Kategori: Chicken Soup for Soul

  • Islam menentang Rasisme

    Tak ada kelebihan orang Arab atas orang non-Arab. Tidak pula orang berkulit putih atas yang berkulit hitam, kecuali dengan taqwa. (Al-Hadits)

    Dari perkataan Rasul di atas, kita dapat memahami bahwa Islam telah mengajarkan asas kesetaraan sejak awal. Tidak ada perbedaan haq dan kewajiban antara bangsa Arab dengan bangsa non-Arab, atau pun antara orang berkulit putih dengan orang berkulit hitam. Hal ini telah diajarkan ketika bangsa-bangsa lain terkena penyakit diskriminasi antara orang Yahudi dengan non-Yahudi, antara orang berkulit putih dengan orang berkulit hitam. Hal ini telah diajarkan jauh sebelum KKK melakukan pembakaran terhadap orang berkulit hitam di Amerika. Jauh sebelum orang Eropa menganggap orang berkulit hitam sebagai orang yang dikutuk Tuhan. (lebih…)

  • Muslimin Barbarian

    Ketika Sayyidina Abu Bakar akan memberangkatkan pasukan Muslimin, beliau berkata, “Jangan curang! Jangan membunuh bayi! Jangan membunuh orang yang lanjut usia! Jangan membunuh perempuan! Jangan menyembelih binatang ternak! Jangan merusak pohon! Jangan menghancurkan rumah! Jangan membakar ladang pertanian! Jika kalian melihat orang-orang yang menghususkan diri untuk beribadah di gereja-gereja, maka jangan ganggu mereka! Jangan menyerang musuh di waktu subuh!” (lebih…)

  • Manusia yang Baik Hati

    Diantara manusia yang baik hati, mungkin para penggosip adalah salah satunya. Bagaimana tidak? Setiap hari mereka menanggung dosa-dosa dari orang-orang disekitar mereka. Mereka melakukan hal itu dengan senang hati. Sehari saja mereka tidak melakukannya, akan terasa ada yang kurang dalam hidup mereka pada hari itu.

    Mereka menanggung dosa-dosa orang lain tanpa meminta upah dari orang-orang yang mereka tolong. Betapa tulus mereka itu. Namun diantara ulama, ada juga yang kemudian memberi hadiah kepada mereka atas kebaikan mereka yang telah bersedia memikul dosa-dosa ulama tersebut.

    Hmm… apa sebenarnya yang mereka cari dari pekerjaan berat ini? Memang mulya pekerjaan mereka. Tetapi sangat jarang manusia yang memuji pekerjaan mereka. Atau mungkin… di situlah letak kemulyaan mereka. Menolong orang lain dengan mengorbankan diri sendiri tanpa meminta upah dan tanpa mencari pujian. Sungguh pengorbanan yang tulus.

    Mereka siap menggantikan Anda untuk memikul dosa-dosa Anda di hadapan Allah. Dan Anda tidak harus membalas kebaikan mereka. Karena mereka melakukan itu semua bukan untuk meminta balasan dari Anda. Adakah manusia yang setara kemulyaannya dengan mereka ini? Saya kira… tidak ada. Wallahu a’lam.

  • Hajji Sosial

    Diceritakan bahwa di sebuah perkampungan terpencil ada seorang miskin yang bekerja sebagai tukang nyemir sepatu. Walaupun tukang penyemir sepatu dan miskin, semangat dan komitmennya untuk pengabdi kepada Penciptanya sangat besar. Bahkan tidak ketinggalan mengimpikan untuk dapat melaksanakan ibadah haji di suatu hari.

    Untuk mewujudkan mimpi itu, disisihkanlah penghasilannya dari ke hari, bulan ke bulan, bahkan dari tahun ke tahun. Kalaulah seandainya bukan karena iman dan tawakkal yang tinggi, pastilah hamba Allah ini patah semangat, sebab uang yang dikumpulkan itu tidak pernah mencukupi biaya haji yang dibuthkan. Namun didukung oleh semangat penuh dan kerja keras, hingga suatu ketika dirasa bahwa bekal untuk berhaji telah mencukupi.

    Segala persiapan pun dilakukan. Niat telah bulat, perbekalan ada di tangan. Kini tinggal memulai perjalanan itu. Hati hamba ini bersuka ria tiada habis memuji kebesaran Ilahi. Dan tibalah masa untuk memulai perjalanan itu. Tiba-tiba di saat akan meninggalkan rumahnya terdengar kabar bahwa tetangganya terjatuh sakit dan memerlukan bantuan keuangan untuk pengobatan.

    Sang hamba itupun mengalihkan langkah kakinya menuju kediaman tetangga itu. Di lihatnya tetangganya tergeletak lemah, merintih menahan sakit dan berharap jika ada yang berkenan membantunya untuk meringankan bebannya itu. Diapun dengan ikhlas dan tekad karena mencari ridha Allah SWT memberikan bekal perjalanan hajinya kepada tetangga dengan harapan Allah memberikan keringanan bagi penderitaannya.

    Singkatnya, sang hamba itu gagallah berangkat ke tanah suci. Sebuah ambisi pribadi pengabdian kepada Rabbnya yang telah lama diidamkan. Namun dalam hatinya dia puas karena mampu memberikan secercah harapan dan ketenangan kepada tetangga yang tergeletak lemah dan tak berdaya itu.

    Dari kota terdekat dari kampung tukang sepatu ini juga ternyata ada beberapa orang yang menunaikan haji pada tahun yang sama. Bahkan beberapa di antaranya berangkat menunaikan ibadah haji untuk ke sekian kalinya.

    Singkat cerita, tibalah masa wukuf di Arafah. Sang hamba yang gagal berangkat haji itu kembali menggeluti pekerjaan hari-harinya dengan penuh ikhlas. Gembira dalam setiap saat bersama ridha Tuhannya. Hatinya seolah bernyanyi ria dalam genggaman rahasia Ilahi. Bergerak mengikuti hempasan ombak takdir kekuasaanNya. Gerakan-gerakan tangannya selalu teriringi oleh pujian dan tasbih kepada sang Khaliq, Pencipta alam semesta.

    Sementara itu, manusia di padang Arafah hanyut dalam kekhusyu’an ibadah mereka. Terdengar lafaz-lafaz dzikrullah dan pujian dalam AsmaNya. Siang yang terik itu menjadikan sebagian para haji tertidur diirngi tasbih dan kekhusyu’an

    Salah seorang dari jama’ah yang berada di padang Arafah itu adalah seorang saudagar kaya dan terpandang dari sebuah kota dekat perkampungan hamba Allah yang miskin tadi. Sang saudagar ini tertidur pulas di tengah-tengah kekhusyu’an manusia memuja Rabb mereka. Dalam tidurnya itu, sang saudagar ini bermimpi ketemu dengan Rasulullah SAW.
    Beliaupun tidak menyia-nyiakan kesempatan itu bertanya kepada Rasulullah SAW: “Wahai Rasulullah, siapakah di antara hamba-hamba Allah yang menunaikan ibadah haji tahun ini yang diterima sebagai haji mabrur?”

    Rasulullah kemudian menjawab dengan tersenyum ramah: “Si fulan, seraya menyebutkan nama sang hamba miskin itu”.

    Saudagar itu terkejut dan ingin tahu siapa gerangan dia yang beruntung itu. Maka beliaupun menyambung pertanyaannya: “wahai Rasulullah, siapa gerangan dia dan berasal dari mana?”

    Rasulullah kembali menjawab dengan ramah: “Dia adalah seorang hamba Allah dari perkampungan fulan, seraya menyebutkan nama kampugnya”.

    Mendengarkan itu, saudagar itu terkejut dan hampir tidak percaya. Mana mungkin, pikirnya, ada seseorang yang pergi haji dari kampung itu. Semua penduduknya adalah miskin. Penghasilannya tidak mungkin mencukupi untuk seseorang bisa menunaikan ibadah haji. Pergolakan batin sang haji itu yang setengah percaya dan tidak menjadikannya terbangun.

    Setelah menunaikan ibadah hajinya, saudagar itu segera kembali ke kotanya. Keinginannya sangat besar untuk tahu siapa gerangan orang yang mendapatkan haji mabrur dari perkampungan yang disebutkan itu. Ditelusurinya kampung itu, tapi tak seorang pun mengaku melakukan ibadah haji. Lalu dia teringat nama yang disebutkan oleh Rasulullah SAW tadi, maka dicarinya orang itu. Ternyata dia hanyalah seorang tukang semir sepatu yang miskin.

    Saudagar itu pun meminta sang penyemir itu menceritakan perihal dirinya, dan sampai Rasulullah SAW menjamin baginya haji mabrur. Maka dengan tenang tapi dengan hati yang bahagia sang penyemir itu bercerita panjang, mulai dari niatannya untuk haji, mengumpulkan perbekalan sedikit demi sedikit, hingga saat-saat pemberangkatan dan bantuannya kepada tetangganya yang membutuhkan.

    “Barangkali niatku yang bulat dan kerja keras dan tekadku itu yang diterima. Sayapun ikhlas dan menyerahkan dirinya sepenuhnya kepada Allah SWT.”, katanya sambil tersenyum melirik pak haji.

    Tak lupa juga sang penyemir sepatu ini menyampaikan selamat kepada sang haji seraya berdoa semoga mendapatkan haji mabrur.

    Haji Mabrur

    Di saat di Padang Arafah, Abu Bakar pernah ditanya oleh seorang sahabat: “apakah itu haji mabrur wahai Abu Bakar?”.

    “Engkau akan melihat apakah haji kamu mabrur atau tidak di Madinah nanti” jawabnya singkat.

    Haji mabrur memang menjadi impian setiap pelaku ibadah haji. Dalam titahnya, Rasulullah SAW menjelaskan: “dan haji yang mabrur tiada balasan baginya kecuali syurga”.

    Untuk mendapatkan janji inilah, setiap Muslim akan melakukan berbagai upaya dan pengerbonan agar dapat menunaikan ibadah haji dan sekaligus melakukan berbagai ibadah yang dapat menjadikan hajinya mabrur (baik) atau maqbul (diterima).

    Sayang, pemahaman tentang makna haji mabrur itu seringkali dibatasi oleh dinding-dinding ritual yang ketat. Dalam memahami mabrur atau tidaknya haji seseorang tidak atau jarang melihat jauh di balik dari praktek-praktek ritual yang terkait dengan haji. Perhatian sepenunya terkadang hanya pada sebatas apakah rukun-rukun, wajib maupun sunnah-sunnah haji terpenuhi secara baik.

    Pertanyaannya, itukah semua tujuan yang ingin dicapai dari pelaksanaan ibadah haji? Apakah ibadah haji sekedar dimaksudkan untuk mengumpulkan pahala sebanyak-banyaknya? Atau barangkali sekedar dimaksudkan untuk membersihkan dosa-dosa masa lalu?

    Jawabannya pasti tidak. Ibadah dalam Islam tidak maksudkan justeru untuk membangun “egoisme” pribadi, walau itu atas nama penyembahan. Ruku’ dan sujud seorang hamba seharusnya tidak dibangun di atas kepuasan pribadi atau keinginan untuk merasakan ketenangan dan kebahagiaan individu saja, walau itu atas justifikasi akhirat.

    Inilah rahasia dari ungkapan Abu Bakar kepada seorang sahabat bahwa hajinya akan diketahui mabrur atau tidak di saat telah kembali ke Madinah (kampung halamannya). Bahwa di saat kembali berada di tengah-tengah kehidupan kesehariannya, terjadi perubahan yang positif. Imannya menjadi semakin “tajam” sehingga mampu menembus kuatnya batas-batas wujud material ini. Ibadahnya semakin “dalam” (ikhlas) dan bertambah. Apalagi, kelakuan sosialnya akan semakin tumbuh secara positif, menjadikan semua di sekitarnya merasai aman dan tenteram karena sang haji.

    Haji Sosial

    Berdoman kepada cerita si tukang sepatu maupun jawaban Abu Bakar R.A. di atas jelas bahwa haji adalah amalan ibadah dalam Islam yang memiliki konsekwensi sosial yang tinggi. Betapa tidak, panggilan berhaji dalam Islam itu sendiri dikumandangkan dalam bentuk panggilan “kemanusiaan”: Dan kumandangkanlah kepada manusia (wahai Ibrahim) untuk datang berhaji, niscaya mereka akan datang kepadamu (untuk berhaji) dengan berjalan kaki dan mengendarai onta-onta yang jinak. Mereka berdatangan dari seluruh penjuru yang jauh (Al Qur’an).

    Ketika Allah memerintahkan kaum Muslimin untuk berhaji dalam Al Qur’an, juga dipakai panggilan “kemanusiaan”: Dan bagi Allah atas manusia untuk berhaji kepada Baitullah, bagi siapa yang mampu (Al Qur’an).

    Kedua hal dia atas menunjukkan ikatan sosial kemanusiaan yang terdapat dalam ibadah haji itu. Dan kenyataannya memang demikian. Di saat musim haji, mereka yang datang ke tempat-tempat suci itu hanya dipandang dengan satu pandangan, yaitu “pandangan kemanusiaan”. Mereka tidak lagi dipandang dalam ikatan-ikatan sosial dan keduniaan lainnya. Hanya satu kriteria yang membedakan di antara mereka, kriteria ketakwaan yang tidak ditentukan oleh afiliasi sosial manusia.

    Kesadaran nilai sosial dalam haji ini seharusnya ditumbuh suburkan di saat menusia diterkam oleh gaya hidup egoistik dunia modern. Dinding-dinding pembatas sosial begitu kuat menjadikan manusia kehilangan koneksi batin. Dinding-dinding itu menjadikan manusia saling menilai, bukan lagi dengan penilaian kemanusiaannya, tapi lebih dekat kepada penilaian hewaninya. Manusia saling berbangga dengan ras, suku, warna kulit, kebangsaan, dan tentunya tingkatan perekonomiannya. Seolah semua inilah yang menentukan harga diri (dignity) seorang anak insan.

    Kemampuan menembus dinding-dinding pembatas sosial menjadi sebab tumbuhnya rasa solidaritas yang tinggi. Kesenangan atau penderitaan sesama di sekitarnya akan mudah terlacak karena ada rasa kemanusiaan yang tinggi. Ada sensitivitas yang tajam untuk merasakan apa yang terjadi di sekitarnya. Terbangun kesadaran sosial yang tinggi sebagai akibat dari sensitivitas tadi. Perbedaan sosial atau status ekonomi tidak menjadi penghalang untuk merasakan apa yang terjadi di sekitarnya.

    Disebutkan dalam sejarah bahwa suatu ketika Umar bin Khattab pernah berangkat ke Jum’atan sambil memegang perutnya. Ketika ditanya oleh seorang sahabat, apa gerangan yang terjadi? Umar menjawab: “Demi Allah saya lapar dan tidak akan merasakan kenyang selama anak-anak yatim dan kaum miskin masih merasakan kelaparan”.

    Beliaulah yang pernah bertanya kepada seorang sahabtnya: “Apakah engkau tidur dengan baik semalam?”. Sahabat menjawab: “Iya Umar, saya tidur dengan nyenyak”. Umar memberitahu: “Demi Allah, saya tidak nyenyak tidur dalam 3 malam ini karena khawatir akan dimintai pertanggung jawaban oleh para janda, anak yatim dan kaum miskin pada hari kiamat nanti”.

    Di suatu malam beliau ke luar dari rumahnya untuk melakukan pengecekan langsung situasi kota Madinah. Dari kejauhan beliau melihat api yang menyala. Ketika mendekat didapatilah seorang ibu yang nampaknya sedang memasak. Umar bertanya: “Apa yang anda sedang masak dan kenapa memasak di pertangahan malam?” Sang ibu menjawab: “Sungguh saya memasak batu-batuan untuk menghibur anak-anakku yang kelaparan. Mudah-mudahan dengan melihat nyala api ini mereka tertidur sambil menunggu makanan ini siap untuk dihidangkan”.

    Sang ibu itu melanjutkan: “Saya hanyalah seorang janda yang punya banyak anak. Umar sebagai pemimpin tidak bertanggung jawab membiarkan kami kelaparan seperti ini” sambil terus menerus menuduh Umar tidak bertanggung jawab tanpa menyadari bahwa yang berdiri di hadapannya adalah Umar sendiri.

    Tanpa berbicara sepatah kata, airmata Umar mengalir membasahi pipi dan janggut beliau mendengarkan pengaduan ibu itu. Beliau kemudian meninggalkan ibu itu dan kembali ke Madinah malam itu juga langsung menuju baitul mal (gudang penyimpangan bahan-bahan bantuan). Diambilnya sekarung gandum dan beberapa potong lauk (syahm) dan dipikulnya sendiri kembali menuju tempat ibu tadi. Di tengah jalan beliau berpapasan dengan seorang sahabat. Sahabat terkejut melihat Umar memikul sekarung gandum. Beliau menawarkan diri untuk membawakan karung tersebut. Tawaran itu ditolak olehnya seraya berkata: “Akankah engkau mengambil alih tanggung jawabku di hadapan Allah kelak?”.

    Sungguh contoh solidaritas sosial yang agung dari sahabat dan pemimpin agung. Bahwa accountability (pertanggung jawaban) bukan sekedar duniawi sifatnya, tapi yang lebih penting adalah pertanggung jawaban di Akhirat kelak.

    Bukankah masanya, di saat jutaan manusia menjerit dalam genggaman kerisauan ekonomi, tiada pekerjaan, harga kebutuhan pokok yang melonjak, manusia seharusnya tersadarkan akan urgensi haji sosial. Di saat saudara-saudara sebangsa dan seiman hidup dan menghidupi keluarganya di bawah kolon-kolon jembatan itu, di saat-saat para ayah bercucuran keringat tanpa pernah mencukupi kebutuhan keluarganya, di saat ribuan anak-anak potensi bangsa harus kehilangan kesempatan belajar karena biaya pendidikan yang tinggi, kita tersadarkan oleh hajinya sang tukang sepatu. Haji yang terbangun di atas fondasi kesadaran sosial yang tinggi dan bukannya haji yang semakin membawa kepada prilaku egoistik atas nama Tuhan dan ridhaNya. Wallahu a’lam!

    (Syamsi Ali, penulis rubrik “Kabar Dari New York” di www.hidayatullah.com. Tulisan ini sudah dimuat di www.innchannels.com)

  • Hidayah dari Bar

    Dua minggu menjelang Ramadan tahun ini, tepatnya Agustus 31 (2007), seperti biasa saya datang ke Islamic Center of New York, tapi kali ini agak telat. Selain karena memang sedang melakukan beberapa pekerjaan pribadi, juga karena di Islamic Center sekolah akhir pekan (weekend school) masih diliburkan. Jadi, saya tidak harus datang lebih awal seperti ketika masih ada sekolah akhir pekan.

    Memasuki Islamic Center sekitar setengah 12 siang itu juga masih terasa sepi. Tapi ketika melintasi resepsionis, di ruang itu telah menunggu seorang perempuan separuh baya. Seperti biasa, selain mengucapkan salam kepada petugas resepsionis, juga saya sapa perempuan itu dengan “hi, good morning!”. Dengan sedikit senyum dia manjawab “Good morning”.

    Saya kemudian diberitahu bahwa perempuan itu telah datang sejak jam 9-an pagi. Mungkin karena menyangka bahwa jam buka di Islamic Center persis jam kerja di perkantoran. Jadi dia bermaksud untuk datang sebelum ada kegiatan-kegiatan yang menyibukkan. Tentu saya merasa bersalah. Maka saya katakan “I am very sorry for being late?”. Dengan ramah dia jawab: “Oh it’s ok. I was prepared to wait!”.

    Saya langsung mengajaknya ke ruang pertemuan. Kelihatannya perempuan ini sangat hati-hati, baik dalam bersikap maupun dalam berucap. Bahkan ketika akan memasuki ruangan itu, dia harus bertanya dulu apakah boleh masuk atau belum. Mungkin pernah membaca atau mendengar bahwa di mesjid itu harus sopan, dll.

