WAHYU

Dikatakan wahaytu dan awhaytu, bila kita berbicara kepadanya agar tidak diketahui orang lain. Wahyu adalah isyarat yang cepat. Itu terjadi melalui pembicaraan yang berupa rumus dan lambang, dan terkadang melalui suara semata, dan terkadang pula melalui isyarat dengan sebagian anggota badan.
Wahyu dalam arti bahasa meliputi:
1.       Ilham sebagai bawaan dasar manusia, seperti wahyu kepada ibu Nabi Musa dalam QS. Al-Qoshosh [28]: 7.
2.       Ilham yang berupa naluri pada binatang, seperti wahyu kepada lebah dalam QS. An-Nahl [16]: 68.
3.       Isyarat yang cepat melalui rumusan dan kode, seperti Zakaria dalam QS. Maryam [19]: 11.
4.       Bisikan dan tipu daya setan untuk menjadikan yang buruk kelihatan indah dalam diri manusia. Lihat QS. Al-An’am [6]: 112,121.
5.       Apa yang disampaikan Allah kepada para malaikatnya berupa suatu perintah untuk dikerjakan. Lihat QS. Al-Anfal [8]: 12.
Adapun wahyu Allah kepada para nabi-Nya secara syara’ didefinisikan sebagai “kalam Allah yang diturunkan kepada seorang nabi”.
 

CARA WAHYU ALLAH TURUN KEPADA MALAIKAT
Di dalam Al-Qur`an terdapat nas mengenai kalam Allah kepada para malaikat-Nya. Lihat QS. 2:30. Juga terdapat nas tentang wahyu Allah kepada mereka (QS.8:12). Juga nas tentang para malaikat yang mengurus urusan dunia menurut perintah-Nya (QS. 51:4; 79:5). Nas-nas itu dengan tegas menunjukkan bahwa Allah berbicara kepada para malaikat tanpa perantaraan dan dengan pembicaraan yang dipahami oleh para malaikat itu.
Kemudian juga terdapat nas bahwa Al-Qur`an telah dituliskan di Lauhil Mahfuzh. [Lihat QS. 85: 21-22]. Demikian pula bahwa Al-Qur`an diturunkan sekaligus ke baitul ‘izzah yang berada di langit dunia pada Lailatul Qadr. [Lihat QS. 97:1; 44:3; 2:185].
Dari Ibnu Abbas dalam suatu hadits mauquf, “Al-Qur`an itu diturunkan secara keseluruhan ke langit dunia pada Lailatul Qadr. Kemudian diturunkan secara bertahap selama 20 tahun.” [HR. Hakim, Baihaqi, Nasai] [Lihat QS. 25:33; 17:106] Dan pada tahap pertama, Al-Qur`an turun pada 17 Ramadhan.
“Telah dipisahkan Al-Qur`an dari Adz-Dzikr, lalu diletakkan di Baitul ‘izzah di langit dunia; kemudian Jibril menurunkannya kepada Nabi saaw.” [HR. Hakim]
Tetapi berdasarkan hadits dari Nawas bin Sam’an, Jibril menerima Al-Qur`an secara pendengaran dari Allah dengan lafalnya yang khusus.
“Apabila Allah hendak memberikan wahyu mengenai suatu urusan, Dia berbicara melalui wahyu; maka langit pun bergetarlah dengan dahsyat karena takut kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Ketika penghuni langit mendengar hal itu, maka pingsan dan jatuh bersujudlah mereka itu kepada Allah. Yang pertama kali mengangkat muka di antara mereka itu adalah Jibril, maka Allah membicarakan wahyu itu kepada Jibril menurut apa yang Dia kehendaki. Kemudian Jibril berjalan melintasi para malaikat. Setiap kali dia melalui satu langit, maka bertanyalah para malaikat langit kepadanya: Apakah yang telah dikatakan Tuhan kita wahai Jibril? Jibril menjawab: Dia mengatakan yang haq dan Dialah Yang Mahatinggi lagi Mahabesar. Para malaikat itu semuanya pun mengatakan seperti apa yang dikatakan Jibril. Lalu Jibril menyampaikan wahyu itu seperti diperintahkan Allah ‘Azza wa Jalla. [HR. Thabrani dari Nawas bin Sam’an]
Lihat juga QS. 27:6; 9:6; 10:15. Jadi Al-Qur`an adalah Kalam Allah dengan lafalnya, bukan kalam Jibril atau kalam Muhammad.
Â