Doktrin Kristen Trinitarian mengatakan:
Manusia pertama, yaitu Adam, telah dicobai Iblis. Manusia yang kedua, yaitu Yesus, juga dicobai oleh Iblis. (lebih…)
Blog
-
YESUS, TUHAN YANG DIUJI
-
YESUS PUTERA ALLAH
Benarkah Yesus adalah anak Allah secara harfiah? Tentu saja tidak. Anak berarti hamba. Bapa berarti Tuhan. Anak-anak Tuhan berarti hamba-hamba Tuhan. Anak tunggal Tuhan berarti hamba Tuhan yang terpilih, yang sangat disayangi, anak semata-wayang. Anak sulung Tuhan berarti hamba Tuhan yang pertama kali beriman di zamannya. Yesus dan Israel mempunyai Bapa yang sama, artinya mempunyai Tuhan yang sama. Bahkan Yesus mempunyai Ilah yang sama, Yesus menyembah Ilah yang sama. (lebih…)
-
SIFAT SALBIYAH TUHAN
Setelah kita mengetahui bahwa Tuhan bersifat Wujud, sekarang kita akan membahas sifat Salbiyah Tuhan, yaitu sifat yang menolak hal-hal yang tidak layak ada pada Tuhan.
TUHAN HARUSLAH YANG TERDAHULU. Tuhan tidak didahului oleh ketiadaan. Sesuatu yang diawali dengan ketiadaan berarti sifat aslinya adalah tiada. Sedangkan kita sudah sepakat bahwa Tuhan itu sifat aslinya adalah ‘Ada’. Dia Ada karena Dia memang Ada, jika diawali ketiadaan, kemudian menjadi Ada, lalu siapa yang membuat dia menjadi ‘Ada’? Maka yang membuat menjadi ‘ada’ itulah Tuhan, dan Tuhan tidak mungkin diadakan. Tuhan haruslah Terdahhulu.
Maka tidak pantas kita menyembah sesuatu yang didahului oleh ketiadaan. Astrofisikawan terkenal, Hugh Ross menuturkan, “Jika permulaan waktu bersamaan dengan awal keberadaan alam semesta, seperti dijelaskan teorema-angkasa, maka penyebab alam semesta harus merupakan kesatuan yang berfungsi dalam suatu dimensi waktu yang sepenuhnya terpisah, dan sudah ada sebelumnya. Kesimpulan ini sangat penting untuk pemahaman kita tentang Siapa Yang Tuhan dan siapa/apa yang bukan Tuhan. Rabb bukanlah alam semesta (makhluq) itu sendiri dan tidak terkandung dalam alam semesta (baik ruang maupun waktu).”
Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan. [QS. Al-Ikhlash (112): 3]
Dia Yang Awwal dan Yang Akhir. [QS. Al-Hadid (57) : 3]
Akulah Yang Awal dan Akulah Yang Akhir, tidak ada Allah selain daripada-Ku. [Yesaya 44: 6]
TUHAN HARUSLAH KEKAL, TIDAK MUNGKIN TUHAN ITU SEMENTARA. Allah Ada, Allah adalah Yang Akhir, ketika semua makhluq telah binasa, Allah tetap Ada. Allah tidak mengalami sakit, tidak mengantuk, tidak tidur, tidak lelah, apalagi binasa.
Dan kekal Dzat Allah Yang mempunyai Kebesaran dan Kemuliaan [Ar-Rahman (55): 27]
Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. [QS. Al-Baqarah (2): 255]
Tidakkah kautahu, dan tidakkah kaudengar? TUHAN ialah Allah kekal yang menciptakan bumi dari ujung ke ujung; Ia tidak menjadi lelah dan tidak menjadi lesu, tidak terduga pengertian-Nya. [Yesaya 40:28]
Maka tidak pantas kita menyembah sesuatu yang mengalami sakit, lelah, apalagi binasa. Dalam Alkitab dikatakan:
Di situ terdapat sumur Yakub. Yesus sangat letih disebabkan perjalanan, sebab itu ia duduk di pinggir sumur itu. [Yohanes 4: 6]
Sekonyong-konyong mengamuklah angin ribut di danau itu, sehingga perahu itu ditelan gelombang, tetapi Yesus tidur. [Matius 8: 24]
Disebabkan alam semesta -termasuk kita- tidak kekal, maka sudah semestinya kita mempersiapkan diri untuk menghadapi kematian dan hari berbangkit.
Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdo`alah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik. (Q.S. Al-A’raf: 56)
Maka apabila malapetaka yang sangat besar (hari kiamat) telah datang. Pada hari (ketika) manusia teringat akan apa yang telah dikerjakannya, dan diperlihatkan neraka dengan jelas kepada setiap orang yang melihat. Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal (nya). Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal (nya). (Q.S. An-Naazi’aat: 34-41)
Untuk memahami tentang semunya alam semesta dan relativitas waktu, kami jelaskan sedikit disini bahwa alam semesta itu seperti mimpi. Materi hanyalah imajinasi. Sewaktu kita bermimpi, kita merasa bahwa kita berjalan, bergerak, menyentuh sesuatu, merasakan sesuatu, mendengar sesuatu; padahal itu hanyalah imajinasi. Tetapi imajinasi yang kita rasakan dalam ‘alam nyata’ adalah tanda dari apa yang akan kita alami di alam berikutnya. Apakah kita akan ‘terbangun dari mimpi’ kemudian merasakan ‘mimpi’ indah, atau kita ‘terbangun dari mimpi’ kemudian merasakan ‘mimpi’ buruk.
Dan ditiuplah sangkakala, maka tiba-tiba mereka ke luar dengan segera dari kuburnya (menuju) kepada Tuhan mereka. Mereka berkata: “Aduh celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat tidur kami (kubur)?” Inilah yang dijanjikan (Tuhan) Yang Maha Pemurah dan benarlah Rasul-rasul (Nya). Tidak adalah teriakan itu selain sekali teriakan saja, maka tiba-tiba mereka semua dikumpulkan kepada Kami. Maka pada hari itu seseorang tidak akan dirugikan sedikitpun dan kamu tidak dibalasi, kecuali dengan apa yang telah kamu kerjakan. (Q.S. Yaa Siin: 51-54)
Pada hari mereka melihat hari berbangkit itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia) melainkan (sebentar saja) di waktu sore atau pagi hari. (Q.S. An-Naazi’aat: 46)
Atau apakah (kamu tidak memperhatikan) orang yang melalui suatu negeri yang (temboknya) telah roboh menutupi atapnya. Dia berkata: “Bagaimana Allah menghidupkan kembali negeri ini setelah hancur?” Maka Allah mematikan orang itu seratus tahun, kemudian menghidupkannya kembali. Allah bertanya: “Berapa lama kamu tinggal di sini?” Ia menjawab: “Saya telah tinggal di sini sehari atau setengah hari”. Allah berfirman: “Sebenarnya kamu telah tinggal di sini seratus tahun lamanya; lihatlah kepada makanan dan minumanmu yang belum lagi berobah; dan lihatlah kepada keledai kamu (yang telah menjadi tulang belulang); Kami akan menjadikan kamu tanda kekuasaan Kami bagi manusia; dan lihatlah kepada tulang belulang keledai itu, kemudian Kami menyusunnya kembali, kemudian Kami membalutnya dengan daging”. Maka tatkala telah nyata kepadanya (bagaimana Allah menghidupkan yang telah mati) diapun berkata: “Saya yakin bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (Q.S. Al-Baqarah: 259)
Allah bertanya: “Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?” Mereka menjawab: “Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung.” Allah berfirman: “Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui.” (Q.S. Al-mu`minun: 112-114)
Dan mereka meminta kepadamu agar azab itu disegerakan, padahal Allah sekali-kali tidak akan menyalahi janji-Nya. Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu. (Q.S. Al-Hajj: 47)
Mungkin Anda pernah melihat film flora tentang pertumbuhan sebuah benih. Anda melihat benih itu tumbuh hanya dalam beberapa detik saja hingga ia menjadi tumbuhan dewasa. Padahal kenyataannya untuk tumbuh menjadi tumbuhan dewasa diperlukan waktu berminggu-minggu. Ketahuilah bahwa apa yang Anda lihat dalam film itu adalah peristiwa yang dipercepat. Tetapi si film -seandainya ia dapat merasa seperti manusia- tidak merasa bahwa ia sedang menjalani percepatan. Ia merasa normal. Ia merasakan tiap frame dengan normal. Ia merasakan siang dan malam silih berganti dengan normal. Tetapi itu adalah perhitungan si film. Sedangkan bagi kita siang dan malam -mulai dari benih hingga menjadi tumbuhan dewasa- pada si film terjadi hanya dalam waktu beberapa detik. Ternyata perhitungan si film terhadap dirinya berbeda dengan perhitungan kita terhadap si film.
TUHAN HARUSLAH BERBEDA DENGAN ALAM SEMESTA. Tidak mungkin Tuhan itu sama dengan ciptaan-Nya. Allah Mahakuasa, sedang makhluk adalah lemah, namun Allah yang memberi mereka kekuasaan.
Tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia. [QS. Al-Ikhlash (112): 4]
Tiada yang serupa dengan Dia sesuatu pun. [QS. Asy-Syura (42): 11]
Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya. [Yesaya 40: 29]
Siapakah seperti Aku? [Yesaya 44:7]
TUHAN TIDAK BUTUH KEPADA YANG LAIN. Tuhan tidak butuh makan, tidak lapar, tidak haus, tidak butuh air, tidak butuh udara, tidak butuh alam semesta. Ketakwaan dan kejahatan kita tidak berpengaruh kepada Kekuasaan dan Kerajaan Allah.
Sesungguhnya Allah Yang Kaya tidak butuh kepada alam semesta. [QS. Al-Ankabut (29): 6]
Maka tidak pantas jika kita menyembah sesuatu yang faqir. Tidak pantas kita menyembah sesuatu yang membutuhkan makanan dari Allah.
Pada pagi hari dalam perjalanannya ke kota, Yesus merasa lapar. Dekat jalan ia melihat pohon Ara, lalu pergi ke situ, tetapi ia tidak menemukan apa-apa pada pohon itu selain daun-daun saja. [Matius 21: 18-19]
Ayat Alkitab di atas menunjukkan bahwa Isa itu hanyalah manusia biasa yang merasakan lapar, dan beliau tidak tahu, kapan musim buah Ara. Faqir (membutuhkan sesuatu yang selain dirinya) dan tidak tahu bukanlah sifat Tuhan.
TUHAN ITU ESA, TUNGGAL. Tidak mungkin Tuhan itu berbilang atau terpisah-pisah. Tidak mungkin sebagian dari Tuhan ada di sorga dan sebagian lagi ada di bumi.
Katakanlah wahai Muhammad: Allah itu Esa. [QS. Al-Ikhlash: 1]
Yesus menjawab, “Hukum yang terutama adalah ‘Dengarlah wahai orang Israel, TUHAN Allah kita, TUHAN itu Esa.’” [Mrk. 12 : 29]
Sepanjang Perjanjian Baru, Yesus selalu berkata bahwa Tuhan itu Tunggal, tidak pernah Yesus berkata bahwa Tuhan itu Tritunggal. Bahkan dalam Perjanjian Lama pun, orang-orang Yahudi itu percaya bahwa Tuhan itu Tunggal, bukan Tritunggal
-
SIFAT MA’ANI DAN MA’NAWIYAH TUHAN
Dalam Al-Qur`an dan Alkitab (Matius 21:23-27) dijelaskan bahwa kuasa Yesus adalah berasal dari ALLAH, bukan dari dirinya sendiri.
TUHAN ITU MAHABERKUASA DAN MENGUASAI. Kekuasaan Tuhan bukanlah pemberian dari yang lain. Sedangkan makhluq tidak berkuasa. Makhluq sifatnya lemah, lumpuh, tidak bisa berbuat apa-apa, maka makhluq tidak berbuat apa-apa. Yang Berbuat hanyalah Allah. Tetapi ingat, Allah Maha Tahu, Maha Adil, Maha Bjaksana. Sedangkan manusia sangat bodoh dan zhalim. Apa yang diketahui manusia sangat sedikit jika dibandingkan dengan apa yang tidak diketahui oleh manusia. Maka tidak pantas manusia menyombongkan dirinya yang lemah. Sungguh tiada daya untuk menghindari kejahatan dan tiada kekuatan untuk berbuat kebajikan kecuali dengan Kasih-Sayang dan Kuasa Allah. Dalam Al-Qur`an dan Alkitab (Matius 21:23-27) dijelaskan bahwa kuasa Yesus adalah berasal dari ALLAH, bukan dari dirinya sendiri.
Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu. [QS. Al-Baqarah (2): 20]
Maka Maha Suci (Allah) yang di tangan-Nya kekuasaan atas segala sesuatu dan kepada-Nya lah kamu dikembalikan. [QS. Ya Sin (36): 83]
Dan (sebagai) Rasul kepada Bani Israil (yang berkata kepada mereka): “Sesungguhnya aku telah datang kepadamu dengan membawa sesuatu tanda (mu`jizat) dari Tuhanmu, yaitu aku membuat untuk kamu dari tanah berbentuk burung; kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah; dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya dan orang yang berpenyakit sopak; dan aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah; dan aku kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu adalah suatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu, jika kamu sungguh-sungguh beriman.” [Q.S. Ali ‘Imran: 49]
Pekerjaan-pekerjaan yang kulakukan dengan nama Bapa, itulah yang memberikan kesaksian tentang aku (bahwa aku adalah seorang rasul). [Yohanes 10:25]
Dan Ia (ALLAH) telah memberikan kuasa kepadanya (kepada Yesus) [Yoh. 5:27]
Yesus berkata: Anak tidak mengerjakan sesuatu dari dirinya sendiri. Anak menghidupkan barangsiapa yang dikehendaki Bapa. [Yoh. 5: 19, 21]
Yesus berkata: Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diriku sendiri. [Yoh. 5: 30]
Yesus berkata: “Kepadaku telah diberikan segala kuasa…” [Mat. 28:18]
TUHAN ITU MAHABERKEHENDAK DAN BERBUAT SEPERTI APA YANG DIA KEHENDAKI, bukan seperti yang dikehendaki oleh pihak lain. Allah Yang Berkehendak. Apa yang dikehendaki oleh Allah pasti terjadi. Jika Ia Menghendaki sesuatu, maka ia cukup berfirman, “Kun (Jadi),” maka terjadilah (lihat Yaa Siin ayat 82). Dan Allah adalah Yang Baik. Yang dikehendaki oleh Allah adalah kebaikan. Tetapi kebodohan manusia tidak dapat menembus Hikmah Al Hakam.
Setiap peristiwa itu berhubungan dengan waktu. Jika Allah Berkalam, “Kun” pada setiap peristiwa dan waktu berarti Allah terperangkap pada waktu? Tidak, tidak demikian. Allah Berkalam, “Kun” dan semua peristiwa dari awal hingga akhir di alam semesta tercipta. Tetapi manusia merasakan tiap frame dari kehidupan secara bergantian sehingga mereka merasa bahwa waktu itu ada. Padahal waktu, sebagaimana materi, hanyalah imajinasi.
Anda mungkin pernah bermimpi yang mana dalam mimpi tersebut Anda merasa menjalaninya dengan sangat lama. Tetapi sewaktu Anda terbangun, ternyata Anda hanya tertidur selama beberapa puluh menit. Apa yang Anda rasakan sebagai waktu ternyata hanyalah imajinasi.
Maha Kuasa berbuat apa yang dikehendaki-Nya. [QS. Al-Buruj (85): 16]
Yesus berkata: “Aku tidak menuruti kehendakku sendiri, akan tetapi aku menuruti kehendak Dia yang mengutus aku.” [Yohanes 5:30]
Aku datang bukan atas kehendakku sendiri, akan tetapi atas kehendak Dia yang mengutus aku. [Yoh. 8:42]
Maka jelaslah bahwa Yesus dikuasai oleh kehendak dan kuasa ALLAH. Yesus tidak berkuasa atas dirinya sendiri. Bagaimana mungkin Tuhan dikuasai? Maka Yesus bukanlah Allah, dia bukanlah Tuhan. Yesus hanyalah utusan Tuhan.
TUHAN ITU MAHATAHU DAN DIA MENGETAHUI. Allah Mengetahui segala sesuatu, walupun sesuatu itu, menurut kita, belum terjadi. Allah Mengetahui apa yang tersembunyi dan apa yang tersingkap. Sedangkan Yesus tidak Mahatahu.
Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. [QS. Al-Hujurat: 16]
(Orang-orang kafir) bertanya kepadamu (Muhammad) tentang saat itu (hari akhir), kapankah terjadinya? Siapakah kamu (sehingga) dapat menyebutkan (waktunya)? Kepada Tuhanmulah dikembalikan kesudahannya (ketentuan waktunya). Kamu hanyalah pemberi peringatan bagi siapa yang takut kepadanya (kepada saat itu, hari berbangkit). Pada hari mereka melihat hari berbangkit itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia) melainkan (sebentar saja) di waktu sore atau pagi hari. [QS. An-Nazi’at (79): 42-46]
Tetapi tentang hari dan saat itu tidak seorang pun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan anak pun tidak, hanya Bapa sendiri. [Matius 24:36]
TUHAN ITU HIDUP. Hidup Tuhan tidak berasal dari siapa pun, melainkan Tuhan Hidup dengan Sendiri-Nya. Dan mustahil Tuhan itu mati.
Dan serahkan dirimu (tawakkal) kepada Yang Hidup Dzat Yang tidak mati, [QS. Al-Furqan (25): 58]
Sebab sama seperti Bapa mempunyai hidup dalam Diri-Nya, demikian juga diberikan-Nya anak mempunyai hidup dalam dirinya. [Yoh. 5:26]
TUHAN ITU MAHAMENDENGAR DAN TUHAN ITU MENDENGARKAN. Dia mendengar dan mengabulkan doa yang ditujukan kepadaNya. Adapun mengenai pengabulan doa, adakalanya Allah kabulkan seperti apa yang kita kehendaki, adakalanya Allah kabulkan seperti apa yang Allah kehendaki, dan itu baik bagi si pendoa, dan adakalanya Allah tangguhkan doanya itu dan diganti dengan yang lebih baik di akhirat kelak. Jadi doa itu bukanlah untuk meminta apa yang kita kehendaki. Tetapi untuk menyampaikan keinginan kita. Dan Allah menyukai hamba-Nya yang berdoa kepada-Nya. Dengan kesukaan-Nya itu, maka Allah berikan yang terbaik bagi si hamba. Jika apa yang dikehendaki si hamba itu memang baik, maka Allah kabulkanlah seperti yang dikehendaki. Jika yang dikehendaki si hamba itu berakibat buruk, atau kurang baik, maka Allah berikan yang lebih baik dari apa yang dikehendaki si hamba. Dan jika dikabulkan di dunia ini seperti yang diinginkan si hamba itu buruk, maka Allah menangguhkannya dan menggantinya dengan yang lebih baik, yaitu dengan ampunan dan kasih-sayang-Nya di akhirat kelak. Tetapi ada kalanya, seseorang itu berdoa, dan itu dapat berakibat buruk baginya, lalu Allah mengabulkannya sehingga ia semakin jauh dari Allah. Maka yang demikian itu adalah istidraj. Allah membiarkan dia terlena dalam keni’matan, sehingga di hari kiamat, Allah dapat menyiksanya dengan siksa yang pedih diakibatkan kekufurannya.
Dan Allah Mahamendengar lagi Mahamengetahui [QS. Al-Baqarah (2): 256]
Yesus berdoa: “Ya Bapaku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari padaku, tetapi janganlah seperti yang kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” [Mat. 26:39]
Bahkan Yesus berdoa semalaman dengan penuh kesungguhan agar diselamatkan dari penyaliban. Dan dia menyerahkan kepada Allah, apa yang terbaik baginya. Sebab Allah Mahamengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya yang Dia sayangi. Dari sini, apakah Anda mau berkata bahwa Yesus bersedia disalib? Tidak, Yesus tidak bersedia disalib. Tidak ada yang namanya ‘penyelamatan melalui penyaliban Yesus’. Yesus diutus bukan untuk disalib, tetapi untuk menyelamatkan Israel dari kebinasaan dengan mengajarkan aqidah dan cara hidup (syariat) yang diridhoi Tuhan. Penyaliban Yesus bukanlah perintah Tuhan. Jika itu perintah Tuhan, mengapa Yesus enggan disalib. Sedangkan Abraham dan anaknya pun bersedia menjalankan perintah Tuhan. Penyaliban Yesus itu adalah buah kedengkian imam-imam Yahudi. Supaya tidak dipersalahkan, mereka buatlah doktrin yang aneh ini melalui mulut Paulus yang penuh dengan dusta.
TUHAN ITU MAHAMELIHAT DAN DIA MELIHAT. Tidak mungkin Tuhan tidak dapat melihat dan tidak mungkin Tuhan tidak melihat. Allah melihat setiap kejadian yang ada di dunia ini.
Dan Allah Mahamelihat apa yang kamu perbuat. [QS. Al-Hujurat (49) : 18]
TUHAN ITU MAHABERKALAM DAN DIA BERKALAM. Mustahil Allah bisu dan tidak berfirman. Tanpa Kalam Tuhan, mustahil alam ini menjadi ada. Alam ini menjadi ada karena Tuhan berfirman, “Kun”, jadilah.
Dan berkata Allah Ta’ala kepada Musa dengan sebenar-benarnya Berkata. [An Nisa` (4) : 164]
Dia-lah yang menghidupkan dan mematikan, maka apabila Dia menetapkan sesuatu urusan, Dia hanya berkata kepadanya: “Jadilah”, maka jadilah ia. [QS. Al-Mu`min (40): 68]
Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” maka terjadilah ia. [QS. Ya Sin (36): 82]
Oleh Firman Tuhan langit dijadikan, oleh nafas dari mulut-Nya segala tentara-Nya. [Mazmur 33:6]
Sebab Dia berfirman, maka semuanya jadi, Dia memberi perintah, maka semuanya ada. [Mazmur 33:9]
Berfirmanlah Allah: “Jadilah…” [Kej. 1:3,6,9,11,14,20,24,26]
-
SIAPAKAH TUHAN?
Tuhan telah menganugerahkan kita dengan akal budi sehingga kita dapat membedakan antara yang haq (yang benar) dengan yang bathil (yang tidak benar). Sebagaimana bapak kita Ibrahim telah dapat mengetahui mana Tuhan yang benar dan mana yang bukan Tuhan.
Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya, Azar: “Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata”. Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi, dan (Kami memperlihatkannya) agar Ibrahim itu termasuk orang-orang yang yakin. Ketika malam telah menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: “Inilah Tuhanku” Tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam”. Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: “Inilah Tuhanku”. Tetapi setelah bulan itu terbenam dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat”. Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar”, maka tatkala matahari itu telah terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. [QS. Al-An’am (6): 74-79]Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, yang telah mengaruniakan kita akal dan memperkenalkan Diri-Nya kepada kita melalui para Nabi suci utusan Allah dan melalui firman-firman-Nya baik yang tertulis maupun yang berupa alam semesta dari ujung ke ujung. Dengan akal dan Kitab Suci Al-Qur`an, maka dapatlah kita membedakan dan mengenali, siapa Tuhan yang benar dan siapa atau apa yang bukan Tuhan. Sebagai manusia yang berakal, maka dapatlah kita mengetahui Siapa yang layak disebut Tuhan.
PERTAMA, Tuhan haruslah Ada, mustahil Tuhan itu bersifat tidak ada. Sesuatu bisa disebut Ada, kalau ia ada dengan sendirinya. Sebab ‘Ada’ adalah kata aktif, bukan pasif. Jadi segala sesuatu yang ‘diadakan’ maka dia bukanlah Tuhan, sebab sifatnya ‘diadakan’, bukan ‘Ada’. Umpamanya ada orang lumpuh, dia dibantu dan digerakkan atau diposisikan sehingga ia berada pada posisi duduk. Maka sebenarnya ia tidak duduk akan tetapi didudukkan. Ketika ia ditopang oleh orang lain sehingga berada pada posisi berdiri, sebenarnya ia tidak berdiri, melainkan didirikan. Tuhan tidak diadakan. Tuhan itu Ada tanpa diadakan.
Allah Yang Menciptakan langit dan bumi serta yang berada diantara keduanya. [QS. As-Sajdah (32): 4]
Tidak pantas jika kita menyembah sesuatu yang diciptakan. Tidak pantas jika manusia menyembah Isa as., Uzair as, patung, Fir’aun, pohon, dewa-dewa, jin, malaikat, dsb. Sebab mereka semua diciptakan. Sesuatu yang diciptakan bukanlah Tuhan. Justeru Tuhan itulah yang mencipta segala yang ada. Allah berfirman dalam Al Qur`an surah Al-Anbiya` ayat 30 yang artinya:
Kemudian Dia menuju langit dan langit itu masih merupakan kabut. Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. [Fushshilat: 11-12]
Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman? [Al-Anbiya`: 30]
Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya. [Adz-Dzariyat: 47]
Bahwa pada mula pertama dijadikan Allah akan langit dan bumi. Maka bumi itu lagi campur baur adanya, yaitu suatu hal yang ketutupan kelam kabut; maka Roh Allah berlayang-layang di atas muka air itu. [Kejadian 1:1-2 TL]
Pada tahun 1929, A.E. Hubble seorang astronom berkebangsaan Amerika menghadirkan sebuah penemuan besar. Ketika mengamati bintang-bintang dengan teleskop raksasa, ia mendapati cahaya dari bintang-bintang itu berubah ujung spektrumnya menjadi merah. Hal ini berarti, bintang tersebut menjauh dari tempat observasi. Artinya bintang menjauhi bumi secara tetap. Sebelumnya ia juga mendapati bahwa galaksi-galaksi dan bintang-bintang bergerak saling menjauh satu dengan yang lainnya. Ini menjelaskan bahwa ternyata alam semesta meluas, “Tidak statis sebagaimana diklaim oleh kaum atheis. Alam semesta yang meluas ini menunjukkan bahwa jika alam semesta dapat bergerak mundur dalam hal waktu, maka didapati bahwa alam semesta berasal dari ‘titik tunggal’. Perhitungan menunjukkan bahwa titik tunggal ini, mengandung pengertian semua zat atau materi yang ada di alam semesta, mempunyai ‘volume nol’ dan ‘kerapatan tak terbatas’. Alam semesta tercipta melalui ledakan titik tunggal yang bervolume nol ini. Ledakan luar biasa dahsyatnya yang disebut Ledakan Dahsyat (Big Bang) ini menandai dimulainya alam semesta. Adapun yang dimaksud dengan ‘volume nol’ adalah ketiadaan.”
