Nama lengkap beliau adalah Abul Hasan Ali bin Isma’il bin Ishaq bin Salim bin Isma’il bin Abdillah bin Musa bin Bilal bin Abi Burdah bin Abu Musa Al-Asy’ari.[1] Datuknya, Abu Musa Al-Asy’ari merupakan salah satu shahabat terkemuka. Menurut beberapa riwayat, Abul Hasan Al-Asy’ari lahir di Bashrah pada tahun 260 H / 875 M. Ketika berusia lebih dari 40 tahun, ia hijrah ke kota Baghdad dan wafat di sana pada tahun 324 H / 935 M.[2]
Menurut ibnu Asakir, ayah Al-Asy’ari adalah seorang yang berfaham Ahlussunnah dan merupakan ahli hadits. Ia wafat ketika Al-Asy’ari masih kecil. Sebelum wafat, ia berwasiat kepada shahabatnya yang bernama Zakaria bin Yahya As-Saji agar mendidik Al-Asy’ari.
Sepeninggal Isma’il bin Ishaq, ibunda Ali bin Isma’il menikah dengan Al-Jubba’i, seorang Mu’tazilah terkemuka, ayah kandung Abu Hasyim Al-Jubba’i. Al-Jubba’i mendidik Ali bin Isma’il menjadi tokoh Mu’tazilah.
Pada usia 40 tahun, Abul Hasan Al-Asy’ari bermimpi bertemu dengan Rasulullah SAW pada malam ke-10, ke-20, dan ke-30 bulan Ramadhan. Dalam tiga mimpinya itu, beliau diperingatkan Rasulullah agar meninggalkan faham Mu’tazilah dan membela faham yang telah diriwayatkan dari beliau.
><
1. Muhammad Imarah, Tayyarat Al-Fikr Al-Islami, Darusy Syuruq, Beirut, 1911, hal. 163.
2. Abdurrahman Badawi, Madzhab Al-Islamiyyin, Dar Ilm li Al-Malayin, 1984, hal. 497.
Tinggalkan Balasan