Guntur Romli: Agama Itu Seperti Baju

Pemikirannya tentang pluralisme telah ada sejak kecil. Begitu pula saat nyantri di Pondok Pesantren Darul Aitam, Curah Kalak, Jangkar, Situbondo milik ayahnya. Kemudian, saat tercatat sebagai mahasiswa Departemen Akidah-Filsafat, Fakultas Ushuluddin, Universitas al-Azhar Kairo.

Universitas itu, di mata Guntur, sangat ortodoks namun mengajarkan juga perbandingan agama. “Bagaimana kita mengadili Kitab Perjanjian Lama, Perjanjian Baru, dan lain-lain. Tapi, saya sudah punya pengalaman dengan cekokan soal ini. Dan cekokan yang masuk ke otak saya belum tentu semua benar. Sejak saat itu, saya mulai berhati-hati. Saya terus mencari informasi-informasi di luar sebagai perbandingan,” kata Guntur, Manajer Program Yayasan Jurnal Perempuan.

Menurutnya, bicara soal pluralisme dan toleransi, sebenarnya hal itu sudah tertanam dalam dirinya saat masih dalam asuhan kedua orangtuanya. Ia mengemukakan, pengalamannya selama ini melewati tiga proses.

Proses pertama adalah masa kecilnya. Ayah Guntur, KH Achmad Zaini Romli, adalah seorang kiai yang memiliki pesantren. Sedang ibunya, Hj. Sri Maria Romli memiliki kebebasan sendiri yakni tidak mengenakan jilbab.

“Saya lahir dari sebuah keluarga yang sangat terbuka. Bertetangga dengan keluarga yang beragama Kristen,” kenang Guntur.

Sebuah kenangan masih membekas. Tetangga yang beragama Kristen kerap mengundang keluarganya untuk santap malam di rumahnya. Tapi, sebelum santap malam, tetangganya ini mengantar ayam atau kambing ke rumah Guntur untuk disembelih ayahnya.

“Jadi, ini sepertinya menghilangkan kesan adanya makanan haram dalam jamuan itu. Begitu juga sebaliknya. Itu saya sadar. Ternyata pengalaman itu sangat menarik,” ujarnya.

Ketika masuk di sekolah umum, ia bergaul dengan teman-teman non–Muslim. Saat itu, seorang teman penganut Kristiani membawa buku-buku komik dari Perjanjian Lama.

Saat itu selalu membacanya sekadar sebagai pengetahuan. Saya akhirnya mulai mengenal nama Nabi Daud, Sulaiman, dan lain sebagainya. Nah, setelah ia mendengar cerita dari guru ngaji, pertanyaan-pertanyaan terus berkelebat.

Artinya, ia mulai melihat perbedaan-perbedaan. Tapi, saat itu belum muncul dalam benaknya untuk tidak membaca komik-komik itu. “Bagi saya, dasarnya hanya buku cerita sehingga perlu dibaca. Saya juga tak lalu menghakimi bahwa yang satu salah dan yang lain benar. Yang ada dalam pikiran saya adalah menikmati bacaan itu,” lanjut Guntur.

Begitu pula saat itu ia diajarkan sapaan-sapaan umum seperti Selamat Pagi, dan lain sebagainya. Toleransi antarsesama juga kian terasa. Saat Lebaran, Natal, dan Paskah misalnya.

Kalau ada guru yang beragama Kristen, murid-murid menyampaikan ucapan Selamat Natal. Begitu juga ucapan Lebaran. Ia menilai, sekolah umum merupakan kondisi yang ideal, yang bhinneka dan semua agama bisa masuk.

“Tak tak ada fanatisme dalam keluarga. Ibu saya juga tidak pakai jilbab. Jadi, kan aneh kalau bapa saya kiai tapi istrinya tidak pakai jilbab. Tapi, bapa saya ingin saya maju. Kemudian itu yang menjadi salah satu faktor saya dimasukkan di pesantren modern,” ujar Guntur.

Pada proses kedua, ia mengaku mulai diajarkan semacam doktrin. Mana doktrin Islam yang benar dan mana doktrin Islam yang salah. Kemudian, juga mulai bicara doktrin perbandingan agama.

Proses ketiga terjadi pada awal 1997. Saat itu, ia menuju Malang, Jawa Timur. Ia bermaksud menghadiri pelatihan para ustadz se–Jawa Timur. Saat itu, hadir pula Romo Manguwijaya, Pr dan KH Abdurrahman Wahid. Kedua tokoh itu menjadi pembicara. Di situlah pluralisme Guntur mulai menguat dan jelas terbentuk.

Saat studi di Universitas al-Alzhar, Kairo, ia intens mencari informasi-informasi di luar sebagai perbandingan. Misalnya, membaca buku-buku karya pemikir-pemikir Islam progresif seperti Abu Zed, dan lain-lain. Padahal, sejumlah buku para pemikir Islam progresif itu dilarang di al-Alzhar. Guntur juga berkenalan dengan para ulama Islam, Kristen, dan Yahudi. Misalnya, Mgr Youhanna Qaltah, seorang Uskup Agung di Kairo dan Dr Millad Hanna, seorang penganut Koptik Mesir. Buku terkenal Millad Menyongsong Yang Lain, Membela Pluralisme ia terjemahkan dan diterbitkan kelompok Jaringan Islam Liberal (JIL).

Saat berdiskusi dengan Uskup Qaltah, Guntur menanyakan pandangan tokoh Katolik yang satu ini. Di hadapan filsuf yang belajar Islamic Studies ini, Guntur tak sungkan-sungkan menanyakan pandangan beliau tentang isu Kristenisasi. Sang Uskup juga menyampaikan, ada juga isu Islamisasi.

“Saya bilang, agama itu seperti baju yang kita kenakan sesuai selera. Kadang-kadang kita hanya mementingkan baju. Pertemuan itu, membuat saya semakin tertarik dengan tema pluralisme. Saya mulai baca buku-buku lain yang lebih arif untuk melihat keberagaman agama. Bagaimana prulaitas itu dipahami oleh karena ada persoalan politis dan benturan kepentingan,” jelas Guntur.

Di The Jakarta Post edisi 2 November 2008, Guntur berkata, “I am still optimistic about the future of religious pluralism in Indonesia despite the absence of legal and political certainty and even though the Muslim majority is keeping silent. My optimism comes from my faith that only religious pluralism will humanize human beings.” (Saya masih optimis tentang masa depan pluralisme agama di Indonesia walaupun tidak adanya kepastian hukum dan politik dan meskipun mayoritas Muslim tetap diam. Keoptimisan saya datang dari keyaqinan saya bahwa hanya pluralisme agama yang akan memanusiakan manusia.)

Sekarang Anda tahu ‘kan siapa Mohammad Guntur Romli itu? Dia adalah seorang pluralis liberalis. Dia hanya ingin menjadikan manusia sebagai binatang. Bukankah hanya binatang yang dapat bebas dengan kebebasan seperti yang diajarkan kaum liberalis? Pluralisme dan liberalisme bukan untuk memanusiakan manusia, tetapi sebaliknya, dehumanisasi.

Komentar

4 responses to “Guntur Romli: Agama Itu Seperti Baju”

  1. Avatar Khalili Anwar

    Dialah sosok yang telah jenuh dengan kebenaran yang sejati. Maka dia mulai menggali kebenaran menurut pikirannya. Dialah pribadi yang telah terhijab dengan ilmunya. ilmunya banyak, tetapi cahaya ilmu telah memudar dari dadanya. Jangan mengikuti jalan Guntur Romli saudaraku.

  2. Avatar ujank abdul
    ujank abdul

    Apakah Guntur memiliki maksud tersembunyi?

    Walluhu’alam

  3. Avatar Mrmahesa
    Mrmahesa

    Assalamualaikum..wr..wb.
    Agaknya manusia yg bernama guntur ini terinveksi virus…obatnya,ya harus di install ulang sblm menyebar ke manusia lain.Koq nyeleweng dari apa yg udah tersirat maupun tersurat .Guntur manusia yg hidup di jaman skrg ini,sementara islam sdh ada 1400 thn yg lalu. Emangnya guntuh udah lahir saat itu..? Dan menyaksikan kehidupan Muhammad Saw…?? Tuuur…tur..otak mu bnyak virusnya. Bagi kita muslim yg tdk hidup dan menyaksikan sejarah awal mula islam,cukup Alquran dan hadis shohih sbg patokan dan bukti sejarah. Tuk guntur dan gusdur… Buat agama sndiri aza sonoh…! Jgn bawa2 nama islam bro…!!

  4. Avatar nandy
    nandy

    Jika kita belum tahu warna apa kita sebenarnya maka jangan coba coba masuk kepada warna lain, akibatnya ? warna kita akan tercampur aduk, dan kita sendiri tidak tahu sebenarnya kita berwarna apa?
    Pluralisme, dalam bermasyarakat betul. tetapi masing masing mempunyai warna yang kuat satu sama lian, sehingga akan terlihat indah,
    Pluralisme tapi diri sendiri tidak ada warna yang tegas, maka yang terlihat hanya hitam kelam.
    guntur……. tobaaaaat tobaaaaaaa.

    Pluralism dan plurality memiliki makna yg berbeda. Pluralisme merupakan istilah yg digunakan bagi paham yg mengatakan bahwa semua agama itu benar. Pluralitas merupakan suatu kondisi di mana di suatu tempat terdapat kemajemukan. Kita mengakui kemajemukan di Indonesia. tetapi kita tidak mengakui bahwa semua agama itu benar. Pluralisme hanyalah salah satu racun Zionis yg ingin mendirikan pemerintahan tirani super bengis di dunia. Dan orang seperti Guntur hanyalah jongos tolol yg haus akan kehidupan duniawi semata. Dia menjual jiwanya kepada setan2 Zionis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *