Kategori: Chicken Soup for Soul

  • Kemulyaan Kebaikan

    Hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah, Semakin kita mendekat dan memahami kemuliaan tuntunan Sang Nabi saw akan semakin indah hari – hari kita. Dan Allah Swt menjadikan pada setiap perbuatan baik kemuliaannya. Allah jadikan kemuliaan di dunia dan di akhirat. Dan semakin seseorang itu berbuat baik kepada makhluknya Allah maka semakin ia dimuliakan di dunia dan akhirat. Diriwayatkan didalam Shahih Bukhari, ketika orang yang banyak membantu kepada saudara muslimnya, saudara – saudaranya maupun ia dari kelompok muslim ataupun diluar Islam bahkan hewan. Berbuat baik kepada semua yang hidup dari makhluknya Allah, ada pahalanya.

    Diriwayatkan didalam Shahih Bukhari, ketika salah seorang sampai kepada Allah kehabisan amal pahala. Ia banyak berbuat pahala tapi banyak juga berbuat dosa maka ketika ia sudah diperintahkan masuk kedalam neraka karena amalnya sedikit, habis tergadaikan oleh dosa – dosanya. Allah ditanya oleh hamba itu “Rabbiy, aku dimasa hidupku banyak membantu orang yang susah”. wahai Allah aku dulu sering membantu orang yang susah sedangkan Kau lebih berhak untuk membantu dan melimpahkan kemudahan atas kesusahan. Maka sekarang shadaqahlah padaku, maka Allah berkata “beri kemudahan kepada hamba-Ku karena ia sering membantu orang yang susah”. Demikian Allah menghargai perbuatan baik itu, padahal perbuatan baik itu sudah dicatat dalam pahala, padahal pahalanya sudah tergadai oleh dosa. Namun sifat baik tidak dilupakan oleh Allah Swt. Sebagaimana riwayat Shahih Bukhari, ketika seorang yang menjebak seekor kucing dalam sebuah kamar, tidak diberi makan dan minum sampai mati kehausan dan lapar. Allah masukkan ia ke dalam neraka. Allah tidak mengasihani hamba yang sulit mengasihani makhluk-Nya. Semakin besar seseorang mengasihani makhluk-Nya walaupun hewan maka Allah Swt mengasihaninya.

    Hadirin, sebagaimana riwayat Shahih Bukhari ketika seorang wanita yang banyak berbuat dosa melihat seekor anjing yang kehausan sampai menjilat tanah karena hausnya. Wanita itu mengambilkan air dengan sepatunya, karena di sumur anjing tidak bisa mencapai air di sumur. Ia memberinya minum maka Allah Swt berterimakasih kepadanya dan mengampuni dosanya. Hewan tidak bisa berterimakasih kepada manusia tapi Allah berterimakasih untuknya.

    Hadirin, terjadi beberapa waktu yang silam saat itu saya masih di Tarim, Hadramaut. Tinggal beberapa lama di kota syihir, wilayah.. Mukalla disitu ada seorang wanita tua wafat, suatu hari saya melihat jenazah diusung. Tapi ada 1 hal yang ganjil. Apa yang ganjil? Ketika jenazahnya diusung, banyak orang yang mengusungnya dan ratusan ekor kucing ikut mengantarkan jenazah. Ini ganjil, saya fikir ada jenazah diikuti ratusan ekor kucing dan baru ini saya melihatnya. Ketika saya bertanya – tanya, kenapa ini? Mereka memuji wanita tua yang wafat itu alaiha rahmatullah. Di masa hidupnya nafkahnya dicukupi oleh anak – anaknya, kerjanya tiap pagi masuk ke pasar mengambil bekas kepala – kepala ikan yang terbuang dan ditaruh di sebuah gerobak dan ia melemparnya kepada semua kucing yang ada di jalanan. Bertahun – tahun itu terjadi sampai setiap pagi, ratusan kucing sudah berjajar di jalanan menunggu bagian yang diberikan dari wanita tua itu. Ketika ia wafat, ratusan ekor kucing itu mengantarkan jenazahnya. Berhari – hari puluhan ekor kucing tidak meninggalkan kuburnya.

    Demikian hadirin – hadirat, Allah jadikan Ibrah (contoh) bahwa setiap hewan itu mempunyai perasaan terimakasih kepada yang memberinya. Bagaimana aku dan kalian yang selalu diberi oleh Allah, adakah perasaan terimakasih terlintas untuk selalu berbakti kepada Allah.

    Semoga Allah menghiasi jiwa kita dengan keindahan, mewarisi jiwa kita dengan sifat syukur. Ya Rahman Ya Rahim Ya Dzaljalali Wal Ikram Wahai Yang Maha Menerbitkan matahari kebahagiaan, terbitkan matahari kebahagiaan dalam hari – hari kami di dunia dan di akhirat, dhahiran wa bathinan. Jadikan jiwa kami selalu terang – benderang dengan cahaya kesejukan Nama-Mu, jadikan jiwa kami selalu tenang dalam cahaya kenikmatan dan kesejukan Nama-Mu, jadikan hari – hari kami selalu dalam kebahagiaan dunia dan akhirat. Ya Rahman Ya Rahim pada-Mu kami bermunajat atas segala doa dan harapan, dari segala hajat kami yang kami ketahui dan yang tidak kami ketahui, jauhkan kami dari segala musibah dan kesulitan yang kami ketahui dan tidak kami ketahui. Limpahkan untuk kami segala kemudahan dan anugerah yang kami ketahui dan belum kami ketahui.

    Hadirin – hadirat, hari ini adalah hari jadinya kota Jakarta hampir mencapai abad yang ke 5. Kita berdoa semoga Allah mengembalikan keadaan Jakarta dengan yang sebaik – baiknya. Kota yang penuh kedamaian, kota yang penuh keluhuran, kota yang penuh iman. Ya Rahman Ya Rahim Ya Dzaljalali Wal Ikram Ya Dzaththauli wal In’am. Kita lanjutkan dengan doa bersama kita mendoakan seluruh muslimin – muslimat dan semoga Allah memunculkan pemimpin yang terbaik bagi kita bangsa Indonesia ini diberikan pemimpin yang membawa Rahmat dan Kedamaian Allah Swt.

    (<a href=”http://majelisrasulullah.org/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=220&amp;Itemid=1″ target=”_blank”>Majelis Rasulullah</a>)

  • Aku Pamit Wahai Guru

    Siang hari sabtu 13 Juni 2009, detik detik pamitan Habib Munzir pada Guru Mulya, beliau bersimpuh dihadapan Guru Mulya, samudera ilmu nan luas.., Guru yg sangat lembut dan berwibawa, seakan akan langit dan bumi sirna ketika memandang kelembutan dan kedamaian diwajahnya, berkata Anas bin Malik ra : Belum pernah kami melihat pemandangan yg lebih menakjubkan dari wajah sang Nabi saw (Shahih Bukhari)

    Itu adalah dimasa Anas bin Malik ra, namun dimasa kita, kita menemukan cahaya keindahan itu, sebagaimana sabda Nabi kita saw : “Maukah kalian kuberitahu siapakah yg mulia diantara kalian?, mereka adalah yg jika dipandang wajahnya membuatmu ingat pada Allah” (HR Bukhari pada Adabul Mufrad).

    Kota Tarim, Hadramaut, Yaman adalah kota kedamaian, cuaca panas terik yg bisa mencapai 45 derajat celcius, namun terik matahari itu sirna dan sejuk dengan keberadaan para ulama shalihin berwajah sejuk dan damai, (Selengkapnya tentang dialog antara Habib Munzir dan Habib Umar ini, silahkan klik di sini.)

  • Aku Pamit Wahai Guru

    Siang hari sabtu 13 Juni 2009, detik detik pamitan Habib Munzir pada Guru Mulya, beliau bersimpuh dihadapan Guru Mulya, samudera ilmu nan luas.., Guru yg sangat lembut dan berwibawa, seakan akan langit dan bumi sirna ketika memandang kelembutan dan kedamaian diwajahnya, berkata Anas bin Malik ra : Belum pernah kami melihat pemandangan yg lebih menakjubkan dari wajah sang Nabi saw (Shahih Bukhari)

    Itu adalah dimasa Anas bin Malik ra, namun dimasa kita, kita menemukan cahaya keindahan itu, sebagaimana sabda Nabi kita saw : “Maukah kalian kuberitahu siapakah yg mulia diantara kalian?, mereka adalah yg jika dipandang wajahnya membuatmu ingat pada Allah” (HR Bukhari pada Adabul Mufrad).

