Dana Dakwah

Atas nama dakwah, sebagian anggota dewan (termasuk dari PKS) bergerak laju mencari sumber-sumber dana. Dakwah memang perlu dana, tak dipungkiri. Namun benarkah mereka demi semata-mata dakwah? Benarkah sudah ditimbang-timbang sesuai syariah? Semoga, dan tidak boleh berburuk sangka! Tetapi, yang pasti dan lebih penting, bahwa dakwah lebih membutuhkan kepada dana yang berkah, dana yang bebas dari haram dan syubhat, atau bebas dari segala keraguan dan ketidakjelasan, agar agama dan dunia terjaga. Dakwah tidak membutuhkan para penggiat yang selalu mencari rukhshah dan alasan darurat, para pelaku yang selalu membidik celah fatwa para ulama mana yang bisa ‘dimainkan’, atau mencari legitimasi ketika bertanya. Tetapi dakwah lebih membutuhkan kepada pelaku yang ikhlas, kuat, jujur, terpercaya, amanah, tidak takut celaan manusia, wara’, sensitif terhadap dosa, ingat mati, dan menggantungkan kemenangan dakwah hanya kepada Allah Ta’ala. Di tangan merekalah kemenangan hakiki akan di raih. Insya Allah.

Dari An Nu’man bin Basyir Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
“Sesungguhnya yang halal telah jelas, dan yang haram telah jelas, dan di antara keduanya ada yang samar-samar, kebanyakan manusia tidak mengetahuinya. Barang siapa yang menjaga dirinya dari syubuhat (samar) maka sesungguhnya dia telah menjaga agama dan harga dirinya. Barangsiapa yang jatuh pada yang syubuhat, maka dia akan terjatuh pada hal yang haram, seperti seorang gembala yang menggembalakan ternaknya di daerah terlarang, maka ia akan nyaris terperosok jatuh ke dalamnya.” (HR. Bukhari, Kitab Al Iman Bab Fadhli Man Istabra’a Li Dinihi, Juz. 1, Hal. 90, No hadits. 50. Muslim, Kitab Al Musaqah Bab Akhdzi al Halal wa Tarki asy Syubuhat, Juz. 8, Hal. 290, No hadits. 2996. Al Maktabah Asy Syamilah)

Kemenangan dakwah dan harakah hanya akan diberikan kepada orang-orang bertaqwa, sebagaimana yang Allah Ta’ala janjikan, ketika menceritakan karakter orang-orang bertaqwa di Madinah pada awal-awal surat Al Baqarah:
“Mereka itulah orang-orang yang memperoleh kemenangan.” [QS. Al Baqarah (2): 5]

Bukan hanya memberikan kemenangan, Allah Ta’ala juga hanya mau menerima amal shalih orang-orang bertaqwa.

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
“Wahai manusia, sesungguhnya Allah itu baik, Dia tidak akan menerima kecuali yang baik-baik.” (HR. Muslim, Kitab Az Zakah Bab Qabul Ash Shadaqah min Al Kasbi Ath Thayyib wa Tarbiyatiha, Juz. 5, Hal. 192, No hadits. 1686. At Tirmidzi, Kitab Tafsirul Quran ‘an Rasulillah Bab wa Min Suratil Baqarah, Juz. 10, Hal. 249, No hadits. 2915. Ahmad, Juz. 17, Hal. 40, No hadits. 7998)

Bagaimanakah orang bertaqwa itu? Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjelaskan:
“Seorang hamba tidaklah sampai derajat bertaqwa, sampai dia meninggalkan apa-apa yang dibolehkan, karena dia hati-hati jatuh kepada hal yang terlarang.” (HR. Tirmidzi, Kitab Shifah Al Qiyamah war Raqa’iq wal Wara’ ‘an Rasulillah Bab Ma Ja’a fi Shifati Awanil Haudh, Juz. 8, Hal. 490, No hadits. 2375. At Tirmidzi berkata: “Hadits ini hasan gharib, saya tidak mengetahui kecuali dari jalur ini.” Ibnu Majah, Kitab Az Zuhd Bab Al Wara’ wat Taqwa, Juz. 12, Hal. 260, No hadits. 4205. Al Hakim, Mustadrak ‘Alas Shahihain, Juz. 18, Hal. 271, No hadits. 8013. Al Hakim berkata: “Hadits ini sanadnya shahih, tetapi Bukhari-Muslim tidak meriwayatkannya.” Syaikh al Albany menyatakan hasan, dalam Misykah al Mashabih, Juz. 2, Hal. 127, No hadits. 2775. Al Maktabah Asy Syamilah)

Maka, sudah sepantasnya bagi pejuang Islam, pejuang partai dakwah, mereka menjadi orang pertama dalam hal kehati-hatian ini. Bukan justru menjadi bahan cemooh manusia -yang seharusnya mereka mendapatkan contoh yang baik- lantaran dengan begitu simplistis mengatakan ‘ini demi dakwah’, lalu secara tidak terkendali bermain api pada proyek, lalu dibahasakan dengan ‘mengawal proyek’, namun orang lain melihatnya sebagai minta jatah, minta persenan, dan lainnya. Sehingga ada kesan ‘kemaruk’ proyek dan menjadi bahan hangat pemberitaan media masa dan pengamat.

Ini semua sudah terjadi. Maka, hati-hatilah! Alih-alih demi maslahat dakwah, ternyata dakwah dan da’inya justru dijauhkan dan diperolok-olok umat karena perbuatan yang mereka sangka baik namun tanpa perhitungan,

Allah Ta’ala telah memperingatkan:
“Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” [QS. Al Kahfi (18): 103-104]

Memang, di zaman serba sulit, banyak manusia yang berputus asa. Sampai-sampai ada yang mengatakan -walau nada gurau-, “Jangankan yang halal, yang haram saja susah.” Ungkapan nihil optimisme ini tidak boleh ada pada pribadi da’i yang telah lulus seleksi salimul aqidah yang meyakini wallahu khairur raaziqiin (Allah-lah sebaik-baiknya pemberi rezeki).

Para da’i sejati yang jujur, dan pemimpin sejati, hanya berani menerima dana untuk dakwahnya dari sumber pendanaan yang pasti kehalalannya dan pasti keamanannya. Tidak lucu jika seorang da’i -karena keluguan dan kelatahannya main proyek- dia memanfaatkan uang yang bukan haknya, bukan pula hak jamaah, dengan dalih demi dakwah, dan dia membeberkan hal itu ketika digeledah KPK! Lalu diberitakan media massa, yang mereka tahu adalah Anda telah memanfaatkan uang negara untuk kepentingan pribadi dan kelompok. Untuk dakwah? Untuk daurah? Mereka tidak mau tahu.

Rasa malu adalah benteng terakhir. Rasa malu membuat pezina mengurungkan niatnya, rasa malu membuat pelaku porno aksi membatalkan aksinya dan rasa malu membuat seorang tokoh harus menjaga citra dirinya. Para da’i adalah orang yang paling berhak menyandang sebagai pemalu. Malu berbuat maksiat, malu jika diam dari kemungkaran, malu tidak shalat berjamaah di Masjid, malu jika menerima uang yang bukan haknya, malu ‘memohon’ jatah mobil baru ke pemda dengan dalih demi operasional dakwah, lagi-lagi dakwah dijadikan alasan, lebih tepatnya dikambinghitamkan.

Hendaklah mereka malu kepada Allah Ta’ala, dan kalau pun sudah tidak malu kepada Allah Ta’ala, malulah kepada malaikat sang pencatat, kalau pun tidak malu kepada malaikat, malulah kepada manusia, kalau pun tidak malu kepada manusia, malulah kepada keluarga di rumah, kalau pun tidak malu kepada keluarga, maka malulah kepada diri sendiri dan hendaklah jujur bahwa apa yang dilakukannya adalah kesalahan, minimal meragukan. Fitrah keimanan akan menolaknya, kecuali jika memang sudah taraf Imanuhum fi Proyekihim (Iman mereka ada pada proyek-proyek mereka).

Maafkan saya jika harus mengatakan seperti yang dikatakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
Sesungguhnya di antara ucapan kenabian yang manusia dapatkan adalah: “Jika kamu tidak lagi mempunyai rasa malu, maka lakukanlah apa saja sekehendakmu.” (HR. Bukhari, Kitab Ahadits Al Anbiya Bab Hadits Al Ghar, Juz.11, Hal. 302, No hadits. 3224. Ibnu Majah, Kitab Az Zuhd Bab Al Haya’, Juz. 12, Hal. 221, No hadits. 4173, semuanya dari jalur Abu Mas’ud. Al Maktabah Asy Syamilah)

Harus Diselamatkan!

Tak ada kata lain, dakwah ini harus diselamatkan jika ingin tidak berakhir sebelum kisahnya selesai. Allah Ta’ala telah menceritakan umat-umat terdahulu yang dimusnahkan-Nya lantaran sikap keras kepala, pembangkangan, dan menghalalkan segala cara.

Sudah sering kita membicarakan ‘Kemenangan Dakwah’. Seharusnya -saat ini- lebih penting kita membicarakan ‘Keselamatan Dakwah’. Bagaimana bisa menang jika eksistensinya terancam. Ya, secara formal masih eksis, tetapi secara nilai dan moral, sudah tidak dianggap oleh manusia. Harus diluruskan dengan evaluasi dan koreksi diri lalu bertobat dan merubah sikap, bukan dengan apologi dan membela diri membabi buta, tak peduli benar salah.

Sayang, jika dakwah ini -yang Syaikh Mutawalli Asy Sya’rawi Rahimahullah katakan laksana pohon yang baik, akarnya menghujam dan dahannya meninggi- harus rubuh lantaran perilaku segelintir orang yang tidak lagi peduli, paling tidak memudar kepekaannya terhadap salah satu perkara penting dalam Islam; yakni halal-haram, khususnya halal-haram dalam mendapatkan uang.

Wallahu A’lam
(Sumber: Perisai Da’wah)

Tambahan:
Seandainya Habib Munzir mau menerima begitu saja tawaran kerjasama dengan salah satu partai dari partai-partai politik, tentu segala aktivitas Majelis Rasulullah tidak akan disibukkan lagi dengan penggalangan dana. Namun Habib Munzir menolak untuk menceburkan diri dalam kancah politik. Karena beliau tidak mau memutus mata-rantai da’wah suci yang sambung menyambung kepada Rasulullah SAW. Dalam sanad beliau, tidak ada satu guru pun yang menceburkan diri dalam dunia politik. Oleh sebab itu, beliau, walau atas nama da’wah, tidak mau menerima dana dari partai jika partai tersebut mengharuskan beliau untuk mendukung kampanye partai tersebut. Habib Munzir tidak pernah memihak salah satu partai pun. Diundang partai mana pun, beliau akan hadir. Tetapi bukan untuk mengajak ummat agar memilih partai bersangkutan. Beliau justeru hanya menyampaikan da’wah kepada Islam, mengajak ummat untuk mengenal syari’ah, mengajak ummat untuk mengenal sang Nabiyur Rahmah. Pernah beliau diundang salah satu partai untuk berceramah. Namun beliau menyampaikan mengenai tabarruk, tawassul, dan sebagainya. Tidak ada sangkut pautnya dengan partai yang mengundang beliau. Semoga Allah menjaga eksistensi da’wah suci ini. Aamiin

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *