Ilmu Tauhid lebih berbicara tentang apa itu iman. Sedangkan Tashawwuf lebih menekankan bagaimana caranya agar dapat merasakan manisnya iman. Tashawwuf lebih kepada dzauq atau perasaan rohaniah. Ketika ditanya tentang ihsan, Nabi menjelaskan bahwa ihsan adalah merasa seakan-akan melihat Allah atau setidaknya merasa dilihat oleh Allah.
Bayangkan ada seorang pemuda berandal sedang duduk di pangkalan ojek bersama teman-temannya sambil bermain judi. Lalu datanglah orangtua dari pemuda tadi menghampiri dan memperhatikan tingkah laku anaknya itu. Namun si pemuda berandal tetap saja meneruskan permainan itu. Padahal dia melihat ayahnya yang sedang bermuka garang. Namun ia seperti tidak melihat saja. Walau dia tahu bahwa ayahnya memandangnya dg mata sangar, si pemuda tetap santai berjudi seakan tidak diperhatikan ayahnya.
Ihsan bukan soal mengetahui bahwa Allah itu Ada dan Mahamelihat, tetapi lebih kepada adab seseorang yang merasa dilihat Allah atau seakan-akan melihat Allah. Walau pemuda berandal tadi tahu bahwa ayahnya ada dan melihat dia, namun adabnya seperti orang yang merasa tidak dilihat ayahnya atau seakan-akan tidak melihat ayahnya.
Adapun muhsinin adalah seperti pemuda yang walau ia tidak melihat ayahnya, namun ia tidak berani minum khamr karena ia merasa seakan-akan ayahnya sedang memata-matainya. Muhsinin adalah mereka yang beribadah seakan-akan mereka melihat Allah atau merasa sangat yaqin bahwa Allah melihat dirinya.
Tashawwuf tidak ada hubungannya dengan klenik. Tashawwuf adalah mendidik diri agar menjadi insan berakhlaq mulya. Muhsinin melihat bahwa orang yang datang kepadanya adalah orang yang digerakkan Allah. Orang yang menimpuknya adalah orang yang digerakkan oleh Allah. Ketika ia ditimpuk, ia tidak marah kepada si penimpuk, tetapi ia malah meneliti dirinya, kiranya kesalahan apa yang telah diperbuatnya hingga ditegur dengan cara seperti itu. Muhsinin akan lebih tenang dalam menghadapi musibah. Karena dia tahu bahwa musibah itu datangnya dari Sang Kekasih.
Pernah salah satu ulama pulang ke kampung halamannya. Dia diikuti oleh orang-orang di kampung itu. Maka ditanyalah kepada mereka, “Mengapa kalian mengikutiku?” Mereka menjawab bahwa mereka mencintainya. Lalu ulama itu menimpuki mereka. Orang-orang itu pun lari menghindari batu-batu yang berterbangan mencari jidat-jidat malang. Penduduk kampung merasa heran dan tidak senang dengan perlakuan sang ulama. Mereka berfikir bahwa jangan-jangan ulama itu telah gila. “Mengapa kalian lari meninggalkanku?” tanya sang ulama. “Bukankah kalian mengaku mencintaiku? Lalu mengapa kalian tidak senang dengan perlakuanku kepada kalian?” lanjut sang ulama.
Seorang Muhsin selalu rela akan keputusan Allah terhadap dirinya. Usaha dan doanya hanyalah bukti atas kefaqirannya, bukti bahwa ia lemah dan selalu membutuhkan Allah. Bagi seorang Muhsin, cukuplah Kemahatahuan Allah terhadap persoalan dan kebutuhan hamba-hamba-Nya.
Ilmu tashawwuf memberikan wawasan spiritual dalam pemahaman tauhid. Penghayatan yang mendalam lewat hati terhadap ilmu tauhid menjadikan ilmu ini lebih teraplikasikan dalam perilaku. Ilmu tashawwuf merupakan penyempurna ilmu tauhid jika dilihat bahwa ilmu tashawwuf merupakan sisi terapan rohaniyah dari ilmu tauhid. Maka pantaslah jika ilmu tashawwuf disebut ilmu ihsan, karena ia membaguskan dan menyempurnakan tauhid seseorang.
Sedangkan ilmu tauhid juga menjadi pengendali ilmu tashawwuf. Jika timbul suatu aliran atau pun thariqoh yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah, maka aliran itu haruslah ditolak.
Tashawwuf tidaklah buruk seperti disangkakan oleh sebagian aktivis da’wah. Justru dia merupakan salah satu ilmu yang wajib dipelajari. Karena ia berhubungan dengan selamatnya amal zhahir dan bathin. Tashawwuf mengajarkan ikhlash beramal, ridho, qona’ah, tawadhu dan tidak ujub. Tanpa mempelajarinya, dikhawatirkan seseorang terjatuh kepada riya’, ujub, sombong, serakah yang membawa kebinasaan, keluh kesah yang melampaui batas, dan hal-hal merusak lainnya. Maka jelaslah akan fardhu ‘ain-nya mempelajari ilmu ini. Karena tanpa ilmu ini, bisa saja ibadah fardhu kita menjadi rusak dan menyebabkan kita celaka. Dengan ilmu ini, sangat mungkin sekali wujudnya ibadah-ibadah fardhu seperti shabar, syukur, tawadhu, dan sebagainya yang memang diperintahkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Penolakan atas ilmu ini muncul dari ketidak-pahaman atas haqiqatnya. Jadi, marilah kita melihat ilmu tashawwuf ini secara jernih! Jika sudah, insya Allah Anda akan memahami bahwa sebagian dari ilmu tashawwuf memang wajib ‘ain untuk dipelajari agar kita tidak binasa, sedangkan sebagian lainnya adalah fardhu kifayah dan sunnah.
Tinggalkan Balasan