    Kota Tarim, Hadramaut, Yaman adalah kota kedamaian, cuaca panas terik yg bisa mencapai 45 derajat celcius, namun terik matahari itu sirna dan sejuk dengan keberadaan para ulama shalihin berwajah sejuk dan damai, (Selengkapnya tentang dialog antara Habib Munzir dan Habib Umar ini, silahkan klik di sini.)

  • Kentut Never Die

    Siapa pun akan menganggap kentut adalah tindakan yang tidak sopan dan kurang ajar. Apalagi kalau kemudian dilengkapi dengan aroma yang menyesakkan dada. Gas buang dari dalam tubuh ini memang “senjata ampuh” untuk “mengacaukan” suasana. Segala sumpah serapah dan caci maki biasanya langsung bermunculan tatkala terdengar suara kentut. (lebih…)

  • WE WILL NOT GO DOWN

    (Song for Gaza)
    Composed by Michael Heart
    Copyright 2009

    A blinding flash of white light
    (Cahaya putih yang membutakan mata)
    Lit up the sky over Gaza tonight
    (Menyala terang di langit Gaza malam ini)
    People running for cover
    (Orang-orang berlarian untuk berlindung)
    Not knowing whether they’re dead or alive
    (Tanpa tahu apakah mereka masih hidup atau sudah mati)

    They came with their tanks and their planes
    (Mereka datang dengan tank dan pesawat)
    With ravaging fiery flames
    (Dengan berkobaran api yang merusak)
    And nothing remains
    (Dan tak ada yang tersisa)
    Just a voice rising up in the smoky haze
    (Hanya suara yang terdengar di tengah asap tebal)

    We will not go down
    (Kami tidak akan menyerah)
    In the night, without a fight
    (Di malam hari, tanpa perlawanan)
    You can burn up our mosques and our homes and our schools
    (Kalian bisa membakar masjid kami, rumah kami dan sekolah kami)
    But our spirit will never die
    (Tapi semangat kami tidak akan pernah mati)
    We will not go down
    (Kami tidak akan menyerah)
    In Gaza tonight
    (Di Gaza malam ini)

    Women and children alike
    (Wanita dan anak-anak)
    Murdered and massacred night after night
    (Dibunuh dan dibantai tiap malam)
    While the so-called leaders of countries afar
    (Sementara para pemimpin nun jauh di sana)
    Debated on who’s wrong or right
    (Berdebat tentang siapa yg salah & benar)

    But their powerless words were in vain
    (Tapi kata2 tak berdaya mereka sedang dalam kesakitan)
    And the bombs fell down like acid rain
    (Dan bom-bom pun berjatuhan seperti hujam asam)
    But through the tears and the blood and the pain
    (Tapi melalui tetes air mata dan darah serta rasa sakit)
    You can still hear that voice through the smoky haze
    (Anda masih bisa mendengar suara itu di tengah asap tebal)

    We will not go down
    (Kami tidak akan menyerah)
    In the night, without a fight
    (Di malam hari, tanpa perlawanan)
    You can burn up our mosques and our homes and our schools
    (Kalian bisa membakar masjid kami, rumah kami dan sekolah kami)
    But our spirit will never die
    (Tapi semangat kami tidak akan pernah mati)
    We will not go down
    (Kami tidak akan menyerah)
    In Gaza tonight
    (Di Gaza malam ini)

    Listen the song

  • WE WILL NOT GO DOWN

    (Song for Gaza)
    Composed by Michael Heart
    Copyright 2009

    A blinding flash of white light
    (Cahaya putih yang membutakan mata)
    Lit up the sky over Gaza tonight
    (Menyala terang di langit Gaza malam ini)
    People running for cover
    (Orang-orang berlarian untuk berlindung)
    Not knowing whether they’re dead or alive
    (Tanpa tahu apakah mereka masih hidup atau sudah mati)

    They came with their tanks and their planes
    (Mereka datang dengan tank dan pesawat)
    With ravaging fiery flames
    (Dengan berkobaran api yang merusak)
    And nothing remains
    (Dan tak ada yang tersisa)
    Just a voice rising up in the smoky haze
    (Hanya suara yang terdengar di tengah asap tebal)

    We will not go down
    (Kami tidak akan menyerah)
    In the night, without a fight
    (Di malam hari, tanpa perlawanan)
    You can burn up our mosques and our homes and our schools
    (Kalian bisa membakar masjid kami, rumah kami dan sekolah kami)
    But our spirit will never die
    (Tapi semangat kami tidak akan pernah mati)
    We will not go down
    (Kami tidak akan menyerah)
    In Gaza tonight
    (Di Gaza malam ini)

    Women and children alike
    (Wanita dan anak-anak)
    Murdered and massacred night after night
    (Dibunuh dan dibantai tiap malam)
    While the so-called leaders of countries afar
    (Sementara para pemimpin nun jauh di sana)
    Debated on who’s wrong or right
    (Berdebat tentang siapa yg salah & benar)

    But their powerless words were in vain
    (Tapi kata2 tak berdaya mereka sedang dalam kesakitan)
    And the bombs fell down like acid rain
    (Dan bom-bom pun berjatuhan seperti hujam asam)
    But through the tears and the blood and the pain
    (Tapi melalui tetes air mata dan darah serta rasa sakit)
    You can still hear that voice through the smoky haze
    (Anda masih bisa mendengar suara itu di tengah asap tebal)

    We will not go down
    (Kami tidak akan menyerah)
    In the night, without a fight
    (Di malam hari, tanpa perlawanan)
    You can burn up our mosques and our homes and our schools
    (Kalian bisa membakar masjid kami, rumah kami dan sekolah kami)
    But our spirit will never die
    (Tapi semangat kami tidak akan pernah mati)
    We will not go down
    (Kami tidak akan menyerah)
    In Gaza tonight
    (Di Gaza malam ini)

    Listen the song

  • Pengemis Yahudi Tua yang Buta

    Setelah Rasulullah wafat, Sayyidina Abu Bakr menanyakan kepada puterinya, Sayyidah Aisyah, “Anakku adakah sunnah (kebiasaan) kekasihku yang belum aku kerjakan?” Kemudian Sayyidah Aisyah menjawab, “Wahai ayah, engkau adalah seorang ahli sunnah. Hampir tidak ada satu sunnah pun yang belum ayah lakukan kecuali satu sunnah saja. Setiap pagi, Rasulullah SAW selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang berada di sana.”

    Keesokan harinya Sayyidina Abu Bakr pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikan kepada pengemis itu. Beliau bertanya kepada seseorang, kiranya dimana dia dapat menemui pengemis Yahudi yang buta itu. Lalu dikatakan kepadanya bahwa untuk mengenalinya mudah saja. Jika ada seorang tua yang buta dan dari mulutnya selalu keluar kata-kata umpatan bagi Nabi Muhammad, maka itulah orangnya. Bayangkan, di kota yang dipimpinnya, ada orang yang setiap hari kerjanya mencaci-maki beliau, tetapi Nabi Muhammad membiarkan orang tersebut. Beliau tidak menangkapnya, tidak menghukumnya, bahkan menyantuninya.

    Sayyidina Abu Bakr mendatangi pengemis itu dan memberikan makanan itu kepadanya. Ketika Sayyidina Abu Bakar mulai menyuapinya, si pengemis marah sambil berteriak, “Siapakah kamu?” Sayyidina Abu Bakr menjawab, “Aku orang yang biasa.”

    “Bukan! Engkau bukan orang yang biasa menyuapiku,” jawab si pengemis buta itu. “Apabila orang yang sering menyuapiku datang kepadaku, tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu ia menghaluskan makanannya sehingga aku tidak susah mengunyahnya,” kata pengemis buta itu.

    Sayyidina Abu Bakr tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu, “Aku memang bukan orang yang biasa datang padamu. Aku adalah salah seorang dari sahabatnya. Orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW.”

    Mendengar penjelasan Sayyidina Abu Bakr, Yahudi tua itu begitu terharu hingga meneteskan air mata, kemudian berkata, “Benarkah demikian? Selama ini aku selalu menghina dan memfitnahnya, namun ia tidak pernah memarahiku sedikitpun. Ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi. Sungguh ia begitu mulia.” Pengemis Yahudi buta itu pun akhirnya bersyahadat di hadapan Sayyidina Abu Bakr.

  • Mematikan Sunnah Rasul

    Pada saat ini bertambah banyak golongan, yang sadar tidak sadar, telah mengajak ummat untuk mematikan sunnah yang diajarkan Nabi Muhammad SAW. Ada dua cara mereka dalam mematikan sunnah-sunnah Rasulullah yang akan kami bahas sedikit di sini. (lebih…)

  • Islam Agama yang Mudah

    Sabda Rasulullah saw :
    “Sungguh islam itu mudah, tiadalah yang memaksakan dirinya maka ia akan kalah, maka berbuatlah sewajarnya, dan mendekatlah pada perbuatan baik, dan ketahuilah kabar gembira pada amal amal, dan mohonlah (berdoalah) pada pagi hari, sore hari dan sebagian waktu akhir malam” (Shahih Bukhari) (lebih…)

  • Mematikan Sunnah Rasul

    Pada saat ini bertambah banyak golongan, yang sadar tidak sadar, telah mengajak ummat untuk mematikan sunnah yang diajarkan Nabi Muhammad SAW. Ada dua cara mereka dalam mematikan sunnah-sunnah Rasulullah yang akan kami bahas sedikit di sini.

    Issue Bid’ah Dholalah

    Salah satu cara yang mereka gunakan adalah dengan menebarkan syubhat (keraguan), yaitu dengan mengatakan bahwa tradisi Islam yang telah lama dijalankan ummat, seperti maulidan, tahlilan, yasinan, dan sebagainya itu merupakan perbuatan bid’ah dholalah. Padahal tradisi itu merupakan tradisi yang didukung oleh banyak hadits shahih dan hasan. Walaupun berbagai hadits yang mendukung perbuatan tersebut telah dikemukakan, tetapi tetap saja mereka berusaha agar tradisi-tradisi mulya yang Rasul ajarkan itu ditinggalkan. Karena mereka memang pengikut hawa nafsu. Mereka hanya taqlid kepada ustadz mereka yang sanad ilmunya terputus dari Rasulullah dan para salaful ummah. Paling jauh sanad mereka hanya sampai kepada seorang guru di abad keenam hijriyah yang oleh para ahli ilmu aqidah dianggap telah beraqidah menyimpang dari aqidah 4 imam madzhab Ahlus Sunnah. Kita semua tahu bahwa Imam Imam Malik, Imam Hanafi, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad mengusung aqidah yang benar. Sedang sang guru dari abad keenam hijriyah itu telah mengusung aqidah berbeda dari yang diusung oleh 4 imam.

    Menghindari Ikhtilaf

    Cara lain untuk mematikan sunnah Rasul adalah dengan dalih menghindari ikhtilaf. Padahal dalam hal sampainya mengirim pahala bagi mayit, sunnahnya bertawassul dengan nabi, sunnahnya merayakan maulid dsb itu tidak terdapat ikhtilaf pada 4 madzhab Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

    Jika dengan alasan menghindari ikhtilaf ini kemudian kita meninggalkan merayakan maulid Nabi dan tawassul dengan Nabi, maka lambat laun tradisi tersebut menjadi sirna. Maka janganlah terkecoh oleh propaganda busuk seperti ini.

    Hidupkan Sunnah Rasul

    Maka marilah kita hidupkan sunnah Rasul walau kita dicap sebagai ahlul bid’ah, tukang adu domba (namimah), tukang fitnah, pemecah belah ummat, dsb. Ketahuilah bahwa mereka yang mematikan sunnah Rasul itulah yang memisahkan diri dari Al-Jama’ah. Jika mereka mematikan sunnah, lalu bagaimana mereka akan disebut sebagai Ahlus Sunnah?

    Hidupkanlah sunnah dan sadarkanlah mereka yang mematikan sunnah walau Anda dicap munafiq oleh mereka. Janganlah Anda lemah hanya karena celaan mereka. Sungguh, menghidupkan sunnah di zaman seperti ini akan dibalas dengan pahala syahid.