Taubat Seorang Kartini

Ibnu Taymiyah terlanjur dikenal sebagai mujassimah dan ajarannya yang keliru terlanjur diterima para muridnya. Padahal, di akhir hayatnya ia insyaf dari kesalahannya dan bertaubat serta kembali kepada ajaran Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Muridnya yang telah ghuluw dalam kesesatan menganggap bahwa Ibnu taymiyah telah murtad dan halal darahnya. Maka Ibnu taymiyah di bunuh oleh muridnya sendiri sebelum menyebarkan ajaran Ahlus Sunnah yang sesungguhnya.

Itu pula mungkin yang terjadi pada diri Kartini. Menurut sebagian sumber, Kartini menyadari kesalahannya di akhir-akhir hidupnya. Kartini yang sebelumnya tersilaukan dengan ajaran Masonic Eropa tersadar dan mengirim surat yang isinya antara lain:

“…, tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik, tiada taranya. Maafkan kami, tetapi apakah ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna ? dapatkah ibu menyangkal bahwa di balik hal yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal-hal yang sama sekali tidak patut disebut sebagai peradaban?” (Surat Kartini kepada Ny. Abendanon, 27 Oktober 1902)

Namun ajaran Kartini mengenai emansipasi yang kebablasan terlanjur tersiar dan terus disiarkan oleh antek-antek Yahudi seperti Aminah Wadud dan Musdah Mulia. Maka sesungguhnya, yang kami “perangi” bukanlah Ibnu Taymiyah atau pun Kartini, tetapi pemikiran mereka sebelum mereka insyaf dari kesalahan mereka. Tentu mereka akan senang, karena kami berusaha meluruskan apa yang belum sempat mereka luruskan.

Kartini hanya menginginkan persamaan hak dalam pendidikan, agar wanita lebih dapat menjalankan kewajibannya. Bukan perasmaan hak dalam kepemimpinan dan lainnya. Hal ini dinyatakan dalam salah satu suratnya yang berbunyi:

“Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama” (Surat Kartini kepada Prof. Anton Dan Nyonya, 4 Oktober 1902).

Ibu adalah sekolah pertama. Sebelum lahir ke dunia, semua manusia, kecuali Adam, telah “belajar” dalam rahim ibu. Bukankah belajar itu merupakan segala macam proses dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak bisa menjadi bisa? Termasuk proses belajar adalah ketika terbentuknya sel-sel otak yang memungkinkan seseorang menyimpan data. Termasuk proses belajar adalah ketika alam bawah sadar calon bayi dipengaruhi oleh perilaku ibu selama mengandung. Termasuk proses belajar-mengajar adalah ketika sang ibu memasukkan zat-zat yang dapat mempengaruhi kualitas otak dan perilaku bayi yang tengah dikandungnya. Ibu adalah sekolah, tempat belajar pertama. Ibu adalah guru pertama. Ibu adalah pilar negara. Jika para wanita di suatu negeri telah rusak, maka tunggulah kehancuran negeri itu. Namun jika para wanita itu cerdas dan mengerti kewajibannya sebagai seorang wanita, maka lihatlah, kelak akan muncul para pemimpin yang cerdas dan cakap yang akan membawa negerinya kepada kejayaan.

Walalhu a’lam

Komentar

5 tanggapan untuk “Taubat Seorang Kartini”

  1. Avatar aming
    aming

    mungkin orang yahudi pengin ada tokoh emansipasi dari kalangan wanita indonesia jadi ucapan2 kartini diplintir aja. yang penting ada tokohnya

  2. Avatar mamo cemani gombong
    mamo cemani gombong

    ustadz……mohon rujukan kitab tobat dan dibunuhnya ibnu Taimiyah ……..trims

    taubatnya ibnu taymiyah telah dibahas di blog lain spt ummati, salafy tobat, dll. Utk dibunuhnya, saya lupa baca dimana. Afwan, blm ketemu lagi.

  3. Avatar abah zahra
    abah zahra

    @mas mamo
    saya pernah baca kalo ga salah, Ibnu Taimiyah itu terbunuh oleh pemerintahnya sendiri yang pada saat itu dikuasai oleh dinasti mongol ( Hulagu Khan ?? ) karena memberontak….
    Sebelumnya, pasukan mongol menghancurkan dinasti abasiyah dan membumi hanguskan baghdad..
    kaum muslimin pada waktu itu pecah, .. ada yang menerima kedatangan pasukan mongol dan ada juga yang melawan. Ibnu Taimiyah termasuk yang melawan. Kaum muslimin yang menerima kedatangan pasukan mongol beralasan karena dinasti abasiyah sudah di akhir masanya… sultan seorang diktator, kelaparan meraja lela, sultan suka memelihara burung2 yang dihias tetapi banyak rakyat mati kelaparan, korupsi dst..dst… ilmu tidak berkembang, ulama dikekang…
    Pasukan mongol sendiri walaupun bukan bangsa arab adalah pasukan Islam, dan banyak juga ulama2 Islam yang menerima kehadiran mereka ….. Itu sekilas yang saya ingat… mungkin ada ustadz yang bisa menambahkan atau mengkoreksi…. silakan….

    Mungkin ana salah baca, mungkin juga ada beberapa versi mengenai hal ini. Wallahu a’lam

    1. Avatar mamo cemani gombong
      mamo cemani gombong

      makasih @ abah zahra……ana hanya untuk jaga2 kalau para wahabiyun tanya ………biasanya mereka kan banyak tannya namun nggak mau rujuk kalaupun itu insyaAlloh benar ,………tengkyu juga buat admin AI…

      afwan

  4. Avatar ryan
    ryan

    mohon maaf saya org baru’
    benar kata mas mamo apa benar ulama ibnu taimiyah mati di bunuh oleh murid.a yg guluw,
    saya minta rujukan.a ustad , soal.a setau saya ibnu taimiyah meninggal di penjara 🙁 . . .

    wallahu a’lam. tetapi memang pernah ada yg mengatakan bahwa ibnu taymiyyah dibunuh muridnya di dalam penjara. tetapi yg jelas, dalam kitab ibnu taymiyyah dan ibnul qayyim, mengirim pahala utk mayyit itu bukanlah perkara bid’ah.

Tinggalkan Balasan ke aming Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *