KESETARAAN DAN PERSAUDARAAN DALAM ISLAM

Islam adalah agama yang mengajarkan kesetaraan. Bahkaan Nabi Muhammad saaw bersabda, “Bangsa Arab tidak lebih mulya dari bangsa non-Arab. Bangsa non-Arab tidak lebih mulya dari bangsa Arab.” Walau beliau saaw adalah seorang Arab, tetapi beliau saaw tidak menganggap bahwa bangsa Arab adalah bangsa pilihan Tuhan. Allah berfirman dalam Al-Qur`an:

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS. Al-Hujurat: 13)

Tujuan Allah menjadikan kita berbangsa-bangsa dan bersuku-suku bukanlah supaya kita berbangga-banggaan (ashobiyah/fanatik) dengan suku atau bangsa kita, melainkan supaya kita saling berkenalan satu sama lain, saling memperkenalkan adat kebiasaan yang luhur, dan bukan untuk merendahkan suku/bangsa lain. Karena kemulyaan itu bukan terletak pada kebangsaan seseorang. Melainkan terletak pada ketaqwaannya.

Inilah salah satu kesempurnaan Islam. Hal ini mungkin tidak dapat dijumpai dalam agama-agama lain. Dalam Hindu, kita mengenal kasta. Dalam Alkitab, kita dapat melihat bagaimana Alkitab menyatakan bahwa bangsa Yahudi adalah bangsa terhormat dan bangsa lain adalah bangsa binatang.

(Yesus berkata:) “Kamu menyembah apa yang tidak kamu kenal, kami menyembah apa yang kami kenal, sebab keselamatan datang dari bangsa Yahudi. ” (Yohanes 4:22)

Matius 7:6 “Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi, supaya jangan diinjak-injaknya dengan kakinya, lalu ia berbalik mengoyak kamu.”

Matius 15:26 Tetapi Yesus menjawab: “Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.”
Matius 15:27 Kata perempuan Kanaan itu: “Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya.”

Kami ragu bahwa kalimat-kalimat tersebut keluar dari mulut mulia Nabi Isa as. Rasanya tidak mungkin seorang Nabi utusan Tuhan itu begitu rasis. Jika kita melihat rasisme bangsa Yahudi dalam Alkitab, itu dapat sangat dipahami. Mereka menjadi rasis disebabkan terlalu lama dijajah oleh berbagai bangsa. Rasa dendam yang mendalam ini menjadikan mereka menderita suatu penyakit kejiwaan seperti schizophrenia. Dengan penuh dendam itulah mereka telah mengubah Kitab suci. Sehingga Alkitab yang dipegang Kristiani saat ini sudah tercemar, tak lagi suci. Kitab suci macam apa yang menyebut bangsa Yahudi Zionis sebagai sumber keselamatan?

Di antara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian”, padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, pada hal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta. (QS. Al-Baqarah: 8-10)

Schizophrenia type paranoid adalah penyakit yang sangat berbahaya. Penderita mempunyai kecerdasan yang bekerja dengan baik. Ia melihat dan mendengar segala sesuatu yang terjadi di sekitarnya, tetapi sayang benar, ia memiliki ‘perasaan teraniaya’ dan perasaan cemburu yang keras. Tepatlah jika Ahmad Dhani dan John Lennon menyebut diri mereka sebagai lelaki pencemburu (jealous guy). Penderita penyakit ini sangat mencurigai orang-orang lain di sekelilingnya. Mereka sering terlihat normal. Tetapi setiap perasaan sakit hati yang ditahan-tahan itu timbul, ia tidak ragu-ragu untuk melukai seseorang jika ia berpendapat bahwa orang itu ‘bermaksud jahat terhadapnya’. Bahkan mungkin ia dapat melakukan pembunuhan. Ia memiliki ingatan yang tajam mengenai nama-nama, tanggal-tanggal dan peristiwa-peristiwa. Ia menggunakan semua hal tersebut dalam usahanya untuk ‘membalas dendam’. (Modern Ways to Health oleh Clifford R. Anderson, M.D)

Penderita schizophrenia cenderung perfeksionis. Dia merasa bahwa dirinya atau kelompoknya, sukunya, bangsanya, atau rasnya adalah yang terbaik. Dan dia merendahkan orang atau kelompok lain. Serta merasa bahwa dirinya adalah kebenaran. Sedangkan yang bertentangan dengan dirinya adalah salah. Nabi saaw bersabda, “Kesombongan adalah merasa diri paling baik, merendahkan orang lain, dan menolak kebenaran.”

Kita telah melihat bagaimana sombongnya bangsa Yahudi Zionis. Kita juga telah melihat bagaimana bangsa Mesir kuno di bawah pengaruh Firaun. Atau bangsa Jerman di bawah pengaruh Hitler. Hitler merasa bahwa rasnya adalah yang terbaik. Hitler memang salah satu manusia yang menderita schizophrenia. Maka, tidak mungkin Isa as telah membuat pernyataan rasis seperti itu. Dan tidak mungkin Alkitab itu dapat disebut kitab suci.

Adapun Islam diturunkan untuk menghapuskan rasisme. Bahkan Nabi saaw begitu marah ketika ada seseorang yang mengejek Bilal bin Rabah karena Bilal adalah seorang Habsyi (Ethiopia). Bagi Nabi saaw, apa pun warna kulitnya, semua manusia itu sama. Yang membedakan kemulyaan seseorang dari yang lainnya adalah ketaqwaan mereka kepada Allah. Betapa indah ajaran Islam ini. Nabi saaw tidak menyebut bangsa Ajam (non-Arab) sebagai anjing atau babi. Justeru beliau bersabda, “Tidak ada kelebihan bangsa Arab atas bangsa Ajam, dan tidak ada kelebihan bangsa Ajam atas bangsa Arab.” Maka pahamilah wahai ummat Islam, terutama ummat Islam di Indonesia, bahwa suku yang satu tidak lebih mulya dari suku yang lain! Suku Betawi, Jawa, Sunda, Ambon, Batak, Bugis, atau suku apa pun, selama dia Muslim, dia adalah saudara kita.

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan ni`mat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu, karena ni`mat Allah, sebagai orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. (QS. Ali Imran: 103)

Berhentilah dari menganggap sukumu sebagai suku terbaik! Dan berhentilah dari menganggap suku lain sebagai ‘pembawa kerusakan’! Jauhilah penyakit-penyakit tersebut! Sungguh, penyakit seperti itu adalah sangat mengerikan. Seorang penderita schizophrenia dapat membunuh seseorang yang dianggap sebagai ‘pendosa’ karena pemikiran orang itu berbeda dengan pemikirannya. Padahal, sesuatu yang menurut dia salah, belum tentu salah menurut Tuhan. Dan orang tersebut bukanlah Tuhan yang selalu benar. Bukan pula seorang Nabi yang maksum. Maka jauhilah penyakit tersebut. Dan jadilah kita sebagai orang-orang yang bersaudara!