Farji adalah kemaluan. Menyentuh farji membatalkan wudhu, dalil-dalilnya antara lain:
pertama :
–عن بُسْرَة بنت صفوان قالت : قال رسول اللّه صلى الله عليه وسلم ” من مس ذكره فلا يصلى حتى يتوضأ ” رواه الخمسة وصححه الترمذى، قال البخارى : هو أصح شىء فى هذا الباب .
dari bushrah bin shafwan berkata : berkata rasulullah SAW : barang siapa yang memegang dzakarnya maka tidak ada shalat baginya sehingga berwudhu ( diriwayatkan oleh khamsah dan dishahihkan oleh tirmidzi. berkata bukhari : ini adalah sanad yang paling shahih
kedua :
عن بسرة أيضا قالت : سمعت رسول اللَّه صلى الله عليه وسلم يقول ” ويتوضأ من مس الذكر” رواه أحمد والنسائى .
dari bushrah : saya mendengar rasulullah SAW berkata : berwudhulah orang yang memegang dzakarnya ( diriwayatkan oleh ahmad dan nasai )
ketiga :
عن أم حبيبة رضى اللَّه عنها عن النبى صلى الله عليه وسلم قال ” من مس فرجه فليتوضأ ” رواه ابن ماجه وصححه أحمد
diriwayatkan oleh umi habibah : saya mendengar rasulallah SAW berkata : barang siapa yang memegang alat kelaimnnya maka berwudhulah
berkata syekh ‘athiyah shaqar :
بناء على الأحاديث الثلاثة الأولى قال جماعة من الصحابة والتابعين بنقض الوضوء بمس الفرج ، وعليه جمهور الفقهاء، على أن يكون المس بغير حائل ، لحديث رواه أحمد وابن حيان والحاكم وصححاه
Atas dasar ketiga hadis diatas, berkata jama’ah shahabat dan tabi’in dg batalnya wudhu karena memegang farji, itu jika memegangya tanpa perantara sebagaimana hadis yang diriwayatkan ahmad dan ibn hibban serta hakim dan di shahihkan oleh keduanya :
من أفض بيده إلى ذكره ليس دونه ستر فقد وجب عليه الوضوء
Barang siapa yang memegang dzakarnya dg tanpa penghalanag, maka wajib baginya untuk wudhu
Perincian pendapat Ulama :
Pendapat yang mengatakan bathalnya wudhu dg menyentuh dzakar/farji :
1) Madzhab maliki berkata : orang2 yang berwudhu jika menyentuh dzakar/farjinya maka menjadi bathal wudhunya. adapun jika menyentuh dzakar/farji orang lain, maka tidak ada masalah dg wudhunya. Dan disyaratkan memegangnya harus dg bagian dalam telapak tangan, sehingga jika memegang dg punggung telapak tangan, tidak ada masalah dg wudhunya.
menurut madzhab maliki juga tidak batal menyentuh farji istrinya, juga menyentuh lubang dubur walaupun memasukkan tangannya ke dalam dubur
2) Menurut madzhab syafi’i : menyentuh dzakar/farji membatalkan wudhu entah itu dzakar sendiri atau milik orang lain. sebagaimana dari madzhab maliki, imam syafi’i juga mensyaratkan menyentuhnya dg bagian dalam telapak tangan, sehingga jika menyentuh dg punggung telapak tangan, tidak membatalkan wudhu. Perbedaanya adalah imam syafi’i tidak membedakan dzakar sendiri atau orang lain, serta tidak membedakan apakah orangnya sudah mati/belum. sehingga dari madzhab syafi’i, menyentuh dzakar/farji itu mutlak membatalkan wudhu tanpa ada perinciannya.
3) dari madzhab ahmad bin hanbal :hampir sama seperti madzhab syafi’iah. bedanya untuk perempuan, jika madzhab syafi’i mutlak membatalkan wudhu dg memegangnya permpuan pada farjinya, sedangkan menurut hanabilah ( hanbali ), tidak membatalkan jika tanpa memasukkan jari kedalam farji
Pendapat yang mengatakan tidak batal :
Yaitu dari madzhab hanafiah
berkata Ulama hanafiah dalam menguatkan pendapatnya :
سئل النبى صلى الله عليه وسلم عن الرجل يمس ذكره : أعليه وضوء ؟ فقال : “إنما هو بضعة منك ” رواه أبو داود والترمذى والنسائى وابن ماجه وأحمد، وصححه عمر بن القلاس ، وقال : هو عندنا أثبت من حديث بسرة ، وصححه ابن حبان
Nabi SAW ditanya tentang laki-laki yang menyentuh dzakarnya : apakah wajib wudhu ? berkata rasulullah SAW : itu adalah bagian dari kamu. diriwayatkan oleh ahmad dan dishahihkan oleh ‘umar. berkata syekh ‘athiyah shaqar : menurut saya hadis ini lebih bisa dijadikan hujah dari hadis busrah. serta dishahihkan oleh ibnu hibban
Oleh karena itu madzhab hanafi menganggap bahwa tidak batal wudhunya jika menyentuh dzakar.
Tarjih
Ulama hanafiah menjawab hadis yang dibawakan oleh jumhur ( syafi’iah, malikiah, dan hanabilah ) bahwa hadis yang yang dibawakan oleh jumhur adalah wudhu secara bahasa, yang artinya membasuh kedua telapak tangan
Adapun jumhur menjawab dalil ulama hanafiah, bahwa hadis yang dibawakan oleh ulama hanafiah didha’ifkan oleh imam syafi’i, dan oleh abu hatim serta abu zur’ah dan daruquthni serta baihaqi lalu oleh ibnu al-jauzi. Oleh ibnu hibban dan ulama yang lain, hujjah yang dibawa oleh ulama hanafiah dianggap mansukh. mereka ( ibnu hibban dan ulama yang lain ) berkata : yang termasuk dalam rawi hadis yang dibawakan oleh ulama hanafiah adalah thalaq bin ‘ali, yang ternyata juga meriwayatkan hadis :
من مس فرجه فليتوضأ ” كما صححه الطبراني
Barang siapa yang menyentuh farjinya, maka berwudhulah.
sehingga ditafsiri : pertama thalaq bin ‘ali mendengar hadis bahwa nabi mengatakan tidak batal, tapi kemudian mendengar lagi nabi mengatakan batalnya menyentuh dzakar/farji. oleh karena itu hadis yang dijadikan oleh ulama hanafiah sebenarnya sudah mansukh. Melihat dari keterangan diatas, maka pendapat yang kuat adalah pendapat jumhur karena kejelasan dilalah hadisnya.
(Writted by Fahmie Ahmad)
Tinggalkan Balasan