Pada tahun 2 Hijriyah setelah 16 bulan Nabi tiba di Madinah terjadilah peristiwa penting, yaitu arah qiblat yang tadinya ke Baitul Maqdis di Yerusalem, berubah ke Ka’bah di Makkah.
Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan. [QS. 2:144]*
Orang-orang Yahudi ternyata menyesalkan kejadian itu. Mereka berusaha memperdayakan Rasulullah saaw, dengan mengatakan, bahwa mereka akan mau jadi pengikutnya kalau ia kembali ke kiblat semula. Lalu turunlah ayat:
Orang-orang yang kurang akalnya di antara manusia akan berkata: “Apakah yang memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblatnya (Baitul Maqdis) yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya?” Katakanlah: “Kepunyaan Allah-lah timur dan barat; Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus. Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia. [QS. 2:142-143]
Â
* Dalam Injil Yohanes ada dikatakan: Kata perempuan itu kepada Yesus, “Tuan, nyata sekarang padaku, bahwa engkau seorang nabi. Nenek moyang kami menyembah ke arah gunung ini, tetapi kamu katakan bahwa Yerusalemlah arah orang menyembah.†Kata Yesus kepadanya, “Percayalah kepadaku hai perempuan, saatnya akan tiba bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan ke arah gunung ini dan bukan pula ke arah Yerusalem.†[Yoh. 4:19-20]
Â