RASULULLAH SAAW TIBA DI YATSRIB

Nabi tiba di Yatsrib pada bulan Rabi’ul Awwal bersama Abu Bakar dan Ali. Di tengah perjalanan, Nabi tinggal di Kuba selama beberapa hari untuk menunggu Ali bin Abi Thalib.
Diriwayatkan dari Anas bin Malik r.a katanya: Ketika Rasulullah saw datang ke Yatsrib, baginda singgah di kawasan yang agak tinggi di kota itu, yaitu sebuah tempat yang bernama Bani Amru bin Auf. Baginda tinggal bersama mereka selama empat belas malam.
Kemudian baginda menyuruh supaya memanggil pemimpin Bani Najjar. Lalu mereka pun datang membawa pedang masing-masing. Aku seolah-olah melihat Rasulullah saw di atas untanya, manakala Abu Bakar berada di belakang baginda, sementara pemimpin Bani Najjar mengelilingi baginda. Baginda membiarkan saja unta baginda itu membawanya hinggalah baginda tiba di halaman rumah milik Abu Ayyub. Rasulullah saw shalat walau di mana saja bila tiba waktu shalat, baginda shalat di dalam kawasan pemeliharaan kambing. Kemudian baginda memerintahkan supaya didirikan sebuah masjid.
Lalu baginda menyuruh memanggil pemimpin Bani Najjar itu, mereka pun datang. Lalu baginda bersabda, “Wahai Bani Najjar! Nyatakan harga kebunmu ini kepadaku.” Lalu mereka menjawab, “Tidak! Demi Allah, kami tidak mau harganya kecuali kepada Allah.” (Maka Rasulullah membayar tempat itu sesuai harga tanah waktu itu.) Mengikut pengetahuanku, dalam kebun itu terdapat pokok kurma, kubur orang-orang Musyrikin dan runtuhan bangunan. Lantas Rasulullah saaw memerintahkan supaya memotong pokok kurma, membongkar kubur orang-orang Musyrikin dan meratakan runtuhan bangunan.
Lalu mereka menjadikan pohon kurma tersebut sebagai arah kiblat dan sebuah batu besar sebagai bahu pintu gerbang
Mereka melakukan pekerjaan berat itu sambil mengalunkan syair dan Rasulullah saaw ada bersama mereka. Mereka bersyair: “Ya Allah! Sesungguhnya tiada kebaikan yang terlebih baik melainkan kebaikan akhirat. Bantulah orang-orang Ansar dan orang-orang Muhajirin.” [HR. Bukhori, Muslim, At-Tarmidzi, An-Nasai, Abu Daud, Ahmad]
Dari Abu Hurairah ra katanya: Nabi saaw pernah bersabda, “Shalat satu waktu di masjidku adalah lebih utama daripada mengerjakan shalat sebanyak seribu kali di masjid lain kecuali Masjidil Haram.” [HR. Bukhori, Muslim, At-Tarmidzi, An-Nasai]
Dari Abu Hurairah ra katanya: Nabi saaw pernah bersabda, “Janganlah kamu bersusah payah musafir untuk shalat kecuali menuju ke tiga buah masjid yaitu masjidku ini yaitu masjid Nabawi, Masjidil Haram di Makkah dan Masjidil Aqsha. [HR. Bukhori, Muslim, An-Nasai]
Demikianlah Nabi membangun negara-kota di Yatsrib yang kemudian disebut Madinatun Nabi (Kota Nabi), yang biasa kita sebut Madinah.
Setelah itu Rasulullah meminta pendapat para shahabat, bagaimana cara memanggil kaum muslimin ketika datang waktu shalat. Sebahagian daripada mereka berkata, “Bunyikanlah loceng sebagaimana loceng orang Nasrani.” Sebahagian lagi berkata, “Bunyikanlah trompet seperti trompet orang Yahudi.” Maka Rasulullah menunda keputusannya. Beliau menyuruh mereka untuk berfikir lagi di rumah.
Kemudian Umar dan Abdullah bin Zaid bin Tsa’labah bermimpi bertemu seseorang yang mengajarkan mereka kalimat adzan. Lalu Abdullah bin Zaid menemui Rasulullah keesokan paginya dan menceritakan perihal mimpinya. Lalu Rasulullah menyuruhnya untuk mengajarkan kalimat-kalimat itu kepada Bilal, sebab suaranya lebih nyaring dan lebih bagus. Kemudian ketika datang waktu shalat, Rasulullah menyuruh Bilal untuk adzan. Umar yang mendengar adzan itu menemui Rasulullah saaw dan berkata, “Wahai Rasulullah, inilah yang aku mimpikan semalam.”