QS. 6:151. Katakanlah: “Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu Yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan, Kami akan memberi rezki kepadamu dan kepada mereka, dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar[1]”. demikian itu yang diperintahkan kepadamu supaya kamu memahami(nya).
QS. 6:152. dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa. dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada sesorang melainkan sekedar kesanggupannya. dan apabila kamu berkata, Maka hendaklah kamu Berlaku adil, Kendatipun ia adalah kerabat(mu)[2], dan penuhilah janji Allah[3]. yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat.
QS. 6:153. dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, Maka ikutilah Dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain)[4], karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.
[1] Maksudnya yang dibenarkan oleh syara’ seperti qishash membunuh orang murtad, rajam dan sebagainya.
[2] Maksudnya mengatakan yang sebenarnya meskipun merugikan Kerabat sendiri.
[3] Maksudnya penuhilah segala perintah-perintah-Nya.
[4] Jalan yang lurus di sini adalah jalan yang sesuai dengan dua ayat sebelumnya. Adapun jalan-jalan yang lain adalah jalan-jalan yang menyelisihi apa yang diajarkan dalam dua ayat sebelumnya.
Kaum salafy menggunakan ayat 153 dari surat Al-An’am sebagai ayat yang mereka klaim mendukung manhaj mereka. Mereka berkata bahwa yang dimaksud dengan “JalanKu” adalah jalan Salafy. Dan siapa yang menyalahi jalan Salafy berarti mereka telah menyimpang dari jalan Allah.
Lihatlah perkataan salah satu dari mereka dalam suatu forum diskusi ketika menanggapi pertanyaan tentang varian Salafy yang setidaknya ada 5 varian:
salafi tidak punya varian….
karena kebenaran cuma satu…jika ada perselisihan dalam suatu masalah maka ketahuilah bahwa yang benar itu hanya satu dan bukan kedua-duanya….jika kita lihat konteksnya manhaj, maka manhaj para sahabat itu adalah sebuah sabil (mufrod) tunggal bukan plural (jama’)
dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain)[152], karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa. (6. Al An’aam : 153)
manhaj salaf itu satu bukan banyak….sementara orang yang menisbatkan diri pada manhaj tersebut ya harus di timbang dengan atsar dari para sahabat…
Padahal dalam ayat tersebut sama sekali tidak disebut jalan Salafy, hanya disebut “JalanKu”. Bagaimanakah “jalan” yang dimaksud? Lihatlah dua ayat sebelumnya. Di situ dikatakan:
1. Janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia. Jangan menyekutukan Allah dengan suatu apa pun. Allah itu Esa, tidak ada sekutu baginya, tidak ada sesuatu yang selevel dengan Allah, tidak ada yang serupa dengan Allah, tidak ada yang semisal dengan Allah. Tidak ada yang pantas disembah kecuali Allah.
2. Berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa. Birrul walidain, berbakti kepada orangtua. Jangan sakiti hati mereka. Senangkan hati mereka. Tetapi jika mereka menyuruh Anda untuk menyekutukan Allah, jangan taati perintah itu. Namun jangan sakiti hati mereka. Tolaklah dengan cara yang lembut.
3. Janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan. Masya Allah, di zaman ini telah banyak kit abaca di Koran atau kita lihat di televise, berita tentang orangtua yang bunuh diri setelah membunuh anak-anaknya, karena himpitan ekonomi. Pernah pula kita mendapat berita tentang seorang ibu yang membunuh anaknya karena takut tak dapat menyekolahkan mereka dan memberi pendidikan yang layak. Padahal Allah melarang yang demikian. Anak-anak adalah titipan Allah. Allah Mahakaya, Dia menitipkan anak-anak kepada orangtuanya bersama rizqi untuk anak tersebut dan juga rizqi bagi orangtua yang merawatnya.
4. Janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi. Di antara perbuatan keji itu adalah meminum khamar, memakai narkotik dan obat-obatan terlarang, berzina, memproduksi dan menyebarkan VCD atau majalah porno, dan sebagainya.
5. Janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah untuk dibunuh melainkan dengan sesuatu sebab yang benar. Janganlah melakukan pengeboman di daerah sipil. Orang yang boleh dibunuh hanyalah yang dibenarkan syara’ untuk dibunuh, seperti orang muhshon yang berzina, orang yang membunuh orang lain tanpa sebab yang dibenarkan seperti pelaku bom Bali. Karena mereka telah membunuh juga Muslim yang ada di situ. Padahal Muslim yang terbunuh tersebut belum tentu boleh dibunuh. Dia tahu bahwa pengeboman seperti itu dapat menyebabkan terbunuhnya orang-orang yang tidak boleh di bunuh, tetapi ia tetap saja melakukan pengeboman dengan alasan membunuh musuh. Musuh yang mana? Apakah kafir dzimmi boleh di bunuh tanpa alasan yang dibenarkan syara’?
6. Janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa. Jangan memakan harta anak yatim, kecuali sekedar untuk makan sederhana jika memang tidak mampu mencari nafqah. Atau boleh meminjamnya untuk modal usaha seperlunya, jangan sampai anak yatim itu terlantar. Dan hasil usaha itu dibagi juga dengan anak yatim sebagai pemilik modal dengan pembagian yang adil.
7. Sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Berlaku jujurlah dalam berniaga, dalam proyek pembangunan, dan sebagainya. Jangan mengurangi takaran, jangan ‘minum aspal’, jangan ‘makan tanah’. Ukurlah tanah dengan jujur, jangan ditambah-tambahi atau dikurang-kurangi. Berlaku adil dan jujurlah dalam ikhtiar mencari nafqah.
8. Apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil, kendatipun ia adalah kerabatmu. Jangan menambah-nambahi atau mengurang-ngurangi perkataan. Jangan nepotisme. Jangan karena masih kerabat, kemudian diterima saja walau bukan ahli di bidang tersebut, sedangkan yang ahli di bidang tersebut malah ditolak karena bukan kerabatnya.
9. Penuhilah janji Allah. Penuhilah janji kita kepada Allah untuk melakukan perintah-Nya, maka Allah juga memenuhi janji-Nya kepada kita. Allah tidak pernah ingkar janji.
Itulah jalan Allah. Maka kelirulah kaum Salafy itu jika mengklaim bahwa ayat tersebut menjelaskan tentang jalan Salafy, dan yang bertentangan dengan jalan Salafy berarti telah menyimpang.
Tinggalkan Balasan