Penulis: adminSN

  • Video Maulid Di Monas

    Pada hari Kamis, 20 Maret 2008, Majelis Rasulullah SAW mengadakan acara perayaan Maulid Nabi Besar Muhammad Rasulullah SAW di lapangan parkir Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat. Acara itu dihadiri juga oleh KH. Ma’ruf Amin (selaku Ketua MUI), dan perwakilan dari beberapa partai yang sengaja diundang oleh Majelis Rasulullah SAW.

    Seperti biasa, Habib Munzir membawakan taushiyah-taushiyah yang menyentuh hati. Namun kali ini taushiyah beliau lebih terasa di jiwa setiap hadhirin. Beliau mengisahkan kembali bagaimana sosok Rasulullah SAW sesungguhnya. Bagaimana budi pekerti Rasulullah SAW yang tidak pernah kenyang selama 3 hari berturut-turut. Artinya beliau SAW lebih sering lapar. Bukan karena beliau miskin. Jika beliau mau, beliau bisa menjadikan makanan satu piring cukup untuk mengenyangkan beliau dan keluarganya untuk selama-lamanya. Namun beliau ingin menjadi orang yang pertama kali merasakan lapar sebelum ummatnya merasakan lapar, dan menjadi orang yang terakhir kenyang setelah ummatnya kenyang.

    Kisah demi kisah terus mengundang tangis dari jiwa-jiwa yang mencintai Muhammad Rasulullah SAW. Jiwa-jiwa yang dimabuk rindu itu terus melayang ke langit tertinggi. Cahaya-cahaya indah terpancar dari dada mereka hingga menembus ke ‘Arasy.

    Awan tipis berkumpul untuk menjawab kegundahan Habib Munzir ketika beliau berbisik dalam hati, “Kasihan jama’ah. Mereka duduk di bawah terik Matahari.” Cuaca terik berubah menjadi sejuk dan berangin sepoy-sepoy, seakan alam menyambut para tamu Rasulullah SAW.

    Ketika Habib Munzir mengisahkan akhir-akhir riwayat Rasulullah SAW, beberapa jama’ah melihat awan-awan kecil berkumpul. Perlahan, mereka membentuk lafazh ‘ALLAH’ dalam huruf Arab, lengkap dengan tanda bacanya (harokat).

    Ketika Habib Munzir mengajak jama’ah melafazhkan Asma Allah sebanyak 300 kali, awan itu telah terbentuk dengan jelasnya. Sebagian jama’ah yang tidak mengetahui perihal awan itu terus berdzikir sambil menunduk dan tidak menghiraukan sekelilingnya. Mereka asyik dalam melafazhkan Asma Allah. Jama’ah lainnya dan para pengunjung Monas yang melihat awan itu juga berdzikir sambil memandang tanda keridhoan Allah atas perkumpulan kami hari ini.

    Selepas berdzikir, awan itu pun mulai terhapus. Namun tetap membekaskan kekaguman di hati jama’ah dan pengunjung Monas yang menyaksikannya.

    Download Video (RM)

  • Salafush Shalih Pun Bermaulid

    1. Berkata Imam Al Hafidh Ibn Hajar Al Asqalaniy rahimahullah :

    Telah jelas dan kuat riwayat yang sampai padaku dari shahihain bahwa Nabi saw datang ke Madinah dan bertemu dengan Yahudi yang berpuasa hari asyura (10 Muharram), maka Rasul saw bertanya maka mereka berkata : “hari ini hari ditenggelamkannya Fir’aun dan Allah menyelamatkan Musa, maka kami berpuasa sebagai tanda syukur pada Allah swt, maka bersabda Rasul saw : “Kita lebih berhak atas Musa as dari kalian”, maka diambillah darinya perbuatan bersyukur atas anugerah yang diberikan pada suatu hari tertentu setiap tahunnya, dan syukur kepada Allah bisa didapatkan dengan pelbagai cara, seperti sujud syukur, puasa, shadaqah, membaca Alqur’an, maka nikmat apalagi yang melebihi kebangkitan Nabi ini?, telah berfirman Allah swt “SUNGGUH ALLAH TELAH MEMBERIKAN ANUGERAH PADA ORANG-ORANG MUKMININ KETIKA DIBANGKITKANNYA RASUL DARI MEREKA” (QS Al Imran 164)

    (lebih…)

  • Dzikir yang Utama

    Para ulama mengatakan bahwa dzikir yang utama ialah manakala diucapkan oleh lisan dan hati secara serentak. Apabila diperbandingkan antara keduanya, maka berdzikir dengan hati tentu lebih utama ketimbang berdzikir dengan lisan semata-mata.

