Bangsa Yahudi, sejak wafatnya Musa, terus dijajah oleh bangsa lain. Diantara yang pernah menaklukan Israel adalah Raja Sargon I dari Asyiria (722 SM), Nebukadnezar dari Babilonia (586 SM), Cyrus dari Persia (538 SM), Alexander dari Macedonia (332 SM), Imperium Romawi (63 SM).
Penindasan bangsa asing selama berabad-abad dan silih berganti menyebabkan dendam yang mendalam. Pada masa “pengasingan Babilonia”, bangsa Yahudi pun menuliskan kembali Torat Musa setelah hilangnya Torat Musa yang asli. Maka ditulislah Torat berdasarkan hafalan para imam dan juga berdasarkan dendam mereka. Mereka menghapuskan beberapa kisah penjajahan terhadap bangsa Yahudi untuk menghapus aib. Dan mereka masukkan kisah heroik raja-raja Yahudi yang fiktif. Dan mereka masukkan cerita bahwa Yahweh berjanji akan membalas perlakuan bangsa gentile yang telah menindas Yahudi.
Bangsa Yahudi terpecah menjadi 3 golongan:
1. Golongan yang mengharapkan datangnya seorang Musa baru beserta pendampingnya, yang akan menghantam bangsa penjajah dan menghidupkan kembali ajaran Yahweh. Seorang yang diharapkan kedatangannya itulah yang disebut Messiah. Inilah golongan Farisi yang mengharapkan datangnya Raja Yahudi. (Mat. 2:1-2)
2. Golongan yang melakukan kebaktian setiap matahari terbit, dalam rangka menjilat Romawi penyembah dewa matahari. Inilah golongan Saduki yang juga dicela oleh Yesus (Mat. 6:5)
3. Golongan yang mengasingkan diri ke daerah gersang sebagai tempat hidup dan beribadah sesuai ajaran Torat Musa, serta mempersiapkan diri menjadi gerilyawan melawan bangsa penjajah. Tentara Romawi selalu gagal menemukan persembunyian mereka. Jumlah kader mereka bertambah melalui sejumlah besar yang tertarik pada sikap hidup mereka yang ascetic (zuhud). Golongan ini disebut Esenes. Mungkin Yesus adalah termasuk anggota Esenes. Sebab Yesus selalu mencela orang Farisi dan Saduki, tetapi dia tidak pernah menyebut-nyebut soal Esenes. Sebab memang dia harus merahasiakan identitasnya sebagai anggota Esenes.
Yohanes Pembaptis juga diduga sebagai anggota Esenes. Diceritakan dalam Mat. 3:4 bahwa pakaian Yohanes terbuat dari bulu unta, dan ikat pinggangnya dari kulit, dan makannya belalang dan air madu hutan.
Ketika remaja, keluarlah Yohanes dari pemukiman Esenes. Dia mengajak orang banyak untuk mengikuti jejaknya. Dia membaptis banyak orang di tempat terbuka. Sehingga akhirnya Romawi menangkap dan membunuhnya.
Adapun Yesus lebih berhati-hati. Banyak mujizat yang ia tampakkan. Akan tetapi dia selalu berpesan agar mujizat itu tidak disiarkan agar jangan diketahui Roma. Tetapi ketika dia dan para zealot telah siap, mereka melakukan “pembersihan” terhadap Bait Allah (Yoh. 2:14-15). Yesus dan pasukannya berhasil menguasai Bait. Romawi mengalami kekalahan lokal, tetapi kekuatan utama mereka tidak hancur. Akhirnya pasukan Roma dikerahkan untuk melawan pasukan Yesus.
Pada akhirnya terbukti bahwa pasukan Romawi selalu kuat bagi para pejuang. Pengikut Yesus porak-poranda. Yesus bersembunyi bersama para murid utama. Tentara Romawi mengadakan pencarian secara intensif untuk menemukannya.
Yudas Iscariot, seorang murid Yesus, terbujuk oleh janji hadiah 30 keping perak bagi siapa saja yang dapat menunjukkan tempat persembunyian Yesus.
Maka pada malam hari, tentara Romawi dikerahkan untuk menangkap Yesus. Dikisahkan bahwa Yudas akan memberi kode, yaitu siapa yang keningnya dicium, maka itulah Yesus. Akan tetapi skenario ini ternyata salah langkah. Sebab yang terjadi adalah ada dua orang Yahudi yang terlihat berpelukan dalam kegelapan. Sehingga terjadi salah tangkap.
Keraguan akan siapa yag ditangkap juga terlihat dalam pengadilan. Hal ini bisa dilihat dari Lukas 22:67-23:25.
Kita semua tahu bahwa murid Yesus kemudian membantah bahwa mereka mengenal siapa yang telah ditangkap. Mereka seakan tidak mau disebut sebagai murid dari yang ditangkap itu. Para murid seakan tidak membela orang yang ditangkap itu.
Dan orang yang ditangkap pun seakan menolak tuduhan orang-orang yang mengadili. Dia berkata bahwa Anak Manusia yang sebenarnya sudah terangkat ke langit dan berada di sisi Tuhan. Akan tetapi para imam tidak percaya dan tetap memaksa dia untuk mengaku bahwa dia mengklaim dirinya sebagai Anak Allah. Lalu dia berkata, “Itu adalah katamu, bukan kataku. Aku tidak pernah mengatakan bahwa aku adalah anak Allah. Kamulah yang mengatakan bahwa aku ini anak Allah. Seperti yang aku katakan: kalian tidak akan percaya walau aku katakan yang sebenarnya, yaitu bahwa Anak Manusia telah terangkat ke langit.”
Maka orang itu dihadapkan kepada Pilatus dan menuduhnya sebagai raja Yahudi yang ingin memberontak kepada Roma.
Akan tetapi orang itu menolak tuduhan itu dengan berkata, “Itu ‘kan katamu.” Maka Pilatus pun melepaskan dia, sebab terbukti bahwa dia bukanlah orang yang sedang dicarinya.
Tetapi para imam tetap mendesak agar menghukum dia. Mungkin para imam juga sadar bahwa yang ditangkap itu memang bukan Yesus. Akan tetapi merekalah yang telah berkomplot untuk membunuh Yesus. Mereka tidak ingin Yudas membocorkan rencana mereka kepada para murid Yesus. Sebab para imam tidak ingin para murid Yesus melakukan pembalasan kepada mereka.
Maka disaliblah orang itu. Dan dia mati dengan menyebut nama Allah. Lalu untuk meyakinkan, tentara Roma menusukkan tombak ke lambung orang itu. Orang itu pun dikubur. Akan tetapi kemudian para imam mencurinya dan meletakkannya tertelungkup di suatu daerah yang kemudian disebut dengan Tanah Darah. Sebidang tanah itu dibeli dari uang Yudas yang 30 keping itu. Kemudian tanah itu digunakan untuk pemakaman orang gentile.
Begitulah kisahnya berdasarkan Alkitab.