WAKTU PERUBAHAN

Demi kuda perang yang berlari kencang dengan terengah-engah, dan kuda yang mencetuskan api dengan pukulan (kuku kakinya), dan kuda yang menyerang dengan tiba-tiba di kala Subuh. (QS. Al-‘Adiyat: 1-3)

Fajar menyingsing membawa harapan baru. Tetapi di manakah ummat Islam? Mengapa waktu perubahan tidak melihat aktivitas mereka dalam menyambutnya. Rupanya ummat Islam belum mau berubah dan masih asyik tertidur lelap dibuai mimpi-mimpi kosong yang tak pernah terwujud.

Waktu Subuh, merupakan waktu yang penuh keberkahan dan juga peristiwa-peristiwa dahsyat. Maka aku berlindung kepada Allah Sang Penguasa Subuh (lihat QS. Al-Falaq: 1) Yang telah membinasakan beberapa kaum di waktu Subuh, dan memenangkan kaum yang lain di waktu Subuh pula. Allah Yang Membinasakan kaum Shodum di waktu Subuh dan Menyelamatkan Luth as beserta pengikutnya di waktu Subuh (lihat QS. Hud: 81). Dan juga beberapa kaum yang lain telah Allah binasakan di waktu Subuh, sehingga ketika sang mentari terbit, dia menyaksikan mayat-mayat kaum durhaka bergelimpangan tak bernyawa.

Waktu Subuh adalah waktu di mana Rasulullah saaw mempersiapkan pasukannya dengan semangat baru. Seusai shalat Subuh berjamaah, seusai mereka bermunajat kepada Rabb mereka, pasukan itu dikumpulkan di halaman Masjid menanti terbitnya matahari perubahan. Ketika matahari telah terbit, maka bergeraklah pasukan itu menuju cahaya kemenangan. Mereka memacu kuda-kuda perang mereka dengan semangat yang tak akan padam hanya karena goresan pedang atau pun tusukan tombak. Selama hayat di kandung badan, mereka terus melakukan perlawanan. Begitu yang dilakukan pasukan Rasulullah, begitu pula yang dilakukan pasukan ummat Islam selanjutnya. Para pemimpin mereka selalu memperhatikan shalat Subuh rakyatnya dan tentaranya. Dan mereka mengirim pasukannya di waktu Subuh sebagaimana Nabi mereka mengirimkan pasukannya di waktu Subuh.  Tetapi lihat ummat Islam saat ini. Ketika sang mentari terbit, dia menyaksikan bahwa ummat Islam bergelimpangan di tempat-tempat tidur mereka tanpa jiwa perubahan. Padahal Allah akan menolong mereka jika mereka menolong agama Allah. Tetapi bagaimana mereka bisa menolong agama Allah? Sedangkan kewajiban mereka kepada Allah saja mereka tinggalkan. Bagaimana mereka bisa disebut pasukan Muhammad Rasulullah? Sedangkan mereka tidak bangun di Subuh hari, dan tidak pula berusaha untuk bangun di Subuh hari.

Apakah mereka tidak tahu bahwa Allah sanggup merubah suatu kaum dari kehidupan makmur kepada kehidupan yang sempit disebabkan kedurhakaan mereka? Bukankah Allah telah menceritakan tentang para petani yang menanam padi hingga padi mereka menguning dan siap dituai? Tetapi ketika mereka bangun esok harinya, mereka menyaksikan tanah ladang mereka telah kosong seakan-akan tidak pernah tumbuh padi sebelumnya. Itulah perumpamaan yang Allah berikan untuk menggambarkan kehidupan dunia yang bagai fatamorgana. Dilihat ada, disentuh sirna.

Saat ini mereka melihat rumah dan kendaraan mereka begitu mewah, tetapi ketika mereka bangun keesokannya, mereka telah melihat bahwa mereka tidak memiliki apa-apa lagi. Ada yang disebabkan tsunami, gempa bumi, angin topan, dll. Begitu pula ketika kita hanya berfikir dan bekerja untuk dunia semata. Ketika kita terbangun di alam akhirat, kita menyaksikan bahwa kita tidak memiliki apa-apa kecuali segunung dosa yang menimpa punggung dan menghimpit dada kita.

Waktu Subuh adalah waktu yang penuh hikmah. Pernah salah seorang pimpinan Yahudi menyatakan bahwa mereka tidak takut terhadap ummat Islam, kecuali jika jumlah jama’ah shalat Subuh ummat Islam telah sama dengan jumlah jama’ah shalat Jum’atnya, yaitu sampai ke pelataran Masjid, bahkan ke jalan-jalan.

Ketahuilah bahwa kaum yang layak memimpin dunia adalah kaum yang mereka melaksanakan shalat fardhu, terutama shalat subuh, dan mereka menunaikan zakat, menyuruh berbuat baik dan mencegah dari perbuatan yang mungkar (amar ma’ruf nahi munkar), dan mereka bersabar serta bertawakal kepada Allah. (Lihat QS. Al-Hajj: 40-41 dan QS. Al-Isra: 78-81)

Sesungguhnya ummat ini tidak akan mendapatkan kemenangan, kecuali telah memenuhi semua syarat-syaratnya. Orang-orang yang telah memenuhi syarat-syarat seperti tersebut dalam surat Al-Hajj ayat 40 dan 41 serta Al-Isra ayat 78 sampai 81 itulah yang dapat menolong agama Allah, dan Allah menolong mereka.

Jika Anda kesulitan untuk bangun Shubuh, maka cobalah untuk tidur lebih awal, dan lupakanlah segala macam hiburan malam yang ada. Dan mohonlah kepada Allah agar Anda dapat bangun dan melaksanakan shalat Shubuh berjamaah. Bukankah jika ada orang kaya yang ingin memberi Anda uang satu juta rupiah setiap hari jika Anda datang ke rumahnya setiap Subuh, maka Anda akan berusaha sekeras mungkin untuk bisa bangun sebelum Shubuh dan datang ke rumahnya di waktu Shubuh? Lalu mengapa kita tidak berusaha datang ke rumah Allah, sedangkan Allah akan memberi kita sesuatu yang nilainya bukan cuma satu juta rupiah, tetapi lebih berharga daripada dunia seisinya.