    “Hi, welcome! What’s you name?”, saya memulai percakapan itu. “Catherine”, jawabnya pelan, hampir saja tidak kedengaran. Saya memulai bertanya tentang pribadinya, seperti tempat tinggal, asal usul, dll. “I am from here, but my parents are living in Upstate”, jelasnya. “Now, may I know why you are here today?”. Dengan sedikit menunduk dia menjawab: “I don’t know what to say. But can I tell you a little bit about my back ground?”, tanyanya. “Of course, you are free to say what you want to say”.

    Dia menarik nafas lalu mulai bercerita. Cerita yang cukup penjang dan sedikit berbelit-belit. Dari cerita panjang itu dia menyampaikan bahwa dia termasuk anak yang seharusnya beruntung. Orang tuanya, menurutnya, beragama dan juga berpendidikan tinggi. “I enjoyed that privilege. I went to the best school, best college and university”, katanya. “Which university did you go?” tanya saya. “Columbia university”, jawabnya. “Graduated?”. “Yes, I finished my Master Degree in Journalism” jelasnya.

    “So where are you now?”. Maksud saya, dimana dia sekarang ini bekerja. Dia kemudian menampakkan wajah sedih, menarik napas lalu bercerita. Setamat kuliah dia tidak peduli mencari kerja. Menurutnya, di masa kuliah itu dia berkenalan dengan seorang yang kaya dan royal. Dialah yang selalu memenuhi kebutuhannya. Teman yang dia panggil “boy friend” itu dia kenal di sebuah bar di suatu malam. Sejak itu perkenalan itu menjadi lebih dekat dan menjadilah mereka pasangan “boy-girl friends”. Keduanya hidup di sebuah apartemen mewah di Manhattan .

    Menurutnya lagi, teman prianya itu walau selalu minum alcohol di night club, tapi juga kalau berdiskusi selalu mengait-ngaitkan argumentasinya dengan agama yang dianutnya, yaitu Islam. Bahkan di rumah dia, menurutnya lagi, ada Al-Quran dan buku-buku Islam. Bahkan tidak jarang mengajarkan Catherine tentang Islam. Sambil tersenyum kecut, Catherine mengatakan: “But now, we are not together any more”.

    Saya kemudian menjelaskan, betapa memang banyak umat Islam seperti itu. Agama bagi kita adalah sesuatu yang serius, tapi tidak semua bisa “commit” dengannya ajarannya. Ada orang yang siap mati membela agama ini, tapi belum tentu juga mempraktekkannya. “So what happens afterwards?”, tanyaku kemudian. Catherine menjelaskan bahwa ternyata bacaan yang selalu ia ingat di rumah mantan pacarnya itu adalah Al-Quran.

    “I searched it further on the internet and surprisingly I found a lot of interesting things”, jelasnya. “So, what do you think about Islam and deep did you search about it?”, tanyaku. Dia mengatakan bahwa dia sudah belajar mengenai five pillars (lima rukun Islam). Dia bahkan belajar sendiri mengerjakan shalat, tapi bacaannya tidak bisa dilakukan.

    Saya tidak berpanjang lebar lagi berbicara dengan Catherine. Saya langsung bertanya: “Do you think, Islam is the right way for you to follow?”. Dia sepertinya senang dan langsung mengatakan: “I am sure about that. But I am worried that I can not commit my self into it”. Nampaknya Catherine khawatir menjadi seperti mantan pacarnya, yang sangat yakin dengan agamanya tapi gagal melaksanakannya.

    Saya kemudian menjelaskan bahwa memang dalam beragama itu diperlukan komitmen. Dan komitmen itu diawali dengan niat dan tekad yang bulat. Jika niat itu sudah ada, selebihnya adalah usaha dan doa. “you know, combining your efforts and commitment will bring Allah’s help to make you a better Muslim”, kataku memotivasinya. “My question is, are you ready to accept Islam as your new faith?”, pancingku. Dengan sedikit pelan, mungkin masih ragu, Catherine mengangguk sambil mengatakan: “Yes, I think it’s the time for me”.

    Tanpa mengundur-undur waktu lagi, saya menelpon resepsionis untuk memanggil dua saksi. Alhamdulillah, disaksikan oleh para saksi pagi itu, Catherine resmi memeluk Islam sebagai jalan hidupnya yang baru. Allahu Akbar!

    New York , 27 September 2007

    (M. Syamsi Ali, penulis rubrik “Kabar Dari New York” di www.hidayatullah.com)

  • Liem Thin, Dia Mengundangmu

    Namaku Liem Thin, sebut saja begitu. Riwayat kejahatanku cukup panjang. Waktu kecil, aku sering mengambil uang pamanku. Dia punya uang banyak, yang diam-diam sering aku ambil. Mungkin dia tidak tahu sehingga tidak pernah marah. Saat itu mulai tumbu bibit kejahatan pada diriku.

    Ketika remaja, aku pernah menodong seorang pedagang yang sangat kaya. Tetapi dia berteriak-teriak, dan beberapa centengnya datang lalu mengejar serta menghajarku. Aku merasa sakit sekali dan dendam. Beberapa waktu kemudian aku mengajak teman-teman menyerang kediaman pedagang itu, dan tentu saja juga menyerang para centeng yang tempo lalu menyiksaku.

    Kemudian aku semakin sering melakukan perbuatan kriminal kecil-kecilan. hal itu membuatku sering berurusan dengan polisi. “Kamu lagi, kamu lagi!” Kata mereka kesal.

    Tetapi sesungguhnya aku berbuat jahat karena terdesak himpitan hidup. Tetapi mungkin, ini hanya alasan pembenaranku saja. Kalau aku menodong, biasanya aku mencari orang-orang yang benar-benar kaya. Jadi aku tidak sembarang menodong.

    Apakah aku beragama? Ketika masuk sekolah dasar, di buku raportku tertulis bahwa aku beragama Islam. Tetapi aku sendiri tidak tahu apa itu agama Islam. Aku hanya tahu bahwa agama itu sesuatu yang menyeramkan. Bagiku agama hanyalah mimpi yang menakutkan. Dan Tuhan menurut gambaranku, mungkin lebih kejam dari Hitler. Hanya memasukkan orang ke neraka. Makanya aku tidak pernah tertarik untuk belajar agama, apalagi mendekat ke masjid atau tempat ibadah orang Islam.

    Sampai suatu saat, ketika sedang nongkrong malam hari di daerah Pancoran, secara tak sengaja aku mendengar pengajian di Masjid Al-Munawar, Pancoran, yang suaranya terdengar sampai ke jalan.

    “Wahai para pendosa, Dia memanggilmu untuk mendekat kepada-Nya. Jangan putus asa dari kasih-sayang-Nya. Dia Maharaja Tunggal Nan Abadi di alam semesta,” begitu terdengar suara yang berwibawa namun menyejukkan. Hatiku benar-benar bergetar saat itu, sampai aku hafal kalimat demi kalimat yang menyejukkan itu, yang seolah-olah ditujukan khusus pada diriku.

    Aku bertanya siapa orang itu. Temanku menjawab bahwa itu pengajian Habib Munzir Al-Musawa, dan itu suara beliau. Malamnya aku menangis mendengar seruan yang menyentuh hatiku itu. “Akulah pendosa itu yang selama ini tidak tahu apa itu agama dan siapa itu Tuhanku.”

    Senin malam berikutnya, aku berpapasan dengan Habib Munzir yang akan masuk ke Masjid Al-Munawar. Dia menoleh kepadaku dan tersenyum. Hatiku benar-benar lumer. Aku menyerah, tidak tahan melihat kharisma dan wibawanya. Aku benar-benar berjanji dalam hati bahwa aku akan mempelajari agama dan mengikuti ta’limnya.

    “Wahai para pendosa, sungguh kasih-sayang dan ampunan-Nya melebihi dosa-dosa yang dilakukan seluruh manusia.” Beberapa kali aku mengikuti ta’limnya, seolah aku dilahirkan kembali, menjadi manusia baru yang siap menorehkan catatan suci dalam lembaran kehidupanku. Aku bertekad ingin menjadi manusia baru yang pasrah dan tunduk kepada aturan Allah.

    Dalam hatiku, aku juga ingin menjadi pembantu Habib Munzir Al-Musawa. Dengan demikian, setiap hari aku bisa mendengar nasihat dan kalimat-kalimatnya yang menyejukkan.

    Aku mulai belajar mengaji, mulai dari huruf alif. Aku hafalkan bacaan shalat yang menggunakan huruf latin. Aku benar-benar ingin menjadi manusia baru yang memulai hidupku dengan tuntunan dan bimbingan-Nya.

    Setiap aku mengikuti ta’lim Habib Munzir, bertambah semangat keagamaanku. Senyum Habib Munzir yang begitu tulus seolah memberikan energi yang luar biasa kepadaku untuk selalu mendekat kepada-Nya. “Wahai para pendosa, jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah, karena rahmat-Nya melebihi alam semesta dan seisinya.”

    Aku tata kembali hidupku. Aku mencari rizqi yang halal. Aku bulatkan niat dan tekad untuk tetap di jalan lurus yang diridhoi-Nya. Sungguh aku ingin meraih kasih-sayang-Nya, yang akan Dia berikan kepada siapa pun yang bersungguh-sungguh ingin meraihnya.

    (Sumber: Alkisah No. 14/2-5 Juli 2007)

  • Rasa Kesyukuran

    Rasa syukur akan timbul ketika kita mengingat ni’mat-ni’mat Allah. Mata yang dapat kita gunakan untuk melihat, udara yang kita hirup, lidah yang dapat mengecap rasa, merupakan ni’mat Allah yang sangat besar. Sementara sebagian orang tidak mendapat ni’mat penglihatan. Sebagian orang tergolek lemas di tempat tidur karena lumpuh. Sebagian orang ada yang menjadi bahan ejekan orang karena hilang aqal atau gila.

    Diantara ni’mat Allah yang terbesar adalah ni’mat iman dan Islam. Seorang wanita bercerita tentang saudaranya yang ahli ibadah lagi zuhud bernama Basyar al-Hafi, “Suatu malam, saudaraku datang. Ketika ia salah satu kakinya baru masuk ke dalam rumah, dia berhenti dan membiarkan kakinya yang lain tetap di luar. Dia tetap dalam keadaan tersebut hingga shubuh. Setelah ditanya tentang apa yang difikirkannya semalam, ia menjawab, ‘Aku terfikir si Basyar yang beragama Yahudi, si Basyar yang beragama Nasrani, dan si Basyar yang beragama Majusi. Lalu aku terfikir diriku sendiri, karena namaku juga Basyar. Kemudian aku berkata dalam hati: Apa sebabnya dari sekian orang yang bernama Basyar, Allah memilihku termasuk ke dalam orang yang memeluk agama Islam? Maka kurenungkan karunia Allah untukku itu. Dan aku bersyukur dan memuji Allah Yang telah menunjukiku agama Islam, menjadikanku pilihan-Nya dan memakaikan kepadaku jubah kekasih-kekasih-Nya.’”

    Lihatlah betapa besar karunia Allah yang telah kita terima. Betapa banyak rizqi yang telah Allah beri semenjak kita lahir hingga kini. Tidak patutkah kita bersyukur pada-Nya?

  • Dari VCD Phorno ke Maulid

    Seorang pemuda yang baru saja beberapa bulan ditinggal wafat ayahnya sedang berkumpul dengan teman-temannya, ia memang mempunyai “acara khusus” setiap minggunya dengan teman-temannya untuk berkumpul sambil menonton VCD porno di rumah mendiang ayahnya, demikian acara itu berlanjut setiap minggunya.

    Malam itu setelah selesai dari perkumpulannya, ia tertidur lelap dan bermimpi, ia sedang menuju makam ayahnya, tiba-tiba ia mencium bau yang sangat busuk dari pusara ayahnya, lalu ia mendengar suara ayahnya sambil mengerang, seakan-akan menahan sakit, “Anakku, sampai kapan kau akan menyiksaku di alam kubur, ketahuilah setiap kali kalian berkumpul dirumahku dan menyaksikan film porno itu aku didatangi dua malaikat penyiksa, yang satu menuangkan cairan busuk yang keluar dari farji para pelacur yang sedang dalam siksaan kubur, dan malaikat yang lain menimpakan bara api disekujur tubuhku, mereka terus berbuat demikian dan tidak berhenti sebelum kalian selesai dari acara keparat itu dirumahku, mereka datang untuk menyiksaku seperti itu setiap minggu bertepatan waktunya dengan berkumpulnya kalian, hentikan perbuatanmu wahai anakku, kembalilah kepada Allah untuk bertobat..” anak itu tersentak dari tidurnya dalam keadaan gundah, ia tak tahu harus berbuat apa, ia terus berfikir dan berfikir, maka cahaya Hidayah pun menerangi kalbunya, ia bertobat kepada Allah swt dan mulai menjalani Cahaya petunjuk, ia berniat pada malam yang biasanya ia mengadakan acara tercela itu dirumahnya, ia akan mengadakan acara maulid Nabi besar Muhammad saw, setiap minggunya, ditempat dan waktu yang sama.

    Ia menceritakan mimpi dan niatnya pada teman-temannya, merekapun setuju dengan pendapat itu, acarapun berlangsung, para pemuda yang dipenuhi cahaya tobat, maka berkumpullah hati yang dipenuhi penyesalan dan merasa sangat bersalah terhadap Maha Raja Langit dan Bumi, maka rumah itu kini terlihat dari langit bagaikan bintang gemerlapan, sebagaimana penduduk bumi memandang bintang gemerlapan dilangit, rumah yang beberapa hari yang lalu dipenuhi perbuatan yang menggetarkan pintu Kemurkaan Allah, kini di rumah itu berkumpullah hamba-hamba Nya untuk melangsungkan amal yang mengguncang pintu Rahmat Rabbul’alamin. Malam itu sang pemuda kembali bermimpi, seraya menziarahi makam ayahnya, ia mencium bau wangi yang sangat Indah, wangi Misk Kesturi, ia teringat bahwa wangi Misk Kesturi adalah wangi tubuhnya Rasulullah saw (tercantum dlm kitab Syama’il, oleh Imam Tirmidzy), lalu ia mendengar suara ayahnya dengan penuh kelembutan, “Allah melimpahkan rahmat Nya padamu wahai anakku, aku dihentikan dari segala siksa kubur karena tobatmu, dan amal perbuatanmu, aku dihadiahi Mahkota oleh Rasul saw karena rumahku dijadikan tempat menampung para tamu Rasulullah saw”.

    Dari Abu Hurairah ra, Sabda Rasulullah saw “Tiga perbuatan yang masih bersambung setelah kematian : Ilmu yang bermanfaat, Shadaqah yang terus mengalir (seperti masjid, atau penerang masjid dll), dan Anak Shalih yang mendo’akannya..!”. (Hadits Hasan Riwayat Imam Tirmidzy)

    (dari majelisrasulullah.org)

  • Belajar PlayStation untuk Da’wah

    Bintang Gemerlap tampak terang benderang di wilayah Fatmawati dengan tumbuhnya seorang Pemuda belia yang mulai aktif di Majelis Rasulullah pada tahun 2000, bakat dan semangat juang yang berpadu dengan Kecintaan Pada Sang Nabi saw menerbitkan hasil yang gemilang pada gerak geriknya, ia adalah seorang Pemuda yang siang dan malamnya dipenuhi pergaulan akrab dengan para pemuda, ia bergaul dengan segala kelompok, untuk mengajak mereka bertobat dan menghidupkan sanubari mereka, rumah-rumah mereka bahkan wilayah-wilayah mereka untuk aktif di Majelis Rasulullah dan diterangi oleh Cahaya Kecintaan terhadap Sang Nabi saw.

    Ia mempelajari permainan Play Stasion untuk mendakwahi pemuda yang berkecimpung didalamnya, ia pun berhasil dan menjadi juara diwilayahnya, lalu mengajak pemuda pemuda aktifis Play Stasion itu untuk bertobat dan aktif dalam program Majelis Rasulullah, ia juga aktifis dalam group Sepak bola, untuk mengajak mereka bertobat dan ikut menghadiri acara acara Majelis Rasulullah, rumahnya siang dan malam dikunjungi pemuda, kemana ia pergi maka bangkitlah semangat para pemuda setempat, namun ketika ia tinggalkan mereka maka patahlah semangat para pemuda itu, ratusan pemuda dan banyak wilayah tergalang menjadi aktif dalam Program Majelis Rasulullah, maka terbitlah kelompok pemuda di wilayah Fatmawati, Cinere, Cipete, Karang tengah, Margonda, Blok A, Cawang halim, Cimanggis, dan masih banyak lagi, dan mereka itu terkordinir berkat ajakan si Pemuda Polos bercahaya ini.

    Satu hal yang sangat indah, adalah lantunan suaranya yang merdu dan indah mengundang kegembiraan dan tangis keharuan, walaupun para pendengar tak memahami apa arti dalam lantunannya yang kesemuanya berbahasa arab, menunjukkan kuatnya getaran Cahaya Nabawiy yang terbit dihatinya, bahkan ketika Hb Munzir Almusawa mengajaknya ke Singapura dan Malaysia, maka airmata mengalir saat lantunan suaranya berkumandang.

    Duhai…, betapa senyum kegembiraan tersungging di Wajah Agung Muhammad Rasulullah saw melihat siang malam mu hanyalah untuk membawa hujan taubat bagi para pemuda, ketika jutaan pemuda Jakarta tenggelam dalam Lumpur dosa dan saling membenamkan satu sama lain dalam samudra kehinaan, namun usiamu kau habiskan untuk kegembiraan Sang Nabi..,

    Duhai.., Betapa indah siang dan malammu, betapa indah duduk dan berdirimu, betapa indah bangun dan tidurmu, betapa indah setiap debu yang kau injak yang kesemuanya kelak menyaksikan perjuanganmu dalam setiap waktu hanya untuk membawa kegembiraan Sang Nabi, yang hanya dengan beliaulah terbukanya Pintu Keridhoan ilahi..,

    Semoga Allah menghadiahimu kehidupan Manis dan gemilang di dunia dan akhiratmu, dan mempertemaknmu dengan Kekasihmu dan Imammu Sayidina Muhammad saw.. Amiin.

    (dari majelisrasulullah.org)

  • Pecandu Narkoba yang Bertobat

    Kejadian ini dimulai saat datangnya kabar pada suatu malam kepada Pimpinan Majelis Rasulullah, bahwa di wilayah Kalimalang ada seorang pemuda Bandar Narkoba yang wafatnya disebabkan over dosis, beberapa hari sebelum wafat ia telah bertobat dan menangis di kaki ibunya saat dalam perawatan di RS, namun setelah ia wafat warga setempat menolak untuk menyolatinya dan melarang jenazahnya dishalatkan di masjid, dan melarang pula jenazahnya di kuburkan di pekuburan umum.

    Setelah mendengar kabar ini, maka di malam itu Hb Munzir Almusawa segera mengerahkan jamaah Majelis Rasullulah untuk bersama-sama berta’ziah ke rumah duka. Ayah dari anak tersebut menangis haru bercampur bingung, ia tak menyangka ada seorang Habib mau berkunjung untuk berta’ziah, ia pun bingung, malu dan takut, karena sudah merupakan adat di wilayah setempat, kedatangan ulama di rumah duka haruslah diberi amplop, lalu bagaimana tarif kedatangan habib ini, sedangkan untuk menyewa pengaji pun ia tak mampu, namun setelah dijelaskan bahwa kami tidak sesekali menerima uang lebih-lebih dari mereka yang tidak mampu, ia mulai tenang dan seakan tak percaya, kamipun sempat berziarah ke makam anak tersebut yang dikuburkan disamping rumahnya, lalu Hb Munzir Almusawa memberikan ceramah singkat yang memilukan hati para teman si pemuda tersebut yang banyak hadir di rumah sang ayah, merekapun bertobat.

    Empat puluh orang pemuda kembali pada kemurnian ilahi, wilayah ini hingga kini masih dikordinir oleh sang ayah, tanda bahwa tobat si pemuda telah diterima Allah swt dan wafat dalam husnulkhatimah adalah bertobatnya 40 orang sahabatnya yang karena sebab wafatnyalah dan dengan sebab dialah, tobat teman-temannya, betapa besar Kasih Sayang Allah terhadap Hamba Nya yang bertobat, Hingga si pemuda yang bertobat itu dilimpahi lagi 40 pahala taubat dari teman-temannya yang bertobat dengan sebab hadir di rumahnya.

    (dari majelisrasullah.org)