SU`UZH-ZHON

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa. (QS. Al-Hujurat: 12)

Islam tidak pernah mengajarkan kita untuk berprasangka kepada siapa pun. Karena kebanyakan prasangka itu adalah dosa. Kalau pun harus berprasangka, Islam mengajarkan kita agar berprasangka baik (husnuzh-zhon) dan bukannya berburuk sangka (su’uzhon). Tetapi sayangnya, sebagian manusia berprasangka terhadap seseorang itu berdasarkan tampilan luarnya yang mana persangkaan demikian itu sering keliru.

Sering seseorang memandang dengan penuh hormat kepada orang yang datang ke rumahnya dengan pakaian yang rapih apalagi jika dengan mengenakan jas. Tetapi tidak demikian jika yang datang itu adalah seseorang dengan rambut gondrong dan acak-acakan serta mengenakan kaus oblong. Maka dengan segera dia memandang orang tersebut sebagai orang yang tidak pantas didengar arahan dan nasihatnya. Akan tetapi sikapnya akan berubah ketika tahu bahwa si gondrong berkaus oblong itu ternyata adalah seorang pengusaha sukses.

Itulah sebabnya Islam berpesan kepada kita agar kita melihat kepada apa yang dikatakan dan jangan melihat kepada siapa yang mengatakan. Maksudnya agar kita mengambil pelajaran dengan menggunakan aqal kita dan bukannya dengan prasangka kita. Dan supaya kita menilai orang dari apa yang dia katakan. Sering hati dan fikiran seseorang dapat tercermin dari kata-kata yang keluar dari lisannya. Dan terkadang kita harus mengambil kebenaran dengan cara yang agak menyakitkan kita. Terimalah nasihat yang benar, walau cara menyampaikan nasihat itu tidak baik. Apakah kita ingin menyusahkan orang yang ingin menasihati kita dengan menyuruhnya memikirkan cara yang baik dalam mengingatkan kita? Sudah bagus orang itu mau memperhatikan kita.

Adapun mengenai perkataan ‘Allah melihat yang bathin, manusia melihat yang zhahir’, perkataan itu adalah diterapkan dalam bidang hukum dengan pengertian bahwa hakim itu memutuskan berdasarkan saksi dan bukti yang dapat diterima secara kaidah hukum. Jika hakim itu ternyata menjatuhkan hukuman kepada orang yang tidak bersalah, maka hal itu bukanlah suatu dosa, karena hakim itu sudah berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menegakkan keadilan berdasarkan bukti dan saksi yang sah berdasarkan kaidah hukum. Sedangkan mengenai kebenaran yang sesungguhnya yang mungkin tersembunyi dari hakim, maka Allah adalah Mahamelihat kepada yang bathin. Perkataan ini tidak bisa digunakan untuk membenarkan kita dalam berprasangka buruk kepada orang yang berpenampilan buruk.

PENGAMATAN PARSIAL

Pengamatan parsial sering menghasilkan kesimpulan parsial yang tidak akurat dan cenderung invalid, kecuali jika sang pengamat mau membandingkan hasil pengamatannya dengan orang lain yang juga mengamati objek yang sama.

Ada seorang murid yang setiap kali melewati kelas salah seorang guru, dia selalu melihat guru itu sedang mengomel kepada murid-muridnya. Lalu akhirnya ia berkesimpulan bahwa guru tersebut adalah guru yang galak. Sebagian orang lebih suka untuk berprasangka daripada tabayun (mengklarifikasi). Seandainya murid tersebut mau membandingkan hasil pengamatannya dengan murid-murid guru tersebut, mungkin dia akan mendapatkan jawaban yang mengherankan. Sebab bisa jadi murid-murid dari guru tersebut akan berkata, “Tidak, dia adalah guru yang baik. Mengapa Anda bertanya seperti itu?” Ternyata sang guru ini adalah guru yang baik. Kebetulan saja ketika sang ‘observator’ melihat guru ini adalah sewaktu para murid melakukan hal yang melampaui batas, dan sang guru sudah tidak bisa lagi bersikap lunak. Ternyata sang observator menyimpulkan hanya berdasarkan observasinya yang tidak terus-menerus. Observator tadi melihat sang guru marah hanya ketika dia melewati kelas guru tersebut, dan itu dia lakukan dengan interval 3 bulan, dan dia hanya ‘mengamati’ sebanyak 3 kali. Intinya, dia tidak melakukan observasi yang terus-menerus dan tidak pula membandingkan dengan pengamatan orang lain. Ketika dia membandingkan dengan pengamatan orang lain, dia menemukan kesimpulan yang sungguh berbeda. Karena pengamat lainnya mengamati dengan terus-menerus dan lebih utuh datanya.

Mungkin Anda teringat dengan kisah tiga orang buta yang mencoba menggambarkan bagaimana rupa gajah itu. Tidak satu pun penjelasan mereka tentang bentuk gajah dapat diterima sebagai penggambaran yang tepat, karena mereka hanya menggambarkan secara parsial. Ketika penjelasan mereka digabungkan, barulah kita mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang bentuk gajah.

Pengamatan yang kurang lengkap ini juga saya lihat pada sebagian motivator yang pernah saya baca atau saya dengar motivasinya. Mereka sering memberikan ‘motivasi positif’ kepada para peserta. Jarang di antara mereka memberikan ‘ancaman’ kepada para peserta. Mereka beranggapan bahwa kata-kata negatif tidak perlu ada pada otak bawah sadar. Padahal sebagian kata-kata negatif, yang saya sebut dengan ‘ancaman’, juga dibutuhkan oleh jiwa. Karena tidak semua jiwa berfikir tentang ‘apa manfaatnya bagi saya?’, tetapi ada juga jiwa yang berfikir, ‘apa ruginya bagi saya?’. Bagi sebagian orang yang tidak suka ‘ngoyo’, penjelasan tentang ‘apa ruginya bagi saya’ akan lebih menggerakkan dia untuk bertindak positif bila dibandingkan dengan iming-iming dalam ‘apa manfaatnya bagi saya’. Kata-kata larangan akan membuat pagar pembatas agar seseorang tidak memasuki daerah berbahaya yang membinasakan, seperti anti-virus yang melindungi computer dari virus-virus yang merusak. Kesimpulan yang di dasari data yang kurang lengkap hanya menghasilkan persangkaan, bukan teori yang sah. Sedangkan kebanyakan persangkaan adalah keliru. Saya tidak yakin bahwa orang yang membuat persangkaan seperti itu adalah orang yang dekat dengan agama. Karena agama apa pun akan berisi perintah dan larangan. Bahkan dalam Alkitab, kita akan menemukan ‘Sepuluh Perintah’ yang sesungguhnya berisi sepuluh larangan yang diawali dengan kata ‘jangan’. Adapun di dalam Islam, begitu banyak kita dapati dalam Al-Qur`an, ketika ayat mengenai surga yang merupakan balasan bagi orang beriman dan beramal shalih disebutkan, pasti setelahnya atau sebelumnya kita menemukan ayat tentang neraka yang merupakan balasan bagi orang yang ingkar. Wallahu a’lam.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *