Proaktif dan Reaktif

Sikap proaktif adalah sikap seseorang terhadap orang lain yang tidak dipengaruhi oleh sikap orang lain terhadap dirinya, atau tidak dalam mencari keadilan atas sikap orang lain terhadap dirinya. Adapun sikap reaktif adalah sikap seseorang terhadap orang lain yang merupakan aksi balasan atas aksi orang lain kepadanya.

Sikap reaktif, selama tidak melampaui batas keadilan yang Allah tentukan adalah dibolehkan. Namun seorang mu’min akan lebih memilih sikap proaktif. Misalnya ada seseorang memukul orang lain tanpa alasan yang dibenarkan. Adalah dibolehkan bagi orang yang dipukul untuk membalas dengan balasan yang kurang lebih sama. Selama tidak melampaui batas keadilan. Namun ketika seorang mu’min dipukul, ia akan lebih memilih untuk memaafkan dari pada membalas pukulan itu.

Sayangnya, ada sebagian orang yang ketika direndahkan dan ditekan, ia melakukan tindakan reaktif bagaikan pegas yang ditekan ke bawah. Ketika pegas ditekan ke bawah, maka ia akan melompat ke atas sehingga melampaui tingginya sebelum ia ditekan.

Misalkan ada seseorang berkulit hitam bagaikan Sayyidina Bilal bin Rabah. Lalu temannya berkata kepadanya seraya mengejek dan merendahkan, “Hai hitam!” Lalu orang yang berkulit hitam itu berkata dalam hatinya seraya menghibur diri, “Aku memang hitam, tetapi hatiku lebih baik darimu,” atau, “Kulitku memang hitam. Tetapi kemulyaan seseorang terletak pada ketaqwaannya,” atau yang semisalnya. Maka hal ini termasuk reaksi berlebihan. Karena ia membalas kesombongan dengan kesombongan. Ia merasa bahwa hatinya lebih baik dari orang yang menghinanya, atau merasa lebih bertaqwa.

Adapun orang mu’min itu sadar, bahwa mungkin saja orang itu adalah orang yang dipilih Allah untuk mengingatkan dirinya bahwa dia hanyalah hamba, hamba yang lemah dan rendah. Jika dihina manusia saja kita menjadi sedih, lalu bagaimana pula kesedihan dan penyesalan kita ketika menghadap Allah dengan segala amal kita yang hina, dengan ketaqwaan yang rendah, dan ruh yang kotor? Inilah yang mungkin muncul dalam alam pemikiran seorang mu’min. Sehingga timbullah rasa kehambaan, tawadhu, dan kekhusyuan. Yang dia fikirkan bukanlah penilaian manusia, tetapi bagaimana keadaannya di akhirat kelak.

Seorang mu’min yang proaktif akan menyikapi perlakuan yang sama dengan cara yang berbeda. Dia tidak membalas suatu aksi dengan aksi yang sama. Dia dapat memaafkan kesalahan orang lain yang menyakitinya. Terhadap orang seperti ini, Allah malu jika tidak memaafkan kesalahan-kesalahannya. Barangsiapa suka memaafkan hamba, maka Allah lebih suka untuk memaafkan orang itu. Barangsiapa suka menolong sesamanya, maka Allah lebih suka menolongnya. Barangsiapa menyayangi yang di bumi, maka ia akan disayangi Yang di langit.

Ketika Nabi berda’wah ke Tha’if dan mendapat penolakan serta perlakuan zhalim dari penduduk Tha’if, apakah Nabi membalas mereka? Tidak, beliau tidak membalas mereka. Padahal jika beliau mau, maka para malaikat siap membinasakan penduduk Tha’if. Namun Nabi malah mendo’akan mereka dan keturunan mereka. Suatu sikap proaktif dari Sang Nabiyur Rohmah.

Menjelang wafatnya, Nabi mengumpulkan para shahabat dan bertanya kepada mereka, “Adakah diantara kalian yang pernah aku sakiti? Jika ada, majulah dan balaslah sekarang!” Bahkan seorang penghulu para Nabi masih memikirkan hari pembalasan. Betapa tinggi rasa kehambaan beliau. Lalu berdirilah seorang shahabat dan mengatakan bahwa cambuk Nabi SAW pernah mengenai tubuhnya, mungkin tidak sengaja. Dia ingin membalas hal itu. Lalu ramailah para shahabat yang lain melihat sikap shahabat yang satu ini. Di antara para shahabat ada yang meminta shahabat tersebut untuk mengurungkan niatnya, dan yang lainnya bersedia menggantikan Rasul untuk dicambuk. Namun shahabat tersebut bersikukuh, dan Nabi SAW pun tidak mau digantikan oleh shahabat lainnya.

Lalu Nabi SAW menyuruh shahabat lain untuk meminta cambuk beliau kepada Sayyidah Fathimah. Setelah cambuk diberikan, shahabat tersebut meminta agar Nabi SAW membuka bajunya, karena saat terkena cambuk, shahabat tersebut dalam keadaan telanjang dada. Maka Nabi SAW pun membuka bajunya. Shahabat itu pun mendekat. Setelah cukup dekat, shahabat tadi malah menjatuhkan cambuk itu dan mencium perut Nabi SAW. Ternyata dia menggunakan peristiwa tersebut hanya sebagai alasan agar dia mendapat perhatian dari Nabi dan agar Nabi mau membuka bajunya dan mengizinkan dia mendekat dengan leluasa. Maka nyatalah kecintaan shahabat itu. Lalu Nabi bersabda bahwa shahabat tersebut telah dijamin masuk surga.

Ternyata rasa cinta dapat membuat seseorang bersikap berbeda terhadap perkakuan yang sama. Cinta dapat menimbulkan sikap proaktif. Cinta tidak membutuhkan inputan baik untuk menghasilkan output yang baik. Cinta tidaklah pasif, tetapi aktif. Mu’min yang sejati memiliki hati yang penuh cinta kepada Allah dan Rasulnya, rasa sayang kepada sesama muslim, dan rasa kasih kepada sesama manusia dan makhluq Allah. Itulah sebabnya seorang mu’min memiliki sikap proaktif, sesuai dengan kadar iman di dadanya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *