Penulis: adminSN

  • Dzul Qornain dan Air Kehidupan

    Konon, sebuah kisah mengenai Iskandar Dzul Qornain, seorang Raja Diraja berhasrat mencari Maa’ul-Hayah (air kehidupan). Kabar bin kabar menyebutkan bahwa siapa yang dapat meni’mati air kehidupan itu, dia akan dikaruniai Allah masa hidup yang panjang sampai Hari Kiamat. (lebih…)

  • Awan Pun Berdzikir

    Pada hari Kamis, 20 Maret 2008, Majelis Rasulullah SAW mengadakan acara perayaan Maulid Nabi Besar Muhammad Rasulullah SAW di lapangan parkir Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat. Acara itu dihadiri juga oleh KH. Ma’ruf Amin (selaku Ketua MUI), dan perwakilan dari beberapa partai yang sengaja diundang oleh Majelis Rasulullah SAW. (lebih…)

  • Dzul Qornain dan Air Kehidupan

    Konon, sebuah kisah mengenai Dzul Qornain, seorang Raja Diraja berhasrat mencari Maa’ul-Hayah (air kehidupan). Kabar bin kabar menyebutkan bahwa siapa yang dapat meni’mati air kehidupan itu, dia akan dikaruniai Allah masa hidup yang panjang sampai Hari Kiamat.

    Beliau bermufakat dengan Perdana Menterinya, Balya ibnu Mulkan (Nabi Khaydir sebelum diangkat menjadi Nabi) agar bersama-sama melakukan perjalanan untuk menemukan sumur air kehidupan itu. Segala sesuatu dipersiapkan, perjalanan dilakukan berdua-duaan tanpa diikuti oleh siapa pun. Balya ibnu Mulkan menjadi penunjuk jalan. Sebelum perjalanan itu dilakukan, Perdana Menteri berpesan kepada Rajanya, “Tuanku, apa pun yang kita temui dalam perjalanan ini janganlah dihiraukan karena hal itu akan menghambat perjalanan kita menuju apa yang kita cari.” Perjalanan ternyata cukup panjang dan memakan waktu cukup lama. Bermacam halangan dan rintangan yang dilewati, tidaklah mereka hiraukan. Dari kejauhan, tampaklah jalan lurus gemerlapan, penuh cahaya yang amat indah. Serasa hilang segala penat dan letih setelah menyaksikan keindahan jalanan itu, namun tujuan belum juga kelihatan.

    Ternyata jalanan itu dihiasi permata-permata indah sejauh mata memandang. Dzulqornain serta merta mengambil permata-permata itu dengan penuh nafsu. Beliau masukkan ke dalam karung yang beliau panggul sendiri. Balya ibnu Mulkan berkata, “Tuanku, perjalanan kita masih jauh. Lebih baik tinggalkan saja semua itu.” Dzulqornain menjawab, “Tak apalah, permata-permata ini tidak seberapa beratnya.”

    Perjalanan diteruskan, terlihat Raja Dzul Qornain sudah agak letih. Tambah jauh perjalanan, tambah pula rasa beratnya bawaan. Sering sudah perjalanan terhenti untuk menghilangkan penat. Sedikit demi sedikit, bawaan berupa permata itu terpaksa dilemparkan. Namun apa yang terjadi, belum juga sampai ke tujuan, beliau sudah tidak mampu lagi meneruskan perjalanan itu. Raja Dzul Qornain terpaksa kembali ke kerajaan, sedang Balya ibnu Mulkan meneruskan perjalanan beliau untuk menemukan maa’ul hayah. Beberapa lama kemudian setelah peristiwa itu, Raja Dzul Qornain meninggal dunia. Sebelum wafatnya, beliau pernah berpesan, “Bila sampai akhir hayatku, tolong keluarkan kedua tanganku dari peti mati. Agar rakyatku mengetahui bahwa si Dzul Qornain yang mempunyai kerajaan di Timur dan di Barat, yang memiliki kekayaan berlimpah ruah, ternyata bila sampai ajalnya, hanya dengan tangan kosong melompong, tak ada satu pun yang dapat aku bawa.”

    Demikianlah sekelumit kisah yang mungkin sekedar tamtsil dan ibarat bahwa perjalanan menuju Hidhratul Qudsiyah agar dapat meni’mati air cinta kasih Allah, haruslah memiliki tekad dan cita-cita yang teguh (istiqomah). Jangan sampai terganggu oleh keadaan yang dilalui.

    Kesimpulan yang dapat ditarik dari kisah ini adalah, permata-permata dunia yang berupa hiburan dan senda gurau adalah halangan yang paling nyata dalam menuju Tuhan, bila penggunaan dan pemanfaatannya melebihi batas dari ketentuan-ketentuan Allah SWT. Selain itu, semua hiasan dan permata dunia itu, pada waktu yang ditentukan akan ditinggalkan semuanya. Wallahu a’lam

  • Awan Pun Berdzikir

    Pada hari Kamis, 20 Maret 2008, Majelis Rasulullah SAW mengadakan acara perayaan Maulid Nabi Besar Muhammad Rasulullah SAW di lapangan parkir Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat. Acara itu dihadiri juga oleh KH. Ma’ruf Amin (selaku Ketua MUI), dan perwakilan dari beberapa partai yang sengaja diundang oleh Majelis Rasulullah SAW.

    Seperti biasa, Habib Munzir membawakan taushiyah-taushiyah yang menyentuh hati. Namun kali ini taushiyah beliau lebih terasa di jiwa setiap hadhirin. Beliau mengisahkan kembali bagaimana sosok Rasulullah SAW sesungguhnya. Bagaimana budi pekerti Rasulullah SAW yang tidak pernah kenyang selama 3 hari berturut-turut. Artinya beliau SAW lebih sering lapar. Bukan karena beliau miskin. Jika beliau mau, beliau bisa menjadikan makanan satu piring cukup untuk mengenyangkan beliau dan keluarganya untuk selama-lamanya. Namun beliau ingin menjadi orang yang pertama kali merasakan lapar sebelum ummatnya merasakan lapar, dan menjadi orang yang terakhir kenyang setelah ummatnya kenyang.

    Kisah demi kisah terus mengundang tangis dari jiwa-jiwa yang mencintai Muhammad Rasulullah SAW. Jiwa-jiwa yang dimabuk rindu itu terus melayang ke langit tertinggi. Cahaya-cahaya indah terpancar dari dada mereka hingga menembus ke ‘Arasy.

    Awan tipis berkumpul untuk menjawab kegundahan Habib Munzir ketika beliau berbisik dalam hati, “Kasihan jama’ah. Mereka duduk di bawah terik Matahari.” Cuaca terik berubah menjadi sejuk dan berangin sepoy-sepoy, seakan alam menyambut para tamu Rasulullah SAW.

    Ketika Habib Munzir mengisahkan akhir-akhir riwayat Rasulullah SAW, beberapa jama’ah melihat awan-awan kecil berkumpul. Perlahan, mereka membentuk lafazh ‘ALLAH’ dalam huruf Arab, lengkap dengan tanda bacanya (harokat).

    Ketika Habib Munzir mengajak jama’ah melafazhkan Asma Allah sebanyak 300 kali, awan itu telah terbentuk dengan jelasnya. Sebagian jama’ah yang tidak mengetahui perihal awan itu terus berdzikir sambil menunduk dan tidak menghiraukan sekelilingnya. Mereka asyik dalam melafazhkan Asma Allah. Jama’ah lainnya dan para pengunjung Monas yang melihat awan itu juga berdzikir sambil memandang tanda keridhoan Allah atas perkumpulan kami hari ini.

    Selepas berdzikir, awan itu pun mulai terhapus. Namun tetap membekaskan kekaguman di hati jama’ah dan pengunjung Monas yang menyaksikannya.

  • Hitler Penganut Katholik Roma

    Photobucket - Video and Image Hosting Penandatanganan Reichskonkordat pada 20 July 1933.
    Dari kiri ke kanan: German Vice-Chancellor Franz von Papen, representing Germany, Giuseppe Pizzardo, Cardinal Pacelli, Alfredo Cardinal Ottaviani,

    Para Jesuit telah mempersiapkan Perang Dunia II secara rahasia dan Hitler adalah mesin perang yang dibentuk dan dibiayai oleh Vatikan untuk menaklukkan dunia demi KeKatolikan Roma. Hitler, Mussolini, dan Franco merupakan pahlawan bagi iman Katolik Roma. Mereka dirancang untuk menang dan menaklukkan dunia, dan membentuk kerajaan seribu tahun bagi Paus. Di belakang layar, para Jesuit mengatur Gestapo. Semuanya ini didokumentasikan dalam ‘The Secret History of The Jesuits’.

    Bacalah pernyataan pers dari diktator Spanyol, Franco, yang diterbitkan pada tanggal 3 Mei 1945, yang merupakan hari kematian Hitler. Artikel itu mengatakan, ”Adolf Hitler, seorang anak Gereja Katolik, meninggal karena mempertahankan Kekristenan.” Kemudian lanjutnya, ”Diatas kematiannya tetap meninggalkan seorang figur dengan moral yang berkemenangan. Karena kemartirannya, Tuhan memberikan Hitler mahkota Kemenangan.”

    Hitler sendiri menyatakan, ”Saya belajar banyak dari Ordo Jesuit. Sampai sekarang, tidak satupun di dunia ini yang lebih besar daripada organisasi gereja Katolik. Saya kagum dengan organisasi ini dan menerapkannya dalam kehidupan partai saya.” (lebih…)

  • Hitler Penganut Katholik Roma

    Photobucket - Video and Image Hosting Penandatanganan Reichskonkordat pada 20 July 1933.
    Dari kiri ke kanan: German Vice-Chancellor Franz von Papen,
    representing Germany, Giuseppe Pizzardo, Cardinal Pacelli,
    Alfredo Cardinal Ottaviani,

    Para Jesuit telah mempersiapkan Perang Dunia II secara rahasia dan Hitler adalah mesin perang yang dibentuk dan dibiayai oleh Vatikan untuk menaklukkan dunia demi KeKatolikan Roma. Hitler, Mussolini, dan Franco merupakan pahlawan bagi iman Katolik Roma. Mereka dirancang untuk menang dan menaklukkan dunia, dan membentuk kerajaan seribu tahun bagi Paus. Di belakang layar, para Jesuit mengatur Gestapo. Semuanya ini didokumentasikan dalam ‘The Secret History of The Jesuits’.

    Bacalah pernyataan pers dari diktator Spanyol, Franco, yang diterbitkan pada tanggal 3 Mei 1945, yang merupakan hari kematian Hitler. Artikel itu mengatakan, ”Adolf Hitler, seorang anak Gereja Katolik, meninggal karena mempertahankan Kekristenan.” Kemudian lanjutnya, ”Diatas kematiannya tetap meninggalkan seorang figur dengan moral yang berkemenangan. Karena kemartirannya, Tuhan memberikan Hitler mahkota Kemenangan.”

    Hitler sendiri menyatakan, ”Saya belajar banyak dari Ordo Jesuit. Sampai sekarang, tidak satupun di dunia ini yang lebih besar daripada organisasi gereja Katolik. Saya kagum dengan organisasi ini dan menerapkannya dalam kehidupan partai saya.” (lebih…)

  • Pengingat Jiwa

    Dalam kitab Tanwirul Qulub dijelaskan bahwa jiwa manusia pada asalnya adalah ‘lathifah Rabbaniyah’ dan dekat sekali hubungannya dengan Allah. Selalu memuja dan memuji serta bertasbih, yang diketahuinya hanyalah Allah semata-mata. Akan tetapi setelah jiwa itu berhubungan dengan jasad, barulah jiwa itu mengerti bahwa ada yang lain (aghyar) lagi selain Allah. Di sinilah titik awal dari apa yang disebut ‘lupa’. Lupa terhadap keaslian dirinya sebagai lathifah Rabbaniyah. Lupa terhadap tugas yang harus diembannya. Hal ini disebabkan ka’inat/aghyar (segala sesuatu yang selain Allah) yang baru diketahuinya itu telah mampu menguasai jiwanya, melekat pada lensa mata hatinya. Di sinilah perlunya peringatan yang dibawa oleh para Rasul. (lebih…)

  • Melihat Tuhan

    Ihsan adalah engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. (HR. Muslim dari Umar bin Khoththob ra)

    Rasulullah menegaskan bahwa seseorang yang beribadah menyembah Allah, seharusnya dapat merasakan ’seakan-akan’ (ka anna) melihat Tuhan. Dalam tata bahasa, ‘ka’ dinamakan harfut-tamtsil, menunjukkan umpama atau contoh. Sedangkan ‘anna’ adalah lit-taukid, untuk menguatkan. Maka artian yang tepat dari kata ‘ka-anna’ adalah ’seperti sungguh-sungguh’. Seorang aktor yang baik harus mampu menunjukkan permainannya seperti sungguhan sesuai dengan peran yang dimainkannya. Ekspresi wajah, vokal, gerak tubuh dan lainnya harus cenderung kepada keadaan sebenarnya. (lebih…)

  • Tajrid dan Kasab

    Ulama sufi yang termasuk dalam kelompok Ahlul Kasyaf di lingkungan Ahlus Sunnah wal Jama’ah, amat mengkhawatirkan adanya orang yang baru selangkah memasuki arena Tasauf sudah berani mengukir kata dan ucapan seperti perkataan Al-Hallaj. Kadang menjadikannya bahan obrolan di kedai kopi. (lebih…)

  • Pengingat Jiwa

    Dalam kitab Tanwirul Qulub dijelaskan bahwa jiwa manusia pada asalnya adalah ‘lathifah Rabbaniyah’ dan dekat sekali hubungannya dengan Allah. Selalu memuja dan memuji serta bertasbih, yang diketahuinya hanyalah Allah semata-mata. Akan tetapi setelah jiwa itu berhubungan dengan jasad, barulah jiwa itu mengerti bahwa ada yang lain (aghyar) lagi selain Allah. Di sinilah titik awal dari apa yang disebut ‘lupa’. Lupa terhadap keaslian dirinya sebagai lathifah Rabbaniyah. Lupa terhadap tugas yang harus diembannya. Hal ini disebabkan ka’inat/aghyar (segala sesuatu yang selain Allah) yang baru diketahuinya itu telah mampu menguasai jiwanya, melekat pada lensa mata hatinya. Di sinilah perlunya peringatan yang dibawa oleh para Rasul.

    Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman. (QS. Adz-Dzariyat: 55)

    Melaksanakan apa yang diingatkan oleh Rasulullah, berupa larangan dan perintah, merupakan pembersih hati, jiwa dan perasaan yang paling tepat dan paling berguna. Jiwa akan kembali menjadi bersih dan suci dan dapat menyaksikan Al-Haqq seperti dahulu. Dapat pula menyaksikan ‘Arasy, Kursiy dan lainnya yang berada dalam alam malakut.

    Syaikh Ahmad ibnu ‘Atho-illah berkata dalam Al-Hikam, “Bagaimana hati akan cemerlang, sedang gambaran dari semua keadaan terlalu lekat pada lensa mata hatinya, atau bagaimana mungkin akan bisa menuju Allah sedang dia sendiri menjadi tunggangan nafsu syahwatnya?”

    Islam mengajarkan kita untuk beribadah yang juga berfungsi mendidik jiwa agar tidak ditunggangi hawa nafsu. Islam juga mengajarkan kita akhlaq yang dapat menepis awan kebendaan yang menghalangi hamba dari memandang Allah dan alam malakut. Ajaran Islam membimbing manusia untuk memurnikan ruh hingga menjadi ruh murni yang mengenal haqiqat dirinya dan menyaksikan Wujud Allah Al-Haqq.

    Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) salat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk, (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya. (QS. Al-Baqarah: 45-46)

    Shalat mengajarkan kita untuk khusyu, fokus kepada Allah dan melupakan yang lain. Membersihkan ruh dari yang selain Allah. Orang-orang yang khusyu akan dapat menemui Tuhannya. Namun kebanyakan kita sholat dalam keadaan tidak khusyu. Ini menunjukkan bahwa ruh kita masih terlalu asyik dengan yang selain Allah. Kita masih harus lebih banyak lagi menyebut Namanya agar hanya Dia yang ada dalam diri kita. Sehingga ruh kita menjadi murni dari yang selain Allah.

    Ketika ruh telah menjadi murni, maka sirnalah tubuhnya yang fana dari pandangannya bersamaan dengan sirnanya alam dunia. Tersadarlah ia seperti tersadarnya seseorang dari mimpinya. Maka ia melihat alam yang lebih nyata, alam malakut. Ketika ruhnya bertambah murni, ia akan melihat Allah ‘Azza wa Jalla.

    Baca juga:
    Keni’matan Menyebut Asma Allah