Penulis: adminSN

  • AKAR ZAITUN

    Berjuta-juta orang di seluruh dunia mengidap penyakit kencing manis (diabetes). Mereka telah menempuh berbagai macam cara untuk menyembuhkan penyakit tersebut, akan tetapi kegagalan yang mereka temukan, sekalipun telah mengobatinya dengan meminum obat-obatan dan jamu-jamuan. Sehingga mereka harus memotong sebagian tubuhnya.

    Namun, sekarang Anda tidak perlu cemas! Jamu kencing manis cap Akar Zaitun ini, insya Allah, dapat membantu Anda atau orang yang Anda kasihi di dalam menyembuhkan penyakit yang berbahaya itu sampai ke akar-akarnya.

    Dengan meminum jamu cap Akar Zaitun ini secara rutin, Insya Allah, dalam waktu relatif singkat, penyakit yang Anda derita akan segera hilang total, dan darah Anda tidak mengandung gula berlebih lagi. Jamu ini juga melancarkan sirkulasi darah dan menormalkan hubungan suami isteri menjadi bergairah seperti semula.

    Jamu cap Akar Zaitun juga mencegah dan menghambat pertumbuhan sel kanker, kolesterol, asam urat, hipertensi, dan stroke.

    Selama Anda mengkonsumsi jamu cap Akar Zaitun, tidak perlu lagi Anda membatasi makanan yang lezat dan mengandung gula. Jamu cap Akar Zaitun bereaksi cepat, bahkan sejak pertama kali Anda mengkonsumsinya. Untuk mencegah lonjakan kadar gula dalam darah, sebaiknya diminum satu jam sebelum makan besar. Untuk pengobatan, jamu cap Akar Zaitun diminum 3 kali sehari, masing-masing 2 kapsul (1 jam sebelum makan besar). Untuk mereka yang menderita diabetes cukup kronis, jamu cap Akar Zaitun dikonsumsi 3 kali sehari, masing-masing 4 kapsul. Untuk pencegahan penyakit diabetes, asam urat, dan penyakit lainnya, jamu cap Akar Zaitun cukup dikonsumsi 3 kali dalam seminggu (2 hari sekali minum 1 kapsul untuk memperbaiki kualitas darah).

    Khasiat:
    Mencegah dan mengobati diabetes, kanker, kolesterol, asam urat, hipertensi, stroke.

    Aturan Minum:
    – Untuk penyakit kronis: 3 x 4 kapsul sehari.
    – Untuk pengobatan: 3 x 2 kapsul sehari.
    – Untuk pencegahan: 3 x 1 kapsul seminggu.

    Harga Rp. 35.000,- / 100 kapsul.
    Discount hingga 20% untuk pembelian minimal 3 dus isi 100 kapsul.

    Dapatkan segera di:
    Musyaffa Cell
    Jl. Bangka Raya no. 11 RT. 013 / RW. 05 Kel. Pela Mampang
    Kec. Mampang Prapatan, Jakarta Selatan
    Telp. (021) 7179 1117, 0899 813 1194, 0815 1405 2779.
    Blog: musyaffacell.wordpress.com

    JAMU CAP AKAR ZAITUN, OBAT MUJARAB UNTUK DIABETES, ASAM URAT, KOLESTEROL, HIPERTENSI DAN STROKE.

  • Dalil-Dalil Tawassul

    Dalam setiap permasalahan apapun suatu pendapat tanpa didukung dengan adanya dalil yang dapat memperkuat pendapatnya, maka pendapat tersebut tidak dapat dijadikan sebagai pegangan. Dan secara otomatis pendapat tersebut tidak mempunyai nilai yang berarti, demikian juga dengan permasalahan ini, maka para ulama yang mengatakan bahwa tawassul diperbolehkan menjelaskan dalil-dalil tentang diperbolehkannya tawassul baik dari nash al-Qur’an maupun hadis, sebagai berikut:

    (lebih…)

  • YUSUF QARDHAWI DAN TAWASSUL

    Yusuf Qardhawi mendefinisikan tawassul sebagai ‘Menggunakan wasilah (perantara) untuk mencapai sebuah hal. Hal tersebut tidak mungkin dicapai kecuali dengan menggunakan wasilah.’
    Jelaslah bahwa definisi seperti itu adalah tidak benar. Sebab, dalam bertawassul, terkadang kita bertawassul dengan amal shalih kita. Jika dikatakan bahwa ‘hal tersebut tidak mungkin dicapai kecuali dengan menggunakan wasilah (yaitu amal shalih kita)’, maka jelaslah bahwa ini adalah definisi yang bathil. Mana mungkin ada sesuatu ‘yang tidak akan terwujud tanpa menggunakan amal shalih kita’? Padahal, yang benar adalah bahwa segala sesuatu itu tidak mungkin terwujud, kecuali dengan Allah. Wasilah bukanlah yang mewujudkan sesuatu itu.

    Kemudian Yusuf Qardhawi mengomentari ayat ke-35 dari surat Al-Ma`idah yang berbunyi:
    “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan carilah wasilah yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah di jalan-Nya agar kamu mendapat keberuntungan.” (Al-Ma`idah: 35)

    Yusuf Qardhawi berkata, “Wasilah dalam ayat di atas adalah jalan yang bisa mendekatkan diri kepada Allah dengan hal yang dicintai dan diridhai Allah. Baik berupa ucapan, perbuatan, ataupun niat.” Dia tidak menyebut soal ‘Nabi’ dan ‘Orang-Orang Shalih’ sebagai yang juga dicintai dan diridhai Allah. Suatu pandangan yang tidak lengkap.

    Lalu Yusuf Qardhawi berkata bahwa tawassul yang disepakati itu ada empat, yaitu:
    1. Tawassul dengan Dzat Allah.
    2. Tawassul dengan Asma dan Sifat Allah.
    3. Tawassul dengan amal shalih.
    4. Meminta doa kepada orang shalih.

    Lalu Qardhawi berkata lagi bahwa tawassul dengan Nabi Muhammad, salah seorang Nabi, atau pun orang-orang shalih adalah hal yang diperselisihkan.

    Padahal pendapat lain mengatakan bahwa yang diperselisihkan itu bukan bertawassul dengan Nabi, melainkan bertawassul dengan orang shalih itulah yang diperselisihkan. Dan lagi bukan ‘bertawassul dengan orang shalih’-nya yang diperselisihkan, sebab suatu pendapat mengatakan bahwa boleh saja kita bertawassul dengan orang shalih, asalkan orang shalih tersebut memang jelas keshalihannya. Adapun Nabi, sudah jelas keshalihannya, maka tidak ada ikhtilaf dalam hal ini. Namun mengenai keshalihan seseorang selain Nabi, kita tidak dapat memastikannya. Jadi bukan ‘tawassul dengan orang shalih’ yang diperselisihkan, tetapi keshalihan orang yang dijadikan sebagai wasilah itulah yang menjadi ikhtilaf. Maka sebagian ulama berpendapat bahwa bertawassul dengan orang shalih itu sebaiknya dihindari, kecuali jika orang tersebut diyakini keshalihannya hingga akhir hayatnya. Jadi, mengkategorikan ‘tawassul dengan orang shalih’ sebagai perkara khilafiyah adalah suatu kesalah-pahaman atas aqidah yang dipegang oleh kaum salafus shalih.

    Lebih lanjut, untuk menolak tawassul dengan Nabi dan orang-orang shalih, Yusuf Qardhawi berkata, “Antara Allah dan makhluq-Nya tidak terdapat penghalang. Inilah kelebihan aqidah Islam yang telah menghapus segala bentuk monopoli perantaraan Allah dan manusia yang dilakukan oleh pendeta serta pemuka agama. Aqidah tersebut telah membuka pintu untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan tanpa perantara.” Lalu dia mengutip ayat:
    “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku.” (Al-Baqarah: 186)

    Perlu diketahui bahwa orang yang bertawassul dengan Nabi itu tidak pernah meminta sesuatu kepada Nabi dalam doanya, mereka hanya berdoa, misalnya, ‘Ya Allah, demi Nabi-Mu, ampunilah aku.’ Dan doa semacam ini pernah dicontohkan Nabi Muhammad, dimana Nabi telah berdoa, “Dengan haq Nabi-Mu dan Nabi-Nabi sebelum aku.” [HR. Imam Thabrani]

    Yusuf Qardhawi, dengan komentarnya tersebut, sepertinya telah salah memahami ‘tawassul dengan Nabi’. Dalam komentaranya tersebut, dia seakan berkata bahwa kita tidak perlu perantara untuk mendekatkan diri kepada Allah. Padahal Allah menyuruh kita untuk mencari wasilah yang mendekatkan kepada Allah. Dalam komentar itu, dia juga seakan berkata bahwa jika Anda ingin meminta, minta saja langsung kepada Allah. Dengan komentar demikian, berarti dia telah menyalahi tawassul yang disepakati. Yusuf Qardhawi berkata, “Aqidah Islam telah membuka pintu untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan tanpa perantara.” Jika hal ini dia maksudkan untuk menolak ‘tawassul dengan Nabi’, maka sesungguhnya hal tersebut juga telah menolak ‘meminta doa kepada orang shalih’. Pertama, karena orang yang kita anggap shalih itu belum tentu shalih. Kedua, karena jika Anda ingin meminta, minta saja langsung kepada Allah. Mengapa harus meminta doa dari orang shalih? Bukankah Allah itu dekat?

    Maka, jika dia menolak ‘tawassul dengan Nabi’ dengan komentar demikian, seharusnya dia juga menolak ‘meminta doa kepada orang shalih’. Tetapi karena dia tidak menolak ‘meminta doa kepada orang shalih’, maka seharusnya dia juga menerima ‘tawassul dengan Nabi atau pun orang shalih’. Ini hanyalah salah satu contoh dari kecacatan cara berfikir Yusuf Qardhawi dan para pendukungnya, dimana mereka berfikir secara parsial.

    Allah memang Mahadekat lagi Mahamendengar. Namun adalah suatu sunnah untuk berdoa dengan ‘bertawassul dengan nabi’ atau dengan meminta didoakan. Penolakan Yusuf Qardhawi terhadap ‘tawasul dengan Nabi’ adalah suatu penolakan yang lemah dan tidak sah.

    Baca juga:
    Tawassul (dalam situs ini)
    Tawassul (dalam situs majelisrasulullah.org)
    Dalil-Dalil Tawassul

  • TAWASSUL

    Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan. [QS. Al-Maidah: 35]

    Tawassul berarti mengambil perantara. Bertawassul dalam berdoa berarti kita mengambil sesuatu sebagai perantara dalam memohon kepada Allah. Seseorang yang bertawassul tidaklah menggunakan perantara ini, kecuali disebabkan kecintaannya kepada perantara itu dan keyaqinannya bahwa Allah mencintai perantara itu. Dan orang yang bertawassul berkeyaqinan bahwa yang mengabulkan do’a, yang memberi manfaat dan menghilangkan mudharat adalah Allah, bukan orang yang dijadikan perantara tersebut. Sekiranya orang yang bertawassul menganggap bahwa yang menghilangkan mudharat atau mendatangkan manfaat itu adalah orang yang dijadikan perantara tersebut, maka ia telah melakukan syirik.

    (lebih…)

  • Bersiwak Efektif Hilangkan Plak Gigi

    PADA bulan puasa ini, kebersihan mulut perlu dijaga. Selain mencegah penyakit, mengurangi bau tak sedap. Apalagi kalau pekerjaan membersihkan gigi dan mulut itu diniatkan untuk ibadah. Selain memperoleh sehat dan bersih, mendapat pahala.

    SIWAK adalah sejenis kayu berasal dari Tanah Arab, yang sering disebut kayu Irak. Menurut KH Irsyad dari Pesantren As Syafiiyah, kebiasaan bersiwak pada umat Islam sebenarnya berawal dari keteladanan Nabi Muhammad. Rasulullah SAW sellau menggunakan siwak, terutama ketika hendak shalat, khotbah, dan sesudah makan. Oleh karena itu, menarik untuk dikaji dan dipelajari, manfaat anjuran Rasulullah tersebut.

    Begitu pentingnya memelihara kebersihan gigi, Rasulullah ketika sakit pun tetap membersihkan gigi dengan siwak. Bahkan ketika Beliau sudah tidak mampu untuk melakukannya sendiri –saat menjelang berpulang ke Rahmatullah– Rasulullah meminta tolong pada Siti Aisyah untuk membersihkan giginya dengan siwak. Nabi pernah pula bersabda yang berbunyi, “Seandainya tidak khawatir akan memberatkan umat, niscaya saya wajibkan mereka untuk bersiwak.”

    Kiai Irsyad mengatakan, “Begitu penting memelihara kesehatan gigi, bersiwak hukumnya sunnah yang diutamakan. Kalau demikian, tentu ada rahasia di balik itu,” ujar pria yang sudah puluhan tahun memakai siwak ini, tetapi belum mengetahui manfaatnya secara medis.
    Benarkah siwak yang terbuat dari kayu asin dan berserabut itu bisa mencegah plak gigi? Irsyad selain bersiwak menggosok gigi dengan sikat plus pasta gigi. Siwak ia pakai ketika akan shalat atau ibadah lainnya. “Bagi saya, alasan utama memakai karena melihat keutamaan sunnah saja. Mengenai manfaatnya bagi kesehatan, saya belum punya informasi,” akunya.

    “Yang saya tahu dalam ajaran Nabi, orang yang selalu bersiwak maka rohnua mudah keluar ketika meninggal. Orang itu tidak akan kesakitan saat sakaratul maut,” kata ahli fikih tersebut.
    Bagaimana penggunaan sikat dan pasta gigi? “Tidak masalah. Insya Allah sama-sama mendapat pahala, karena itupun merupakan upaya menjaga kesehatan dan kebersihan gigi, meski tidak menggunakan siwak. Apalagi kalau pekerjaan itu dilakukan dengan niat untuk ibadah. Selain memperoleh sehat dan bersih, mendapat pahala,” tandas Irsyad.

    Dalam menggunakan siwak, katanya, hendaknya tidak sekadar bersiwak. Perhatikan kebersihannya. Kayu siwak harus sering dicuci, dikupas dan diraut agar kebersihannya senantiasa terjaga. Kalau kayu siwak itu tidak dibersihkan, maka kayu yang diduga punya manfaat sebagai antiseptik itu bisa jutru menjadi sarang kuman.

    Drg BM Bachtiar dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia mengatakan, berdasarkan fungsi mekanisnya, siwak sama dengan sikat gigi. Siwak dapat berfungsi sebagai alat membersihkan gigi dari kotoran atau plak.

    “Mengapa siwak bermanfaat menghilangkan plak? Plak merupakan kumpulan sisa makanan yang telah membusuk dan menempel pada gigi. Jika diteliti lebih dalam, ternyata plak itu merupakan asrama kuman. Di sini siwak berperan membersihkan sisa makanan, sekaligus mengandung zat khusus yang rasanya asin tersebut,” paparnya.

    Kuman-kuman dari makanan menempel pada gigi, dan menumpuk sedikit demi sedikit. Berdasarkan penelitian, kuman itu akan menempel pada bagian dalam tiga-empat jam. “Dianjurkan menyikat gigi secara teratur, untuk mencegah penumpukan sisa makanan yang mengandung kuman berbagai jenis dan ribuan jumlahnya itu.”

    Plak ibarat sebuah rumah produksi, yang menghasilkan beraneka produk. Di antaranya yang paling sering adalah asam. Kondisi ini berdampak buruk bagi gigi, menyebabkan gigi berlubak sekaligus merusak jaringan di sekitarnya.

    Kuman-kuman paling sering dikaitkan dengan gigi berlubang, dalam artian yang sangat menyukai suasana asam adalah streptokokus. Sedangkan yang menyebabkan kerusakan jaringan antara lain aktinomises dan aktinobasilus. Kuman itu akan melakukan aksinya untuk merusak gigi setelah berada di mulut sekian jam lamanya.

    Mula-mula, demikian Bachtiar, mungkin hanya ada satu spesies, kemudian bertambah hingga ribuan. Semakin tebal plak semakin beragam kumannya, dan tingkat keasamannya juga semakin tinggi.

    Dilakukan Setiap Sebelum Shalat

    DRG BM Bachtiar sangat paham mengapa bersiwak dianjurkan dilakukan setiap kali sebelum shalat. Menurutnya, pada dasarnya plak memang sulit dihindari karena proses terbentuknya begitu cepat. Karena itulah sangat tepat anjuran yang mengatakan, menyikat gigi itu harus dilakukan beberapa kali dalam sehari, untuk mencegah tertimbunnya plak pada gigi.

    Jika dianalisis, lanjut Bachtiar, anjuran bersiwak pada setiap akan shalat dapat dipahami. Frekuensi yang disarankan, katakanlah pada shalat wajib, sudah tepat. Yaitu waktu Shalat Dzuhur, Ashar, Maghrib, Isya, dan Subuh. Jika dibuat rata-rata, selang waktunya untuk bersiwak sekitar 4-5 jam. Belum lagi ada shalat sunat Tahajjud, yang dilakukan pada waktu malam, atau Dhuha di pagi hari, serta anjuran bersiwak setelah makan.

    Ditegaskan Bachtiar, rasa asin yang terdapat pada kayu siwak kemungkinan dapat menurunkan tingkat keasaman daerah mulut, bahkan mampu mendekati netral. “Tingkat keasaman atau pH mulut yang baik yang mendekati netral, yakni antra pH 6-7,” katanya.

    Tujuan utama menyikat gigi yaitu mencegah, dan menghilangkan plak pada gigi. Sedangkan bentuk sikat gigi dan teknik pemakaiannya, terserah mana suka saja asal tidak menyebabkan persakan gusi dan gigi. Kejelekan dalam menyikat gigi juga ada. Jika tidak tepat, misalnya terlalu kencang dalam menyikatnya, dapat mengakibatkan gusi aus dan terbuka.

    Memakai bulu sikat gigi yang keras sebetulnya boleh-boleh saja, kalau dalam menyikatnya tidak terlalu keras dan cepat. Agar plak tidak cepat menumpuk dan membuat pelapukan gigi, Bachtiar menyarankan:

    1. Harus rajin dan teratur menggosok gigi, apakah memakai pasta gigi atau tidak jangan dijadikan hambatan. Untuk praktisnya, paling tidak dalam sehari melakukan tiga kali gogok gigi, yaitu setelah makan malam, setwelah makan pagi dan setelah makan siang.

    2. Untuk mencegah kerusakan jaringan, jangan terlalu kasar dalam menyikat gigi, dan jangan menggunakan sikat yang terlalu keras.

    3. Dari segi makanan dan kebiasaan makan, hindari makanan yang manis-manis atau asam tertinggal terlalu lama di dalam mulut. Untuk itu, segera berkumur atau menyikat gigi sehabis makan yang manis-manis. (ros/Panasea)

    (dari Sriwijaya Post Online)

    Baca juga:
    Siwak dan Keutamaannya

  • SIWAK DAN KEUTAMAANYA

    Rosululloh Shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda: “Siwak merupakan kebersihan bagi mulut dan keridhoan bagi Robb”. (HR. Ahmad)

    Siwak bermakna suatu kayu yang dipakai untuk menggosok gigi. Siwak adalah suatu perkara yang disyari’atkan, yaitu dengan menggunakan batang atau semisalnya, yang dipakai untuk membersihkan gigi dan gusi dari kekuning-kuningan dan bau

    Bersiwak adalah termasuk dari bagian dari sunnah para Rasul, sebagaimana hadits dari Abu Ayyub ra:
    “Ada empat hal yang termasuk dari sunnah para Rasul; Memakai minyak wangi, menikah, bersiwak dan malu.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)

    Siwak memiliki beberapa faedah yang sangat besar, diantaranya yang paling besar adalah yang telah dianjurkan oleh hadits :
    “Siwak itu pembersih mulut dan diridhai Allah.” (HR. Ahmad)

    Bersiwak adalah dengan menggunakan batang yang lembut dari pohon arok, zaitun, urjun atau yang semisalnya yang tidak menyakiti atau melukai mulut.

    Waktu-Waktu Disunnahkannya Bersiwak

    Bersiwak disunnahkan disetiap saat, bahkan ketika berpuasa disepanjang harinya, dan menjadi sunnah muakadah pada waktu akan beribadah. Adapun waktu-waktu yang disunnahkan secara muakkad untuk bersiwak diantaranya:

    1) Setiap akan Berwudhu.
    “Kalau bukan karena akan memberatkan umatku maka akan kuperintahkan mereka untuk bersiwak setiap akan wudlu”. (HR. Bukhori dan Muslim)

    2) Setiap akan melakukan shalat.
    “Kalau bukan karena akan memberatkan umatku maka akan kuperintahkan mereka untuk bersiwak setiap akan sholat”. (HR. Bukhori dan Muslim)

    3) Setiap Bangun Tidur.
    “Adalah Rosululloh jika bangun dari malam dia mencuci dan menggosok mulutnya dengan siwak”. (HR. Bukhori)
    Termasuk tanda kecintaan Nabi Shallallahu ‘aihi wa sallam kepada kebersihan dan ketidak sukaannya terhadap bau tidak enak, tatkala bangun dari tidur malam yang panjang, yang mana saat itu di mungkinkan bau mulut sudah berubah, maka beliau menggosok giginya dengan siwak untuk menghilangkan bau tidak sedap, dan untuk menambah semangat setelah bangun tidur, karena termasuk kelebihan siwak adalah menambah daya ingat dan semangat.

    4) Setiap akan Masuk Rumah.
    Telah meriwayatkan Syuraih bin Hani, beliau berkata: ”Aku bertanya kepada ‘Aisyah: “Apa yang dilakukan pertama kali oleh Rosululloh jika dia memasuki rumahnya?” Beliau menjawab :”Bersiwak”. (HR. Muslim)

    5) Ketika hendak membaca Al Qur’an.
    Dari Ali ra. berkata : “Rasulullah memerintahkan kami bersiwak. Sesungguhnya seorang hamba apabila berdiri sholat malaikat mendatanginya kemudian berdiri dibelakangnya mendengar bacaan Al Qur’an dan ia mendekat. Maka ia terus mendengar dan mendekat sampai ia meletakkan mulutnya diatas mulut hamba itu, sehingga tidaklah dia membaca satu ayatpun kecuali berada dirongganya malaikat” (HR. Baihaqy)

    Cara Bersiwak

    Cara bersiwak tidak ada ikhtilaf antara ulama, bahwa didalam kitab Syama’il Imam Tirmidzi, dalam hadist Rasul saw, bahwa Rasul saw bersiwak dg kayu araak, dan memulainya dari pertengahan, lalu kearah kanan lalu kekiri, demikian diulangi. sebanyak 3 X.

    Imam Ghazali rahimahullah melengkapi caranya, yaitu meletakkan siwak di jajaran gigi tengah bagian atas, lalu mendorongnya kearah kanan sampai keujungnya,
    lalu turunkan ke jajaran bawah kanan ujung,
    lalu mendorongnya kembali ketengah jajaran bawah,
    lalu kembali naik ke tengah jajaran atas,
    lalu mendorongnya ke arah kiri sampai ujungnya,
    lalu turunkan ke jajaran bawah kiri ujung,
    dan mendorongnya lagi ke tengah di jajaran bawah.
    Untuk mudahnya, anggaplah anda menulis angka delapan yg rebah. Demikian ini untuk perhitungan 1X. lalu mengulanginya sampai 3X. Inilah cara terbaik. Namun cara apapun juga sudah mendapatkan pahala sunnah.

    Sulitkah? Jangan lupa, satu kali anda bertasbih kepada Allah dengan diawali siwak, maka dihitung 70X bertasbih. Shalat dengan diawali siwak, akan terhitung 70X shalat. Dua rakaat shalat tahajjud diawali dengan siwak, maka dihitung 140 rakaat tahajjud. Hebat bukan? Maha Suci Sang Maha Dermawan menempatkan curahan kedermawanannya pada segala hal.(Habib Munzir bin Fuad Al-Musawa)

    Siwak Menurut Medis

    Dari penelitian menunjukkan bahwa kayu siwak (Salvadora persica) mengandung bahan-bahan kimiawi yang bermanfaat untuk menekan aktivitas mikrobial dan menghambat pertumbuhannya. Penelitian daya hambat kayu siwak (Salvadora persica) terhadap pertumbuhan bakteri Streptococcus mutans yang patogen terhadap mulut, dapat menunjukkan kemampuan kayu siwak sebagai salah satu alternatif zat antibakterial yang memang seharusnya dikembangkan sebagai komoditas oral cleaner device (alat pembersih mulut) yang higinis dan efektif dalam mencegah periodontal disease. Penelitian terhadap Staphylococcus aureus yang merupakan patogen pada saluran pernapasan, kulit dan luka dapat pula menunjukkan bahwa kayu siwak bukan hanya efektif sebagai komponen antibakterial mulut, namun juga efektif sebagai antibakterial yang memiliki spektrum lebih luas. (Penelitian ini dikembangkan oleh Mahasiswa Biologi FMIPA ITS)

    Tujuh Puluh Kali Lipat

    Keutamaan shalat dengan memakai siwak itu, sebanding dengan 70 kali shalat dengan tidak memakai siwak. (HR. Ahmad)

    Bayangkan, di suatu Shubuh Anda keluar menuju masjid. Lalu Anda shalat Shubuh berjama’ah dengan bersiwak terlebih dahulu. Kita tahu bahwa shalat Shubuh berjama’ah pahalanya sama dengan pahala shalat sunnah sepanjang satu malam penuh. Jika didahului dengan bersiwak, maka shalat Shubuh berjama’ah kita akan berpahala seperti pahala shalat sunnah 70 malam penuh. Sedangkan shalat Isya berjama’ah tanpa bersiwak sama pahalanya dengan pahala shalat sunnah setengah malam. Bagaimana pula jika dengan didahului bersiwak? Dan bagaimana dengan shalat-shalat lain yang didahului dengan bersiwak? Tentu kita akan meraih pahala yang sangat besar dengan bersiwak.

    Jika Anda pergi ke Masjid untuk shalat berjama’ah di zaman ini, mungkin Anda melihat sedikit sekali di antara jama’ah yang bersiwak sebelum shalat. Maka ketika Anda bersiwak sebelum shalat di zaman ini, berarti Anda telah menghidupkan kembali sunnah Rasul SAW. Dan pahalanya itu seperti pahala syuhada. Setidaknya Anda akan mendapat pahala seperti orang-orang yang mengikuti Anda dalam bersiwak, tanpa mengurangi pahala orang tersebut.

    Baca juga:
    Bersiwak Efektif Hilangkan Plak Gigi

  • Dari VCD Phorno ke Maulid

    Seorang pemuda yang baru saja beberapa bulan ditinggal wafat ayahnya sedang berkumpul dengan teman-temannya, ia memang mempunyai “acara khusus” setiap minggunya dengan teman-temannya untuk berkumpul sambil menonton VCD porno di rumah mendiang ayahnya, demikian acara itu berlanjut setiap minggunya.

    Malam itu setelah selesai dari perkumpulannya, ia tertidur lelap dan bermimpi, ia sedang menuju makam ayahnya, tiba-tiba ia mencium bau yang sangat busuk dari pusara ayahnya, lalu ia mendengar suara ayahnya sambil mengerang, seakan-akan menahan sakit, “Anakku, sampai kapan kau akan menyiksaku di alam kubur, ketahuilah setiap kali kalian berkumpul dirumahku dan menyaksikan film porno itu aku didatangi dua malaikat penyiksa, yang satu menuangkan cairan busuk yang keluar dari farji para pelacur yang sedang dalam siksaan kubur, dan malaikat yang lain menimpakan bara api disekujur tubuhku, mereka terus berbuat demikian dan tidak berhenti sebelum kalian selesai dari acara keparat itu dirumahku, mereka datang untuk menyiksaku seperti itu setiap minggu bertepatan waktunya dengan berkumpulnya kalian, hentikan perbuatanmu wahai anakku, kembalilah kepada Allah untuk bertobat..” anak itu tersentak dari tidurnya dalam keadaan gundah, ia tak tahu harus berbuat apa, ia terus berfikir dan berfikir, maka cahaya Hidayah pun menerangi kalbunya, ia bertobat kepada Allah swt dan mulai menjalani Cahaya petunjuk, ia berniat pada malam yang biasanya ia mengadakan acara tercela itu dirumahnya, ia akan mengadakan acara maulid Nabi besar Muhammad saw, setiap minggunya, ditempat dan waktu yang sama.

    Ia menceritakan mimpi dan niatnya pada teman-temannya, merekapun setuju dengan pendapat itu, acarapun berlangsung, para pemuda yang dipenuhi cahaya tobat, maka berkumpullah hati yang dipenuhi penyesalan dan merasa sangat bersalah terhadap Maha Raja Langit dan Bumi, maka rumah itu kini terlihat dari langit bagaikan bintang gemerlapan, sebagaimana penduduk bumi memandang bintang gemerlapan dilangit, rumah yang beberapa hari yang lalu dipenuhi perbuatan yang menggetarkan pintu Kemurkaan Allah, kini di rumah itu berkumpullah hamba-hamba Nya untuk melangsungkan amal yang mengguncang pintu Rahmat Rabbul’alamin. Malam itu sang pemuda kembali bermimpi, seraya menziarahi makam ayahnya, ia mencium bau wangi yang sangat Indah, wangi Misk Kesturi, ia teringat bahwa wangi Misk Kesturi adalah wangi tubuhnya Rasulullah saw (tercantum dlm kitab Syama’il, oleh Imam Tirmidzy), lalu ia mendengar suara ayahnya dengan penuh kelembutan, “Allah melimpahkan rahmat Nya padamu wahai anakku, aku dihentikan dari segala siksa kubur karena tobatmu, dan amal perbuatanmu, aku dihadiahi Mahkota oleh Rasul saw karena rumahku dijadikan tempat menampung para tamu Rasulullah saw”.

    Dari Abu Hurairah ra, Sabda Rasulullah saw “Tiga perbuatan yang masih bersambung setelah kematian : Ilmu yang bermanfaat, Shadaqah yang terus mengalir (seperti masjid, atau penerang masjid dll), dan Anak Shalih yang mendo’akannya..!”. (Hadits Hasan Riwayat Imam Tirmidzy)

    (dari majelisrasulullah.org)

  • Belajar PlayStation untuk Da’wah

    Bintang Gemerlap tampak terang benderang di wilayah Fatmawati dengan tumbuhnya seorang Pemuda belia yang mulai aktif di Majelis Rasulullah pada tahun 2000, bakat dan semangat juang yang berpadu dengan Kecintaan Pada Sang Nabi saw menerbitkan hasil yang gemilang pada gerak geriknya, ia adalah seorang Pemuda yang siang dan malamnya dipenuhi pergaulan akrab dengan para pemuda, ia bergaul dengan segala kelompok, untuk mengajak mereka bertobat dan menghidupkan sanubari mereka, rumah-rumah mereka bahkan wilayah-wilayah mereka untuk aktif di Majelis Rasulullah dan diterangi oleh Cahaya Kecintaan terhadap Sang Nabi saw.

    Ia mempelajari permainan Play Stasion untuk mendakwahi pemuda yang berkecimpung didalamnya, ia pun berhasil dan menjadi juara diwilayahnya, lalu mengajak pemuda pemuda aktifis Play Stasion itu untuk bertobat dan aktif dalam program Majelis Rasulullah, ia juga aktifis dalam group Sepak bola, untuk mengajak mereka bertobat dan ikut menghadiri acara acara Majelis Rasulullah, rumahnya siang dan malam dikunjungi pemuda, kemana ia pergi maka bangkitlah semangat para pemuda setempat, namun ketika ia tinggalkan mereka maka patahlah semangat para pemuda itu, ratusan pemuda dan banyak wilayah tergalang menjadi aktif dalam Program Majelis Rasulullah, maka terbitlah kelompok pemuda di wilayah Fatmawati, Cinere, Cipete, Karang tengah, Margonda, Blok A, Cawang halim, Cimanggis, dan masih banyak lagi, dan mereka itu terkordinir berkat ajakan si Pemuda Polos bercahaya ini.

    Satu hal yang sangat indah, adalah lantunan suaranya yang merdu dan indah mengundang kegembiraan dan tangis keharuan, walaupun para pendengar tak memahami apa arti dalam lantunannya yang kesemuanya berbahasa arab, menunjukkan kuatnya getaran Cahaya Nabawiy yang terbit dihatinya, bahkan ketika Hb Munzir Almusawa mengajaknya ke Singapura dan Malaysia, maka airmata mengalir saat lantunan suaranya berkumandang.

    Duhai…, betapa senyum kegembiraan tersungging di Wajah Agung Muhammad Rasulullah saw melihat siang malam mu hanyalah untuk membawa hujan taubat bagi para pemuda, ketika jutaan pemuda Jakarta tenggelam dalam Lumpur dosa dan saling membenamkan satu sama lain dalam samudra kehinaan, namun usiamu kau habiskan untuk kegembiraan Sang Nabi..,

    Duhai.., Betapa indah siang dan malammu, betapa indah duduk dan berdirimu, betapa indah bangun dan tidurmu, betapa indah setiap debu yang kau injak yang kesemuanya kelak menyaksikan perjuanganmu dalam setiap waktu hanya untuk membawa kegembiraan Sang Nabi, yang hanya dengan beliaulah terbukanya Pintu Keridhoan ilahi..,

    Semoga Allah menghadiahimu kehidupan Manis dan gemilang di dunia dan akhiratmu, dan mempertemaknmu dengan Kekasihmu dan Imammu Sayidina Muhammad saw.. Amiin.

    (dari majelisrasulullah.org)

  • Pecandu Narkoba yang Bertobat

    Kejadian ini dimulai saat datangnya kabar pada suatu malam kepada Pimpinan Majelis Rasulullah, bahwa di wilayah Kalimalang ada seorang pemuda Bandar Narkoba yang wafatnya disebabkan over dosis, beberapa hari sebelum wafat ia telah bertobat dan menangis di kaki ibunya saat dalam perawatan di RS, namun setelah ia wafat warga setempat menolak untuk menyolatinya dan melarang jenazahnya dishalatkan di masjid, dan melarang pula jenazahnya di kuburkan di pekuburan umum.

    Setelah mendengar kabar ini, maka di malam itu Hb Munzir Almusawa segera mengerahkan jamaah Majelis Rasullulah untuk bersama-sama berta’ziah ke rumah duka. Ayah dari anak tersebut menangis haru bercampur bingung, ia tak menyangka ada seorang Habib mau berkunjung untuk berta’ziah, ia pun bingung, malu dan takut, karena sudah merupakan adat di wilayah setempat, kedatangan ulama di rumah duka haruslah diberi amplop, lalu bagaimana tarif kedatangan habib ini, sedangkan untuk menyewa pengaji pun ia tak mampu, namun setelah dijelaskan bahwa kami tidak sesekali menerima uang lebih-lebih dari mereka yang tidak mampu, ia mulai tenang dan seakan tak percaya, kamipun sempat berziarah ke makam anak tersebut yang dikuburkan disamping rumahnya, lalu Hb Munzir Almusawa memberikan ceramah singkat yang memilukan hati para teman si pemuda tersebut yang banyak hadir di rumah sang ayah, merekapun bertobat.

    Empat puluh orang pemuda kembali pada kemurnian ilahi, wilayah ini hingga kini masih dikordinir oleh sang ayah, tanda bahwa tobat si pemuda telah diterima Allah swt dan wafat dalam husnulkhatimah adalah bertobatnya 40 orang sahabatnya yang karena sebab wafatnyalah dan dengan sebab dialah, tobat teman-temannya, betapa besar Kasih Sayang Allah terhadap Hamba Nya yang bertobat, Hingga si pemuda yang bertobat itu dilimpahi lagi 40 pahala taubat dari teman-temannya yang bertobat dengan sebab hadir di rumahnya.

    (dari majelisrasullah.org)

  • Pola-Pola Pemurtadan Kaum Domba

    Selama puluhan tahun kaum musiimin Indonesia boleh berbangga hati dengan julukan “komunitas muslim terbesar di dunia” yang disandangnya. Berdasarkan Survey Antar Sensus (Supas) yang diiakukan oleh Biro Pusat Statistik (BPS) tahun 1990, tercatat bahwa dari 200 juta jiwa, prosentase umat Islam mencapai 87,3 persen (dibulatkan menjadi 90 persen). Sementara umat Kristen Protestan hanya 6 persen, umat Katolik 3,6 persen, Hindu 1,8 persen, Budha 1 persen dan agama lain 0,3 persen.

    Selama puluhan tahun kaum musiimin Indonesia boleh berbangga hati dengan julukan “komunitas muslim terbesar di dunia” yang disandangnya. Berdasarkan Survey Antar Sensus (Supas) yang diiakukan oleh Biro Pusat Statistik (BPS) tahun 1990, tercatat bahwa dari 200 juta jiwa, prosentase umat Islam mencapai 87,3 persen (dibulatkan menjadi 90 persen). Sementara umat Kristen Protestan hanya 6 persen, umat Katolik 3,6 persen, Hindu 1,8 persen, Budha 1 persen dan agama lain 0,3 persen.

    Sebagai dai, kita tidak boleh silau mata dengan besarnya angka-angka mayoritas di atas. Apalagi, data-data terkini, mencatat bahwa jumlah umat Islam anjlok drastis dari 90 persen menjadi 75 persen (tabloid SIAR edisi No. 43, 18-24 Nopember 1999 hal. 14).

    Terlepas dari validitas dan akurasi data di atas, perlu dicermati pula hasil temuan Litbang Departemen Agama, bahwa panyebab penurunan populasi umat Islam nusantara itu ada dua hal:

    Pertama, Keberhasilan program KB yang dilakukan dengan gencar kepada kaum muslimin, sementara kepada umat non Islam, program KB tidak pernah didengungkan, nyaris tak terdengar. Dengan demikian, program KB mengakibatkan pertumbuhan populasi umat Kristen jauh lebih cepat dibandingkan dengan pertumbuhan populasi umat Islam.

    Kedua, Keberhasilan program Kristenisasi yang dilakukan dangan gencar, semakin hari semakin canggih dan tidak mengindahkan kode efik penyiaran agama.

    Kenyataan di lapangan membuktikan bahwa penyimpangan-penyimpangan penyiaran agama sering kali dipakai para missionaris untuk menyebarkan Injil dan kekristenan di nusantara, antara lain:

    Pembangunan Gereja di lingkungan masyarakat mayoritas muslim.

    Di tengah-tengah warga mayoritas muslim, pihak Salib melanggar SKB menteri dengan membangun gereja yang megah. Untuk mengisi dan meramaikan gereja pada saat kebaktian, didatangkanlah jemaat Kristen dari tempat lain yang berjauhan. Dengan demikian, syiar mereka berlahan-lahan menarik simpati warga yang lemah iman.

    Kasus yang terbaru adalah terusiknya ketenangan warga Depok dengan kehadiran GPIB Shalom, akhirnya membuahkan penanganan ilegal. Sebagai kado pada ulang tahunnya yang ke-31, CPIB Depok yang agresif itu dibakar warga.

    Sejak awalnya, pendirian gereja itu selalu ditentang warga sekita dengan alasan karena lokasi itu mayoritas Islam. Sedangkan keluarga Kristen hanya beberapa gelintir orang saja. Dengan sikap nekadnya, maka pihak Kristen mendirikan GPIB Shalom, tepatnya di Jl. Kembang Lio Boji, Depok, Bogor, Jawa Barat. Cara pendiriannya pun ditempuh melalui lobi-lobi licik.

    Setelah gareja itu berdiri megah, maka untuk mengisinya didatangkan orang-orang Kristen dari tempat lain yang berjauhan. Setiap Minggu, kegiatan gereja tidak pernah sepi oleh orang-orang Kristen impor. Dengan syiar Kristen ini, maka beberapa keluarga muslim yang amblas iman Islamnya, murtad menjadi Kristen, mempertuhankan Yesus.

    Namun, umat Kristen yang cuma segelintir itu semakin berani. Dengan semboyan maju tak gentar, ultimatum serius itu dianggapnya sebagai gertak sambal yang tidak menakutkan. Akhirnya, ultimatum warga menjadi kenyataan.

    Setelah sekian lama memberikan toleransi sambil menahan emosi, maka pada hari Selasa, 2 Nopember 1999 dini hari, GPIB Shalom Depok diamuk masa, dirusak dan dibakar habis. Kesabaran manusia ada batasnya.

    Kristenisasi kepada pasien muslim.

    Di beberapa rumah sakit, misalnya di rumah sakit Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta, kepada pasien muslim dibagi-bagikan leaflet (brosur) tentang penghiburan dan penyembuhan Yesus Kristus kepada orang-orang sakit. Di rumah sakit Advent Bandung, pasien muslim diajak berdoa berdama oleh rohaniawan rumah sakit dengan tata cara peribadatan Kristen.

    Kristenisasi melalui jalur pemerkosaan gadis-gadis muslimah.

    Khairiyah Anniswah alias Wawah, siswi MAN Padang, setelah diculik dan dijebak oleh aktivis Kristen, diberi minuman perangsang lalu diperkosa. Setelah tidak berdaya, dia dibaptis dan dikristenkan.

    Kasus serupa menimpa Linda, siswi SPK Aisyah Padang. Setelah diculik dan disekap oleh komplotan aktivis Kristen, dia diperlakukan secara tidak manusiawi dengan teror kejiwaan supaya murtad ke Kristen dan menyembah Yesus Kristus.

    Di Bekasi, modus pemerkosaan dilakukan lebih jahat lagi. Seorang pemuda Kristen berpura-pura masuk Islam lalu menikahi seorang gadis muslimah yang salehah. Setelah menikah, mereka mengadakan hubungan suami isteri.

    Adegan ranjang yang telah direncanakan itu difoto oleh kawan pemuda Kristen tersebut. Setelah foto dicetak, kepada muslimah tersebut disodorkan dua pilihan: “Tetap Islam atau Pindah ke Kristen?”. Kalau tidak pindah ke Kristen, maka foto-foto talanjang muslimah tersebut akan disebarluaskan. Karena tidak kuat mental, maka dengan hati berontak muslimah tersebut dibaptis dongan sangat-sangat terpaksa sekali, untuk menghindari aib.

    Di Cipayung Jakarta Tirnur, seorang gadis muslimah yang taat dan shalehahterpaksa kabur dari rumahnya. Masuk Kristen mengikuti pemuda gereja yang berhasil menjebaknya dengan tindakan pemerkosaan dan obat-obat terlarang.

    Kristenisasi melalui penyebaran Narkoba.

    Di desa Langensari, Lembang, Bandung, Yayasan Sekolah Tinggi Theologi (STT) Doulos meyebarkan Kristen dengan cara merusak moral terlebih dahulu. Di sana, para pemuda usia 15 tahunan dicekoki minuman keras dan obat-obat terlarang sampai kecanduan berat. Setelah kecanduan, para pemuda harapan bangsa itu dimasukkan ke panti rehabilitasi Doulos untuk disembuhkan sambil dicekoki Injil supaya murtad dari Islam. (Republik, 10 dan 12
    April 1999).

    Kristenisasi melalui kesaksian-kesaksian Palsu via mantan muslim (murtadin)

    Tahun 1974, GPIB Maranatha Surabaya digegerkan oleh kasus pelecehan agama oleh Pendeta Kernas Abubakar Masyhur Yusuf Roni. Dalam ceramahnya, sang pendeta itu mengaku ngaku sebagai mantan kiyai, alumnus Universitas Islarn Badung dan pernah menjadi juri MTQ Internasional. Dia tafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an secara sangat ngawur. Kaset rekaman ceramah tersebut kemudian diedarkan secara luas kepada umat Islam.

    Setelah diusut tuntas, ternyata pengakuan pendeta itu hanyalah bohong belaka Yusuf Roni teryata tidak bisa baca Al-Qur’an. Dengan kebohongannya itu, Pendeta Pembohong Yusuf Roni diganjar penjara 7 tahun di Kalisosok, Surabaya.

    Ketika orang sudah banyak melupakan kasus pelecehan Yusuf Roni, di Jakarta muncul pelecehan plus seribu dusta yang baru. Seseorang yang menamakan dirinya Pendeta Hagai Ahmad Maulana mengaku sebagai putra kandung kesayangan KH. Kosim Nurzeha. Ceramahnya di gereja pun beredar luas di kalangan masyarakat. Setelah diselidiki, terkuaklah kebohongan besar pendeta Hagai Ahmad Maulana. Sebab belum pernah istri KH. Kosim Nurzeha melahirkan Ahmad Maulana.

    Di Padang, trik yang sama dipakai untuk menggoyang akidah umat. Seseorang yang menamakan dirinya Pendeta Willy Abdul Wadud Karim Amrullah, namanya menjadi naik daun di dunia pemurtadan Kristenisasi, setelah mangaku adik kandung ulama besar pakar tafsir, Yang Mulia Almarhum Buya Hamka.

    Orang awam banyak yang percaya tanpa cek dan ricek. Langsung yakin begitu saja dengan pengakuan bahwa adik kandung Buya Hamka itu sudah murtad ke Kristen.

    Setelah diselidiki, ternyata pengakuan itu adalah kebohongan yang sangat besar. Salah seorang putra Buya Hamka menyatakan bahwa sepanjang hayatnya, dia tidak pernah punya paman yang namanya Willy Abdul Wadud Karim Amarullah.

    Di Cirebon, murtadin Danu Kholil Dinata Ev. Danu Kholil Dinata alias Theofilus Daniel alis Amin Al Barokah, mengaku sebagai sarjana agama Islam, yang pindah menjadi pemeluk Kristen setelah mempelajari Nabi Isa versi Islam di STAI Cirebon. Setelah dilacak, ternyata ijazah sarjana yang dipakai untuk kesaksian adalah PALSU.

    Para murtadin pembohong lainnya adalah Drs. H. A. Poernomo Winangun alias Drs. H. Amos, Ev Hj. Christina Fatimah alias Tin Rustini (nama asli dikampung Sutini alias Bu Nonot, Pdt. Rudy Muhammad Nurdin, Pdt. M. Mathius, Pdt. Akmal Sani, Niang Dewi Ratu Epon Irma F. Intan Duana Paken Nata Sastranagara (Ev. Ivone Felicia IDp.). Mengaku telah mengkristenkan 60 kiyai Banten, dll.

    Kristenisasi berkedok sosial di desa-desa terpencil.

    Kristenisasi dilancarkan kepada orang-orang miskin sambil menawarkan makanan (berisi, mie, gula, dll.) secara gratis, obat-obatan, pakaian bekas, alat-alat pertanian (bibit, pupuk, obat pembunuh serangga), dll.

    Setelah orang desa merasakan manfaatnya, maka barulah para misi menyatakan maksud yang sebenarnya, bahwa mereka itu sebagai pelayan dari Yesus Kristus. Dan bantuan yang mereka nikmati itu adalah dari Yesus. Maka, mana yang lebih baik, Islam atau Kristen?

    Selanjutnya, masyarakat desa dibaptis. Bagi yang tidak mau masuk Kristen maka dimulailah misi untuk menggoda iman untuk melemahkan ajaran Islam.

    Kristenisasi berkedok Islam, yaitu memurtadkan akidah umat dengan strategi ‘Srigala Berbulu Domba’.

    Dengan memakai idiom-idiom keislaman dalam tata cara peribadatan serta menerbitkan buku-buku dan brosur (leaflet) berwajah Islam, tapi isinya memutarbalikan ayat-ayat Al Our’an dan Hadits, untuk mendangkalkan akidah. Dipermainkannya ayat-ayat ilahi untuk meleceh Islam demi untuk menjunjung tinggi kekristenan. Tujuan akhirnya, agar kaum muslimin meragukan ajaran Islam lalu pindah ke Kristen

    Dengan Gerakan pemurtadan kristiani yang dikemas dalam wajah Islam, persoalan dakwah Islamiyah semakin berat. Agresivitas misi Kristen sudah memasuki tingkat berbahaya. Kaum awam sulit membedakan keislaman dan kekristenan, sehingga mudah dikaburkan akidahnya.

    Bentuk-bentut Kristenisasi yang dikemas dalam wajah Islam, antara lain:

    1. Dengan meniru kebiasaan umat Islam dalam bangunan dan tata cara ritual.

    2. GPIB Padang memakai lambang-lambang Minang dalam bangunan Gereja untuk
    merayu orang Minang agar tertarik kepada Kristen.

    3. Di beberapa desa di Yogyakarta, misi Kristen meniru adat kebiasaan umat Islam, seperti tahlilan, pakai kopiah yang biasa dipakai oleh umat Islam, mengucapkan salam `Assalamu’alaikum’, dll.

    4. Shalat 7 waktu dengan pakai peci, sajadah, tiwalul Injil dan qasidah versi Kristen yang dilakukan oleh Kristen sekte Ortodox Syria. Buku-buku yang diterbitkan antara lain. Kitabus Sholawat as Sab’u, Almasih Juru Selamatku, Muslim Sahabatku, La ilaha illallahu, Tauhid dalam perspektif Gereja Ortodox Syiria, dll.

    5. Melalui berbagai penerbitan kristenisasi berkedok Islam.

    Ada dua target yang ingin dicapai oleh missi dengan penerbitan buku-buku berwajah Islam.

    Pertama, target ke dalam, untuk memantapkan ajaran Kristen. Seoiah-olah ajaran Kristenlah yang paling benar.

    Kedua, target ke luar, untuk mengelabuhi umat Islam yang masih dangkal pemahamannya, agar mau membaca lalu meyakini doktrin agama Kristan. Ini sangat ditekankan mereka, sebab mereka melihat bahwa umat Islam awam tidak sudi membaca buku-buku yang berwajah Kristen.

    Daftar berbagai penerbitan kristenisasi berkedok Islam yang ketahuan, antara lain:

    Buku karya Drs. A. Poernarna Winangun: Upacara lbadah Haji, Ayat-ayat Al Qur’an Yang Menyelamatkan, Isa Alaihis Salam Dalam Pandangan Islam, dan Riwayat Singkat Pustaka Peninggalan Nabi Muhammad saw.

    Buku Kristus dan Kristen di Dalam Al-Qur’an (Al Masih Wal Masihiyun Fil Quur’an) karya Drs. Amin Al Barokah alias Danu Kholil Dinata.

    Buku Karya mendiang Hamran Ambrie: Allah Sudah Pilihkan Saya Kasih Buat Hidup Baru Dalam Yesus Kristus, Keilahian Yesus Kristus dan Allah tritunggal Yang Esa, Dengan Kasih Kita Jawab, Jawaban Atas Buku Bible Qur’an dan Science, Dialog Tertulis Islam-Kristen, Surat bari Mesir, Siap Sedia Menjawab Tantangan Benteng Islam, Sebuah Memori Yang Tak Terlupakan, dll.

    Terbitan Yayasan Jalan Al Rachrnat: Sejarah Naskah Al Qur’an dan Alkitab, oleh John Gilchrist; Sulitkah Menjadi Orang Kristen, oleh Abdul Masih; Siapakah Kristus Selayaknya Menurut Anda, oleh Abdul Masih; Sudah Kutemukan, oleh Iskandar Jadeed; Benarkah Alkitab Dipalsukan, oleh
    Iskandar Jadeed; Injil Barnabas Suatu Kesaksian Palsu, oleh Iskandar Jadeed; Kesempurnaan Taurat dan Injil, oleh Iskandar Jadeed; Bagaimana Supaya Dosa Diampuni, oleh Iskandar Jadeed; Bagaimana Kita Berdoa, oleh Iskandar Jadeed; Kristus Menurut Islam dan Kristen, oleh John Gilchrist, Benarkah Nabi Isa Disalib, oleh John Gilchrist; Allah Itu Esa di Dalam Tritungga! Yang Kudus, oleh Zachariah Butrus; Selidikilah, Anda Pasti Selamat, oleh Sultan
    Muhammad Paul.

    Terbitan Yayasan Christian Centre Nehemia: Kerudung Yang Dikoyak, oleh Gulshan Ester; Seorang Gadis Kristen Mempertanggungjawabkan Imannya, oleh Nita; Apakah Al Qur’an Benar-benar Wahyu Allah, oleh Ev. J. Litik; Kebenaran Firman Allah, oleh Pdt. M. Matheus; Lima Alasan Pokok Tentang Isi Al Qur’an Yang Menyebabkan Saya Beralih Dari Islam ke Kristen, oleh
    Ev. J. Litik; dll.

    Karya Pdt. R. Muhammad Nurdin: Ayat-Ayat Penting Di Dalam Al-Qur’an, Keselamatan Di Dalam Islam, Selamat Natal Menurut Al Qur’an, Kebenaran Yang Benar (As Shodiqul Mashduuq), Rahasia Allah Yang Paling Besar (As Sirrullahil Akbar), Telah Kutemukan Rahasia Allah Yang Paling Besar, Ya Allah Ya Ruhul Qudus Aku Selamat Dunia dan Akhirat, Wahyu Tentang Neraka, Wahyu Keselamatan Allah, dan lain-lain.

    Kaligrafi dan kalender tulisan Arab yang berisikan ayat-ayat Injil tentang ketuhanan Yesus.

    Brosur-brosur: Brosur Dakwah Ukhuwah, Brosur Shirathal Mustaqim, Brosur Jalan Al Rachmat, dll.

    Kaset: Kaset tilawatul Injil, Dzat dan Sirat Allah (ceramah Pendeta Kemas Abubakar Mashur Yusuf Roni), Kesaksian murtadin Muhammad Imran, Kesaksian murtadin Ikhwan Luqman, Kesaksian murtadin Pdt. Akmaal Sani, Kesaksian murtadin Lies Saodah, Kesaksian murtadin Hagai Ahmad Maulana yang mengaku-ngaku putera KH. Kosim Nurzeha, dan lain-lain.

    Oleh: FORUM ANTISIPASI KEGIATAN PEMURTADAN (FAKTA)