Setelah pihak Quraisy berkali-kali melakukan pelanggaran terhadap perjanjian Hudaibiyah, Rasulullah saaw memberikan ultimatum: tetap mentaati perjanjian, atau menyatakan gencatan senjata itu batal (tidak berlaku lagi). Orang Makkah mengambil pilihan kedua, yaitu membatalkan perjanjian Hudaibiyah.
Maka pada suatu pagi penduduk Makkah dikejutkan oleh kedatangan pasukan muslim berkekuatan 10 ribu orang memasuki Makkah. Penduduk Makkah tidak memberikan perlawanan apa pun sehingga kaum muslimin berhasil menaklukkan Makkah dengan damai. Para pemimpin kota berdiri di hadapan Nabi dengan kepala tertunduk.
Rasul bertanya kepada mereka, “Apa yang kalian harapkan dariku?†Mereka tidak menjawab. Beliau berkata lagi, “Semoga Allah mengampuni kalian. Pergilah dengan damai. Ucapanku ini sama dengan ucapan Yusuf terhadap saudara-saudaranya. Kalian adalah manusia merdeka.â€
Bukhari meriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud ra katanya: Ketika Nabi saaw memasuki Makkah terdapat sebanyak 360 buah berhala di sekitar Ka‘bah. Lalu Nabi saaw meruntuhkannya dengan menggunakan tongkat yang berada di tangannya seraya bersabda: “Telah datang kebenaran dan musnahlah kebathilan karena sesungguhnya kebathilan itu, adalah sesuatu yang pasti musnah. Kebenaran telah datang dan yang bathil itu tidak akan bermula dan tidak akan berulang.â€
Peristiwa penaklukan Makkah ini terjadi pada tahun 9 Hijriyah.
Dan katakanlah: “Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap.” Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap. [QS. Al-Isra`: 81]
Katakanlah: “Kebenaran telah datang dan yang batil itu tidak akan memulai dan tidak (pula) akan mengulangi.” [QS. Saba`: 49]