Sabar Sesaat

Pandanglah segala sesuatu dengan tenang. Jangan dengan emosi atau pun terburu-buru (isti’jal). Sabarlah barang sejenak. Agar dapat melihat segala sesuatu dengan lebih jelas. Jika Anda terburu-buru dalam memandang sesuatu, Anda bisa salah tangkap. Ingatlah, isti’jal itu dari syaithon. Sikap tergesa-gesa dapat berakhir penyesalan.

Anda boleh saja bersegera dalam kebaikan. Tetapi bukan terburu-buru. Bersegera itu berbeda dengan terburu-buru. Misalnya Anda membaca suatu artikel yang ‘memprovokasi’ Anda untuk mengomentarinya. Sebaiknya Anda jangan terburu-buru mengomentarinya. Anda harus pahami dulu isi artikel itu dengan baik. Kemudian fikirkan, apakah Anda memang perlu untuk mengomentarinya? Jika ya, fikirkan tentang apa yang harus Anda komentari. Lalu fikirkan, bagaimana bunyi komentar yang tepat? Jika Anda telah yakin, bersegeralah. Jika niat Anda baik, insya Allah, semua akan baik-baik saja. Tetapi jika Anda emosi dan isti’jal. Siap-siaplah menghadapi segala kemungkinan buruk yang sering menimpa mereka yang ceroboh.

Begitu juga dalam kehidupan ini. Sering kita tergesa-gesa dalam bertindak. Akhirnya kita menyesal atas ketergesa-gesaan itu. Sayangnya, walau sering menyesal, kita jarang belajar dan berlatih untuk memperbaiki diri.

Kita jarang mengingat Allah dan memohon pertolongan-Nya agar membimbing kita. Sungguh beruntung mereka yang dibimbing Allah di jalan yang lurus. Maka mohonlah pertolongan-Nya dengan sholat.

Sering dalam shalat, kita tidak khusyu ketika membaca Al-Fatihah. Kita jarang bisa bersabar untuk tidak memikirkan yang lain dalam shalat yang hanya beberapa menit. Di luar shalat, kita juga jarang mengingat-Nya. Lalu bagaimana hati kita bisa peka menerima ‘sinyal sms’ dari Allah yang dikirimkan setiap saat? Hati kita perlu diservis supaya recivernya kembali normal.

Hati yang banyak berdzikir akan peka terhadap bimbingan Allah. Dia akan dapat bersabar dalam segala hal. Tidak reaktif terhadap segala permasalahan, tetapi proaktif dalam menghadapi segala hal.

Shalat akan menjadi pelatihan yang efektif jika kita berusaha untuk benar-benar mendirikannya, dan bukan sekedar mengerjakannya. Shalat akan berdampak pada jiwa dan raga kita. Semakin bagus sholat kita, semakin besar perbaikan yang terjadi. Memang mendirikan sholat itu berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu. Semoga kita dapat terus memperbaiki kualitas sholat kita. Sehingga jadilah kita sebagai pribadi-pribadi sukses. Sukses di dunia, sukses di akhirat. Hayya ‘alash-sholah, hayya ‘alal-falah.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *