Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka menamakan dia Imanuel, yang berarti Allah menyertai kita. [Matius 1:23]
Imanuel dapat diartikan sebagai ‘Allah bersama kita’ atau ‘Allah menyertai kita’. Kita tahu bahwa Allah menyertai manusia melalui Yesus, dan Yesus sendiri berkata bahwa siapa yang melihat dia, berarti ia telah melihat Allah. Ini tidak bisa diterima secara harfiah. Akan tetapi siapa yang melihat Yesus dan perbuatannya, maka seseorang akan melihat betapa Allah itu Mahakuasa memberi Yesus segala mukjizat dan tingkah laku yang beradab lagi penuh kasih. Jika kita ingin mengenal bagaimana kasih Allah, maka lihatlah bagaimana kasih Yesus, maka kita akan mengetahui bahwa Allah Mahakasih, sebab Yesus, hamba-Nya saja begitu kasih, apalagi Allah. Begitu juga untuk mengenal sifat Allah yang lainnya, perhatikanlah bagaimana sifat kemulyaan Yesus. Adapun sifat kelemahan Yesus, maka itu bukanlah menggambarkan sifat dan citra Allah, tetapi itu adalah sifat manusiawi Yesus.
Intinya, nama tersebut adalah simbolis. Allah bersama kita, bukan secara harfiah, tetapi melalui hamba-Nya, seperti dalam 2 Kor. 5:19 yang menyatakan: “Bahwa Allah mendamaikan dunia dengan DiriNya melalui Kristus.” Simbolisme seperti ini tidak khusus bagi Yesus. Banyak orang yang diberi nama-nama yang akan menimbulkan masalah besar jika diimani secara harfiah. Apakah kita meyakini bahwa Eliyah adalah “Allah Yahweh” atau bahwa Bithiah, puteri Firaun, adalah saudari Yesus karena namanya adalah ‘puteri Yahweh’? Apakah kita percaya bahwa Dibri, bukannya Yesus, adalah ‘Janji Yahweh’, atau bahwa Eliab adalah Messiah sesungguhnya karena namanya berarti ‘Allahku [adalah] bapa[ku]?” Tentu saja tidak. Adalah kesalahan besar untuk mengakui bahwa arti nama membuktikan kebenaran harfiah. Kita tahu bahwa nama Yesus sangat berarti, yaitu menyampaikan pesan bahwa -sebagai anak Allah dan sebagai citra Allah- Allah menyertai kita melalui Yesus, tetapi nama tersebut tidak menjadikan Yesus sebagai Allah.