    (lebih…)

  • Setelah 9/11 Semua Berubah

    Nama Imam Syamsi (di sana biasa ditulis Shamsi), demikian ia biasa disapa, relatif dikenal bagi komunitas Muslim Amerika Serikat, juga bagi warga AS pada umumnya. Syamsi adalah imam Masjid Indonesia di ”ibu kota dunia”, New York. Nama Masjid Indonesia mungkin tak berlaku formal, karena resminya bernama Islamic Center New York. M Syamsi Ali, nama lengkapnya, juga menduduki jabatan Direktur Jamaica Muslim Center dan Ketua Masyarakat Muslim Indonesia. Namun pekerjaan sehari-harinya adalah staf Humas di Perwakilan RI untuk PBB. Kepada wartawan Republika, Nasihin Masha, ia bertutur banyak tentang Muslim di negeri adidaya itu. Berikut ini petikannya. (lebih…)

  • Setelah 9/11 Semua Berubah

    Nama Imam Syamsi (di sana biasa ditulis Shamsi), demikian ia biasa disapa, relatif dikenal bagi komunitas Muslim Amerika Serikat, juga bagi warga AS pada umumnya. Syamsi adalah imam Masjid Indonesia di ”ibu kota dunia”, New York. Nama Masjid Indonesia mungkin tak berlaku formal, karena resminya bernama Islamic Center New York. M Syamsi Ali, nama lengkapnya, juga menduduki jabatan Direktur Jamaica Muslim Center dan Ketua Masyarakat Muslim Indonesia. Namun pekerjaan sehari-harinya adalah staf Humas di Perwakilan RI untuk PBB. Kepada wartawan Republika, Nasihin Masha, ia bertutur banyak tentang Muslim di negeri adidaya itu. Berikut ini petikannya.

    Bagaimana perkembangan Islam pasca 9/11?
    Saya menilai memang ada kecenderungan positif warga Amerika sesudah terjadi 9/11. Sebelum 9/11 mereka acuh tak acuh terhadap agama, jangankan terhadap Islam, terhadap agama kelahiran mereka saja mereka acuhkan. Gereja-gereja kosong, agama tidak lebih perayaan-perayaan sosial semata seperti Natal, dan lain-lain. Sebaliknya, anak-anak muda mereka semakin anti agama, yang dianggap kuno dan menjadi faktor keterbelakangan dan kebodohan.

    Sebelum 9/11, Islam juga tidak terlalu menjadi sorotan. Mayoritas masyarakat tidak tahu apa atau belum pernah mendengar kata Islam itu sendiri. Media-media massa tidak terlalu banyak menyebut Islam, kecuali jika ada hal-hal sensitif yang terjadi di belahan dunia lainnya.

    Setelah 9/11, semua ini berubah. Keinginan untuk tahu Islam menjadi sangat menonjol dan bahkan referensi Islam menjadi jualan paling laris di seantero Amerika Utara. Berbagai kalangan pun berminat untuk mendengarkan secara langsung apa itu Islam, dari gereja-gereja, sinagog, maupun perkantoran-perkantoran swasta bahkan pemerintahan. Maka dengan sendirinya para Imam memiliki akses lebih luas untuk memperkenalkan Islam kepada publik Amerika.

    Namun, di satu sisi juga tidak disangkal, entah itu memang itulah nature dari kejadian 9/11, atau memang sebagai refleksi langsung dari tragedi tersebut, di sana sini kita lihat berbagai upaya untuk semakin mempersempit pergerakan umat Islam. Berbagai aturan atau regulasi diloloskan, yang memang secara langsung menggerogoti pergerakan dakwah Islam di Amerika. Juga mereka yang memang khawatir akan bangkitnya Islam di Amerika, tentu semakin takut dan melakukan semua cara untuk semakin menjelek-jelekkan Islam. Yang paling menonjol dari yang terakhir ini adalah kelompok ekstrem Kristen, evangelis.

    Betulkah ada banyak penyerangan terhadap Islam?
    Memang ada kasus-kasus yang terjadi seperti yang telah dilansir oleh berbagai media massa. Tapi saya pribadi melihatnya sebagai reaksi “alami” terhadap propaganda yang mengatakan bahwa Muslimlah yang melakukan penyerangan terhadap WTC. Namun satu hal yang positif terhadap ini adalah adanya kemungkinan bagi umat Islam untuk melakukan pembelaan. Artinya jika memang dianggap penyerangan karena agama maka ini namanya kriminal dan yang bersangkutan berhak melaporkan ke pihak yang berwewenang untuk diproses secara hukum.

    Betulkah sebelum 9/11 perkembangan Islam sedang pesat-pesatnya terutama di kalangan African-American?
    Memang sebelum 11 September Islam berkembang pesat di kalangan Afro Americans. Hal ini dikarenakan bahwa Islam itu dianggap pemerdeka dari berbagai belenggu, termasuk belenggu ras atau warna kulit. Warga Amerika kulit hitam selama ini secara informal dianggap penduduk kelas dua. Dengan Islam mereka merasa betul-betul mendapatkan kemerdekaan yang hakiki itu. Jadi Islam dijadikan sebagai tool of social change.

    Betulkah masih banyak prejudice dan stereotip terhadap Islam, baik di media massa maupun dalam kehidupan sehari-hari?
    Betul masih ada kasus-kasus yang terjadi. Tapi sejujurnya kecenderungan ke arah yang lebih baik itu semakin meningkat. Masyarakat AS semakin terbuka untuk menerima tetangga Muslim mereka. Bahkan ada keinginan untuk lebih tahu ajaran agama Islam.

    Media massa juga demikian. Hampir semua media saat ini cenderung jujur dalam pemberitaan mengenai Islam, kecuali beberapa seperti New York Post. Fox News misalnya, dalam dua minggu terakhir ini telah mewawancarai saya dua kali. Pertama mengenai radikalisme dalam Islam dan kedua mengenai pernyataan Paus baru-baru ini. Dan alhamdulillah, semua kita lakukan secara baik dan diterima secara positif. Bagi saya pribadi, ini kesempatan baik untuk akses ke mainstream media di AS.

    Bagaimana ceritanya sampai Andak bisa terpilih memimpin doa di kongres?
    Sebenarnya yang benar saya tidak memimpin doa di Kongres, tapi di acara perhelatan akbar doa bersama untuk Amerika setelah kejadian 11 September. Acara itu dihadiri oleh pejabat-pejabat tinggi, termasuk mantan presiden Clinton dan isterinya yang senator, Hillary. Juga Gubernur New York, George Pataki dan Walikota New York, Guliani, serta beberapa senator dan anggota kongress dari kota New York. Ceritanya karena sebelumnya memang saya sudah seringkali diundang untuk rapat-rapat di kantor walikota dalam komite yang disebut “Committee on Religious Reconciliation” (Komite Rekonsiliasi antar agama). Kebetulan salah seorang pencetus badan tersebut adalah saya dan didukung oleh tokoh-tokoh agama di kota New York.

    Saya ke Gedung Putih karena salah satu tokoh agama (satu-satunya Muslim) yang duduk dalam komite Agama untuk Pembangunan berkesinambungan dan Perdamaian. Tokoh-tokoh agama yang tergabung dalam komite ini adalah tokoh-tokoh agama senior dari semua agama. Ketika itu kita mengusulkan agar dilakukan pertemuan dengan Presiden Bush dan ternyata mendapat respon positif dengan diterimanya kita di Gedung Putih.

    Kalau terpilihinya saya oleh Majalah New York sebagai salah satu dari 7 tokoh agama paling berpengaruh di kota New York, saya sendiri tidak tahu. Saya hanya diberitahu setelah majalah itu terbit. Tapi menurut yang saya dengar, mereka ini telah menyelidiki berbagai kegiatan dan pikiran-pikiran saya selama ini. Juga melakukan wawancara dengan berbagai pihak untuk menentukan siapa yang paling berpengaruh itu.

    Adakah koordinasi antar lembaga dakwah di Amerika?
    Secara formal memang ada. Untuk kontesk New York misalnya ada yang disebut Majelis As-Shura (Imams Council). Tapi secara praktik sangat susah mengefektifkan majelis ini karena keragaman komunitas Muslim. Ada yang karena latar belakang etnis, mazhab, dan juga tentunya adalah perbedaan metode dakwah yang dilakukan. Jadi memang masih berat untuk mengefektifkan koordinasi di antara komunitas Muslim di AS. (www.republika.co.id)

  • Takhalli, Tahalli, Tajalli

    Manusia dilengkapi oleh Allah dua hal pokok, yaitu jasmani dan rohani. Dua hal ini memiliki keperluan masing-masing. Jasmani membutuhkan makan, minum, pelampiasan syahwat, keindahan, pakaian, perhiasan-perhiasan dan kemasyhuran. Rohani, pada sisi lain, membutuhkan kedamaian, ketenteraman, kasih-sayang dan cinta. (lebih…)

  • Takhalli, Tahalli, Tajalli

    Manusia dilengkapi oleh Allah dua hal pokok, yaitu jasmani dan rohani. Dua hal ini memiliki keperluan masing-masing. Jasmani membutuhkan makan, minum, pelampiasan syahwat, keindahan, pakaian, perhiasan-perhiasan dan kemasyhuran. Rohani, pada sisi lain, membutuhkan kedamaian, ketenteraman, kasih-sayang dan cinta.

    Para sufi menegaskan bahwa hakekat sesungguhnya manusia adalah rohaninya. Ia adalah muara segala kebajikan. Kebahagiaan badani sangat tergantung pada kebahagiaan rohani. Sedang, kebahagiaan rohani tidak terikat pada wujud luar jasmani manusia. Sebagai inti hidup, rohani harus ditempatkan pada posisi yang lebih tinggi. Semakin tinggi rohani diletakkan, kedudukan manusia akan semakin agung. Jika rohani berada pada tempat rendah, hina pulalah hidup manusia. Fitrah rohani adalah kemuliaan, jasmani pada kerendahan. Badan yang tidak memiliki rohani tinggi, akan selalu menuntut pemenuhan kebutuhan-kebutuhan rendah hewani. Rohani hendaknya dibebaskan dari ikatan keinginan hewani, yaitu kecintaan pada pemenuhan syahwat dan keduniaan. Hati manusia yang terpenuhi dengan cinta pada dunia, akan melahirkan kegelisahan dan kebimbangan yang tidak berujung. Hati adalah cerminan ruh. Kebutuhan ruh akan cinta bukan untuk dipenuhi dengan kesibukan pada dunia. Ia harus bersih.

    Dalam rangkaian metode pembersihan hati, para sufi menetapkan dengan tiga tahap : Takhalli, Tahalli, dan Tajalli. Takhalli, sebagai tahap pertama dalam mengurus hati, adalah membersihkan hati dari keterikatan pada dunia. Hati, sebagai langkah pertama, harus dikosongkan. Ia disyaratkan terbebas dari kecintaan terhadap dunia, anak, istri, harta dan segala keinginan duniawi.

    Dunia dan isinya, oleh para sufi, dipandang rendah. Ia bukan hakekat tujuan manusia. Manakala kita meninggalkan dunia ini, harta akan sirna dan lenyap. Hati yang sibuk pada dunia, saat ditinggalkannya, akan dihinggapi kesedihan, kekecewaan, kepedihan dan penderitaan. Untuk melepaskan diri dari segala bentuk kesedihan, lanjut para saleh sufi, seorang manusia harus terlebih dulu melepaskan hatinya dari kecintaan pada dunia.

    Tahalli, sebagai tahap kedua berikutnya, adalah upaya pengisian hati yang telah dikosongkan dengan isi yang lain, yaitu Allah (swt). Pada tahap ini, hati harus selalu disibukkan dengan dzikir dan mengingat Allah. Dengan mengingat Allah, melepas selain-Nya, akan mendatangkan kedamaian. Tidak ada yang ditakutkan selain lepasnya Allah dari dalam hatinya. Hilangnya dunia, bagi hati yang telah tahalli, tidak akan mengecewakan. Waktunya sibuk hanya untuk Allah, bersenandung dalam dzikir. Pada saat tahalli, lantaran kesibukan dengan mengingat dan berdzikir kepada Allah dalam hatinya, anggota tubuh lainnya tergerak dengan sendirinya ikut bersenandung dzikir. Lidahnya basah dengan lafadz kebesaran Allah yang tidak henti-hentinya didengungkan setiap saat. Tangannya berdzikir untuk kebesaran Tuhannya dalam berbuat. Begitu pula, mata, kaki, dan anggota tubuh yang lain. Pada tahap ini, hati akan merasai ketenangan. Kegelisahannya bukan lagi pada dunia yang menipu. Kesedihannya bukan pada anak dan istri yang tidak akan menyertai kita saat maut menjemput. Kepedihannya bukan pada syahwat badani yang seringkali memperosokkan pada kebinatangan. Tapi hanya kepada Allah. Hatinya sedih jika tidak mengingat Allah dalam setiap detik.

    Setelah tahap ‘pengosongan’ dan ‘pengisian’, sebagai tahap ketiga adalah Tajalli. Yaitu, tahapan dimana kebahagian sejati telah datang. Ia lenyap dalam wilayah Jalla Jalaluh, Allah subhanahu wata’ala. Ia lebur bersama Allah dalam kenikmatan yang tidak bisa dilukiskan. Ia bahagia dalam keridho’an-Nya. Pada tahap ini, para sufi menyebutnya sebagai ma’rifah, orang yang sempurna sebagai manusia luhur.

    Syekh Abdul Qadir Jaelani menyebutnya sebagai insan kamil, manusia sempurna. Ia bukan lagi hewan, tapi seorang malaikat yang berbadan manusia. Rohaninya telah mencapai ketinggian kebahagiaan. Tradisi sufi menyebut orang yang telah masuk pada tahap ketiga ini sebagai waliyullah, kekasih Allah. Orang-orang yang telah memasuki tahapan Tajalli ini, ia telah mencapai derajat tertinggi kerohanian manusia. Derajat ini pernah dilalui oleh Hasan Basri, Imam Junaidi al-Baghdadi, Sirri Singkiti, Imam Ghazali, Rabiah al-Adawiyyah, Ma’ruf al-Karkhi, Imam Qusyairi, Ibrahim Ad-ham, Abu Nasr Sarraj, Abu Bakar Kalabadhi, Abu Talib Makki, Sayyid Ali Hujweri, Syekh Abdul Qadir Jaelani, dan lain sebagainya. Tahap inilah hakekat hidup dapat ditemui, yaitu kebahagiaan sejati.

    Wallahu a’lam

    Rizqon Khamami

  • Robbi Arinii Anzhur Ilayka

    Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhannya telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: “Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau”. Tuhan berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku”. Tatkala Tuhannya menampakkan diri (tajalli) kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: “Maha Suci Engkau, aku bertobat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman”. (QS. Al-A’roof: 143) (lebih…)

  • Robbi Arinii Anzhur Ilayka

    Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhannya telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: “Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau”. Tuhan berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku”. Tatkala Tuhannya menampakkan diri (tajalli) kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: “Maha Suci Engkau, aku bertobat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman”. (QS. Al-A’roof: 143)

    “Tidak akan melihat Aku,” merupakan pernyataan Allah, bahwa bagaimana pun juga, mata-kepala yang berbentuk bundar dan terletak pada rongga mata dengan daya lihatnya, tidak akan bisa melihat Tuhan. Tetapi tidak berarti menutup kemungkinan untuk melihat Allah dengan mata-bathin. Bila mata-hati itu dianugerahi oleh Allah berupa nur-Nya (nurul bashiroh), dan terdapat pancaran dan nyala pandangan bathin (syi’a-ul bashiroh) yang kemudian menguasai pandangan mata-kepala, maka pada kondisi itulah dimungkinkan terjadinya melihat Allah.

    Ibnu Taimiyah berkata, “Banyak orang-orang Sufi berkata: ‘Aku melihat Allah.’ Diceritakan orang tentang ucapan Ja’far bin Muhammad Ash-Shadiq ketika beliau ditanya: ‘Apakah Anda melihat Allah?’ Ja’far menjawab: ‘Aku melihat Allah kemudian aku menyembah-Nya.’ Kemudian ditanyakan lagi: ‘Bagaimana Anda melihat-Nya?’ Beliau menjawab: ‘Tidak mungkin mata-kepala dapat melihat-Nya dengan keterbatasannya. Tetapi mata hati yang Haqqul Yaqin dapat melihat Allah.’”

    Imam Al-Qurthuby berkata dalam Al-Jami’ul-Ahkamul-Qur’an, “Melihat Allah SWT di dunia (dengan mata-hati) adalah dapat diterima aqal. Kalau sekiranya tidak bisa, tentulah permintaan Musa as untuk bisa melihat Allah adalah hal yang mustahil. Tidak mungkin seorang Nabi tidak mengerti apa yang jaiz dan apa yang mustahil pada Allah. Bahkan jika Nabi Musa tidak meminta, hal ini (melihat Allah) adalah bisa terjadi dan bukan mustahil.”

    Tajalli menurut pendapat Shufi adalah Allah menampakkan Diri-Nya sendiri tanpa adanya yang selain dari-Nya, dengan segala Shifat Kesempurnaan-Nya. Tajalli Allah pada gunung menunjukkan bahwa Allah bisa saja (jaiz) bertajalli (menampakkan Diri-Nya) kepada benda apa pun juga, lebih-lebih kepada para Rasul, para Nabi dan para waliyullah atau kepada siapa pun yang Dia kehendaki.

    Ketika makhluq mengalami tajalli Allah pada dirinya, maka ia tidak lagi melihat dan tidak lagi mengetahui eksistensi/wujud apa pun, kecuali Allah. Saat itu ia benar-benar menyaksikan bahwa tidak ada yang wujud kecuali Allah. Bahkan dia tidak menyadari, tidak merasakan, tidak mengetahui eksistensi dirinya sendiri. Dirinya telah sirna (fana), yang benar-benar wujud saat itu hanyalah Allah. Segala sesuatu telah sirna dan tetap kekal (baqa) Wujud Allah. Tidak ada yang maujud, kecuali Allah. Maka wajarlah jika dari orang yang sedang dalam kondisi seperti ini keluar kata-kata seperti “Anal-Haqq” (Akulah Al-Haqq), atau “Laa ilaaha illaa Ana” (Tiada ilah kecuali Aku). Ingat, kalimat Tauhid juga bermakna tiada yang wujud dengan sebenar-benarnya wujud, kecuali Allah.

    Namun demikian, tajalli dan pembahasannya tidak bisa menggambarkan kondisi tersebut hingga 100%. Hal ini merupakan masalah pengalaman, bukan sesuatu yang bisa dipelajari. Menjelaskan tajalli itu seperti menjelaskan rasa manis. Ia hanya bisa difahami dengan benar oleh mereka yang pernah mengalaminya. Tajalli memang bukan untuk difahami, tetapi dialami. Cara untuk membersihkan jiwa itulah yang perlu kita pelajari, fahami, dan kita amalkan. Dengan mengamalkan apa yang telah kita pelajari dan kita fahami, maka Allah akan mengajarkan kita sesuatu yang belum kita pelajari atau belum kita fahami hingga kita memahami hal tersebut. Amalkan apa yang telah Anda ketahui, maka Allah akan mengajarkan Anda apa yang belum Anda ketahui.

    Wallahu a’lam.

  • Popeye, Salafy dan Katholik

    Seperti kami katakan sebelumnya, jika kami menjadikan lambang-lambang Kristen sebagai logo perusahaan kami, mungkin Anda akan berfikir bahwa kami adalah seorang Kristian. Anda mungkin tahu Popeye. Di lengannya akan Anda lihat tattoo jangkar yang sebenarnya merupakan salah satu lambang dalam agama Kristen. Jangkar merupakan gabungan dari salib dan perahu. (lebih…)