Siapakah Dzul Qornain?

Konon, sebuah kisah mengenai Dzul Qornain, seorang Raja Diraja berhasrat mencari Maa’ul-Hayah (air kehidupan). Kabar bin kabar menyebutkan bahwa siapa yang dapat meni’mati air kehidupan itu, dia akan dikaruniai Allah masa hidup yang panjang sampai Hari Kiamat.

Beliau bermufakat dengan Perdana Menterinya, Balya ibnu Mulkan (Nabi Khaydir sebelum diangkat menjadi Nabi) agar bersama-sama melakukan perjalanan untuk menemukan sumur air kehidupan itu. Segala sesuatu dipersiapkan, perjalanan dilakukan berdua-duaan tanpa diikuti oleh siapa pun. Balya ibnu Mulkan menjadi penunjuk jalan. Sebelum perjalanan itu dilakukan, Perdana Menteri berpesan kepada Rajanya, “Tuanku, apa pun yang kita temui dalam perjalanan ini janganlah dihiraukan karena hal itu akan menghambat perjalanan kita menuju apa yang kita cari.” Perjalanan ternyata cukup panjang dan memakan waktu cukup lama. Bermacam halangan dan rintangan yang dilewati, tidaklah mereka hiraukan. Dari kejauhan, tampaklah jalan lurus gemerlapan, penuh cahaya yang amat indah. Serasa hilang segala penat dan letih setelah menyaksikan keindahan jalanan itu, namun tujuan belum juga kelihatan.

Ternyata jalanan itu dihiasi permata-permata indah sejauh mata memandang. Dzulqornain serta merta mengambil permata-permata itu dengan penuh nafsu. Beliau masukkan ke dalam karung yang beliau panggul sendiri. Balya ibnu Mulkan berkata, “Tuanku, perjalanan kita masih jauh. Lebih baik tinggalkan saja semua itu.” Dzulqornain menjawab, “Tak apalah, permata-permata ini tidak seberapa beratnya.”

Perjalanan diteruskan, terlihat Raja Dzul Qornain sudah agak letih. Tambah jauh perjalanan, tambah pula rasa beratnya bawaan. Sering sudah perjalanan terhenti untuk menghilangkan penat. Sedikit demi sedikit, bawaan berupa permata itu terpaksa dilemparkan. Namun apa yang terjadi, belum juga sampai ke tujuan, beliau sudah tidak mampu lagi meneruskan perjalanan itu. Raja Dzul Qornain terpaksa kembali ke kerajaan, sedang Balya ibnu Mulkan meneruskan perjalanan beliau untuk menemukan maa’ul hayah. Beberapa lama kemudian setelah peristiwa itu, Raja Dzul Qornain meninggal dunia. Sebelum wafatnya, beliau pernah berpesan, “Bila sampai akhir hayatku, tolong keluarkan kedua tanganku dari peti mati. Agar rakyatku mengetahui bahwa si Dzul Qornain yang mempunyai kerajaan di Timur dan di Barat, yang memiliki kekayaan berlimpah ruah, ternyata bila sampai ajalnya, hanya dengan tangan kosong melompong, tak ada satu pun yang dapat aku bawa.”

Siapakah Dzul Qornain?

Jika hikayat ini benar, maka kelirulah anggapan yang mengatakan bahwa Alexander the Great (Alexander III dari Makedonia) adalah Dzul Qornain yang dimaksud Al-Qur`an. Karena menurut hikayat ini, Balya ibnu Mulkan baru menjadi abadi setelah meminum Air Kehidupan pada masa Dzul Qornain. Sedangkan Balya ibnu Mulkan atau Nabi Khaydir pernah bertemu dengan Nabi Musa. Ini menunjukkan bahwa Dzul Qornain haruslah hidup sebelum atau semasa dengan Nabi Musa. Nabi Musa, menurut suatu sumber dikatakan lahir pada 1393 SM. Sedangkan Alexander the Great hidup jauh setelah Nabi Musa as. Alexander dilahirkan pada 20 Juni 356 SM di Pella, ibu kota Makedonia.

Hikayat ini memang mirip dengan hikayat tentang Qin Shi Huang, kaisar yang meneruskan pembangunan tembok besar Cina dan memerintahkan Xu Fu untuk mencari pil abadi. Tetapi lagi-lagi Qin Shi Huang hidup setelah Nabi Musa, yaitu 260 SM sampai 210 SM.

Kores dg 2 sayap dan 2 tandukAda juga yang mengatakan bahwa Dzul Qornain adalah Kores, atau Kurush, atau Cyrus, pendiri kekaisaran Persia. Kerajaannya terbentang dari Asia Barat Selatan (Libanon, Israel) hingga Pakistan (sekarang), dari Timur Tengah hingga Armenia. Kekuasaannya meliputi Timur Barat Utara Selatan. Kerajaan Persia terkenal dengan logo domba dengan 2 tanduk yang melingkar. Al Maududi mengenai tembok besi untuk menghalang Yajuj dan Majuj berpendapat bahwa Yajuj dan Majuj adalah bangsa barbar yang tinggal di daerah Asia Tengah (seperti Mongol, Tartar, Hun, Scythian) dan, menurut Maududi, Cyrus telah membangun dinding untuk membatasi bangsa yang lebih beradab dari bangsa2 barbar tersebut. Selain itu Cyrus terkenal sebagai raja yang adil dan bijaksana. Bahkan dikabarkan dia melepaskan Bani Israel karena Bani Israel adalah kaum monoteistik dan memerintahkan pembangunan Kuil Sulaiman sebagai tempat penyembahan kepada Tuhan. Pendapat ini dikuatkan oleh Abul Kalam Azad. Namun Kores dilahirkan pada 576 SM.

AkhnatonLalu salah seorang penulis bermanhaj salafy-wahabbi berpendapat bahwa Dzul Qornain adalah Akhnaton atau Akhenaten atau Amenhotep IV atau Amenophis IV. Ini sungguh teory yang aneh dan mencurigakan. Memang benar bahwa Akhnaton menyembah satu tuhan, tetapi yang disembahnya adalah dewa Aton, dewa matahari. Akhnaton bermakna hamba Aton. Aton merupakan dewa matahari yang digambarkan dengan cakra matahari. Akhnaton diklaim sebagai salah satu anggota perkumpulan rahasia yang menjadi cikal bakal perkumpulan Rosicrucian saat ini. Bahkan Akhnaton dianggap sebagai firaun yang paling berjasa bagi Rosicrucian dan paling mendapat pencerahan. Tidak mengherankan jika salafy-wahhabi menganggap Akhnaton sebagai Dzul Qornain mereka dan berusaha meyakinkan ummat Islam akan teory ini. Juga tidak mengherankan jika salafy-wahhabi merusak makam Nabi dan membiarkan Pyramid berdiri dan menjadi tempat studi. Mengingat sejarah salafy-wahhabi dan juga lambang dari salah satu penerbit salafy, maka semua itu tidaklah mengherankan. Lucunya, mereka beranggapan bahwa Akhnaton itulah yang membangun tembok besar di Cina. Setelah menganut geosentris, sekarang mereka mencoba berkata bahwa tembok besar china didirikan pada masa Akhnaton yang wafat sekitar tahun 1336 atau 1334 SM.

Lalu siapakah Dzul Qornain sesungguhnya? Wallahu a’lam. Hingga saat ini, siapa Dzul Qornain sesungguhnya masih belum dapat dipastikan dan masih menjadi rahasia Ilahi. Jika kita mengenyampingkan hikayat di atas dan tidak menjadikan Nabi Khaydir sebagai penasehat Dzul Qarnain, maka Kurusy atau Cyrus mempunyai ciri paling dekat dengan Dzul Qornain. Namun bukan berarti pasti Kurusy itulah sang Dzul Qornain yang dimaksud Al-Qur`an. Sekali lagi, wallahu a’lam.

Komentar

Satu tanggapan untuk “Siapakah Dzul Qornain?”

  1. Avatar wety

    mmmmmmmmhhhhhhhhh

Tinggalkan Balasan ke wety Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *