Perjanjian Allah dengan Ibrahim

Tuhan telah berjanji kepada Ibrahim sebelum Ibrahim mempunyai keturunan. Dalam kitab Kejadian 12:2-3 dikatakan:
Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat. Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat.”

Dari pernikahannya dengan Sarah, Nabi Ibrahim belum juga dikaruniai anak hingga lanjut usianya. Kemudian Sarah memberikan budaknya kepada Ibrahim untuk dijadikan istri, namanya Hajar. Lalu Hajar pun mengandung dan melahirkan anak. Anak itu diberi nama Ismail, sesuai yang dikatakan malaikat kepadanya, yang berarti Allah Mendengar. Allah Mendengar doa Ibrahim agar dikaruniai keturunan yang akan meneruskan da’wahnya. Dan Allah berjanji akan memberinya keturunan yang akan menjadi bangsa yang besar. Janji Allah itu tergenapi dengan lahirnya Ismail.

Maka jelaslah, bahwa Ismail adalah anak yang dinubuatkan dan akan menurunkan suatu bangsa yang besar. Dalam kitab Kejadian 21:20 dikatakan bahwa Tuhan menyertai anak itu. Ismail adalah anak sulung Ibrahim yang sangat penting. Ini sesuai dengan Alkitab. Dalam tradisi Ibrani, anak sulung mempunyai porsi dua kali lipat dalam hal kehormatan dan juga warisan (Kel. 21:15-17), dan hak tersebut tidak bisa diubah oleh status Ibunya. Anak sulung merupakan simbol kekuatan ayahnya.

Selama 14 tahun, Ismail menjadi anak tunggal Ibrahim. Kemudian, isteri pertama Ibrahim, Sarah, melahirkan anak, Ishak (Kej. 21:1-5).

Nasrani dan Yahudi beranggapan bahwa janji Tuhan hanya untuk Ishak dengan didasarkan pada beberapa ayat seperti Kejadian 17:21 dan 21:12. Muncullah pemikiran menarik. Mungkinkah penulis Kejadian memasukkan pernyataan seperti itu untuk keuntungan klannya sendiri sebagai bani Israil? Ketika dua ayat tadi diuji, yaitu dibandingkan dengan ayat-ayat lain dari kitab yang sama, menjadi jelaslah bahwa Ismail juga termasuk dalam perjanjian itu. Perjanjian itu dibuat sebelum Ibrahim mempunyai satu anak pun. Dan perjanjian itu disinggung kembali setelah Ismail lahir dalam Kejadian 17:4. Lebih dari itu, Ismail juga diberkati dengan istimewa dan tentunya diikutkan dalam janji Tuhan. Misalnya dalam Kejadian 21:13 dikatakan:
“Tetapi keturunan dari hambamu itu juga akan Kubuat menjadi suatu bangsa, karena ia pun anakmu.”

Janji di atas dikonfirmasi ulang pada beberapa ayat berikutnya:

“Bangunlah, angkatlah anak itu, dan bimbinglah dia, sebab Aku akan membuat dia menjadi bangsa yang besar.” (Kejadian 21:18)
Allah menyertai anak itu, sehingga ia bertambah besar; ia menetap di padang gurun dan menjadi seorang pemanah.” (Kejadian 21:20)

Ketika Tuhan bicara tentang kebesaran, hal itu tidak selalu berhubungan dengan jumlah. Kehebatan di sini bisa ditemukan dalam keimanan, warisan ruhaniyah dan kepemimpinan religius.

Hal-hal yang juga mengherankan adalah mengapa menurut nasrani dan yahudi hanya satu anak saja yang dimaksud dalam perjanjian? Mengapa tidak keduanya? Keadilan macam apa yang menghapus hak anak sulung hanya untuk menyenangkan keegoisan Sarah dan kecemburuannya? Apakah Sarah juga mendiktekan hasratnya kepada Tuhan?

Berkatalah Sara kepada Abraham: “Usirlah hamba perempuan itu beserta anaknya, sebab anak hamba ini tidak akan menjadi ahli waris bersama-sama dengan anakku Ishak.” (Kejadian 21:10)

Hal itu dinyatakan setelah Ishak disapih. Biasanya orang Ibrani disapih pada umur 2-3 tahun. Maka keesokan paginya, Abraham memberi kepada Hajar makanan dan sebuah kantong kulit berisi air untuk bekal di jalan. Ia meletakkan anak itu pada punggung Hajar, dan menyuruh wanita itu pergi. Lalu berangkatlah Hajar dan mengembara di padang gurun Bersyeba. Ketika air bekalnya habis, Hajar meletakkan anaknya di bawah semak, lalu duduk kira-kira seratus meter dari tempat itu. Katanya dalam hati, “Saya tidak tahan melihat anak saya mati.” Lalu menangislah anak itu. Allah mendengar suara Ismail, dan dari langit malaikat Allah berbicara kepada Hagar, katanya, “Apa yang engkau susahkan, Hagar? Janganlah takut. Allah telah mendengar suara anakmu. Pergilah kepada anakmu, angkat dan tenangkanlah dia. Aku akan menjadikan keturunannya suatu bangsa yang besar. Lalu Allah membuat Hajar melihat dengan jelas, sehingga tampak olehnya sebuah sumur. Maka pergilah ia lalu mengisi kantong kulit itu dengan air, kemudian diberinya anaknya minum. Allah menyertai Ismael. Anak itu bertambah besar; ia menetap di padang gurun Paran (Arab), dan menjadi pemanah yang mahir dalam berburu. (Lihat Kejadian 21:14-20 BIS) Ismail mempunyai 12 anak, salah satu anaknya bernama Kedar.

Ismael mempunyai dua belas anak yang disebutkan di sini menurut urutan lahirnya: Nebayot, Kedar, Adbeel, Mibsam, Misyma, Duma, Masa, Hadad, Tema, Yetur, Nafis dan Kedma. Anak-anak itu menjadi bapak leluhur dua belas suku bangsa, dan desa dan perkemahan mereka disebut menurut nama-nama mereka. (Kejadian 25:13-16)

Dalam ayat-ayat di atas dijelaskan sekali lagi bahwa Allah mendengar Ismail. Sesuai namanya, Allah mendengar, Ismail. Jelaslah bahwa penamaan dari malaikat itu bukanlah suatu hal yang sembarangan, tetapi bagian dari rencana Tuhan. Dan dikatakan bahwa Allah menyertainya.

Kesamaan dengan versi Islam:
1. Ibrahim menerima janji dari Allah (QS. Al-Baqarah: 124)
2. Hajar dan Ismail pindah dari Palestina dan menetap di Paran (Arab).
3. Hajar berlari-lari mencari air untuk Ismail.
4. Tanpa diduga-duga, Hajar menemukan sumber air untuk dirinya dan Ismail.

Perbedaannya, dalam versi Islam dikatakan:

1. Hajar dan Ismail dipindahkan ke Paran atas perintah spesifik dari Allah kepada Ibrahim untuk suatu rencana Ilahiyah, bukan karena Sarah atau Ibrahim merasa sebal terhadap mereka. Bila waktunya tiba, kenabian akan dipindahkan dari bani Israil kepada bani Ismail. Hal ini sesuai dengan Matius 21:43. Tidak hanya itu, kelak, Ismail itulah yang akan membantu Nabi Ibrahim dalam membangun Ka’bah. Jelaslah bahwa Ismail ikut serta dalam perjanjian itu.

2. Hajar dan Ismail ditinggalkan di Arabia, tepatnya Makkah (Bakkah) dan bukan Bersyeba.

3. Peristiwa itu terjadi sebelum Ishak lahir dan bukan setelahnya, yaitu ketika Ismail masih bayi.

Mari Kita Analisa

Apakah Ismail dan Hajar dikirim ke padang tandus sebelum ataukah setelah Ishak lahir? Jika kita menerima versi Alkitab, kita akan menemukan sejumlah inkonsistensi dan kontradiksi. Dalam Kejadian 21:14-19, jelas digambarkan bahwa Ismail masih bayi, artinya Ishak belum dilahirkan.

Jika kita melihat Kejadian 16:16, Ibrahim berumur 86 tahun, ketika Hajar melahirkan Ismail baginya. Dan menurut Kejadian 21:5, Ibrahim berumur 100 tahun ketika Ishak lahir. Artinya, Ismail telah berumur 14 tahun ketika Ishak lahir. Menurut Kejadian 21:8-10, peristiwa itu terjadi setelah Ishak disapih. Berarti Ismail telah berumur 16-17 tahun saat itu.

Namun dalam Kejadian 21:14-19, Ismail pastilah anak bayi yang kecil dan bukan remaja berumur 17 tahun. Perhatikan baik-baik ayatnya:

14 Keesokan harinya pagi-pagi, Abraham memberi kepada Hagar makanan dan sebuah kantong kulit berisi air untuk bekal di jalan. Ia meletakkan anak itu pada punggung Hagar, dan menyuruh wanita itu pergi. Lalu berangkatlah Hagar dan mengembara di padang gurun Bersyeba. 15 Ketika air bekalnya habis, Hagar meletakkan anaknya di bawah semak, 16 lalu duduk kira-kira seratus meter dari tempat itu. Katanya dalam hati, “Saya tidak tahan melihat anak saya mati.” Lalu menangislah anak itu.17 Allah mendengar suara Ismael, dan dari langit malaikat Allah berbicara kepada Hagar, katanya, “Apa yang engkau susahkan, Hagar? Janganlah takut. Allah telah mendengar suara anakmu. 18 Pergilah kepada anakmu, angkat dan tenangkanlah dia. Aku akan menjadikan keturunannya suatu bangsa yang besar.” 19 Lalu Allah membuat Hagar melihat dengan jelas, sehingga tampak olehnya sebuah sumur. Maka pergilah ia lalu mengisi kantong kulit itu dengan air, kemudian diberinya anaknya minum. 20 Allah menyertai Ismael. Anak itu bertambah besar; ia menetap di padang gurun Paran, dan menjadi pemburu yang mahir. (Kej. 21 Alkitab Bahasa Indonesia Sehari-hari)

Ismail pastilah masih bayi saat itu. Tidak mungkin Ibrahim meletakkan Ismail yang remaja ke punggung Hajar. Kemudian dikatakan bahwa Hajar duduk kira-kira seratus meter dari tempat itu. Katanya dalam hati, “Saya tidak tahan melihat anak saya mati.” Lalu menangislah anak itu. Ismail pastilah bayi yang lemah, dan bukannya seorang remaja.
Dikatakan kepada Hajar: “Pergilah kepada anakmu, angkat dan tenangkanlah dia. Aku akan menjadikan keturunannya suatu bangsa yang besar.” Apakah Hajar adalah seorang wanita yang begitu kuat untuk mengangkat Ismail remaja yang sedang menangis? Pastilah Ismail masih bayi saat itu, dan bukan remaja berumur 14-17 tahun.

Dikatakan juga bahwa Hajar mengisi kantong kulit itu dengan air, kemudian diberinya anaknya minum. Remaja yang berbakti tentu akan membawakan air kepada ibunya, dan bukan sebaliknya. Ismail pastilah masih bayi pada saat itu.

Dikatakan juga bahwa Ibrahim meletakkan perbekalan di bahu Hajar. Mengapa Ismail, remaja yang kuat, tidak menawarkan diri untuk membawakan bekal itu? Karena Ismail memang masih bayi saat itu, bukan remaja 17 tahun yang kuat.

Analisa di atas memperlihatkan bahwa Alkitab juga memuat beberapa hal yang benar, namun juga mengandung penambahan dari manusia, penghapusan, pengeditan, dan pengubahan.

Versi Islam dalam hal ini sangat konsisten dari A sampai Z. Ismail adalah seorang bayi, dan Ishak belum dilahirkan ketika peristiwa itu terjadi. Hal ini menjelaskan bahwa kepergian Hajar dan Ismail ke Arab bukanlah atas dikte, egoisme, rasialisme, ataupun kecemburuan Sarah. tetapi atas perintah Tuhan untuk sebuah rencana Ilahiyah.

Tuhan tidak pernah menghapus Ismail dari perjanjian itu. Tuhan tidak membuang Ismail dari garis keturunan Ibrahim. Cerita Sarah yang mengusir Hajar hanyalah cerita fiktif yang ditambahkan orang-orang Yahudi karena kecemburuan dan kesombongan mereka yang merasa sebagai ras terbaik. Akhirnya, batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru: hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita. Tetapi tidak ada yang sulit bagi Tuhan. Kerajaan Allah telah diambil dari bani Israil dan diberikan kepada bani Ismail yang menghasilkan buah Kerajaan itu.

Dan ingatlah, ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam (pemimpin) bagi seluruh manusia”. [QS. Al-Baqarah: 124]

Aku akan memberikan kepadamu keturunan yang banyak dan mereka akan menjadi bangsa yang besar. Aku akan memberkati engkau dan membuat namamu masyhur, sehingga engkau akan menjadi berkat. Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau. Dan karena engkau, semua bangsa akan memohon kepada-Ku supaya memberkati mereka sebagaimana telah Kuberkati engkau. [Kejadian 12:2-3 BIS]

Ya Allah, berkatilah tuan kami, Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberkati tuan kami, Ibrahim.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *