Kategori: Kenali Kitabmu

  • Bintang Petunjuk

    Demi bintang ketika turun (di waktu fajar), kawanmu (yaitu Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru, dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya) [QS. An-Najm: 1-4]

    Maka Aku bersumpah dengan tempat beredarnya bintang-bintang. Sesungguhnya sumpah itu adalah sumpah yang besar kalau kamu mengetahui, sesungguhnya Al Qur’an ini adalah bacaan yang sangat mulia. [QS. Al-Waqi’ah: 75]

    Sebagian mufassir menafsirkan “An-Najm” (bintang) dalam ayat-ayat di atas sebagai Al-Qur`an. Dan sebagian lainnya menafsirkannya sebagai Nabi Muhammad. “An-Najmu idzaa Hawaa” dapat bermakna “Demi Al-Qur`an ketika diturunkan,” atau “Demi Nabi Muhammad ketika diutus”. Kita semua tahu bahwa bintang itu ‘terbenam’ atau ‘turun’ ketika fajar. Dan Nabi Muhammad pun lahir ketika fajar.

    Adapun “Mawaqi’in Nujuum” dapat bermakna “Tempat diturunkannya ayat-ayat Al-Qur`an” atau tempat awal Nabi Muhammad mengajarkan risalah-risalahnya, yaitu Makkah dan Madinah. Kedua kota ini adalah kota suci yang tidak akan dimasuki oleh Dajjal.

    Mengapa Al-Qur`an atau Nabi Muhammad dikiaskan dengan “Bintang”? Karena, jika kita tengah berjalan di malam yang gelap gulita, baik itu di darat mau pun di laut, dan kita tidak tahu arah selatan atau pun utara, tidak tahu barat mau pun timur, maka yang kita butuhkan adalah petunjuk dari letak bintang-bintang.

    Dan (Dia ciptakan) tanda-tanda (penunjuk jalan). Dan dengan bintang-bintang itulah mereka mendapat petunjuk. [QS. An-Nahl: 16]

    Dan Dialah yang menjadikan bintang-bintang bagimu, agar kamu menjadikannya petunjuk dalam kegelapan di darat dan di laut. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan tanda-tanda kebesaran (Kami) kepada orang-orang yang mengetahui. [QS. Al-An’am: 97]

    Al-Qur`an dan Nabi Muhammad adalah bintang yang kita butuhkan ketika kita tengah berada dalam zhulumat, kegelapan hati, ketika kita tak tahu lagi mana jalan yang lurus. Ketika kita tengah diliputi oleh kezhaliman dan kegelapan dosa, yang kita butuhkan adalah petunjuk yang dibawa oleh Nabi Muhammad, yaitu Al-Qur`an dan sunnah beliau SAW. Jalan beliau SAW adalah jalan yang lurus.

    Sesungguhnya kamu salah seorang dari rasul-rasul, (yang berada) di atas jalan yang lurus. [QS. Yaa Siin: 3-4]

    Maka barangsiapa mengikuti thoriqotun Nabi, jalannya sang Nabi, sunnah sang Nabi, maka dia berada pada jalan yang lurus, jalan yang selamat. Inilah jalannya ahlus sunnah wal jama’ah. Adapun mereka yang menolak dan menafi’kan sunnah sang Nabi, maka mereka adalah orang-orang yang tak ingin masuk ke dalam surga. Barangsiapa tak ingin masuk surga, maka dia tak dapat berjumpa dengan Allah Yang Mahapengasih lagi Mahapenyayang dalam kelembutan-Nya yang agung. Semoga Allah menjadikan kita sebagai orang-orang yang benar-benar mengikuti sunnah sang Nabi dan terhindar dari sunnah-sunnah ummat-ummat terdahulu yang dimurkai Allah dan sesat.

    Ya Allah, ya Rohman, ya Rohim, tunjukilah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan ni’mat kepada mereka, bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat. Ya Allah, ampunilah kami dan kedua orangtua kami. Aamiin.

  • Pilih yang Asli

    Semua orang Kristen percaya bahwa Alkitab memang karangan manusia. Tidak ada yang menyangkal ini. Namun tidak semua Kristiani rela untuk berkata bahwa Alkitab itu tidak otentik walau telah banyak pakar Alkitab menyatakan demikian.

    Pakar Alkitab dari luar negeri dan juga dari dalam negeri, bahkan Lembaga Alkitab Indonesia, telah mengakui bahwa Alkitab yang ada saat ini pasti berbeda dengan Alkitab pada masa awal. Ini menunjukkan dengan sangat jelas bahwa Alkitab tidaklah otentik. Bahkan Alkitab pada masa awal juga dikarang oleh manusia yang bisa saja salah.

    Hal ini jauh berbeda dengan Al-Qur`an yang memang wahyu dari Allah dan terjaga keasliannya. Walau sebagian manusia mengatakan bahwa Al-Qur`an itu hanyalah karangan Nabi Muhammad, namun pernyataan itu tidak timbul kecuali dari rasa benci mereka dan bukan dari penelitian yang benar.

    Orang yang benar-benar meneliti Al-Qur`an akan melihat bahwa Al-Qur`an tidak mengalami pengeditan, pengubahan, pengurangan, penambahan, dan pengubahan lainnya. Al-Qur`an yang ada saat ini sama dengan Al-Qur`an yang diterima oleh Nabi Muhammad dari Allah SWT dan diajarkan kepada para shahabatnya. Orang yang jujur juga akan mengakui bahwa Al-Qur`an tidak memuat kontradiksi dan bahkan Al-Qur`an sangat sesuai dengan ilmu pengetahuan modern.

    Sementara itu, Dr. Welter Lempp menyatakan, “Susunan semesta alam yang diuraikan dalam Kitab Kejadian pasal I tidak dapat dibenarkan lagi oleh ilmu pengetahuan modern. Pandangan kitab Kejadian pasal I dan seluruh Alkitab tentang susunan semesta alam adalah berdasarkan ilmu kosmografi bangsa Babel. Pandangan itu sudah ketinggalan zaman.”

    Adapun Dr. R. Soedarmo menyatakan, “Dengan memandang bahwa Kitab Suci hanya catatan saja dari orang, maka diakui juga bahwa di dalam Kitab Suci mungkin sekali ada kesalahan.” (Ikhtisar Dogamtika, BPK Jakarta, 1965 hal. 47).
    Dr. R. Soedarmo juga menyatakan, “Di dalam Perjanjian Baru pun ada kitab-kitab yang diragukan antara lain Surat Wahyu dan Yakobus yang disebut surat Jeram” (Ikhtisar Dogmatika, BPK Jakarta, 1965 hal. 49)

    Setelah melihat semua hasil penelitian para pakar, masihkah kita akan lebih mengunggulkan Alkitab dari Al-Qur`an? Mungkin Kristiani masih berkata bahwa Nabi Muhammad adalah pengarang Al-Qur`an. Tetapi Alkitab mereka juga karangan manusia. Namun keunggulan Al-Qur`an adalah keotentikannya dan kesesuaian ayat-ayatnya serta relevansinya dengan imu pengetahuan modern. Dengan menyatakan bahwa Al-Qur`an itu karangan Nabi Muhammad, berarti mereka mengakui bahwa Nabi Muhammad lebih jenius daripada para pengarang Alkitab. Padahal para pengarang Alkitab itu jumlahnya banyak dan punya pengalaman ratusan tahun. Namun dapat dikalahkan oleh Nabi Muhammad yang tidak bisa baca-tulis, yang artinya beliau terputus dari informasi ratusan tahun itu.

    Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Qur’an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang (kualitasnya) semisal Al Qur’an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. Maka jika kamu tidak dapat membuat (nya) dan pasti kamu tidak akan dapat membuat (nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir. [QS. Al-Baqoroh: 23-24]

    Peliharalah dirimu dengan beriman kepada Allah, kepada Al-Qur`an dan kepada Nabi Muhammad. Bersaksilah bahwa tidak ada yang pantas disembah kecuali Allah. Akuilah bahwa Al-Qur`an itu memang firman Allah yang suci. Bersaksilah bahwa Nabi Muhammad memang utusan Allah. Maka bagimu surga yang mengalir sungai-sungai yang indah di dalamnya.

  • Pembahasan Surat Al-Lail

    Allah Swt berfirman “wallaili idza yaghsyaa” Demi malam ketika telah gelap gulita; QS. Al-Lail : 1. Malam yang dhahir dan malam yang bathin. Malam yang dhahir adalah gelapnya sebagian permukaan bumi dan mereka di dalam kesibukan yang berbeda dari siang harinya. Namun malam yang bathin adalah kegelapan jiwa dari gelapnya kesedihan, dari gelapnya kegundahan dan kerisauan membuat cahaya yang terang – benderang pun seakan tiada karena jiwanya penuh kerisauan dan kegundahan.

    “Wannahaari idza tajallaa” Demi siang hari apabila telah terang – benderang; QS. Al-Lail : 2. Siang yang dhahir dan siang yang bathin. Siang yang dhahir adalah saat siang dimana aktifitas pada puncaknya. Masing – masing di waktu siang dan malam itu ada takdir dan khodrat Illahi yang selalu terjadi. Sedemikian banyak kenikmatan yang terjadi dan sedemikian banyak musibah terjadi. Dalam setiap musibah tersimpan penghapusan dosa dan pengangkatan derajat. Dalam kenikmatan terdapat tawaran untuk mendapat lebih lagi jika ia bersyukur dan terdapat teguran akan berubah kenikmatan itu menjadi kesusahan jika ia tidak bersyukur kepada Allah. Maha Suci Allah yang membimbing dengan kenikmatan untuk mencapai kenikmatan. Dengan kenikmatan, ia bisa menggapai kenikmatan yang lebih.

    “La insyakartum la aziidannakum wa la inkafartum inna a’dzabii lasyadiid” Maha Suci Allah yang menjadikan perbuatan syukur dalam kenikmatan membuat kenikmatan bertambah lagi, bukan berkurang. Hadirin – hadirat, demikian Allah membimbing kita untuk selalu berbuat luhur dan bersyukur. Bersyukurlah atas kenikmatanmu saat ini maka Allah akan menambahnya. Jika kita merasa banyak dari kesusahan yang menimpa kita, ingatlah dalam kesusahan kita itu masih ada banyak kenikmatan. Masih ada kenikmatan melihat, mendengar, bicara, bergerak dan masih banyak lagi yang lainnya. Hal itu semua yang jika kita syukuri akan memupus dan menghapus musibah yang muncul pada kehidupan kita. Kita merasa kenikmatan kita sudah 80%, 20% kesusahan misalnya. Bagaimana supaya kesusahan ini sirna? Banyak bersyukur, maka Allah akan memupus dan mengikis kesusahan itu. Inilah janji Rabbul Alamin.

    Hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah,
    “Wamaa khalaqadzdzakara wal untsa” Dan demi penciptaan pria dan wanita; QS. Al-Lail : 3. Bahwa pada setiap pria dan wanita itu kelak Allah tentukan bentuk jasadnya dan Allah tentukan ketentuan-Nya akan muncul dari pria dan wanita ketika berpasang – pasangan. Akan muncul keturunan dan keturunan. Barangkali dari 1 nama akan muncul beribu – ribu nama dari keturunannya. Dan keturunannya itu tergantung pula kepada doa ayah dan bundanya. Jika ia menaungi anak – anaknya dengan doa dan munajat maka Allah pula yang melindungi anak – anaknya dengan Kasih Sayang-Nya. Apakah ia ada di dunia atau meninggalkannya karena wafat.

    Dialah Allah Yang Maha Memelihara dan Maha Mengayomi alam semesta, Maha Mengayomi hamba –hambaNya dengan doa dan munajat mereka. Ketika mereka meminta kepada Allah penjagaan atas dirinya, penjagaan atas hartanya, penjagaan atas keluarganya, penjagaan Allah atas keturunannya, Sang Maha Mengayomi akan mengayomi berkat doa dan munajat kita. Demikian indahnya Allah, Maha Raja yang paling berhak untuk dimuliakan dan diagungkan. Namun seakan – akan Allah berkhidmah kepada kita lebih dari semua yang berkhidmah kepada kita. Sungguh Allah Maha Mulia. Namun Kasih Sayang dan Kelembutan-Nya seakan Allah Swt itu yang paling berkhidmah kepada kita lebih dari semua yang berbakti kepada kita. Karena jawabnya adalah samudera Kasih Sayang Rabbul Alamin.

    “Inna sa’yakum lasyattaa” Sungguh perbuatan kalian itu berbeda – beda; QS. Al- Lail : 4. Ada maksiat dan ada taat, ada dosa ada pahala. Setiap manusia selain Nabi dan Rasul melewati hari – harinya dalam pahala dan dosa. Mereka lepas dari sifat ma’shum (terjaga dari perbuatan dosa) maka hari – harinya dilewati dengan pahala dan dosa. Dan setiap dosa itu akan pupus dengan istighfar dan taubat. Beruntunglah mereka yang banyak bertaubat dalam hari – harinya dari segala dosa – dosanya. Semoga aku dan kalian diberi kelezatan taubat hingga selalu asyik bertaubat.

    Hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah,
    “Fa amma man a’thaa wattaqaa; wa shaddaqa bil husnaa; fasanuyassiruhu lil yusraa; wa amma mam bakhila wastaghnaa; wakadzdzaba bil husna; fasanuyassiruhu lil ‘usra; wamaa yughni ‘anhu maluhu idza taraddaa” QS. Al-Lail : 5-11. Allah meneruskan firman-Nya ketika seseorang itu beriman dan bertaqwa dalam memperbanyak amalnya kepada Allah, mengikuti dosa – dosanya dengan penyesalan dan istighfar, memohon maaf kepada Rabbul Alamin. Melewati hari – harinya dengan penuh harapan kepada Allah untuk membenahi harinya lebih baik dari hari yang lalu, penuh harapan dan munajat serta memperbanyak shadaqah kepada para fuqara. Shadaqah yang ketahuan dan shadaqah yang tidak ketahuan. Shadaqah yang ketahuan sunnah dan shadaqah yang diam – diam juga sunnah

    Hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah, “Wa shaddaqa bil husnaa” dan membenarkan semua apa yang baik yaitu yang dibawa oleh Nabiyyuna Muhammad Saw; QS. Al-Lail : 6. “Fasanuyassiruhu lil yusraa” perbuatan baik itu, ketaqwaannya itu, ketaatannya itu dan shadaqahnya itu adalah perbuatan baik semua; QS. Al-Lail : 7. Allah berkata “Aku akan memudahkannya kepadanya jalan yang lebih mudah”. Jalan kemudahan itu di dunia dan akhirat akan terbuka dengan semakin banyak kita beramal dan taat kepada Allah. Apapun yang kita usahakan dan kita perjuangkan akan dilimpahi kemudahan jika diwarnai dengan ketaatan kepada Allah. Ketaatan seakan membenarkan apa – apa yang dibawa oleh Nabiyyuna Muhammad Saw. Dan beramal menurut kadar kemampuannya.

    “Wa amma mam bakhila wastaghnaa” Mereka yang kikir dan menahan diri dari banyak beramal, apakah berupa shadaqah atau berupa ibadah; QS. Al-Lail : 8. “Wakadzdzaba bil husna” Ia mendustakan apa yang dibawa oleh Sang Nabi Saw; QS. Al-Lail : 9. “Fasanuyassiruhu lil ‘usra” Kami akan mudahkan ia ke jalan yang lebih sulit; QS. Al-Lail : 10. Semakin kita berpaling dari hal – hal yang luhur maka kehidupan kita akan semakin sulit, jika sulit itu niat. Jika ia tidak dapat kesulitan di dunia maka ia dapat kesulitan di yaumul qiyamah. Hadirin – hadirat, perbuatan taat, perbuatan baik, perbuatan mulia membawa kemudahan di dunia dan puncaknya di akhirat. Dan perbuatan yang buruk akan membawa kesusahan di dunia dan puncaknya d akhirat.

    Hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah, “Wamaa yughni ‘anhu maluhu idza taraddaa” Apalagi gunanya hartanya apabila ia sudah sampai ke tempat orang – orang yang dimurkai Allah; QS. Al-Lail : 11. “Inna a’laina lal hudaa; wa inna lanaa lal aakhirata wal u’laa” bahwa segala jalan petunjuk itu, adalah milik Allah dan dari Allah; QS. Al-Lail : 12-13. Sungguh milik-Ku lah semua kehidupan di dunia dan akhirat. Demikian firman Allah, milik Allah semua kehidupan dunia dan akhirat. Maka perbanyaklah doa dan munajat kepada Sang Pemilik dunia dan akhirat agar keadaanmu diperindah di dunia dan akhirat karena Dialah pemiliknya.

    “Fa andzartukum naaran taladhdhaa; layashlaahaa ilal asyqa; alladzi kaddzaba watawallaa” Maka berhati – hatilah, Ku-nasehati kalian daripada api neraka yang mengerikan dan tidak akan masuk kedalamnya kecuali orang – orang yang jahat; QS. Al-Lail : 14-16. Hadirin – hadirat, demikian indahnya Rabbul Alamin yang selalu menyampaikan ayat – ayatNya dan seruan Kelembutan-Nya kepada kita dan hindarilah perbuatan yang bukan semampunya karena Dia (Allah) Maha Indah dan selalu ingin menerima yang indah – indah. Bila kita terjebak dalam hal yang hina disisi Allah, perindahlah dengan taubat dan istighfar, niscaya Allah mengganti itu semua menjadi pahala dan keluhuran.

    Mereka yang bertaubat, beriman, beramal shaleh, Ku-perbaiki dirinya dengan hal yang mulia semampunya. Allah gantikan dosa – dosa mereka menjadi pahala. Wahai Yang Maha Baik dan Maha Indah melebihi segenap kebaikan dan keindahan, terimalah segala kekurangan kami dan ketidaktaatan kami, gantikan dengan ketaatan dan keindahan kehadirat-Mu Ya Rabb.

    (Majelis Rasulullah)

  • Kelemahan Alkitab

    Alkitab terdiri dari 2 bagian, yaitu Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Perjanjian Lama merupakan Kitab-Kitab yang ditulis sebelum kedatangan Nabi Isa, sedangkan Perjanjian Baru adalah tulisan-tulisan yang dianggap suci setelah Nabi Isa diangkat ke langit. (lebih…)

  • Para Nabi Tak Mengarang Kitab

    Di antara kekeliruan iman Kristen adalah adanya anggapan bahwa para Nabi itu mengarang kitab. Dan terkadang Nabi yang satu menjiplak kitab Nabi sebelumnya. Seakan mereka beranggapan, secara tidak langsung, bahwa agama itu ciptaan manusia. (lebih…)

  • Al-Qur`an Menambah Kekafiran

    Rafi’ bin Haritsah dan Sallam bin Miskham dan Malik bin saif dan Rafi’ bin Huraymila mendatangi Rasulullah dan berkata, “Apakah kamu mengatakan bahwa kamu mengikuti agama Ibrahim dan percaya kepada Taurat yang telah kami punyai dan yaqini bahwa itu merupakan kebenaran dari Allah?” Beliau SAW menjawab, “Tentu, tetapi kalian telah berdosa dan melanggar perjanjian yang terkandung di dalamnya dan menyembunyikan apa yang diperintahkan kepadamu untuk memberi penjelasan kepada manusia, dan aku tidak ikut campur dalam dosa-dosamu.” (lebih…)

  • Diskusi Mengenai Beberapa Ayat Al-Qur`an

    Pagi ini, saya mendapat beberapa pertanyaan dari seorang pengunjung, sebut saja Yesus, mengenai beberapa ayat dari Al-Qur`an. Karena hasil tanya-jawabnya menjadi panjang, saya fikir, lumayan juga jika dijadikan artikel . Di bawah ini tanya-jawabnya. Dan maaf jika tulisannya tidak baku.

    Salam damai dalam Isa anak Maryam
    sekarang pertanyaan saya yang lainnya… apakah anda mempercayai alquran sebagai wahyu Allah?? Padahal dalam alquran sendiri di dalam (4 An Nissa 82) menyatakan bahwa alquran bukan wahyu Allah??

    [4.82] Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur’an? Kalau kiranya Al Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.

    Ayat itu justeru menjamin bahwa Al-Qur`an itu adalah dari Allah. Kalau Al-Qur`an bukan dari Allah, niscaya akan ada banyak pertentangan dalam Al-Qur`an. Nyatanya, tidak ada pertentangan dalam Al-Qur`an. Sedangkan Alkitab kamu mengandung banyak pertentangan.

    Contohnya:
    Kisah Para Rasul 9:7 Maka termangu-mangulah teman-temannya seperjalanan, karena mereka memang mendengar suara itu, tetapi tidak melihat seorang juga pun.

    Kisah Para Rasul 22:9 Dan mereka yang menyertai aku, memang melihat cahaya itu, tetapi suara Dia, yang berkata kepadaku, tidak mereka dengar.

    Dari dua ayat tersebut kita dapat melihat pertentangan yg sangat nyata. padahal ayat tersebut menceritakan peristiwa paling penting dalam doktrin Kristen. Peristiwa di mana, katanya, Paulus bertemu Yesus dalam suatu penampakan. Kalau Anda seorang investigator, tentu Anda akan meragukan cerita ini. Karena keterangan yg diberikan ternyata plintat-plintut. Jelas ada kebohongan dari keterangan ini. Masih percaya kepada Lukas? Masih percaya bahwa Paulus itu telah bertemu Yesus? Anda masih percaya bahwa Alkitab itu firman Tuhan?

    Lalu pertanyaan lainnya, apa maksud dari keselamatan bagi orang yang berada di neraka(Qs 19:72)serta adanya pernyataan dalam quran yang menyatakan jin” itu bisa masuk ke surga(Qs 55:46).

    [19.70] Dan kemudian Kami sungguh lebih mengetahui orang-orang yang seharusnya dimasukkan ke dalam neraka.

    [19.71] Dan tidak ada seorang pun dari padamu, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan.

    [19.72] Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang lalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut.

    Anda harus memahami dulu, bahwa di akhirat itu ada padang mahsyar (tempat luas di mana jin dan manusia dikumpulkan). Setelah itu mereka dihisab (dihitung dan ditimbang amal/perbuatannya). Nah, setelah itu mereka disuruh mendekati jurang neraka, bukan untuk masuk ke dalamnya. Siapa yg mau menurut jika disuruh masuk ke dalam neraka? Mereka disuruh mendekati/mendatangi neraka lalu disuruh untuk meniti suatu titian di atas neraka. Bagi mereka yg bertaqwa akan berhasil menyebrangi titian tersebut dan sampai ke seberang. Di seberang itu mereka bisa melihat gerbang surga yg akan menjadi tempat tinggal mereka. Namun abgi mereka yg zhalim, bagi mereka yg melumuri dirinya dengan kegelapan dosa selama di dunia tanpa bertobat atu pun memohon ampun kepada Allah, mereka akan terjatuh dari titian itu dan masuk ke jurang neraka. Demikian maksudnya.

    Mengenai jin, sesungguhnya jin itu seperti manusia juga dan diciptakan jauh sebelum manusia. Tubuh jin diciptakan dari unsur api, sedangkan tubuh manusia diciptakan dari unsur tanah. Jin dan manusia adalah dua kelompok yg diberi tanggung jawab. Jin dan manusia sama2 memiliki aqal dan nafsu. Itulah sebabnya mereka diberi tanggung jawab. Malaikat hanya diberi aqal, mereka tidak mungkin ingkar. Lucifer atau Iblis bukanlah malaikat yg jatuh, tetapi jin yg dulunya banyak beribadah sehingga disamakan dengan malaikat, namun kemudian terjatuh ke dalam dosa. Sedangkan hewan hanya diberi nafsu tetapi tidak diberikan aqal. Sehingga hewan tidak diberi tanggung-jawab. Bahkan manusia/jin yg terganggu jiwanya (gila) atau mengalami keterbelakangan, mereka pun tidak dibebani tanggung-jawab syari’ah. Orang yg pingsan atau tidur juga tidak dibebani syari’ah. Syari’ah/hukum Tuhan itu berlaku bagi kedua makhluq ini. Jika zhalim, maka masuk neraka, dan jika bertaqwa, maka masuk surga. Apakah dalam Kristen tidak dikatakan hal seperti ini?

    Lalu mohon maaf sedalam”nya kalu saya kurang setuju tentang arti keselamatan dalam islam menurut anda karena dalam quran: “Yahdii bihillaahu minat taba’a ridlwaanahuu subulas salaama wa yukhrijuhum inadhulumaati ilan nuur biidznihii wa yahdiihim ilaa shiraathim mustaqiim.”(Qs 5:16)yang berarti [alkitab menunjukkan jalan keselamatan membawa orang dari kegelapan kepada terang menuju jalan yang lurus….]

    [5.15] Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al Kitab yang kamu sembunyikan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan.

    [5.16] Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.

    [5.17] Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah itu ialah Al Masih putra Maryam”. Katakanlah: “Maka siapakah (gerangan) yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah, jika Dia hendak membinasakan Al Masih putra Maryam itu beserta ibunya dan seluruh orang-orang yang berada di bumi semuanya?” Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang di antara keduanya; Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

    Pada 5.15 dijelaskan bahwa ahlul kitab (yahudi dan Nasrani) telah menyembunyikan ayat2 tentang Nabi Muhammad, menyamarkannya, mengubahnya dsb. Lalu diterangkan bahwa telah datang kepada mereka, saat itu, cahaya dari Allah (Nabi Muhammad) dan kitab yg menerangkan (Al-Qur`an).

    Pada 5.16 dijelaskan bahwa dengan kitab itu (yaitu Al-Qur`an), Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridaan-Nya ke jalan keselamatan, yaitu dengan mengajarkan mereka kepada tauhid (mengesakan Allah) dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita (kejahilan, kekafiran, kesyirikan, dsb) kepada cahaya yang terang benderang (iman) dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.

    Pada 5.17 dijelaskan bahwa orang yg berkata bahwa Allah telah menjelma menjadi Isa bin Maryam adalah orang yg ingkar kepada Allah.

    Serta sebelum saya menutup ada satu kalimat dalam quran yang menarik buat anda… yaitu: wa laa tujadillu ahlal kitaab(Qs 29:46) jangan mendebat orang nasrani…
    Salam Damai dalam Isa anak Maryam, saya bermaksud membuat pernyataan ini bukan untuk mengembangkan akar permusuhan tapi untuk menceritakan kabar kebenaran dalam alquran.

    [29.46] Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang lalim di antara mereka, dan katakanlah: “Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu; dan kami hanya kepada-Nya berserah diri”.

    Pada ayat itu terdapat frase yg tidak bisa dibaca setengah-setengah. Ayat itu menjelaskan
    1. janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik,
    2. silahkan kamu berdebat dengan orang2 zhalim (yaitu yg suka menganiaya dan memaksa) diantara mereka walau pun dengan cara yang keras.

    kafir harb boleh diperangi. Sedangkan terhadap kafir dzimmi seperti Anda, saya pun harus berusaha sopan, yaitu berargumen dengan baik, dan bukannya marah2 dan mengetik dengan huruf kapital semua tanpa mengemukakan argumen yg dapat diterima. Jadi, saya tidak boleh mendebat Anda, kecuali jika saya mendebat Anda dengan cara yg paling baik. Saya boleh mendebat Anda, asalkan dengan cara yg paling baik.

    Begitu maksud ayat tersebut. Jadi, janganlah kita membaca satu bagian, tetapi menyembunyikan yg lainnya. Jangan kita berkata “Tidak ada yg pantas disembah”, tetapi kita menyembunyikan “kecuali Allah”. Kabarkanlah kebenaran dan katakanlah dengan lengkap, “Tidak ada yg pantas disembah, kecuali ALLOH”. Jadi kita tidak boleh menyembah, kecuali ALLOH. Silahkan kita menyembah, selama yg kita sembah itu hanyalah Allah. Silahkan berdebat, selama dengan cara yg baik. Tetapi jika si ahli kitab itu berlaku kasar, silahkan saja, boleh dengan tetap lembut, boleh juga dengan kasar. semoga dapat dipahami. Dan semoga Allah memberi Anda hidayah ke jalan yg lurus.

  • Paulus dan Gnostikisme

    Saulus dari Tarsus merupakan anggota sekte Farisi yang sering menyiksa para pengikut Yesus. Setelah Yesus diangkat ke langit, tiba-tiba Saulus atau Paulus mengaku bahwa ia telah bertemu dengan Yesus dalam penampakan (mirip Ahmad Mushadeq yang mengaku menjadi nabi setelah berlaku penampakan kepadanya). Maka mulailah ia menyebarkan ajaran tentang Kristus. Dan diantara para pengikutnya ada yang menyusun injil-injil yang dinisbatkan kepada Matius, Markus, Lukas dan Yohanes. Namun diragukan bahwa penulis injil-injil itu adalah benar-benar Matius, Markus, Lukas dan Yohanes.

    Dari keempat injil, Injil menurut Markus dianggap Injil paling tua, ditulis pada 70 Masehi. Sedangkan Kristen baru dikenal pada 49 Masehi di Anthiokia. Tidak ada injil yang berasal dari masa Yesus yang bisa dijadikan rujukan. Injil yang Allah turunkan kepada Nabi Isa telah lenyap. Tidak ada salinan atas Injil yang Allah turunkan kepada Nabi Isa. Injil yang beredar sekarang hanyalah injil-injil yang telah dipengaruhi ajaran Paulus.

    Kenyataan yang terlihat adalah bahwa ajaran-ajaran Paulus dan 4 injil adalah produk Gnostik. Mengenai faham Gnostik dibalik ajaran-ajaran Paulus, baiklah kita melihat uraian tokoh berbobot Graham Stanton. Stanton bukanlah tokoh asing dalam studi Perjanjian Baru, sebab ia adalah Profesor Studi Perjanjian Baru dari King’s College, University of London sejak tahun 1977. Dan pada periode tahun 1995-1996 ia dipilih sebagai Presiden Masyarakat Internasional Ahli Perjanjian Baru ‘Studiorum Novi Testamenti Societas.’ Ia mengemukakan bahwa pandangan Gnostik mempercayai:

    “Dunia adalah tempat yang jahat, diciptakan oleh Tuhan yang jahat, dan yang berbeda dari Tuhan yang benar dan Esa. Pengikut Gnostik menganggap diri mereka sebagai keturunan Tuhan yang esa itu, dan sebagai percikan ilahi yang terkurung dalam dunia yang jahat ini. Kristus dikirim untuk mengingatkan pengikut Gnostik mengenai hakekat diri mereka yang sebenarnya. Kristus memberitakan rahasia (gnosis) pada para pengikut Gnostik agar mereka dapat melepaskan diri dari dunia yang jahat ini dan kembali kepada Tuhan yang benar.”

    Nafas gnostikisme dari surat-surat Paulus dan 4 injil dapat kita lihat dalam ayat-ayat yang kemudian dijadikan pemikiran Gereja Trinitarian. Misalnya mengenai Yesus, yang mereka anggap Kristus, yang memberitakan pengetahuan rahasia (gnosis) pada para pengikutnya. Hal ini bisa kita lihat dalam ayat-ayat seperti pada Mat. 13:11, Mrk. 4:11, Luk. 8:10, Ef. 3:4, Kol. 1:26-27, 2:2-3, 4:3, dsb.

    Jawab Yesus: “Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Sorga, tetapi kepada mereka tidak.” [Mat. 13:11]

    Jawab-Nya: “Kepadamu telah diberikan rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang luar segala sesuatu disampaikan dalam perumpamaan,” [Mrk. 4:11]

    Lalu Ia menjawab: “Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang lain hal itu diberitakan dalam perumpamaan, supaya sekalipun memandang, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti.” [Luk. 8:10]

    Apabila kamu membacanya, kamu dapat mengetahui dari padanya pengertianku akan rahasia Kristus, [Ef. 3:4]

    yaitu rahasia yang tersembunyi dari abad ke abad dan dari turunan ke turunan, tetapi yang sekarang dinyatakan kepada orang-orang kudus-Nya. Kepada mereka Allah mau memberitahukan, betapa kaya dan mulianya rahasia itu di antara bangsa-bangsa lain, yaitu: Kristus ada di tengah-tengah kamu, Kristus yang adalah pengharapan akan kemuliaan! [Kol. 1:26-27]

    supaya hati mereka terhibur dan mereka bersatu dalam kasih, sehingga mereka memperoleh segala kekayaan dan keyakinan pengertian, dan mengenal rahasia Allah, yaitu Kristus, sebab di dalam Dialah tersembunyi segala harta hikmat dan pengetahuan. [Kol. 2:2-3]

    Berdoa jugalah untuk kami, supaya Allah membuka pintu untuk pemberitaan kami, sehingga kami dapat berbicara tentang rahasia Kristus, yang karenanya aku dipenjarakan. [Kol. 4:3]

    Ucapan mengenai ‘Yesus yang hidup’, bagi pengikut gnostikisme adalah lambang isoteris mengenai kata-kata Yesus yang lebih bermakna bagi pengikut gnostik sebagai kunci keselamatan daripada ajaran kematian dan kebangkitan Yesus. Ucapan seperti ini dapat Anda jumpai seperti pada Mat. 16:16 dan Luk. 24:5-6.

    Maka jawab Simon Petrus: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” [Mat. 16:16]

    Mereka sangat ketakutan dan menundukkan kepala, tetapi kedua orang itu berkata kepada mereka: “Mengapa kamu mencari Dia yang hidup, di antara orang mati? Ia tidak ada di sini, Ia telah bangkit. Ingatlah apa yang dikatakan-Nya kepada kamu, ketika Ia masih di Galilea, [Luk. 24:5-6]

    Pemikiran gnostik telah dianut oleh bangsa Mesir kuno yang mempercayai bahwa Horus adalah Kristus. Peristiwa-peristiwa terpenting dalam gnostikisme semacam ini adalah peristiwa kelahiran Kristus (Christmass), masa dewasa Kristus, penyaliban Kristus, petarungan dengan maut dan kebangkitan Kristus yang berhasil mengalahkan maut. Peristiwa-peristiwa tersebut membuat bangsa Mesir kuno menjadi percaya bahwa Horus adalah Kristus. Pemikiran semacam ini dapat Anda temukan pada 1Kor. 15:3-4.

    Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci; [1Kor. 15:3-4]

    Padahal kalimat seperti ini tiada tertulis dalam Perjanjian Lama. Lalu Kitab Suci yang mana yang Paulus maksudkan? Tentu saja kitab kaum gnostik. Kitab pengetahuan rahasia yang selalu didengung-dengungkan Paulus.

    Baca juga:
    Paulus dan Injil Gnostik

  • PENGHAFALAN DAN PENULISAN AL-QUR`AN

    Pada permulaan Islam, kebanyakan orang bangsa Arab Islam adalah bangsa yang buta huruf, sangat sedikit di antara mereka yang tahu menulis dan membaca. Mereka belum mengenal kertas seperti kertas yang ada sekarang. Perkataan “al waraq” (daun) yang digunakan dalam mengatakan kertas pada masa itu hanyalah pada daun kayu saja. Kata “al qirthas” digunakan oleh mereka hanya merujuk kepada benda-benda (bahan-bahan) yang mereka pergunakan untuk ditulis seperti kulit binatang, batu yang tipis dan licin, pelepah tamar/kurma, tulang binatang dan sebagainya.

    Setelah mereka menaklukkan negeri Persia, yaitu sesudah wafatnya Nabi Muhammad SAW barulah mereka mengenal kertas. Orang Persia menamakan kertas itu sebagai “kaqhid”. Maka digunakan kata itu untuk kertas oleh bangsa Arab Islam semenjak itu. Sebelum Nabi Muhammad atau semasa zaman Nabi Muhammad kata “kaqhid” itu tidak ada digunakan di dalam bahasa Arab, atau pun dalam hadis-hadis Nabi. Kemudian kata “al qirthas” digunakan pula oleh bangsa Arab Islam ini kepada apa yang dinamakan “kaqhid” dalam bahasa Persia itu. Kitab atau buku tentang apapun juga belum ada pada mereka. Kata-kata “kitab” di masa itu hanyalah bermaksud dalam bentuk seperti sepotong kulit, batu atau tulang dan sebagainya. Begitu juga dalam arti kata surat seperti pada ayat 28 dari surah An Naml di bawah.

    “Pergilah dengan surat saya ini, maka jatuhkanlah dia kepada mereka..”

    Begitu juga “kutub” (jama kitab) yang dikirimkan oleh Nabi Muhammad SAW kepada raja-raja di masanya untuk menyeru mereka kepada Islam.

    Walaupun kebanyakkan bangsa Arab Islam pada masa itu masih buta huruf, namun mereka mempunyai ingatan yang sangat kuat. Pegangan mereka dalam memelihara dan meriwayatkan syair-syair dari pujangga-pujangga dan penyair-penyair mereka, ansab (silsilah keturunan) mereka, peperangan-peperangan yang terjadi di antara mereka, peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam masyarakat dan kehidupan mereka tiap hari dan lain-lain sebagainya, adalah kepada hafalan semata-mata. Demikianlah keadaan bangsa Arab di waktu kedatangan Islam itu. Maka dijalankan oleh Nabi Muhammad SAW suatu cara yang amali (praktis) yang selaras dengan keadaan itu dalam menyiarkan Al Quran dan memeliharanya. Tiap-tiap diturunkan ayat-ayat itu, Nabi Muhammad SAW menyuruh menghafalnya dan menuliskannya di batu, kulit binatang, pelepah tamar dan apa saja yang bisa disusun dalam sesuatu surat. Nabi Muhammad menerangkan tertib urut ayat-ayat itu. Nabi Muhammad mengadakan peraturan, yaitu Al Quran sajalah yang boleh dituliskan. Selain daripada Al Quran, Hadis-hadis atau pelajaran-pelajaran yang mereka dengar dari mulut Nabi Muhammad dilarang menuliskannya. Larangan ini bermaksud supaya Al Quran itu terpelihara, jangan campur aduk dengan yang lain-lain yang juga didengar dari Nabi Muhammad.
    Nabi menganjurkan supaya Al Quran itu dihafal, selalu dibaca dan diwajibkannya membacanya dalam solat. Maka dengan itu banyaklah orang yang hafal Al Quran. Surah yang satu dihafal oleh ribuan manusia dan banyak yang hafal seluruh Al Quran. Dalam pada itu tidak ada satu ayatpun yang tidak dituliskan. Kepandaian menulis dan membaca itu amat dihargai dan dianjurkan oleh Nabi Muhammad sehingga baginda bersabda, “Di akhirat nanti tinta ulama-ulama itu akan ditimbang dengan darah syuhada (orang-orang yang mati syahid)” Hal ini menunjukkan bahwa beliau ridho akan penulisan selain Al-Qur’an setelah beliau wafat. Maka tidaklah mengapa penulisan Hadits, ilmu fiqih, dan penulisan ilmu-ilmu lainnya setelah beliau SAW wafat.

    Dalam peperangan Badar, orang-orang musyrikin yang ditawan oleh orang-orang Islam, yang tidak mampu menebus dirinya dengan uang, tetapi mempunyai pengetahuan dalam menulis dan membaca, masing-masing diharuskan mengajar sepuluh orang Muslim agar dapat menulis dan membaca sebagai ganti tebusan. Di dalam Al Quran pun banyak ayat-ayat yang mengutarakan penghargaan yang tinggi terhadap huruf, pena dan tulisan. Contohnya seperti ayat di bawah,

    “Nun, demi pena dan apa yang mereka tuliskan.” (QS. Al-Qalam: 1)

    “Bacalah, dan Tuhanmu amat mulia. Yang telah mengajar dengan pena. Dia telah mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-‘Alaq: 3, 4 dan 5)

    Karena itu bertambahlah keinginan untuk belajar menulis dan membaca di kalangan orang-orang muslim, dan semakin bertambah banyaklah di antara mereka yang pandai menulis dan membaca dan semakin banyaklah orang yang menuliskan ayat-ayat yang telah diturunkan itu. Nabi Muhammad sendiri mempunyai beberapa orang penulis yang bertugas menuliskan Al Quran untuk baginda. Penulis-penulis beliau yang terkenal ialah Ali bin Abi Thalib, Utsman bin Affan, Ubay bin Ka’ab, Zaid bin Tsabit dan Mu’awiyah. Shahabat yang terbanyak menuliskannya ialah Zaid bin Tsabit.

    Dengan demikian, di zaman Nabi Muhammad, terdapat 3 unsur yang tolong-menolong memelihara Al Quran yang telah diturunkan itu:

    1. Hafalan dari mereka yang hafal Al-Quran.

    2. Naskah-naskah Al-Qur’an yang ditulis atas perintah Nabi Muhammad.

    3. Naskah-naskah yang ditulis oleh mereka yang pandai menulis dan membaca untuk mereka masing-masing.

    Dalam pada itu, oleh Jibril diadakan ulangan bacaan sekali setahun. Di dalam ulangan bacaan itu, Nabi Muhammad disuruh mengulang memperdengarkan Al Quran yang telah diturunkan itu. Di tahun baginda wafat, ulangan bacaan itu diadakan oleh Jibril dua kali. Nabi Muhammad sendiri pun sering pula mengadakan ulangan bacaan itu terhadap sahabat-sahabatnya. Maka sahabat-sahabat itu disuruh oleh Nabi Muhammad membacakan atau memperdengarkan Al Quran itu di hadapannya. Ini untuk menetapkan atau memperbetulkan hafalan atau bacaan mereka.

    Ketika Nabi Muhammad wafat, Al Quran itu telah sempurna diturunkan dan telah dihafal oleh ribuan manusia, dan telah dituliskan semua ayat-ayatnya. Ayat-ayat dan surah-surahnya telah disusun menurut tertib urut yang dipertunjukkan sendiri oleh Nabi Muhammad SAW. Mereka telah mendengar Al Quran itu dari mulut Nabi Muhammad berkali-kali, dalam solat, dalam pidato-pidato baginda, dalam pelajaran-pelajaran dan lain-lain, sebagaimana Nabi Muhammad SAW sendiri telah mendengar pula dari mereka. Dalam makna lain, Al Quran adalah dijaga dan terpelihara dengan baik, dan Nabi Muhammad telah mengadakan satu kaidah yang amat praktis untuk memelihara dan menyiarkan Al Quran itu, sesuai dengan keadaan bangsa Arab Islam ketika itu.

  • Pengumpulan Al Qur’an

    Sesudah Nabi Muhammad wafat, umat Islam mengangkat Abu Bakar r.a menjadi khalifah. Pada awal masa pemerintahan beliau, beberapa perkara yang membawa kepada peperangan telah berlaku.

    Di antara peperangan-peperangan yang hebat dan terkenal itu adalah peperangan Yamamah, di mana kebanyakkan tentara Islam yang ikut dalam peperangan ini adalah terdiri dari para sahabat penghafal Al-Quran. Dalam peperangan tersebut, 70 orang penghafal Al Quran telah gugur syahid. Sebelum itu pula, yaitu di zaman Nabi Muhammad, sebanyak jumlah yang sama juga telah gugur syahid para shahabat penghafal Al Quran dalam satu peperangan di sumur Ma’unah dekat Kota Madinah.

    Oleh karena Umar bin Khattab ra merasa khawatir jika para shahabat penghafal Al-Quran yang masih hidup itu syahid dalam peperangan-peperangan yang selanjutnya, yang dapat membawa dampak buruk terhadap penjagaan Al-Quran, maka beliau pergi kepada Abu Bakar ra untuk memperbincangkan perkara tersebut. Dalam buku-buku Tafsir dan Hadits, perbincangan antara Abu Bakar ra, Umar Al-Khattab ra dan Zaid bin Tsabit mengenai pengumpulan Al Quran adalah diterangkan seperti berikut:

    Umar berkata kepada Abu Bakar: “Dalam peperangan Yamamah, para sahabat yang telah hafal Al-Quran telah banyak yang gugur. Aku khawatir akan gugurnya para sahabat yang lain dalam peperangan selanjutnya. Maka shuhuf-shuhuf berisi ayat-ayat Al Quran itu perlu dikumpulkan.”

    Abu Bakar menjawab: “Mengapa aku akan melakukan sesuatu yang tidak diperbuat oleh Rasulullah SAW?”

    Umar menegaskan: “Demi Allah! Ini adalah perbuatan yang baik.”

    Dan Umar ibnu Al-Khattab r.a berulang kali memberikan alasan-alasan kebaikan mengumpulkan Al-Quran ini, sehingga Allah membuka hati Abu Bakar r.a untuk menerima pendapat Umar bin Khattab ra itu. Kemudian Abu Bakar ra memanggil Zaid bin Tsabit dan berkata kepadanya : “Umar mengajakku mengumpulkan Al Quran.”

    Lalu diceritakan oleh Abu Bakar ra segala perbincangannya dengan Umar Al Khattab r.a kepada Zaid bin Tsabit. Kemudian Abu Bakar berkata: “Engkau adalah seorang pemuda yang cerdas yang aku percayai sepenuhnya. Dan engkau adalah seorang penulis wahyu yang selalu disuruh oleh Rasulullah. Oleh karena itu, maka kumpulkanlah ayat-ayat Al-Quran itu.”

    Zaid menjawab: “Demi Allah! Ini adalah pekerjaan yang berat bagiku. Seandainya aku diperintahkan untuk memindahkan sebuah bukit, maka hal itu tidaklah lebih berat bagiku daripada mengumpulkan Al-Quran yang engkau perintahkan itu.”

    Dan selanjutnya dia bertanya kepada Abu Bakar ra dan Umar ra: “Kenapa kalian melakukan sesuatu yang tidak diperbuat oleh Nabi SAW?”

    Abu Bakar ra menjawab: “Demi Allah! Ini adalah perbuatan yang baik.”

    Lalu Abu Bakar ra memberikan alasan-alasan kebaikan mengumpulkan ayat-ayat Al-Quran itu, sehingga menyadarkan Zaid akan kebaikan tersebut. Kemudian, Zaid mengumpulkan ayat-ayat Al-Quran itu dari daun, pelepah kurma, batu tanah keras, tulang dan kulit unta atau kambing dan dari sahabat-sahabat yang hafal Al-Quran. Dalam usaha mengumpulkan ayat-ayat Al Quran itu, Zaid bin Tsabit bekerja amat teliti. Sekalipun beliau adalah hafal Al-Quran seluruhnya langsung dari Rasulullah SAW, tetapi untuk kepentingan pengumpulan Al-Quran yang sangat penting bagi umat Islam itu, beliau masih memandang perlunya memadankan atau menyesuaikan hafalan atau catatan sahabat-sahabat yang lain dengan disaksikan oleh dua orang saksi. Dengan demikian, ayat-ayat Al-Quran yang diturunkan itu seluruhnya telah ditulis oleh Zaid bin Tsabit dalam lembaran-lembaran, dan diikatkannya dengan baik dan benar, tersusun menurut urutan ayat-ayatnya sebagaimana yangtelah ditetapkan oleh Rasulullah SAW. Kemudian Al-Quran tersebut diserahkan kepada Abu Bakar ra. Mushaf ini tetap berada di tangan Abu Bakar ra sampai beliau (Abu Bakar) meninggal dunia. Kemudian mushaf ini dipindahkan ke rumah Umar Al-Khattab dan tetap berada di sana selama pemerintahan beliau sebagai khalifah Islam. Sesudah Umar ibnul Khattab ra meninggal dunia, mushaf itu dipindahkan ke rumah Hafsah, anak perempuan Umar dan isteri Rasulullah sampai masa pengumpulan dan penyusunan Al-Quran di masa Khalifah Usman bin Affan r.a.