Diriwayatkan oleh Abu Bakrah ra katanya: Ketika kami bersama Rasulullah SAW, baginda telah bersabda: “Maukah aku katakan kepada kamu sebesar-besar dosa besar? Ianya tiga perkara, yaitu menyekutukan Allah, menghardik kedua ibu-bapa dan bersaksi palsu atau kata-kata palsu. [HR. Bukhori, Muslim, Tirmidzi]
Dalam Islam, kejahatan terbesar adalah menyekutukan Allah dan ingkar kepada-Nya. Orang yang musyrik (menyekutukan Allah) dan orang yang kafir (orang yang mengingkari eksistensi Allah) adalah orang-orag yang tidak akan dinilai kebaikannya. Karena kalau pun dinilai, amal shalihnya itu tidak akan dapat digunakan untuk menghapus dosa syirik dan kafir. Karena dosa syirik dan kafir itu sangatlah besar jika dibandingkan kebaikannya. Kebaikan-kebaikan orang kafir/atheis dan musyrik tak sebanding untuk membayar kebaikan-kebaikan Allah kepada mereka. Mereka bahkan mengingkari kebaikan-kebaikan Allah kepada mereka. Lagi pula kebaikan orang kafir itu bukanlah atas dasar cinta kepada Allah. Sehingga amal itu tak bisa dianggap amal shalih, karena amal shalih itu adalah perbuatan baik yang dilakukan atas dasar cinta kepada Allah semata. Pantaslah jika mereka masuk neraka, karena mereka tak mengakui dan tak pula mencintai Allah. Bukankah hukum yang utama adalah cintailah Allah dan jangan sekutukan Dia?
Dan orang-orang yang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. Dan di dapatinya (ketetapan) Allah di sisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya. [QS. An-Nuur: 39]
Katakanlah: “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa“. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Tuhannya“. [QS. Al-Kahfi: 110]
Maka bagi mereka yang telah menyekutukan Allah dengan sesuatu atau bahkan tak mengakui eksistensi Allah, ada satu cara untuk menghapus dosa terbesar ini, yaitu dengan bertaubat dan mengucapkan dua kalimat penyaksian, yaitu bersaksi bahwa tidak ada yang pantas disembah kecuali Allah dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah. Inilah kehidupan yang kekal, yaitu mengakui bahwa Allah itulah satu-satunya Ilah yang benar, dan mengakui bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah. Mulai saat itu, barulah kebaikannya menjadi bernilai. Karena Allah menilai kebaikan orang yang hidup. Sedangkan orang atheis dan yang menyekutukan Allah itu masih berada dalam jurang maut.
Adapun yang mendorong seseorang untuk berbuat dosa adalah hawa nafsu (keinginan daging), bukan dosa asal. Selama hayat/ruh dikandung badan/daging, selama itu pula ruh akan bersentuhan dengan hawa nafsu. Namun, orang yang shalih akan terus berjuang menghadapi hawa nafsunya. Dan dalam Islam, kita dilatih untuk meredam dorongan-dorongan negatif tersebut dan mengubahnya menjadi dorongan-dorongan positif. Diantaranya kita dilatih melalui puasa Ramadhan dan puasa-puasa sunnah seperti puasa pada hari Senin dan Kamis, puasa 6 hari setelah Idul Fitri, puasa pada 10 Muharram (tanggal 10 pada bulan pertama hijriah), dlsb.
Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (kurnia-Nya) lagi Maha Mengetahui. [QS. Al-Baqoroh: 261]
Adapun orang yang berdosa (selain dari pada kafir dan syirik), dia akan sangat mungkin mendapatkan ampunan dari Allah dengan memperbanyak ibadah. Setiap orang yang berbuat satu kebaikan, dalam Islam, dia akan diganjar seperti orang yang melakukan sepuluh kebaikan. Tetapi itu adalah batas minimum. karena ada kebaikan2 tertentu yang dibalas dengan 100 kebaikan, dengan 700 kebaikan, dst.
Diriwayatkan daripada Abu Hurairah ra katanya: Beliau mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Apa pendapat kamu sekiranya terdapat sebatang sungai di hadapan pintu rumah salah seorang dari kamu dan dia mandi di dalamnya setiap hari sebanyak lima kali. Apakah masih lagi terdapat kotoran pada badannya?” Para Sahabat menjawab: “Sudah pastinya tidak terdapat sedikit pun kotoran pada badannya.” Lalu baginda bersabda: “Begitulah perumpamaannya dengan sembahyang lima waktu. Allah menghapuskan segala kesalahan mereka.” [HR. Bukhori dan Muslim]
Diriwayatkan daripada Anas ra katanya: Seorang lelaki berjumpa Nabi SAW lalu berkata: “Wahai Rasulullah! Aku telah melakukan sesuatu yang boleh dikenakan hukum hudud, oleh itu hukumlah aku.” Anas berkata: Sebaik sahaja tiba waktu shalat, lelaki tersebut turut mendirikan shalat bersama-sama Rasulullah SAW. Setelah selesai shalat lelaki tadi berkata: “Wahai Rasulullah! Aku telah melakukan sesuatu yang boleh dikenakan hukum hudud. Oleh itu hukumlah aku sebagaimana yang dinyatakan dalam al-Quran.” Baginda bersabda: “Adakah kamu mendirikan shalat bersama-sama kami?” Lelaki tersebut menjawab: “Ya.” Baginda bersabda: “Kamu telah diampunkan oleh Allah SWT” [HR. Bukhori dan Muslim]
Ketika seorang Muslim mengambil air wudhu (bertahir), dosa-dosanya berguguran. Ketika seorang Muslim shalat, dosa-dosanya berguguran. Selain dosanya berguguran, ia juga diberi pahala kebaikan berlipat-lipat. Juga ketika seorang Muslim berpuasa, bershadaqoh, dsb. Ketika seorang Muslim membaca Al-Qur`an, satu hurufnya akan dibalas dengan 10 kebaikan (good deed). Sedangkan jika seorang Muslim berbuat jahat, maka itu dihitung satu kejahatan (tidak dilipat ganda seperti ketika dia berbuat kebaikan). Benar bahwa Muslim itu bisa saja kejahatannya lebih banyak dari keburukannya. Jika sampai ada seorang Muslim yang masih mampir ke neraka juga, itu pasti disebabkan dia sangat jahat sekali dan tak mau mendengar nasihat agama. Padahal jika dia mau berbuat baik dan memohon ampun kepada Allah, tentunya dosanya akan di hapus dan diganti dengan kebaikan.
Seorang Muslim, walau ia jahat, tak sampai kehilangan tiket untuk masuk surga. Karena tiket untuk memasuki kehidupan abadi yang penuh kebahagiaan itu adalah mengesakan Allah dan mengakui bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah. Selama dia memegang dua kesaksian ini, yang biasa disebut syahadatain, berarti dia masih memegang tiket tersebut. Tetapi ketika dia menyekutukan Allah atau mengingkari eksistensi Allah, maka ia telah kehilangan tiket tersebut dan masuk ke dalam maut. Semoga dapat dipahami.
Kemudian, seorang Muslim itu sudah pasti masuk surga. Namun ada yang langsung masuk surga dan ada juga yang jatuh dulu ke neraka. Orang yang pahalanya lebih banyak dari dosanya, maka ketika melintasi jembatan di atas neraka, dia akan selamat hingga dapat masuk surga.
Sedangkan orang yang dosanya lebih banyak dari amal kebaikannya maka ketika melintas di jembatan di atas neraka ia akan terjatuh. Dia berada di neraka hingga mendapat syafaat/pertolongan dari Nabi Muhammad atau jika syafaat Nabi Muhammad baginya belum juga dapat mengurangi dosanya hingga ke batas yang diperlukan, maka ia akan terus di neraka hingga dosanya lebih sedikit dari amal shalihnya. Setelah itu, dia akan diselamatkan dan masuk surga.
Adapun di surga, seseorang itu menempati tingkatan surga sesuai sisa amal shalihnya. Semakin banyak amal shalihnya, semakin tinggi surga yang di tempatinya. Dan surga yang tertinggi adalah surga para Nabi dan orang-orang yang benar-benar mencintai Nabi dengan benar. Sedangkan mereka yang mengangkat nabi sebagai Tuhan, maka mereka termasuk orang-orang syirik dan tak mendapat bagian dari surga, dan tempatnya di neraka, kecuali jika Allah mengampuninya, dan Allah itu Mahapengampun lagi Mahapenyayang.
Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf (kepada Islam), dan mencegah dari yang munkar (dari kekafiran), dan (kamu) beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman (seperti halnya Abdullah bin Salam), dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. [QS. Ali Imran: 110]