SUBUH KEMENANGAN

Sholat-sholat yang ada, secara umum memiliki banyak peran dalam mendatangkan kemenangan dalam menghadapi musuh. Dahulu, Nabi saaw mengumandangkan seruan jihad setelah dilaksanakannya sholat. Beliau memberangkatkan pasukan dan sariyah-sariyahnya dari Masjid. Dan menyerahkan bendera kepada mereka, juga di Masjid. Maka batalyon-batalyon –di mana tidak seorang pun yang tidak ikut dalam shalat berjamaah- itu pun berangkat dalam kondisi yaqin terhadap janji Robbnya.

Imam Bukhori meriwayatkan dengan sanadnya, bahwa apabila Rasulullah saaw hendak menghadapi suatu kaum, beliau menundanya hingga tiba waktu Shubuh, jika beliau tidak memerangi di pagi hari, beliau tunggu hingga matahari tergelincir dari tengah-tengah (masuk waktu Zhuhur). (Dalam hadits no.2965 Kitabul Jihad).

An-Nu’man bin Muqrin ra berkata, “Aku ikut berperang bersama Rasulullah saaw, biasanya kalau beliau saaw tidak memulai perang di pagi hari, beliau menunggu sampai jiwa-jiwa siap dan menunggu waktu shalat tiba.” (HR. Bukhori no. 3160 Kitabul Jizyah wal Muwada’ah)

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahmatullah ‘alayh berkata, “Dari sini nampak bahwa faedah di akhirkannya perng karena waktu shalat adalah saat kemungkinan besar doa akan dikabulkan.”

Barangkali, di antara kemenangan paling populer yang ada kaitannya dengan sholat Shubuh adalah kemenangan atas kaum Yahudi Khaibar. Di mana ketika itu Nabi saaw bersabda, “Hancurlah khaibar… Sesungguhnya jika kita telah menempati halaman rumah suatu kaum, maka itulah seburuk-buruk pagi hari bagi orang-orang yang telah diberi peringatan (namun tidak mau mendengarkan peringatan tersebut).”

Sesungguhnya generasi yang mampu meraih kemenangan –dengan izin Allah- tentunya adalah generasi yang giat memakmurkan Masjid-Masjid ketika shalat Subuh seperti ketika mereka meramaikan Masjid dalam shalat Zhuhur dan Ashar. Mereka adalah generasi yang paham bahwa perintah agar barisan shalat dirapatkan dan diluruskan itu merupakan awal mula lurusnya barisan mujahidin yang akan meraih kemeangan atas musuh.

Sedangkan generasi kita sekarang ini, boleh dibilang cukup mengherankan. Shalat Subuh seolah-olah shalat yang khusus bagi orang-orang yang telah lanjut usia. Lantas kemanakah para pemuda?

Para pemuda –selain yang dirahmati Allah- tidak mampu bershabar mendengarkan petuah-petuah imam sholat yang memerintahkan agar meluruskan dan merapatkan barisan shalat dan sebagainya.

Musuh-musuh Islam tahu betul pengaruh lemahnya kaum Muslimin dalam menghadiri sholat Subuh dalam kekalahan kaum Muslimin. Dikisahkan, pasca perang pada tahun 1973 antara Mesir dan Israel, ada salah seorang tentara Mesir mengajak bicara salah seorang tentara Yahudi yang bisa berbahasa Arab. Tentara Mesir itu berkata, “Demi Allah, kami akan memerangi dan mengalahkan kalian sampai ada di antara kalian yang bersembunyi di balik pohon atau batu, kemudian pohon atau batu itu berkata, ‘Hai Muslim, hai hamba Allah, ini ada Yahudi di belakangku, kemari dan bunuhlah dia!’ Tentara Mesir ini memaksudkan nubuwah Nabi saaw Al-Ma’shum dalam sebuah hadits.

Apa jawab Yahudi itu? Ia berkata, “Semua itu tidak akan terjadi hingga sholat Subuh kalian sama dengan sholat Jum’at kalian.”

Maksudnya kemenangan Muslimin akan terwujud ketika kaum Muslimin menghadiri shalat Shubuh seperti mereka menghadhiri sholat Jum’at, di mana jama’ahnya membludak sampai ke jalan-jalan.

Dari sini, tidakkah Anda melihat bagaimana pandangan orang Yahudi yang menohok leher orang-orang yang terbuai oleh angan-angannya? Dan mereka hanya bisa mengandalkan semua kabar gembira dari Nabi saaw tanpa mau melakukan usaha untuk merealisasikannya melalui tangan-tangan mereka.

Si Yahudi tadi memberi tahu bahwa kemenangan akhir memang ada di pihak Muslim, namun hal itu baru terjadi ketika Masjid-Masjid kaum Muslimin telah penuh sesak oleh jama’ah sholat Shubuh, sama penuh sesaknya seperti mereka melaksanakan shalat Jum’at.

Saat ini, sebagian ulama memfokuskan untuk mengajak kaum Muslimin agar melaksanakan sholat Subuh berjama’ah. Bahkan ada suatu program yang bernama sholat Subuh Berjama’ah Gabungan. Hal ini dimaksudkan agar kaum Muslimin semakin giat melaksanakan sholat Subuh berjama’ah. Dan sebagian ulama menganggap makruh begadang dan ‘mengobrol’ setelah shalat Isya berjama’ah. Sebab dapat menyebabkan sulit bangun untuk melaksanakan sholat Subuh berjama’ah.

Ya Allah, anugerahkanlah kami sholat Subuh yang setelahnya kami menyerang kaum Yahudi di pagi harinya, sebagaimana kekasih-Mu, Muhammad saaw, telah mengusir mereka.