Biarkanlah Kekeliruan Saudaramu

Suatu hari, dua orang sahabat, Amir dan Bishri, pergi mendirikan shalat berjama’ah di Masjid. Selesai shalat berjama’ah mereka duduk-duduk di teras Masjid sambil bercengkrama. Saat itulah Amir dengan tegas melihat lambang Masonic di kaos yang dikenakan Bishri.

Amir, sebagai sahabat yang baik tentu menanyakan kepada Bishri, “Apakah kau tahu lambang apa ini?” Bishri berkata, “Aku tidak tahu.” Amir memberitahukan Bishri bahwa itu adalah lambang yang biasa digunakan oleh freemasonry. Menggunakan kaos yang bergambar lambang seperti itu termasuk kampanye memperkenalkan lambang-lambang Masonic agar menjadi familier di kalangan anak muda.

“Tetapi aku bukan Masonic yang ingin mengkampanyekan lambang-lambang Masonic,” ujar Bishri. Amir berkata, “Aku tahu. Tetapi jika kau tetap mengenakan kaos ini, lalu banyak pemuda mencontohmu, bagaimana?” Lalu mereka berdebat cukup panjang, hingga akhirnya Bishri memusuhi Amir.

Amir sudah berusaha menjelaskan sebaik mungkin kekeliruan Bishri. Karena Amir memang sahabat yang baik. Namun Bishri menganggap bahwa tindakan Amir memberitahukan kekeliruan Bishri adalah tindakan yang memicu perdebatan dan merusak persahabatan mereka. Padahal perdebatan yang menyebabkan kerusakan persahabatan itu tidak perlu terjadi jika Bishri tidak keras kepala dan angkuh terhadap Amir.

Bishri merasa bahwa dia telah dianggap sesat oleh Amir. Padahal Amir hanya menganggap Bishri keliru karena setelah tahu bahwa lambang pada kaosnya tidak layak dikenakan Bishri, Bishri tetap bersikeras bahwa kaos itu tetap layak dipakai. Bahkan Bishri menganggap bahwa Amir telah ‘memvonis kafir’ terhadap Bishri. Padahal tidak demikian. Bishri memang terlalu berlebihan dalam memandang tindakan Amir.

Haruskah Amir membiarkan kekeliruan Bishri demi persahabatan mereka? Sahabat macam apa yang membiarkan kekeliruan sahabatnya?

Saudara macam apakah Amir jika dia membiarkan kekeliruan saudara seiman? Pantaskah ia membiarkan Bishri demi persatuan? Persatuan macam apa? Al-Jama’ah itu cuma satu. Mereka yang berjalan pada jalan yang dilalui oleh Rasulullah, para shahabat, dan para pengikut mereka yang berpegang pada tali sanad yang bersambung itulah yang disebut Al-Jama’ah. Al-Jama’ah adalah yang di dalamnya berkumpul Rasulullah, para shahabat, dan para pengikut mereka yang berpegang pada tali sanad yang bersambung.

Saat ini, kita mengenal banyak kelompok pergerakan Islam yang mayoritas anggotanya adalah kaum muda. Dalam masing-masing kelompok pergerakan itu tentu ada kegiatan ta’lim. Namun jarang sekali pembina-pembina ta’lim itu yang sanad ilmunya bersambung kepada Rasulullah. Tidak jarang ilmu-ilmu yang diajarkan di dalamnya merupakan ilmu-ilmu yang tidak sesuai dengan ilmu-ilmu yang diajarkan oleh para ulama yang sanadnya bersambung kepada Rasulullah SAW.

Sayangnya, setiap ulama atau murid dari ulama shahih itu menjelaskan kekeliruan mereka, hal ini dianggap sebagai memecah belah, ‘memvonis sesat’, bahkan ‘takfir’. Betapa teganya mereka menuduh demikian terhadap para pewaris Nabi. Lidah para ulama shahih ini telah bersambung kepada lidah Rasulullah SAW, dan mereka menuduh para pemilik lidah mulya ini sedemikian rupa. Sampai hatikah mereka menuduh seperti itu kepada Rasulullah SAW dengan cara menuduh para pewarisnya sebagai pemecah-belah ummat, sebagai ‘ulama takfir’ dan sebagainya?

Berkata Imam Syafii : “Orang yang belajar ilmu tanpa sanad guru bagaikan orang yang mengumpulkan kayu bakar digelapnya malam, ia membawa pengikat kayu bakar yang terdapat padanya ular berbisa dan ia tak tahu” (Faizhul Qadir juz 1 hal 433)

Berkata pula Imam Atsauri : “Sanad adalah senjata orang mukmin, maka bila kau tak punya senjata maka dengan apa kau akan berperang?”

Berkata pula Imam Ibnul Mubarak : “Pelajar ilmu yang tak punya sanad bagaikan penaik atap namun tak punya tangganya, sungguh telah Allah muliakan ummat ini dengan sanad.” (Faizhul Qadir juz 1 hal 433)

Wahai para penuduh ulama-ulama shahih, tunjukkan sanad kalian jika benar bahwa kalian adalah para pewaris Nabi!

(hotarticle.org)

Komentar

4 tanggapan untuk “Biarkanlah Kekeliruan Saudaramu”

  1. Avatar kakanda

    kl kt teman sayah sih di bilang nya ustadz “ngompol” yang arti nya terdapat ustadz dalam taklim yang “ngomong politik”

    akh sy tanya nih : boleh ga sih umat berpartai? label nya islam / sekuler

    kl sy sendiri males ngomong politik apalagi setelah baca buku ini : “parlemen undercover” (http://ufukpress.com/modules.php?name=Katalog&op=tampilbuku&bid=85)

    dan pemberitaan anggota dpr/dprd sekarang yang kayak gitu ,,,

    mendingan datang ke taklim.majelis dapat ilmu/hikmah lebih bermanfaat

  2. Avatar yukira
    yukira

    allahumma sholli wassalim wabaarik ala`ih…

  3. Avatar klulaku

    Allahumma Sholli Ala Sayyidina Muhammadin Wa’alihi Washohbihi Wasallim.
    Ya Allah ya Rabb, Teguhkan hati ini agar selalu menjadi Muslim yang selalu mengikuti Sunnah NabiMu, Sahabat, dan para Ulama Salafussholih….Amin

  4. Avatar yukira
    yukira

    aminn,,,

    Ya Rabbal Alamiin…

    peliharalah Isnad yaa…

Tinggalkan Balasan ke klulaku Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *