BERHARAP KEPADA ALLAH

Mengapa kami tidak akan beriman kepada Allah dan kepada kebenaran yang datang kepada kami, padahal kami sangat ingin agar Tuhan kami memasukkan kami ke dalam golongan orang-orang yang saleh?” (QS. Al-Maa`idah: 84)

 

Ibrahim berkata: “Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhannya, kecuali orang-orang yang sesat”. (QS. Al-Hijr: 56)

 

Katakanlah: “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa”. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”. (QS. Al-Kahfi: 110)

 

(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. (QS. Az Zumar: 9)

 

Berharap kepada Allah timbul disebabkan adanya keyaqinan akan Kasih-Sayang Allah dan PertolonganNya. Untuk memohon kepada Allah kita dapat melakukannya dengan berdo’a, bershabar, shalat, dan beramal shalih. Maka janganlah kita menyembah usaha kita yang sebenarnya hanyalah sarana untuk memohon kepada Allah. Tetapi sembahlah Allah yang telah menciptakan usaha kita sebagai pertolongan dariNya. Sesungguhnya Allah, apabila ingin menunjukkan karuniaNya kepada kita, maka Dia menciptakan amal itu seraya menanamkan (menasabkan) amal itu kepada kita.

 

 

PANTANG MENGELUH ATAU MENYERAH

 

Dan berapa banyak nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar. Tidak ada do`a mereka selain ucapan: “Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir”. (QS. Ali Imran: 146-147)

 

Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya merekapun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari Allah apa yang tidak mereka harapkan. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS. An-Nisaa`: 104)

 

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung. (Q.S. Al-Anfal: 45)

 

Janganlah kamu lemah dan minta damai padahal kamulah yang di atas dan Allah (pun) beserta kamu dan Dia sekali-kali tidak akan mengurangi (pahala) amal-amalmu. (Q.S. Muhammad: 35)

 

Sayyidina Umar bin Khoththob pernah berkata, “Jika kamu bershabar, tetap berlalu ketentuan Allah dan kamu mendapat pahala. Dan jika kamu mengeluh, juga tetap berlalu ketentuan Allah dan kamu mendapatkan dosa.”

 

Musuh manusia yang nyata adalah syaithan. Maka janganlah berputus asa dalam memerangi kehendak syaithoniyah. Dan jangan pula berputus asa dalam menghadapi da’wah para pengikut syaithan. Sungguh, argumentasi para pengikut syaithan itu sangatlah lemah dan mudah dipatahkan. Kami telah sering mengikuti diskusi dengan para pengikut syaithan, dan alasan-alasan mereka lebih didasarkan kepada hawa nafsu, dan bukannya didasarkan kepada aqal sehat. Terkadang mereka akan tetap menyangkal Anda walau pun Anda telah mengemukakan dalil berdasar Kitab Suci mereka dan berdasarkan penafsiran yang benar, bukan berdasarkan penafsiran yang semaunya dan sepotong-sepotong yang sering menimbulkan kontradiksi. Begitulah mereka, mereka menafsirkan Kitab Suci semau hawa nafsu mereka saja. Sehingga sering menimbulkan kontradiksi dengan ayat-ayat lainnya dalam Kitab Suci tersebut. Seandainya mereka mau berfikir secara menyeluruh, dan bukannya secara separuh-separuh (parsial), mungkin mereka akan menemukan kebenaran yang sesungguhnya. Namun demikian, jangan berputus asa dalam menunjukkan mereka kepada kebenaran sejati. Karena mereka berhak untuk mendapatkan pengajaran dari kita tentang kebenaran sejati.