Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. [QS. Al-Baqarah: 183]
Alif laam miim. Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka, dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat, Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung (Al-Muflihun). [QS. Al-Baqarah: 1-5]
Menjadi seorang muttaqin adalah suatu hal yang selalu diidam-idamkan setiap muslim. Sebab, kesudahan/akibat yang baik itu adalah bagi orang yang bertaqwa (muttaqin). Dalam surat Al-Baqarah ayat kelima dijelaskan bahwa muttaqin itu adalah orang yang beruntung. Begitu juga dalam surat Al-Qashash Allah Berfirman:
Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa. [QS. Al-Qashash: 83]
Pada bulan Ramadhan, Allah Mendidik hamba-hambaNya untuk menjadi muttaqin. Sehingga setelah keluar dari bulan Ramadhan, mereka menjadi muflihun sepanjang tahun. Dan ketika bertemu dengan Ramadhan kembali, mereka akan dididik kembali agar bertambah ketaqwaan mereka.
BERIMAN KEPADA YANG GHAIB
Pada saat berpuasa, di suatu hari yang panas, di kala tidak ada orang lain di rumah kecuali Anda, saat di kulkas tersedia air yang segar dan juga sirup yang manis rasanya, dan di meja telah tersedia kue-kue yang manis lagi lezat, akankah Anda mengambil minuman dan makanan itu untuk membatalkan puasa sebelum waktunya? Walau tidak ada orang lain, Anda tentu percaya bahwa Allah itu Ada dan Mahamelihat.
Jika sifat seperti ini dibawa dimana pun dan kapan pun, tentunya tidak ada tindak korupsi dan tindak kejahatan lainnya yang merugikan diri sendiri dan orang lain. Nabi pernah bersabda, “Bertaqwalah kamu di mana pun kamu berada.†Salah satu sifat orang bertaqwa itu ialah percaya kepada yang ghaib.
Pernah Sayyidina Umar melihat seorang penggembala yang sedang menggembalakan hewan ternak majikannya. Lalu Sayyidina Umar mendekatinya dan membujuknya agar menjual salah satu hewan ternak itu kepadanya dan tidak usah melaporkannya kepada pemiliknya. Tetapi penggembala itu menolaknya kecuali jika majikannya tahu dan rela untuk menjual salah satu hewan tersebut. Sayyidina Umar membujuknya hingga berkata, “Bukankah majikanmu tidak akan tahu jika hewan ternaknya berkurang satu ekor?†Lalu penggembala itu berkata, “Lalu di mana Allah?†Mendengar itu, Sayyidina Umar menjadi kagum terhadap penggembala tersebut. Penggembala ini menolak ajakan korupsi, padahal ia punya kesempatan besar untuk bisa melakukannya. Itulah ciri orang bertaqwa.
MENDIRIKAN SHALAT
Di bulan Ramadhan ini, jangankan shalat yang wajib, shalat tarawih yang berjumlah 20 rakaat pun dikerjakan. Jika semangat beribadah seperti ini dibawa pada sebelas bulan berikutnya, tentu berkuranglah kejahatan di muka bumi ini. Dalam surat Al-Ankabut ayat 45 dijelaskan bahwa shalat itu dapat mencegah kita dari perbuatan keji dan munkar. Artinya setiap orang yang melaksanakan shalat itu, selain berguguran dosanya sesuai kualitas shalatnya, juga akan dapat menjadi penolong hati nurani dalam menolak ajakan nafsu dan syaithan untuk berbuat keji dan munkar.
MEMBELANJAKAN RIZKI DI JALAN ALLAH
Di bulan Ramadhan ini kita dianjurkan untuk memberi makan untuk berbuka puasa. Juga diwajibkan bagi orang yang mampu untuk berzakat agar ia menunaikan zakat. Dan sesungguhnya Rasulullah saaw itu adalah manusia yang paling dermawan, dan ketika masuk bulan Ramadhan, Rasulullah saaw lebih dermawan lagi.
Ketahuilah, bahwa orang yang bertaqwa itu senantiasa membelanjakan rizki yang dia peroleh untuk digunakan di jalan Allah. Apakah rizki itu berupa ilmu, harta, tubuh yang kuat, ataupun aqal yang cerdas. Dengan inilah seseorang dapat mencapai derajat taqwa dan memperoleh keberuntungan yang agung. Tanyakan saja kepada orang-orang yang sukses secara finansial di dunia ini, apakah mereka menjadi miskin karena berderma, atau justeru kekayaan mereka menjadi langgeng dan berkembang karena derma?
Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu mema`lumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni`mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni`mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. [QS. Ibrahim: 7]
Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (kurnia-Nya) lagi Maha Mengetahui… Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat…Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. [QS. Al-Baqarah: 261, 265, 268]
Jadi, jangan takut menjadi miskin jika Anda bershadaqah dan menggunakan harta di jalan Allah. Allah membalas shadaqah dengan berlipat ganda di dunia ini dan juga di akhirat kelak.
Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebajikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipat gandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar. [QS. An-Nisa`: 40]
Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami. [QS. Al-A’raf: 156]
Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan. [QS. Ali ‘Imran: 148]
BERIMAN KEPADA KITABULLAH
Di bulan Ramadhan, kita dianjurkan untuk memperbanyak membaca Kitabullah yang pamungkas, yaitu Al-Qur`an, yang merupakan penyempurna dari Kitab-Kitab sebelumnya. Dan juga dianjurkan untuk lebih banyak merenungkan dan meresapi ajaran-ajaran Allah dalam Al-Qur`an. Sehingga timbul suatu pemikiran dan sikap serta perbuatan yang berlandaskan pada Al-Qur`an, pedoman bagi setiap muttaqin, dan penjelasan bagi seluruh manusia, baik dia beriman mau pun kafir. Dengan percaya secara total kepada Al-Qur`an dan mengamalkannya tanpa ragu, niscaya seseorang itu akan beruntung di dunia dan di akhirat.
Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa. [QS. Al-Baqarah: 2]
(Al Qur’an) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. [QS. Ali Imran: 138]
BERIMAN KEPADA HARI AKHIR
Seseorang yang percaya kepada adanya hari akhir akan mempersiapkan bekal untuk kehidupannya di kampung akhirat. Orang yang beriman kepada hari akhir akan insyaf bahwa segala perbuatannya di dunia akan dia pertanggung jawabkan di akhirat kelak. Sehingga dia akan lebih berhati-hati lagi dalam bertindak. Sebagaimana seseorang yang berjalan di area penuh ranjau, dia akan melangkah secara hati-hati sesuai dengan arahan orang yang mengetahui di mana tempat yang bisa dilalui secara aman.
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. [QS. Al-Hasyr: 18]
ORANG YANG BERUNTUNG
Orang-orang yang bertaqwa adalah orang-orang yang berjalan di Jalan Lurus (Shirothol Mustaqim). Orang-orang yang bertaqwa adalah mereka yang selalu di bimbing oleh Allah. Mereka bersama-sama dengan orang-orang yang diberi ni’mat oleh Allah berupa Jalan Lurus, yaitu para Nabi dan Rasul, shiddiqin, syuhada, dan sholihin.
Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan ni`mat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. [QS. Al-Fatihah: 6-7]
Dan barangsiapa yang menta`ati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni`mat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. [QS. An-Nisa`: 69]
Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung. [QS. Al-Baqarah: 5]
Sesungguhnya kamu salah seorang dari rasul-rasul, (yang berada) di atas jalan yang lurus, [QS. Ya-Sin: 3-4]
Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [QS. Ali Imran: 31]