allah s.w.t. memberinya taufiq untuk ikhlas dalam amal-amal yang lain.”

    Salman Alfarisi r.a. berkata: “Allah s.w.t. menambah kekuatan orang mukmin dengan bantuan orang-orang munafiqin dan menolong orang munafiqin dengan doa orang-orang mukmin.”

    Abu-Laits berkata: “Orang-orang berpendapat bahawa didalam fardhu tidak dapat dimasuki riyaa’, sebab melakukan kewajipan, tetapi sebenarnya dapat saja riyaa’ itu masuk kedalamnya.” Tambahnya lagi: “Disini ada dua macam: Jika ia melakukan fardhu itu semata-mata kerana riyaa’ sehingga sekiranya tidak riyaa’ tidak melakukannya maka itu munafiq sepenuhnya, termasuk dalam golongan Innal munaafiqiina faddarkil asfali minannaar.

    Orang-orang munafiq itu dalam tingkat terbawah dalam api neraka, sebab sekiranya tauhidnya benar-benar, tentu ia selalu melakukan fardhu yang dirasa sebagai kewajipan atas dirinya. Dan jika tetap melakukan kewajipan hanya jika didepan orang lebih baik dan sempurna sedang jika sendirian agak sumbang, maka ia mendapat pahala yang kurang sesuai dengan kelakuannya yang kurang, sedang kelebihan yang dilakukan dimuka orang ramai maka ia tidak ada pahalanya bahkan akan dituntut atasnya.

  • Istighfar dan Akhlaq Nabi

    Sabda Rasulullah saw :
    “Demi Allah, sungguh aku beristighfar dan bertobat kepada-Nya pada tiap harinya lebih dari tujuh puluh kali” (Shahih Bukhari) (lebih…)

  • Tutupan dari Allah

    Syaikh Ibnu ‘Atho`illah berkata, “Tutup Allah itu terbagi dua, Tertutup dari berbuat ma`shiat (dosa) dan tertutup dalam perbuatan ma`shiat (dosa). Manusia pada umumnya minta kepada Allah supaya ditutupi dalan perbuatan dosa karena kuatir jatuh kedudukannya di dalam pandangan manusia, tetapi orang-orang yang khusus meminta kepada Allah supaya ditutupi dari ma`shiat (dosa), jangan sampai berbuat dosa karena takut jatuh dalam pandangan Allah.” (lebih…)

  • Tajrid dan Kasab

    Ulama sufi yang termasuk dalam kelompok Ahlul Kasyaf di lingkungan Ahlus Sunnah wal Jama’ah, amat mengkhawatirkan adanya orang yang baru selangkah memasuki arena Tasauf sudah berani mengukir kata dan ucapan seperti perkataan Al-Hallaj. Kadang menjadikannya bahan obrolan di kedai kopi.

    Jika meneliti Kitab Insan Kamil karya Syaikh Abdul Karim Al-Jilli, ada kecenderungan kepada faham yang senada dengan Al-Hallaj, tetapi ada penekanan agar tidak semudah itu meniru-niru perkataan Al-Hallaj tanpa pemahaman dan pengalaman yang benar. Al-Jilli menegaskan, “Hamba adalah hamba, Tuhan adalah Tuhan. Tidaklah bisa hamba menjadi Tuhan dan Tuhan menjadi hamba.”

    Hal lain yang dikhawatirkan adalah para pemula yang menuntut ilmu tashawwuf yang kemudian meninggalkan karya dan usaha. Padahal dirinya dan keluarganya sendiri amat membutuhkan tanggung jawabnya sebagai kepala rumah tangga.

    Syaikh Ibnu ‘Atho-illah berkata dalam Matnul Hikam, “Hasratmu untuk tajrid, padahal Allah masih menempatkanmu pada jalur kasab, maka hasrat yang demikian merupakan nafsu yang tersembunyi. Sebaliknya, keinginan kamu untuk berkasab padahal Allah telah meletakkan kamu dalam jalur tajrid berarti turun dari semangat dan maqom yang tinggi.”