Ini adalah bukti bahwa agama Islam bukanlah takhyul. Sebab keyaqinan bahwa alam semesta itu diciptakan oleh Allah dapat dijelaskan secara ilmiah. Justeru teori yang mengatakan bahwa alam semesta ini tidak diciptakan itulah yang merupakan kepercayaan takhyul yang tidak logis, tidak masuk aqal, tidak ilmiah, jahil, sesat. Jika tidak diatur oleh Allah, mana mungkin sebuah ledakan dahsyat dapat menghasilkan tatanan yang teratur seperti yang kita lihat pada alam semesta. Sebagaimana kita ketahui, setiap ledakan itu hanya menghasilkan kekacau-balauan. Tidak mungkin ledakan dinamit menghasilkan bangunan megah yang kokoh dan indah. Tanpa Kekuasaan Allah, tentu zat-zat itu akan berhamburan tanpa kontrol. Tetapi pada kenyataannya, setelah peristiwa Big Bang, zat-zat itu bergerak dengan kecepatan dan arah yang sangat terkendali. Tentu saja Allah Yang telah menahan zat-zat tersebut agar tidak berhamburan tanpa kendali.
Maka patut bagi kita untuk berdzikir/ingat kepada Allah pada tiap-tiap yang maujud. Dzikir itu dapat dilakukan dengan banyak cara, misalnya dengan menyebut Asma Allah atau memujiNya dengan lisan dan juga meyaqini dengan hati; bisa juga dengan mengingat ni’mat yang telah Allah berikan; berfikir tentang keindahan dan keteraturan yang ada pada ciptaan Allah termasuk diri sendiri; mengambil pelajaran dari tokoh-tokoh terdahulu; mengambil pelajaran dari musibah dan peristiwa; dsb.
(Selanjutnya silahkan lihat artikel Sifat Salbiyah)
-
MUHAMMAD YANG AGUNG
Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. (QS. Al-Qolam: 4)
Â
Di Amerika Serikat telah diterbitkan sebuah buku berjudul ‘The 100’ yang berisi tentang seratus orang terbesar dalam sejarah. Michael H. Hart, seorang sejarawan, ahli matematika dan astronom Amerika Serikat, menulisnya dalam bentuk buku novel. Dia telah mencari-cari dalam sejarah, orang-orang yang telah memberikan pengaruh yang besar dalam kehidupan manusia. (lebih…) -
PAHAM WAHABI
Di abad ini, muncul kelompok-kelompok pergerakan muslim yang membuat para pemuda muslim tertarik untuk bergabung. Kelompok-kelompok ini memang selalu mengobarkan semangat juang para pemuda, sehingga tidak sedikit pemuda muslim yang memiliki jiwa mujahid yang kemudian bergabung. Tetapi sayangnya, ilmu pemuda itu tidak setinggi semangat jihad mereka, sehingga tidak jarang mereka terjerumus kepada kelompok-kelompok yang beraqidah menyimpang. Di antara kelompok-kelompok itu ada yang berpaham mirip dengan paham wahabi. (lebih…)
-
NUR MUHAMMAD
Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al Kitab yang kamu sembunyikan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan. [QS. Al-Maidah: 15]
Imam As-Suyuti dalam Kitab Tafsir Jalalain berkata bahwa ‘Cahaya’ itu adalah Nabi (saaw). Begitu pula Ibnu Jarir Ath-Thabari dan juga para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah semua sepakat bahwa ‘cahaya’ dalam ayat tersebut adalah Nabi (saaw). Pertama, disebabkan Nabi adalah cahaya dari Allah yang menerangi langit dan bumi dengan cahaya iman, Islam, dan kasih-sayang. Kedua, Nabi (saaw) memang cahaya yang darinya segala sesuatu diciptakan.
Jabir bin Abdullah pernah bertanya kepada Nabi (saaw): “Apakah yang pertama kali diciptakan Allah sebelum segala sesuatu?” Maka Nabi (saaw) menjawab: “Hal yang pertamakali Allah ciptakan adalah cahaya Nabimu (saaw)“ Riwayat ini diriwayatkan oleh Abdur-Razzaq (wafat 211H) dalam Musannaf-nya, menurut Imam Qastallani dalam al-Mawahib al-Laduniyya (1:55) dan Zarqani dalam Syarah al-Mawahib (1:56 dari edisi Matba’a al-‘amira di Kairo). Tidak ada keraguan akan Abd Razzaq sebagai rawi (periwayat Hadits). Bukhari mengambil 120 riwayat darinya, Muslim 400. Riwayat ini dinyatakan pula sahih oleh Abdul-Haqq ad-Dihlawi (wafat 1052), ahli hadits India, juga disebut oleh Abdul-Hayy al-Lucknawi (wafat 1304 H) ahli hadits kontemporer India. Demikian pula oleh Al-Alusi dan Bayhaqi dengan matan yang berbeda, dan juga oleh beberapa ulama lain.
“… Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti misykat yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat (nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis)…” [QS. An-Nur: 35]
Misykat adalah suatu lubang di dinding rumah yang tidak sampai tembus ke sisi satunya yang digunakan untuk menaruh lampu atau yang lainnya. Adapun ‘cahaya Allah’ berarti Nabi Muhammad (saaw). Di hati setiap mu`min ada bangunan agama yang pada dindingnya terdapat misykat, yang pada misykat itu terletak pelita besar, dan itulah Nabi (saaw). Ka’b al-Akhbar berkata: “Makna dari ‘minyaknya hampir-hampir bercahaya’ adalah karena kenabian Nabi akan dapat diketahui orang sekalipun beliau tidak mengatakan bahwa beliau adalah seorang Nabi, sebagaimana minyak itu juga akan mengeluarkan cahaya tanpa tersentuh api.”
Hai Nabi sesungguhnya kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, dan untuk jadi penyeru kepada Agama Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi (sirajan munira). [QS. Al-Ahzab: 45-46]
Ibnu Katsir menyatakan dalam Tafsirnya: “Firman-Nya: ‘…sirajan munira,’ adalah: statusmu (Wahai Nabi) nampak dalam kebenaran yang telah kau bawa sebagaimana matahari nampak saat terbitnya dan bercahaya, yang tak bisa disangkal siapa pun kecuali yang keras-kepala.”
Saat Allah SWT mengeluarkan keputusan Ilahiah untuk mewujudkan makhluq, Ia pun menciptakan Haqiqat Muhammadaniyyah (Realitas Muhammad –Nuur Muhammad) dari Cahaya-Nya. Ia SWT kemudian menciptakan dari Haqiqat ini keseluruhan alam, baik alam atas maupun bawah. Allah SWT kemudian memberitahu Muhammad akan Kenabian-nya, sementara saat itu Adam masih belum berbentuk apa-apa kecuali berupa ruh dan badan. Kemudian darinya (dari Muhammad) keluar tercipta sumber-sumber dari ruh, yang membuat beliau lebih luhur dibandingkan seluruh makhluq ciptaan lainnya, dan menjadikannya pula ayah dari semua makhluq yang wujud.
Dalam Sahih Muslim, Nabi (saaw) bersabda bahwa Allah SWT telah menulis Taqdir seluruh makhluq lima puluh ribu tahun (dan tahun di sisi Allah adalah berbeda dari tahun manusia) sebelum Ia menciptakan Langit dan Bumi, dan `Arasy-Nya berada di atas Air, dan di antara hal-hal yang telah tertulis dalam ad-Dzikir, yang merupakan Umm al-Kitab (induk Kitab), adalah bahwa Muhammad (saaw) adalah Penutup para Nabi. Al Irbadh ibn Sariya, berkata bahwa Nabi (saaw) bersabda, “Menurut Allah, aku sudah menjadi Penutup Para Nabi, ketika Adam masih dalam bentuk tanah liat.”
Jadi, Allah SWT telah mengaruniakan kenabian dan kerasulan pada ruh Nabi (saaw) bahkan sebelum penciptaan Adam. Ketika Adam telah diciptakan dan melihat kepada gerbang jannah, maka tampaklah tulisan ‘Laa ilaaha illallaah, Muhammadur Rasuulullaah’. Haqiqat Nabi Muhammad (saaw) telah wujud sejak saat itu, meski tubuh ragawinya baru diciptakan kemudian. Asy-Syi’bi meriwayatkan bahwa seorang laki-laki bertanya, “Ya RasulAllah, kapankah Anda menjadi seorang Nabi?” Beliau menjawab, “Ketika Adam masih di antara ruh dan badannya, ketika janji dibuat atasku.” Karena itulah, beliau (saaw) adalah yang pertama diciptakan di antara para Nabi, dan yang terakhir diutus.
`Ali ibn Abi Thalib (kwh) dan Ibn `Abbas (ra) keduanya meriwayatkan bahwa Nabi (saaw) bersabda, “Allah tak pernah mengutus seorang nabi, dari Adam dan seterusnya, melainkan sang Nabi itu harus melakukan perjanjian dengan-Nya berkenaan dengan Muhammad (saaw): seandainya Muhammad (saaw) diutus di masa hidup sang Nabi itu, maka ia harus beriman pada beliau (saaw) dan mendukung beliau (saaw), dan Nabi itu pun harus mengambil janji yang serupa dari ummatnya.
Diriwayatkan bahwa ketika Allah SWT menciptakan Nur Nabi kita Muhammad (saaw), Allah memerintahkan padanya untuk memandang pada nur-nur dari Nabi-nabi lainnya. Cahaya beliau melingkupi cahaya mereka semua, dan Allah SWT membuat mereka berbicara, dan mereka pun berkata, “Wahai, Tuhan kami, siapakah yang meliputi diri kami dengan cahayanya?” Allah SWT menjawab, “Ini adalah cahaya dari Muhammad ibn `Abdullah; jika kalian beriman padanya akan Kujadikan kalian sebagai nabi-nabi.” Mereka menjawab, “Kami beriman padanya dan pada kenabiannya.” Allah berfirman, “Apakah Aku menjadi saksimu?” Mereka menjawab, “Ya.” Allah berfirman, “Apakah kalian setuju, dan mengambil perjanjian dengan-Ku ini sebagai mengikat dirimu?” Mereka menjawab, “Kami setuju.” Allah berfirman, “Maka saksikanlah (hai para Nabi), dan Aku menjadi saksi (pula) bersamamu.”
Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: “Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah, kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya”. Allah berfirman: “Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?” Mereka menjawab: “Kami mengakui”. Allah berfirman: “Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu”. [QS. Ali Imran: 81]
Syaikh Taqiyyud Diin as-Subki mengatakan, “Dalam ayat mulia ini, tampak jelas penghormatan kepada Nabi (saaw) dan pujian atas kemuliaannya. Ayat ini juga menunjukkan bahwa seandainya beliau diutus di zaman Nabi-nabi lain itu, maka risalah da’wah beliau pun harus diikuti oleh mereka. Karena itulah, kenabiannya dan risalahnya adalah universal dan umum bagi seluruh ciptaan dari masa Adam hingga hari Pembalasan, dan seluruh Nabi beserta ummat mereka adalah termasuk pula dalam ummat beliau (saaw). Jadi, sabda sayyidina Muhammad (saaw), “Aku telah diutus bagi seluruh ummat manusia,” bukan hanya ditujukan bagi orang-orang di zaman beliau hingga Hari Pembalasan, tapi juga meliputi mereka yang hidup sebelumnya. Hal ini menjelaskan lebih jauh perkataan beliau, “Aku adalah seorang Nabi ketika Adam masih di antara ruh dan badannya.” Berpijak dari hal ini, Muhammad (saaw) adalah Nabi dari para nabi, sebagaimana telah pula jelas saat malam Isra’ Mi’raj, saat mana para Nabi melakukan salat berjama’ah di belakang beliau (yang bertindak selaku Imam). Keunggulan beliau ini akan menjadi jelas nanti di Akhirat, saat seluruh Nabi akan berkumpul di bawah bendera beliau. Beliau (saaw) adalah Sayyidunnaas (Tuan manusia) dan Imam para Rasul. Orang-orang beriman sebelum Nabi (saaw) diutus, selain mereka harus mengakui bahwa tiada yang pantas disembah kecuali Allah dan bahwa Rasul mereka saat itu adalah seorang Rasul; mereka juga harus mengakui bahwa Muhammad adalah Rasul Allah. Setiap Nabi dan Rasul pasti menceritakan tentang Nabi Muhammad (saaw). Hingga ummat mereka mengenal Nabi (saaw) seperti mereka mengenal anak-anak mereka.
Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui. [QS. Al-Baqarah: 146]
Dan (ingatlah) ketika Isa Putra Maryam berkata: “Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)” Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: “Ini adalah sihir yang nyata”. [QS. Ash-Shaff: 6]
Dalam Injil Barnabas pasal 42-43 ada dikatakan:
Maka Yesus berkata, “Setiap orang yang bekerja, bekerja untuk suatu penyelesaian, dalam hal itulah ia menemukan kepuasan. Oleh sebab itu aku katakan kepadamu bahwa Allah, karena sesungguhnya Dia adalah Maha Sempurna, tiada mempunyai kebutuhan tentang kepuasan, mengingat Dia telah puas terhadap Diri-Nya. Dengan begitu kehendak untuk bekerja, Dia telah menciptakan sebelum semua benda dan roh dari Pesuruh-Nya, bagi Pesuruh itu Dia telah menetapkan untuk menciptakan keseluruhannya, agar para makhluk itu akan mendapat kegembiraan dan keselamatan dengan (petunjuk) Allah, dari mana Pesuruh-Nya akan menerima kesukaan kepada semua makhluk-Nya yang telah Dia angkat menjadi hamba-hamba-Nya. Dan hal ini terjadi demikian karena Dia telah berkehendak demikian. Sesungguhnya aku katakan kepadamu, bahwa setiap nabi apabila datang dan telah lahir kepada suatu bangsa, hanya pertanda dari pada rahmat Allah. Dengan demikian dakwah-dakwah mereka bukan diluaskan, kecuali kepada bangsa yang mana mereka telah diutus (Yesus adalah nabi yang diutus bagi Israel saja. Lihat Matius 10: 5-6). Tetapi Pesuruh Allah itu, ketika dia akan datang, Allah akan memberikan kepadanya seolah-olah terang dari Tangan-Nya, akhirnya bahwa dia akan membawa keselamatan dan rahmat kepada semua bangsa di dunia ini yang mau menerima ajaran-ajarannya (Muhammad diutus bagi semesta alam. Lihat Alquran 21:107). Dia akan datang dengan kekuatan mengalahkan penyelewengan akidah Allah, dan akan menghancurkan penyembahan berhala, akhirnya bahwa dia akan menjadikan Iblis tercengang, karena demikian janji Allah kepada Abraham, berkata, ‘Ingatlah dalam benihmu Aku akan memberi rahmat semua bangsa di bumi ini, dan sebagaimana kamu telah memecahkan berhala berkeping-keping, o Abraham, begitu juga benihmu akan berbuat.’”