    Tajrid bisa saja terjadi dengan kehendak Allah, bukan dengan kehendak kita. Maka suatu kekeliruan bila ada orang yang menuntut ilmu tasauf, memaksakan dirinya untuk tajrid dan tidak berusaha untuk mencari nafkah bagi kepentingan dirinya dan keluarganya. Seorang milyarder yang memenuhi kebutuhannya dan keluarganya tanpa bekerja lagi, silahkan saja dia bertajrid secara lahir dan bathin. Bahkan jika ia tidak bertajrid untuk memfokuskan diri dalam ibadah, maka meninggalkan tajrid itu merupakan penurunan derajat. Namun orang yang Allah letakkan pada jalur kasab, jangan memaksakan diri untuk bertajrid.

    Syaikh Al-Junaid berkata bahwa orang yang meninggalkan kasab dengan unsur kesengajaan adalah lebih berat dosanya dari berzinah dan mencuri. Lalu mengapa para guru sufi mengajarkan konsep tajrid jika meninggalkan kasab secara sengaja merupakan suatu dosa?

    Tajrid itu ada tajrid lahir dan tajrid bathin. Tajrid secara lahir, berarti seseorang meninggalkan kasab demi mengabdi kepada Allah. Adapun tajrid secara bathin, yaitu Anda meyaqini bahwa kasab itu tidak mendatangkan hasil apa-apa. Jadi, tajrid secara bathin adalah seseorang meninggalkan kasab sebagai sebab datangnya rizqi dan menjadikan Allah sebagai satu-satunya sebab datangnya rizqi. Secara lahir, orang itu tetap berikhtiar, karena memilih yang halal itu diperintahkan oleh Allah, maka itu adalah ibadah. Namun secara bathin, dia tidak menempatkan ikhtiar sebagai pendatang rizqi. Bathinnya telah meninggalkan kasab. Inilah tajrid bathin.

    Dalam bahasa yang ekstrim, orang yang tidak bertajrid secara bathin, berarti dia telah menjadikan usahanya sendiri sebagai tuhan yang mendatangkan rizqi. Orang yang bertajrid, dia meninggalkan kasab. Orang yang bertajrid secara bathin bukan berarti meningalkan kasab secara lahir. Namun dia tidak menjadikan usahanya sendiri sebagai tuhan yang mendatangkan hasil.

    Lebih jauh lagi, orang yang bertajrid secara bathin itu tetap makan, namun dia meyaqini bahwa yang memberi kekuatan dan kesehatan adalah Allah. Makanan hanyalah makhluq yang padanya Allah letakkan keberkahan yang menyehatkan dan menguatkan.

    Memang ada orang-orang tertentu yang Allah berikan keistimewaan hingga tidak lagi memerlukan makanan secara lahir. Dia bisa tetap kuat dan sehat dengan keberkahan dari Allah langsung tanpa mengambilnya dari makanan. Namun hal ini tidak bisa dipaksakan. Artinya tidak datang dari usaha dan kehendak kita, tetapi datang dengan kehendak dan kuasa dari Allah.

    Begitu juga ada orang-orang yang telah Allah berikan kecukupan materi tanpa berusaha lagi. Maka silahkan ia berhenti dari kasab dan masuk kepada tajrid.

    Pada akhirnya, tajrid secara bathin merupakan hal yang harusnya ada pada diri kita.

  • Mengharapkan Rahmat Allah

    Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, [QS. Ali Imran (3): 133]

    Syaikh Ibnu Atho`illah berkata, “Termasuk tanda-tanda bergantung/bersandar kepada amal ialah berkurangnya harapan (kepada Allah) ketika wujudnya dosa/kesalahan” (lebih…)

  • Mengharapkan Rahmat Allah

    Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, [QS. Ali Imran (3): 133]

    Syaikh Ibnu Atho`illah berkata, “Termasuk tanda-tanda bergantung/bersandar kepada amal ialah berkurangnya harapan (kepada Allah) ketika wujudnya dosa/kesalahan”

    Sering manusia lebih bersandar kepada amalnya daripada bersandar kepada rahmat Allah. Hal ini dapat dibuktikan, antara lain, ketika ia berbuat satu kema’siatan, ia akan mengingat-ingat amal shalihnya yang dianggap dapat menghapus dosanya. Dan dia tidak begitu ingat akan rahmat Allah. Dia tidak memohon rahmat dan ampunan Allah karena yaqin bahwa amal shalih yang telah dikerjakannya lebih banyak dari dosa-dosanya. Atau mungkin sebaliknya, dia tidak memandang kepada rahmat Allah dengan berkata, “Allah tidak mungkin mengampuni saya, karena dosa saya terlalu banyak sedangkan amal saya terlalu sedikit.” Padahal, Allah mengampuni seseorang tanpa melihat amalnya, tetapi Allah mengampuni seseorang karena rahmat-Nya.

    Memang benar bahwa kebaikan Allah selalu turun kepada kita, sedangkan keburukan kita selalu naik kepada Allah. Namun bukan berarti kita harus berputus harapan dari rahmat Allah. Justeru ketika kita menyadari bahwa tidak ada amal yang bisa kita andalkan, dan memang amal kita tidak bisa diandalkan, seharusnya muncul satu kesadaran pula bahwa hanya rahmat Allah saja yang bisa kita andalkan. Ya, hanya rahmat Allah saja satu-satunya harapan kita. Hanya Allah yang dapat menyelamatkan kita.

    Terkadang manusia juga berfikir bahwa dia akan masuk surga karena amal shalihnya dan bukan karena rahmat Allah. Padahal Nabi menyatakan bahwa kita dapat masuk surga adalah karena rahmat Allah. Amal ibadah kita selama ratusan tahun tidak akan cukup untuk membayar ni’mat penglihatan kita. Bahkan sebagai tanda kesyukuran kita akan setetes ni’mat Allah pun belum cukup. Apalagi jika digunakan untuk membayar tiket ke surga. Jelaslah bahwa kita dapat beribadah karena rahmat Allah berupa iman, Islam, ilmu, kesehatan, dll. Kita dapat mensyukuri suatu ni’mat Allah dengan adanya ni’mat Allah yang lainnya. Bukankah kemampuan kita untuk beribadah dan bersyukur itu juga merupakan pemberian Allah?

    Dalam mencari nafkah pun, terkadang kita merasa bahwa rizqi itu datang dari hasil usaha kita. Bagaikan Qarun kita berkata bahwa rizqi itu tergantung pada ilmu dan usaha kita. Padahal ilmu dan usaha hanyalah cara untuk menjadikan rizqi itu halal atau haram, bukan untuk menentukan datangnya rizqi. Rizqi itu datang dari Allah. Maka mintalah kepada-Nya. Ikhtiar adalah sesuatu yang menjadikan rizqi itu halal atau haram. Ikhtiar adalah kita memilih rizqi yang halal atau yang haram. Berusaha dengan cara yang dilarang Allah berarti kita memilih yang haram. Berusaha dengan cara yang tidak dilarang Allah berarti kita memilih yang halal. Rizqi itu telah disediakan bagi kita begitu luasnya. Tinggal kita pilih, yang halal atau yang haram.

    Amal bukanlah sandaran yang kuat. Amal itu terbit dari makhluq. Sedangkan makhluq adalah fana. Amal itu sendiri adalah makhluq. Bagaimana mungkin kita akan bersandar kepada makhluq? Bersandarlah kepada Allah yang Kekal. Tidak akan kecewa mereka yang bersandar dan bergantung kepada Allah.

    Silahkan Anda bergantung kepada orangtua Anda. Tetapi ingat, orangtua Anda akan mati. Silahkan Anda bergantung kepada perusahaan Anda. Tetapi ingat, perusahaan Anda juga dapat bangkrut. Silahkan bergantung kepada obat. Tetapi ingat, terkadang obat dapat menjadi racun. Dan memang bukan obat yang menyembuhkan penyakit. Banyak obat yang setelah diminum, ternyata tidak ada perubahan pada diri si penderita. Rizqi, kesembuhan, kesehatan, semua itu dari Allah. Begitu pula masuknya seseorang ke surga, itu merupakan rahmat dari Allah. Bukan disebabkan amal shalihnya. Tak ada manusia yang dapat menghindari ma’siat atau pun mampu berbuat tho’at, kecuali dengan rahmat Allah.

    Amal shalih yang kita kerjakan setelah berbuat ma’siat bukanlah untuk menghapus dosa. Tetapi untuk mengemis rahmat Allah. Ketika kita berbuat salah kepada seseorang. Lalu kita ingin meminta maaf darinya. Lalu dia berkata, “Berbuatlah ini dan ini..” Maka kita mengerjakannya agar dia berkenan memaafkan kita.

    Allah telah membuka lebar-lebar pintu-pintu rahmah dan maghfirah-Nya. Kita dapat memasukinya dari pintu-pintu itu. Sungguh Allah Mahapengampun, namun manusia terkadang suka menzholimi diri sendiri. Apa yang Allah katakan kepada bani Israil ketika mereka melakukan suatu kesalahan? Allah menyuruh mereka agar memasuki suatu gerbang seraya bersujud dan berkata, “Hiththoh.” Jika mereka melakukannya, niscaya Allah mengampuni mereka. Tetapi mereka menggantinya dengan ajaran yang tidak-tidak.

    Dan (ingatlah), ketika Kami berfirman: “Masuklah kamu ke negeri ini (Baitulmakdis), dan makanlah dari hasil buminya, yang banyak lagi enak di mana yang kamu sukai, dan masukilah pintu gerbangnya sambil bersujud, dan katakanlah: “Bebaskanlah kami dari dosa”, niscaya Kami ampuni kesalahan-kesalahanmu. Dan kelak Kami akan menambah (pemberian Kami) kepada orang-orang yang berbuat baik”. Lalu orang-orang yang lalim mengganti perintah dengan (mengerjakan) yang tidak diperintahkan kepada mereka. Sebab itu Kami timpakan atas orang-orang yang lalim itu siksa dari langit, karena mereka berbuat fasik. [QS. Al-Baqarah (2): 58-59]

    Jika kita mau mendapatkan ampunan dari Allah, sebenarnya mudah saja. Banyak ayat-ayat Alqur’an dan Hadits yang mengajarkan bagaimana cara mengharapkan ampunan dan kasih-sayang Allah. Dengan membaca Al-Qur’an, dengan shalat, dengan istighfar, dengan tasbih. Semua amal shalih sebenarnya merupakan cara untuk mengemis rahmat Allah.

    Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. [QS. An-Nuur (24): 31]

    Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [QS. Al-Baqarah (2) : 218]

    Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan salat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, [QS. Fathir (35): 29]

    Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a katanya: Beliau mendengar Rasulullah s.a.w bersabda: “Apa pendapat kamu sekiranya terdapat sebatang sungai di hadapan pintu rumah salah seorang dari kamu dan dia mandi di dalamnya setiap hari sebanyak lima kali. Apakah masih lagi terdapat kotoran pada badannya?” Para Sahabat menjawab: “Sudah pastinya tidak terdapat sedikit pun kotoran pada badannya.” Lalu baginda bersabda: “Begitulah perumpamaannya dengan sembahyang lima waktu. Allah menghapuskan segala kesalahan mereka.” [HR. Bukhori, Muslim, Tirmidzi]

    Mengemis Kasih (oleh Raihan)

    Tuhan, dulu pernah aku menagih simpati
    Kepada manusia yang alpa jua buta

    Kini terhiritlah aku di lorong gelisah
    Luka hati yang berdarah
    kini jadi kian parah

    Semalam sudah sampai ke penghujungnya
    Kisah seribu duka kuharap sudah berlalu

    Tak ingin lagi ‘ku ulangi kembali
    gerak dosa yang menghiris hati

    Tuhan, dosaku menggunung tinggi
    Namun rahmat-Mu melangit luas
    Harga selautan syukurku
    hanyalah setitis ni’mat-Mu di bumi

    Tuhan, walau taubat sering ku pungkir
    Namun pengampunan-Mu tak pernah bertepi
    Bila selangkah ku rapat pada-Mu
    Seribu langkah Kau rapat padaku